Rahasia Charlie

3 Juli 2020

Oleh: Efi Femiliyah, Rezky Ayu Andira, Shalikah, Yuliana Samad, Bebby Jovanka, Dwiagris Tiffania, Annisa M. Gumay, dan Yeptirani Syari

Cerpen Keroyokan Front

     Sudah sepekan aku tinggal di rumah baru ini. Bang Udin memanggilku dengan Charlie. Ah, Charlie, nama yang mencerminkan kegantenganku. Jujur saja, dibeli oleh Bang Udin merupakan keberkahan untukku, karena sepertinya Bang Udin orang yang baik. Semoga saja harapanku menjadi kenyataan. Aku selalu melihat Bang Udin didatangi banyak orang, entah apa pekerjaannya. Masa bodoh, lah. Yang penting dari sejak aku datang, aku selalu makan enak.

     Aku sebenarnya heran dengan penampakan diriku sebagai ayam ganteng saat ini. Aku mengingat dengan jelas sebelum dibeli Bang Udin, bulu-buluku berwarna merah kehitaman. Pola berwarna kuning ada di bagian punggungku, bulu hitam di bagian dada. Tapi setelah bang Udin memberiku ramuan yang entah apa gerangan, warna buluku berubah. Yang kuingat hanyalah aku diletakkan di dalam wadah besar yang diberi ramuan itu. Lalu bang Udin mengaduk-adukku dalam wadah tersebut dengan tangannnya, seperti mengaduk keripik yang dibumbui. Aku kini berubah dari jengger, paruh, bulu, kulit, kaki, bahkan pantatku menjadi hitam legam. Ada apa dengan diriku sebenarnya?

     Pagi ini seperti biasa kulihat Bang Udin sibuk di ruang tengah. Ia mulai menata meja, botol-botol air minum, dan nampan besar berwarna emas yang baunya, duh, aneh sekali. Terkadang ia menunduk dan termenung sejenak sambil berbicara tak jelas. Ah, biarlah, yang penting hari ini aku tetap makan enak di rumah mewahku ini. Kemarin badanku rasanya habis diputar dan dibalik-balik di dalam wadah. Aku lelah dan ingin tidur. Eh, tapi tunggu dulu, siapa pria muda berbadan tegap yang menghampiri Bang Udin itu?

     Pria itu datang dengan wajah kusut dan berminyak persis plastik bekas gorengan. Yaiks, aku tak suka bau orang itu! Firasatku tidak enak. Kugeser pantat legamku sedikit menjauh. Belum sempat mendarat sempurna, Bang Udin mengangkat dan memutar-mutar tubuhku di atas nampan emas hingga kepalaku terasa pusing. Sejurus kemudian, awwww! Sehelai buluku pun dicabutnya dan diberikan kepada pria asing itu. Kutatap Bang Udin tak percaya dan membatin teganya kau, Bang!

     “Bulu ini… buluh perindu. Kilik sedikit ke perempuan itu dan dia akan jadi milikmu,” pesan Bang Udin dengan percaya diri. Ah, Bang Udin ini ada-ada saja! Mana mungkin buluku punya kekuatan ajaib, aku kan hanya ayam biasa. Lihat saja nanti, pasti laki-laki itu akan kembali lagi untuk protes.

    Hari-hari pun berlalu, beberapa orang yang pernah kutemui berdatangan lagi. Namun, kali ini aku tidak diajak masuk ke ruangan Bang Udin. Tapi sayup-sayup kudengar, mereka merutuk padanya.

     “Aam..puun, Bang, ada cara lebih jitu untuk mendapatkan perempuan yang Abang suka itu.” Bang Udin berbisik pada mereka.

     Seketika pria itu mengeluarkan dompet tebalnya sambil tertawa, “Hahaha, Siti Maemunah, kau akan jadi milikku, Sayang.”

     Mereka mendekat ke arahku dan tiba-tiba satu temannya mengambilku dengan paksa.

     “Petookkk…petoookk!!” Aku tak dapat menghindar. Pria tegap ini memegangiku dengan kuat dan kami pergi dari rumah Bang Udin.

     “Ingat, Bang … namanya Ki Manteb, di pengkolan Jalan Sawo, ya!” teriak Bang Udin sambil mengibaskan lembaran uang di tangannya.

     “Kamu punya foto perempuan itu, nggak?” tanya lelaki tua berkumis yang tinggal di pengkolan Jalan Sawo.

     “Ada Ki, ini foto Siti Maemunah binti Rohadi,” jawab pria tegap tadi sambil tersenyum puas.

     “Mantap … sebelum menyembelih si cemani, saya cuci tangan dulu ya..,” sahut Ki Manteb seraya menuju wastafel.

     Hati ini mulai kacau karena sebentar lagi riwayatku tamat, tega betul Bang Udin mengirimku ke sini. Aku makin memelas saat tangan kiri Ki Manteb menggerayangi leher dan punggungku sementara tangan kanannya menggenggam golok.

     “Lho.. jari saya kenapa jadi hitam begini?” sahut Ki Manteb keheranan ketika hampir menyembelihku.. Ia kemudian menaruh golok dan menggosok-gosokkan serbet ke leher dan tubuhku. Sepertinya, tangan basah Ki Manteb melunturkan ramuan yang dilumurkan Bang Udin pada buluku tempo hari.

     “Gunung gundul… Ini bukan ayam cemani!” Ki Manteb berteriak kesetanan.

     Aku tahu apa itu ayam cemani, karena aku punya seekor teman yang berbulu cemani. Tapi aku hanya ayam kampung biasa, darahku merah kehitaman, buluku juga berwarna-warni, tidak seperti temanku itu.

     Ki Manteb melepaskan genggamannya dari tubuhku. Kesempatan ini kugunakan untuk menggeliat kabur. Masih terngiang rutukan dan cacian dari mulut Ki Manteb dan laki-laki yang membawaku tadi. Sekilas kulihat, laki-laki itu membawa golok sambil tergesa-gesa berjalan ke rumah Bang Udin.

***

Cerpen ini disusun bersama dalam rangka lomba menulis cerpen keroyokan dari Rumah Belajar Menulis Komunitas Ibu Profesional Jakarta. Semoga suka, ya ^^

Cerpen Keroyokan Banner


Cakrawala

20 Oktober 2019

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata ini, “cakrawala’”.

Cakrawala adalah garis imajiner, pemisah langit dan bumi.

Cakrawala adalah bukti bahwa bumi itu bulat. Jika tidak, bagaimana mungkin langit dan bumi menyatu dan hanya dipisahkan oleh sebuah garis?

Sejak kecil, aku suka melihat cakrawala. Rasanya ingin bermain di sana. Tapi kata bundaku, cakrawala itu tidak ada. Jika kita mendekat, maka cakrawala menjauh. Cakrawala ada karena keterbatasan kemampuan pandangan mata kita. Dan kita sebagai manusia, sudah ditakdirkan untuk hanya percaya pada yang kita lihat.

ODB_290518

Gambar diambil dari sini

Di depan mata kita, ubin yang garisnya sejajar saja bisa tampak miring dan seakan-akan bisa bersatu di satu titik tertentu, kan?

Inilah keajaiban mata manusia. Eh, kita tidak sedang membicarakan mata, ding. Kita sedang membicarakan garis. Hehehe.

Kembali ke cakrawala. Hm… Jadi simpulannya apa, ya? ^_^

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari10
#garis

NB: ini hari terakhir tantangan WRITOBER, yeay!!! Eh, tapi blog Danda ini akan ramai lagi, secara, Kelas Bunda Sayang sudah masuh semester II mulai Senin depan… Tarataratarara.. Yeay!!


Lupa dengan Apa yang Sudah Terlupa

19 Oktober 2019

Pernah nggak sih, kita lupa sesuatu, tapi terus kita lupa apa yang kita lupakan?

Aku sering.

Misalkan waktu mau ke luar rumah, saat mengunci pintu depan, aku ingat kalau aku melupakan sesuatu, tapi aku lupa apa itu.

Setelah di perjalanan, barulah kita ingat apa yang terlupa itu.

Ah, aku lupa mematikan magic com.

Ah, aku lupa menghidupkan lampu teras.

Ah, aku lupa meninggalkan uang untuk si mbak belanja.

Dan lain-lain.

images

Gambar diambil dari sini

Kata orang itu karena faktor U, usia. Tapi menurutku itu karena gudang pikiran kita tak tertata dengan baik.

Ada banyak sekali pelatihan menata gudang pikiran. Aku sempat ikut beberapa kali. Tapi seperti biasa, teori tanpa praktik apa gunanya? Gudang pikiranku masih acak-acakan sehingga saat aku memerlukan sesuatu, perlu waktu untuk mendapatkannya.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu pernah lupa dengan apa yang kamu lupakan?

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari9
#lupa


Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)

18 Oktober 2019

Alhamdulillah, setahap lagi aku jadi mahasiswi. Hehehe.

Setelah lulus dan mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP, tahap yang aku lalui tinggal masuk Universitas Indonesia dengan mengikuti SIMAK UI. Mohon doanya, ya.

Mengikuti seleksi beasiswa LPDP itu gampang-gampang susah. Iya, banyakan gampangnya ketimbang susahnya. Paling tidak, begitu menurutku.

Karena aku melaluinya bersama teman-teman, berbagi ilmu dan jawaban saat latihan soal dan latihan wawancara. Hasilnya? Alhamdulillah lancar.

Setelah lulus pun, aku dikumpulkan bersama beberapa teman sesama Mata Garuda (orang yang menerima beasiswa dari LPDP) dan membentuk suatu kelompok Persiapan Keberangkatan atau PK.

Kami dikumpulkan tanpa pernah bertemu satu sama lain, dan saling membantu untuk menyukseskan acara Persiapan Keberangkatan yang cuma sepekan. Sepertinya, ikatan kuat dijalin sebelum kami dilepas, deh. Sehingga ke manapun kami pergi, ada tempat untuk kembali.

Aku sangat bersyukur, dapat kesempatan ini.

logao-lpdp2

Kalau aku bisa, kamu juga bisa.

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari8
#jingga
#jinggawarnalpdp


Kelinci di Bulan II

17 Oktober 2019

Bulan merah jambu luruh di kotamu
Kuayun sendiri langkah langkah sepi
Menikmati angin menabur daun daun
Mencari kembaranmu di waktu lalu

Lirik lagu Tak Bisa Pindah ke Lain hati, dari KLA Project.

Ah, tak tahu kenapa, akhir-akhir ini selalu teringat akan lagu lawas KLA Project ini. Judul sebenarnya adalah Tak Bisa ke Pindah ke Lain Hati, tapi lirik yang aku ingat hanya bagian Bulan Merah Jambu, hihihi.

bulanmerahmalaminididepanrumahku

Gambar diambil dari sini

Ngomong-ngomong soal bulan, aku pernah menulis tentang Kelinci di Bulan dalam blog ini. Ceritanya tentang mitos orang Jepang, bahwa ada keluarga kelinci yang tinggal di bulan. Bayang-bayang mereka terlihat dari bumi. Memang sih, penampakan bulan dari bumi, itu-itu saja.

Apa yang menyebabkan kita hanya bisa melihat satu sisi bulan saja?

Itu karena waktu rotasi dan waktu revolusi bulan terhadap bumi sama-sama 29,5 hari. Jadi, 1 hari di bulan adalah 29,5 hari di bumi. Demikian juga 1 tahun di bulan terhadap bumi, sama dengan 29,5 hari di bumi.

