Dongeng Membuka Dunia

18 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #5

PhotoGrid_1560780796025

Nama Projek: Dongeng Membuka Dunia

Pimpinan Projek: Abang Zimam Anak Pintar

Pengarah Projek: Danda Zimam

Penanggung Jawab: Ayah Zimam

Gagasan: Hari ini Abang Zi bilang tak mau menjahit. Okay, Danda paham, anak kinestetik seperti Abang Zi mana tahan duduk diam beberapa menit hanya untuk menjahit? Hehehe, karena itu Danda mengabulkan permintaan Abang untuk main projek keluarga lain. Jadi, kami memutuskan menjadikan dongeng sebagai projek keluarga hari ini.

PhotoGrid_1560515571266

~~~

Dongeng sebelum tidur sebenarnya adalah hal yang hampir tiap malam dilakukan oleh Ayah dan Danda bergantian. Jadi, setiap malam Abang Zi selalu tidur dengan dongeng sebelumnya, lalu selalu ada diskusi tentang moral cerita dongeng tersebut. Kalaupun tak ada dongeng sebelum tidur, mungkin karena jam tidur Abang Zi terlalu malam karena asik main dengan Ayah.

Malam ini, karena Ayah baru saja tiba dari kantor, Abang Zi minta Danda yang mendongeng. Cerita yang didongengkan dipilih sendiri oleh Abang Zi dari bertumpuk-tumpuk koleksi buku yang dia punya.

Kali ini Abang Zi memilih cerita Pahlawan Islam Sa’ad bin Abi Waqqash Sang Penakluk Pasukan Persia sebagai cerita dongengnya.

DSC_0968-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan linguistik – perbendaharaan kata Abang Zi bertambah dengan dongeng);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan mengendalikan emosi dan memotivasi diri – dengan contoh hebat Pahlawan Islam zaman dahulu, Abang Zi dapat memetik pelajaran dari kehidupan mereka);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan, keadilan, dan kebenaran);
  • Kecerdasan Menghadapi Tantangan (belajar menjadi climber)

Alhamdulillah, dengan rutin mendengarkan dongeng, Abang Zi dengan  mudah belajar hal baik.

PicsArt_06-14-07.37.37

#hari5
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Mari Kita Penasaran

15 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #2

PhotoGrid_1560515442095

Nama Projek: Mari Kita Penasaran

Pimpinan Projek: Abang Zimam Anak Shalih

Narasumber: Ayah Zimam

Moderator: Danda Zimam

Gagasan: Abang Zi adalah anak yang selalu ingin tahu. Kenapa sih bisa begini? Kenapa sih bisa begitu? Ayah dan Danda ternyata adalah google parents. Kalau ditanya, pasti bisa jawab dengan baik. Kenapa Abang Zi gak tanya Ayah dan Danda saja, kalau ada pertanyaan sulit? 🙂

PhotoGrid_1560529132448

~~~

Hari ini Abang Zi pulang dari rumah Acil dijemput Ayah. Sesampainya di rumah, Ayah mengajak kami makan malam bersama di restoran seafood favorit di wilayah Margonda, Depok. Kami pun makan malam di sana.

Setelah menu kerang yang digelar di meja, habis disantap, sambil menunggu bill dibayar, Abang Zi pun mulai mengajukan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

“Kenapa dinosaurus punah?”

Ayah pun menjawab dengan 4 teori kepunahan dinosaurus. Teori Ice Age, Teori Meteorit, Teori Seleksi Alam, dan Teori Evolusi.

Dari 4 teori itu, Abang Zi pun bertanya tentang manusia di zaman lampau. Berapa tingginya, selama apa mereka hidup di dunia, kenapa Nabi Nuh tercatat hidup lebih dari seribu tahun, kenapa pintu di kota tua petra itu tinggi-tinggi. Dan Ayah pun menjawab dengan baik, dengan teori-teori juga. Kenapa hanya teori? Karena tak ada satu manusia pun yang masih hidup dan menjadi saksi sejarah semua kejadian itu.

Pertanyaan pun bergulir, apakah malaikat tahu semuanya?

Ya, malaikat tahu kejadian di masa lampau, namun tidak tahu kejadian di masa yang akan datang.

Dan ketika Abang Zi bertanya tentang hal gaib, Ayah pun menjawab, “Memangnya kalau Abang tahu semua itu, mau diapain?”

“Gak kenapa-kenapa, penasaran saja.” Jawab Abang Zi.

“Penasaran itu bagus, selama bermanfaat. Andai Thomas Alva Edison, – Abang tahu siapa dia? – tidak penasaran dan menemukan lampu, mungkin kita masih pakai lilin di malam hari, Bang.” Kata Ayah.

Pertanyaan pun berbelok menjadi pertanyaan ilmiah lainnya. Siapa penemu pesawat, siapa penemu mesin, kenapa mereka menemukannya, apa yang mereka dapat setelah menemukan penemuan tersebut, dan lain-lain.

Seru sekali memperhatikan percakapan Ayah dan Abang Zi. Ketika dia bertanya tentang segalanya, karena dia tahu, orang tuanya pasti bisa menjawab dengan baik, dan jujur.

AR_EFFECT_20190614230628-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan linguistik dan kecerdasan logika-matematika – Abang Zi belajar menyusun kata-kata yang tepat agar pertanyaan dipahami, serta mengolah jawaban dalam logika berpikirnya)
  • Kecerdasan emosional (Kemampuan memotivasi diri dan keterampilan sosial – Abang Zi memotivasi dirinya untuk selalu bertanya bila tak paham sesuatu dan menjalin hubungan baik dengan ayah selama proses tanya jawab)
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan – penasaran yang bermanfaat itu baik dan cerdas)
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (belajar menjadi climbers)

InsyaAllah Abang Zi akan terus bertanya dan mencari tahu semua hak yang belum dia pahami.

PicsArt_06-14-11.37.36

#hari2
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Pesta Demokrasi Indonesia 2019

17 April 2019

Alhamdulillah, hari ini sudah tanggal 17 April 2019. H-10 resmi 35 kali saya mengelilingi matahari, hari di mana pesta demokrasi Indonesia digelar tiap lima tahun.

Pagi ini saya bangun seperti biasa, walau tahu saya harus berangkat ke TPS untuk memberikan suara.

Semalam, saya sudah menyiapkan fotokopi KTP dan KK untuk menemani form A5 saya dan suami. Ya, kami menggunakan form A5 karena kami terdaftar di TPS di kota Pangkalpinang, bukan di Jakarta. Padahal lima tahun yang lalu, kami mendapatkan formulir C6.

PicsArt_04-17-10.14.57

Saya berangkat ke TPS terdaftar pada pukul sepuluh pagi, kemudian ditolak dan diminta datang lagi pukul dua belas siang karena saya menggunakan formulir A5 dan masuk DPK. Selepas zuhur, saya kembali ke TPS dan sudah sepi. Tak lama mengantre, saya mendapatkan surat suara untuk memilih presiden dan wakil presiden. Saya tidak berhak memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD, karena pindah provinsi. Semoga lima tahun yang akan datang, saya bisa memilih lima surat suara (empat, untuk DKI Jakarta).

Saya masuk bilik suara, yang tak terlalu rahasia karena tiga perempat tertutup. Saya yakin bisa melihat orang lain mencoblos yang mana, saat saya melewati mereka. Gak sengaja, loh.

Setelah mencoblos pilihan saya (saya berhati-hati supaya mencoblos bukan di wajah mereka, hahaha), saya melipat kembali surat suara saya dan memasukkannya ke kotak presiden. Mencelupkan kelingking pada tinta, dan keluar. Alhamdulillah.

DSC_0718

Saya sudah menunaikan tugas saya sebagai warga negara. Apapun hasilnya, saya akan menerimanya sebagai takdir Allah subhanawataala.

Ah, jadi ingat akan cerita semut pada kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dongeng yang turun temurun diceritakan untuk anak-anak sebelum tidurnya.

Dikisahkan bahwa Raja Namrud memberi perintah untuk membakar Nabi Ibrahim alaihissalam. Seekor semut yang mendengarnya segera membuat wadah air atau bejana dan mengambil air di danau. Dengan susah payah ia mengangkut bejana itu menuju kota, tempat Sang Nabi di bakar.

Di jalan, ia bertemu dengan seekor gagak. Gagak pun bertanya, hendak kemanakah si semut pergi dengan susah payah membawa bejana berisi air. Semut menyampaikan maksud tujuannya, hendak membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Gagak mencemooh semut, ia berkata, air yang semut bawa tak akan cukup untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Namun semut berkata, paling tidak dengan air itu dia telah memutuskan di pihak mana dia berdiri, dan dia bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan di hari akhir nanti.

~~~

Di sinilah saya, bagaikan semut yang membawa setetes air. Saya tahu suara saya setara dengan setetes air. Menang tidaknya pilihan saya, bukan mutlak karena suara saya. Namun, paling tidak, saya telah memutuskan di mana saya berpihak, dan saya bisa mempertanggungjawabkan pilihan saya di hadapan Rabb di hari akhir nanti.

DSC_0721

Selamat menikmati pesta demokrasi Indonesia 2019. Untuk Indonesia yang lebih baik. ^_^

PS: itu hijab saya memang ungu, bukan ketumpahan tinta pemilu ^_^


Sedikit Lagi… Selamat Menempuh Hidup Baru!

9 Maret 2019

Belum! Baru lamaran, kok.

Selumbari *), kami sekeluarga berangkat ke Kuningan, Jawa Barat. Kami mengantar Chaikal a.k.a. Ikang, adik sepupu tercinta, melamar gadis pujaannya. *Dangdutzzzzzzzzz….

Berawal dari Mama Uwi (ibunya Ikang) yang menelepon saya di siang hari di rumah sakit di hari Eizie lahir (Eizie itu bocah kecil yang sukanya tidur itu, loh hihi), Mama Uwi meminta kami ikut mengantar Ikang melamar calon istrinya. Tanggal 7 Maret, Kamis, tanggal merah. Karena libur, kami pun setuju.

Maka berangkatlah kami di Kamis, 7 Maret 2019 pukul 06.00WIB dari Bumi Cawang Kompor, Jakarta Timur.

Dengan Pak Dadang Syarif Hidayat, Abang sepupu tertua, sebagai driver, dan Pak Zulkifli Malin Sutan, suami tercinta, sebagai co-driver, kami berangkat dengan ceria ke Kuningan.

DSC_0497

Ternyata perjalanan ke sana penuh misteri dan tantangan. Satu tantangan terberat kami adalah… “share loc” (´ヮ`)

Gara-gara serlok ini, kami hampir nyasar entah ke mana. Andai saja di mobil tak ada hantaran, sudah pasti putar balik dah. (*^ワ^*)

DSC_0499

Akhirnya dengan segala perjuangan, kami pun dapat sampai ke rumah pengantin dengan selamat. Walau terlambat 90 menit, seperti delay-nya pesawat citilink Jakarta-Jogja 23 Januari 2018. 。(*^▽^*)ゞ

Suasana rumah pengantin di Kuningan sangat nyaman. Cuacanya juga tak terlalu panas. Acara lamaran pun berlangsung lancar dan hikmat.

Selamat ya Ikang dan Risma (akhirnya muncul juga nama ceweknya ^_^), semoga dilancarkan sampai halal. Aamiin.

DSC_0513DSC_0519

*)selumbari = dua hari yang lalu


Berkunjung ke Rumah Kelahiran Bung Hatta

23 Juni 2018

Liburan lebaran tahun ini giliran kami habiskan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kenal Kota Bukittinggi? Iyap, Kota kelahiran salah satu bapak proklamator kita, Muhammad Hatta.

DSC_1327

Letaknya di Jalan Soekarno-Hatta, dekat Pasar Bawah. Tak jauh dari Janjang 40 yang terkenal di Pasar Bawah.

Di rumah ini, Bung Hatta dilahirkan oleh Ibunda Saliha. Sebagai urang Minang yang menganut garis ibu, Bung Hatta tinggal di keluarga ibunya.

Keluarga ibu Bung Hatta termasuk keluarga kaya. Terbukti mereka memiliki dua buah rangkiang (ruang penyimpanan beras), dapur tungku yang bagus, dan istal lengkap dengan kereta kudanya. Punya kuda dan keretanya pada zaman dahulu bisa disetarakan dengan punya mobil mewah di zaman sekarang. Rangkiang besar 2 buah, bisa jadi setara dengan rekening deposito yang penuh di beberapa bank. 🙂

Tapi, dengan kemampuan ninik mamak Bung Hatta menyekolahkan Bung Hatta sampai ke Jakarta, iya, mereka memang orang berada.

DSC_1310

Rangkiang

DSC_1314

Dapur Tungku

DSC_1315

Kereta Kuda

DSC_1316

Istal

Nah kan, bagus-bagus ya fasilitas di Rumah Kelahiran Bung Hatta ini. Tapi semua ini hanya boleh dilihat, ya. Tak boleh digunakan apalagi dibawa pulang, ya. Hehehe.

Di rumah ini juga ada banyak kamar, salah satunya adalah kamar tempat Bung Hatta dilahirkan.

DSC_1319

Untuk masuk ke Rumah Kelahiran Bung Hatta ini, pengunjung tidak dikenai biaya, loh. Hanya saja, pengunjung wajib memelihara isi rumah, menjaga kebersihan, dan membuang sampah pada tempatnya.

Liburan ke Bukittinggi? Mampir ke Rumah Kelahiran Bung Hatta, yuk!

~~~


I’m Sorry, Baby! Please Forgive Me… 참!

4 Maret 2013

Semalam ada kejadian yang bikin aku sangat sangat sangat sangat sangat menyesal!

Zimam jatuh dari motor!

Ceritanya, habis dari Hypermart, aku dan Zimam pulang naik motor. Hari udah menjelang magrib.
Di gerbang parkir, ada dua motor di depan kami. Mengantrilah aku.

Biasanya, dengan Zimam duduk di depan, aku selalu matiin mesin motor atau menetralkan gigi perseneling. Tapi saat itu entah kenapa, aku lupa. Bahkan aku ngelepas cengkraman gas di tangan kananku!

Saat itulah bencana terjadi!

Zimam tiba-tiba main gas kanan!

Motor jalan tanpa kendali, dan kami jatuh!

Bibir Zimam luka kena setir sebelah kiri.

bibirnya pecah T_T

Zimam berdarah-darah, nangis karena shock! Aku gemetaran T_T

Duuuh….

Maafkan Danda, Nak…. T_T


Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Menyapih dengan Cinta

28 Februari 2013

Apa tugas dan kewajiban seorang ibu pada bayinya? Banyak!
Tapi salah satunya adalah menyusui sampai masa penyempurnaan, 2 tahun.

Lalu apa setelah itu? Bagaimanakah masa-masa indah menyusui itu akan diakhiri? Bahagia dengan keikhlasan dan tawa, atau sedih dengan deraian air mata?

Aku memilih yang pertama!

Seperti yang kita tahu, di sekitar kita, jika ada anak yang disapih, maka penyapihannya begitu menyiksa. Oke, mungkin tidak semua. Tapi aku menyaksikan sendiri saat adikku dan adik sepupuku disapih dulu. Mereka menangis berderai-derai. Ibunya juga meringis menahan sakit payudara yang bengkak karena tidak lagi disedot. Apa itu yang akan terjadi padaku dan bayiku?

Aku memutuskan untuk TIDAK! Aku mau menyapih bayiku dengan cinta, tawa, keikhlasan, dan tanpa deraian air mata!

Dan itu tidak mudah!

Langkap pertama yang aku ambil adalah, BERDISKUSI dengan Sang Ayah (dan jika ada, dengan anggota keluarga lain yang serumah juga).
Aku bilang sama Ayah Zee, aku mau menyapih Zee dengan cinta, perlahan-lahan, smooth, dan diakhiri dengan keputusan Zee untuk tidak nenen lagi.

Awalnya Ayah Zee pesimis. “Mana ada bayi yang rela disapih? Udahlah, pake cara yang biasa aja!”

Cara yang “biasa”? Hehe… Nehi!!

Aku berjuang, bergerilya. Aku mengirim banyak sekali artikel tentang pentingnya Weaning With Love ke alamat surel Ayah Zee. Aku hubungi sahabatnya yang pro-ASI dan WWL, supaya ngajak Ayah Zee diskusi tentang pentingnya WWL. Aku lakukan sounding-sounding pribadi ke Zimam, di depan si Ayah, agak Ayah setuju dengan konsep WWL kita.

Akhirnya Ayah Zee melunak. Tidak lagi melarang atau menentang, namun mengambil sikap abstain. Awalnya aku takut. Takut kalo gagal, si Ayah akan menyalahkan aku. Tapi lama-lama aku berpikir, “Well, saat aku menerapkan konsep RUM pertama kali, Ayah juga menentang, tapi akhirnya mendukung, setelah aku buktikan efek baiknya.” Dan aku yakin, si Ayah juga akan bersikap demikian untuk Weaning with Love ini.

