Apakah Ini adalah Akhir?

26 Oktober 2020

Saya ingin menulis tentang Survival Show I-Land lagi.

Di episode final, Kei yang digadang-gadang sebagai calon angota Enhypen pertama, ternyata tidak masuk grup debut. Padahal, selama di I-Land, dia menduduki peringkat satu dan hampir selalu jadi pusat koreografi (center).

Bagaimana dengan Keiys, penggemarnya?

Kami jelas kecewa. Setahu kami, sejak awal Kei mendapat perhatian lebih dari produser. Lalu mengapa dia tidak dimasukkan ke grup debut?

lebih dari sebulan lamanya kami mencoba menata hati. Mencoba menerima bahwa Kei layak mendapatkan lebih dari grup debut itu. Sampai akhirnya di hari ulang tahun Kei, dia muncul dan bertemu Keiys Korea. Di situlah kami menyadari, ini bukan akhir.

Kei bisa debut di grup lain, dan dia akan segera debut. Kami hanya perlu menunggu dengan sabar. Karena Kei sudah memiliki bekal yang sangat cukup untuk debut.

Ini bukan akhir. Ini adalah awal sebuah cerita. Titik bukanlah akhir, karena selalu ada asa di belakangnya.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Titik

PS: tema terinspirasi dari intipan di WAG RB Menulis IP Jakarta ^^


Belajar Kata Baru

25 Oktober 2020

Apa yang kamu tahu tentang “wastra”?

Ini adalah kali pertama saya mendengar kata itu, saya tidak tahu apa artinya.

Menurut KBBI V, wastra adalah kain tradisional yang memiliki maksa dan simbol tersendiri yang mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan, contohnya batik, tenin, songket, dan sebagainya.

Jadi, wastra itu apa?

Kain khas Indonesia. Itu pendeknya. Semua kain khas Indonesia namanya wastra.

Jadi, wastra punya banyak jenis. Dari Jawa namanya batik, dari Sumatera namanya songket, dari Nusa Tenggara namanya kain tenun, dan sebagainya.

Apakah kamu punya wastra yang kamu suka?

Saya punya. Wastra kesukaan saya adalah Sasirangan, wastra dari Banjar. ❤

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Wastra


Ketika Senja Tiba

24 Oktober 2020

Sudah lama sekali sejak terakhir saya melihat langit senja berwarna dewangga.

Sebelum pandemi korona, hampir setiap hari saya pulang kantor disambut dengan warna itu. kadang malah saya tidak kebagian warna lain selain hitam. Sekarang, karena saya selalu di rumah, saya tak pernah lagi melihat langit dewangga.

Saya selalu menutup pintu menjelang sore. Ketika azan magrib dikumandangkan, kami semua salat di rumah.

Pernah sekali saya mengalami langit dewangga setelah bekerja dari rumah, ketika saya harus keluar rumah karena suatu hal. Ah, rasanya tak nyaman ada di luar rumah dengan langit berwarna seperti itu. Rasanya mengerikan.

Walau saya tahu, suatu saat nanti saya akan kembali beraktivitas di luar rumah dan menyaksikan lagi langit dewangga, sekarang saya ingin menikmati dulu, kehidupan tanpa dewangga itu. ^^

Untuk saudara-saudara saya yang masih harus berkutat dengan pekerjaan di luar rumah, semangat, ya. InsyaAllah setets peluhmu diberkahi Allah subhanawataala. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Dewangga


Her Private Life

23 Oktober 2020

Saya ingin bercerita tentang dama Korea yang sudah lama saya tonton, Her Private Life. Drama ini bercerita tentang kehidupan wanita karier biasa, namun ternyata dia adalah seorang fangirl.

Fangirl adalah sebutan untuk perempuan yang menyukai seorang idol secara berlebihan. Maksudnya, tak hanya suka penampilan idol itu di atas panggung, melainkan suka kehidupan idol itu juga. Menjadi seorang fangirl bukan hal yang buruk, namun tak banyak orang yang menerima keberadaan seorang fangirl, sehingga banyak fangirl menyembunyikan identitasnya ketika berbaur di masyarakat. Mereka hanya mengaku sebagai fangirl jika berada di komunitas mereka sendiri.

Saya ingin bercerita bahwa drama Her Private Life itu menggambarkan kehidupan saya saat ini. Ya, saya adalah seorang fangirl.

Sejak pertunjukan mempertahankan diri I-Land selesai, saya menjadi fangirl dari salah satu trainee di I-Land, yaitu Kei. Saya punya dua akun di semua media sosial, satu akun pribadi saya dan satu akun fangirling. Kenapa? Karena sebenarnya saya tidak ingin kehidupan pribadi saya dibuntuti oleh urusan fangirling yang ternyata rumit. Hahaha. Saya juga baru menyadarinya, bahwa kehidupan seputar fangirling itu ternyata kompleks. Tak hanya mengagumi seseorang atau mengumpulkan foto-foto atau informasi tentangnya, melainkan juga ada banyak hal lain yang tak bisa saya ceritakan satu-persatu. Semua hanya bisa dirasakan apabila kita menjadi fangirl itu sendiri

Hm, kehidupan saya sekarang, mirip dengan kehidupan tokoh utama dalam drama Her Private Life.

#Writiber2020
#RBMIPJakarta
#Senandika


Kuatkan Hatimu

22 Oktober 2020

Pengin cerita lagi soal Kei dari Iland, boleh ya?

Kemarin tuh dia ulang tahun. Keiys, penggemarnya, sudah sejak sebulan lalu menyiapkan perayaan ulang tahunnya. Secara kami sakit hati karena dia nggak debut. Nah, sejak tanggal 20, iklan ulang tahunnya sudah dipajang di mana-mana. Di Samseong Superior Tower, CoEx Crown Media, CoEx Media Tower, Samseong Station Grand Theatre, dan di kafe-kafe sekitar CoEx.