Jadi karena kesamaan waktu rotasi dan revolusi itulah, yang menyebabkan kita hanya bisa melihat satu sisi bulan saja dari bumi. Yaitu bulan dengan gambar kelinci disana. Hehe.

Setiap daerah punya mitos berbeda tentang bulan. Tergantung pada apa yang mereka lihat di sana.

Kalau kamu, apa yang kamu lihat di permukaan bulan?

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari7
#bulan


Ada Apa di Kacamata?

16 Oktober 2019

Alhamdulillah tabarakallah.

Dikaruniai anak kritis bertanya artinya harus jadi oraang tua yang kritis mencari tahu juga. Menjawab pertanyaan anak harus dengan baik dan sesuai bahasa mereka, karena jawaban kitalah yang akan mereka simpan sampai kapanpun juga.

Termasuk ketika Abanng Zi yang baru berusia 6 tahun bertanya tentang kinerja kacamata.

“Kenapa orang yang tidak bisa membaca, begitu memakai kacamata, dia bisa membaca? Di kacamata ada apanya?”

Artinya, kami sebagai orang tua harus bisa menjelaska kinerja lensa dengan bahasa anak berusia enam tahun. Di sinilah tantangannya. ^_^

Pembentukan-Bayangan-pada-Lensa-Cekung-1

Gambar berasal dari sini

“Kenapa selalu ada bayangan? Bayangan terbuat dari apa?”

Jika pertanyaan dari anak berusia 6 tahun itu dilayangkan di rumah, saat kita bersantai, mungkin akan lebih mudah daripada dilayangkan saat di atas ojek yang melalu kencang. ^_^

“Kenapa bisa ada siang dan ada malam?”

Jawab pertanyaan ini dengan peragaan tata surya kala diajukan oleh anak berusia tiga tahun yang dia sedang jongkok mengeluarkan hajat besarnya. Kita? ikut jongkok di hadapannya, menemaninya mengejan, dan membantunya membersihkan diri. ^_^

Bahkan yang terbaru adalah

“Kenapa ada pemilihan presiden? Kenapa Ayah dan Danda ikut pemilu?”

Dan kita pun harus menjelaskan tentang politik pada anak berusia delapan tahun. Oh yeah.

Jadi orang tua itu harus terus belajar, karena orang tua adalah guru pertama bagi anak. Orang tua yang bisa menjawab seluruh pertanyaan anak, dengan bahasa sesuai usia mereka, akan jadi orang tua kebanggaan. Buktikan saja. ^_^

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari6
#kenapa?


Hantu ‘kan Burung…

15 Oktober 2019

Apa yang kamu rasakan bila anakmu yang masih belum genap 2 tahun berkata, “Danda, Abang Zimam takut cama ‘antu.” (Maksudnya: Danda Abang Zimam takut sama hantu).

Kesal. Itu yang aku rasakan dulu. Siapa sih yang mengajari dia tentang hantu? Kami orang tuanya saja menjaganya baik-baik supaya tidak takut apapun selain Allah Subhanawataala.

Yang aku lakukan dulu itu, akhirnya kubuka ponsel pintar (yang sebenarnya tak sepintar sekarang, sih), lalu kucari kanal video, dan kuputar video lagu twinkle twinkle little star yang model utamanya adalah burung hantu.

Tuh, lihat, Bang. Hantu itu burung, loh. Lucu, ya?” kataku.

“Iya, ya. ‘Antu itu buyung. Lucu!” balas Abang Zi.

Berkali-kali kuulangi, sehingga dia tak lagi takut hantu.

owl-2528124_960_720

Gambar didapat dari sini

Tapi ternyata… Sempat terucap juga, Abang Zi delapan tahun takut hantu. Halah. Hahaha.

Masa sih Danda mesti buka twinkle-twinkle little star lagi, Nak? ^_^

Ternyata benar, ya. Perlu orang sekampung untuk membesarkan seorang anak. Hm…

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari5
#takut