Langkah kedua adalah SOUNDING ke Zimam.
”Abang sudah besar, minumnya air putih pake gelas. Yang minum susu itu adek bayi.”

Sejak usia 18 bulan sampai usia 21 bulan, itulah sounding kami ke Zimam. Berawal dengan deal tidak nenen di muka umum karena malu, Abang sudah besar. Zimam setuju. Walau konsekuensinya, kita harus segera pulang jika Zimam mau nenen 🙂

Lambat laun, Zimam mulai terbiasa, walau dia ingin nenen, kalau sedang ada di luar rumah, dia akan menahannya sampai kami tiba. Kami pun tak perlu buru-buru pulang ke rumah lagi.

Sejak usia 21 bulan, tepatnya sepulang dari mudik lebaran ke Bukittinggi, sounding untuk Zimam berubah, ada peningkatan: “Abang sudah besar, bentar lagi 2 tahun. Kalo sudah 2 tahun itu berarti nenennya berhenti, ya! Nanti, Abang ulang tahun ada balon, ada kue, ada kado. Tapi nenennya berhenti, ya!”

Awalnya Zimam menolak, protes. Tapi lama-lama mungkin karena di sekolahnya sering ada ulang tahun temannya, dia jadi antusias menyambut ulang tahunnya sendiri. Ada balon, ada kue, ada kado.

Tepat di ulang tahunnya yang kedua, kami pun benar-benar merayakannya, walau cuma bertiga. Ada balon, ada kue, ada kado. Perayaan ulang tahun Zimam mundur sehari, tanggal 31 Oktober. Malamnya dia masih minta nenen, besoknya juga (1 November).

Pada 1 November, saat Zimam minta nenen, aku tagih janjinya: “Katanya Abang mau berhenti nenen? Kan ulang tahunnya udah dirayakan, ada balon, ada kue, ada kado. Katanya mau berhenti nenen?”
Zimam memaksa nenen…
”Yasuda, malam ini boleh nenen, tapi besok nggak, ya!”

Sungguh, saat aku bilang gitu, aku gak tau bahwa ternyata malam itu adalah malam terakhir Zimam nenen ke aku! T_T

Aku berpikir, kalaupun besok Zimam minta nenen, ya aku kasih tapi aku tawar dulu, malam ini nggak, besok aja ya…

Tapi ternyata.. besoknya, besoknya, dan besoknya lagi, Zimam sendiri yang gak minta nenen. Dia gak minta ya aku gak nawarin!

Sakit sekaligus bangga liat bayi kecilku berusaha memenuhi janjinya. Walau aku tau persis, janji itu adalah trap yang dibuat orang tuanya untuk dia (hihihi…)

Alih-alih minta nenen, Zimam malah minta digosok punggungnya.. “gayuk pandung!” katanya..

Walaupun Zimam sudah tidak minta nenen lagi, aku gak serta-merta bilang: Zimam lulus WWL!! Tidak..
Sekarang, setelah 4 bulan berlalu, aku baru berani bilang bahwa ZIMAM LULUS DISAPIH DENGAN CINTA!!!! ^_^

Dan untuk semua ini, aku akan berterima kasih kepada mereka-mereka yang membantuku, mendukungku, membimbingku, menuntunku, memelukku, dan sebagainya. Mereka adalah:

Ayah Zulkifli Malin Sutan, partner terkompak sepanjang sejarah. Kita sering berselisih paham, namun, selalu berakhir dengan dukungan untukku. ^_^

Nini Sjari Juniarsih, yang terharu saat mendengar cerita bahwa Zee menyapih dirinya sendiri. Iri, ya, Bunda? ^_^

Milis Sehat, tempat pertama kali aku membaca istilah “Weaning with Love,” mempelajarinya, membanding-bandingkan dengan metode lain, dan memutuskan akan menggunakannya kelak. 🙂

Milis Asiforbaby, tempat menguatkan diri saat proses WWL itu hampir tiba.

Grup Tambah ASI Tambah Cinta, sharing ilmu WWL dari para senior benar-benar menguatkan.

Grup AIMI ASI, cuma ada satu metode penyapihan di sini, penyapihan dengan cinta!!! ^_^

Alhamdulillah, proses menyapih dengan cinta ini tanpa disertai payudara bengkak, atau deraian air mata Zimam. Kenapa nggak dicoba? ^_^

sapih-zee

Weaning with LOVE