Dan semalam, Kei muncul dengan seorang teman, jalan-jalan sambil melihat iklan ulang tahunnya. Aduh ini seperti apa ya?

Karena sejak tereliminasi dari I-Land di episode final, Kei seperti hilang. Memang sih, dia masih trainee, jadi nggak bisa bebas keluar gedung agensi. Apalagi dia terkenal walaupun trainee. Jadi kehadirannya semalam itu seperti hadiah untuk para Keiys.

Seperti imbalan atas kerja keras kami menunggu dan menyiapkan perayaan ulang tahunnya.

Setela itu, bagai badai.

Karena dia kembali bersembunyi dan entah kapan keluar lagi, hahaha.

Para penggemarnya harus bersatu, untuk tetap menunggu.

Semangat, Kei. Keiys akan menunggumu.

Ah, cerita soal idol nih jadinya. Hehehe.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Badai


Memulai Segalanya dari Rumah

15 Oktober 2020

Sudah tujuh bulan berlalu sejak kami mengerjakan seluruh pekerjaan dari rumah. Semua masih baik-baik saja walau tak sempurna. Alhamdulillah, kami masih diberikan kesehatan dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.

Memulai segalanya dari rumah tidaklah mudah. Ah, saya belum pernah membicarakan ini sebelumnya karena khawatir dianggap kufur nikmat. Sementara orang lain di luar sana mendapatkan kesulitan karena pandemi ini, kehidupan kami masih terjamin walau tak ada lagi tabungan. Paling tidak, kami masih bisa sebulan penuh memesan makanan melalui aplikasi daring.

Setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya membicarakan hal ini, paling tidak, sekali. Bahwa saya juga mengalami kesulitan berada di rumah selama 24 jam. Hormat pada ibu rumah tangga yang mengurus keluarga 24/7. Tujuh bulan ini saya mengalaminya dan jujur saja, saya tidak terlalu suka.

Saya bersyukur dipasangkan dengan seorang suami yang walaupun tidak suka membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, beliau tidak pernah menuntut apapun. Tak pernah menuntut walau cucian baju menumpuk, setrikaan menumpuk, lantai belum disapu, apalagi dipel, dan lain-lain. Beliau hanya diam, dan paling-paling membereskan apa yang beliau ingin bereskan.

Saya bersyukur diberi suami yang paham betul bahwa urusan rumah tangga bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab suami. Karenanya, ketika kami tidak bisa menyewa tenaga asisten rumah tangga, dan beliau tak suka mengerjakan urusan rumah tangga, saya dibiarkan mengerjakan sesuka saya.

Dipikir-pikir, saya sudah dua bulan tidak memasak sama sekali. Selalu memesan makanan, atau katering.

Memulai segalanya dari rumah membutuhkan adaptasi dari semua anggota keluarga. Di tengah menumpuknya tugas kuliah, urusan rumah tangga menjadi nomor dua buat saya. Tidur saja saya curi-curi waktu. Hahaha.

Tetapi, di balik semua masalah, ada hikmah. Kami tetap di rumah, dan menjadi lebih akrab satu sama lain.

Semoga pagebluk ini segera berlalu. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Adaptasi


Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

14 Oktober 2020

MasyaAllah Tabarakallah.

Itu yang bisa saya ucapkan sekarang. Kuliah dari rumah  dan menemani anak yang sekolah dari rumah, plus menjadi asisten rumah tangga bagi diri sendiri, sungguh bukan hal yang mudah.

Rumah buat saya tadinya merupakan tempat beristirahat. Tempat melepas lelah. Sekarang, rumah menjadi tempat kerja saya. Saya yang suka mengotak-ngotakkan kepentingan, sekarang sudah bercampur baur.

Dulunya, saya punya manajemen waktu sendiri. Pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor, tidak akan saya bawa pulang. Demikian juga pekerjaan rumah, tidak akan saya bawa ke kantor. Jadi saya punya cukup waktu untuk beristirahat.

Sekarang?

Hal pertama setelah membuka mata adalah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Hal yang terakhir saya lakukan sebelum tidur adalah mencuci piring. Belajar/kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti tak ada batas waktunya.

Namun, dibalik itu semua, saya bersyukur. Saya dan Abang Zi masih bisa di rumah saja dan tidak kemana-mana. Abang Zi dapat belajar mandiri (karena saya tidak mau disebut pembantu, jadi dia harus membantu urusan rumah tangga, hihi). Abang Zi lebih terampil mengerjakan urusan rumah tangga (hm, setengah tingkat lebih pandai, lah).

Untuk makanan, kami memutuskan untuk katering lauk. Saya tak suka memasak, dan tak punya waktu untuk memasak. Apalagi, jadwal kuliah saya kalau tidak dimulai pukul 1 siang, ya berakhir pukul 12 siang. Padahal Abang Zi hanya punya waktu setengah jam untuk ishoma sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Untuk baju, kami hanya menyetrika yang harus disetrika. Jika sudah menumpuk, panggil tetangga untuk menyetrikanya. Alhamdulillah.

Memang, rumah tidak serapih saat saya punya asisten. Tetapi saya lebih bahagia. Terutama dari makan hati, karena ternyata ada fitnah yang tersebar tentang saya dan mantan asisten saya. Padahal kan saya yang di-PHK, hiks.

Di mana sulit seperti ini, saya memang harus banyak bersyukur. Saya telah diberikan perlindungan yang layak, serta sarana yang memadai.

Semoga pagebluk ini segera berlalu, ya. Aamiin. ^^

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagebluk