Merawat Danda

25 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #12

PhotoGrid_1561383820366

Nama Projek: Merawat Danda

Pimpinan Projek: Abang Zimam Anak Shalih

Penanggung Jawab: Ayah Zimam

Pengamat: Danda Zimam

Gagasan: Danda sakit hari ini. Semalaman maag sakit sekali, sampai-sampai terasa ke punggung seperti sedang kontraksi akan melahirkan. Sudah minum obat, tapi sakitnya berkurang sedikit. Jadinya, di pagi hari Danda lemas sekali. Saatnya Abang Zi merawat Danda

PhotoGrid_1561383870132

~~~

Galau, itu yang dirasa Ayah. Danda sakit, lemas, dan Mbak Asisten ikutan izin gak masuk karena sakit, sementara pekerjaan di kantor ada yang tak bisa ditunda karena satu dan lain hal.

Terpaksa Ayah “menitipkan” Danda pada Abang Zi. Ayah tetap bisa pulang jika darurat.

Danda yakin, Abang Zi bisa mengurus Danda. Abang Zi kan anak cerdas.

Alhamdulillah, MasyaAllah, Tabarakallah. Abang Zi bisa. Mulai dari memasakkan air untuk Danda mandi, menyiapkan apel dan pir untuk Danda sarapan, mencuci piring kotor, sampai menjaga rumah sendirian karena Danda mau ke klinik. (Sengaja Abang gak diajak, kasian).

Cukup lama Danda di klinik. Karena Danda tak hanya periksa, juga diwajibkan makan nasi di warung sebelah klinik ^_^”

MasyaAllah, ketika Danda kembali dari klinik, Abang Zi sudah rapi, sudah mandi dan sarapan. Alhamdulillah.

Ayah yang bertanya kabar dari waktu ke waktu pun, tenang, karena Danda sudah dirawat oleh Abang Zi dengan baik. ^_^

DSC_1032-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan interpersonal dan intrapersonal – memahami kondisi orang lain dan menginisiasi diri membantu orang lain);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan mengendalikan emosi dan mengenali emosi orang lain);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebenaran – menjalankan apa yang dianggap benar);
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (climber – tak lari dari tantangan dan menghadapinya).

Alhamdulillah, Danda sudah lebih baik sekarang. Bisa makan dan minum sendiri walau masih harus banyak istirahat dan berbaring. Terima kasih Abang Zimam.

PicsArt_06-24-08.46.30

#hari12
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Ayo Periksa Gigi

23 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #10

PhotoGrid_1561266376996

Nama Projek: Ayo Periksa Gigi

Pimpinan Projek: Danda Zimam

Pelaksana Projek: Abang Zimam Anak Sehat

Penanggung Jawab: Ayah Zimam

Gagasan: Berhubung gigi Abang Zi ada yang tumbuh abnormal, dan sudah waktunya periksa gigi tiap enam bulan, Danda beride untuk menjadikan kegiatan ke dokter gigi ini sebagai projek keluarga.

PhotoGrid_1561266628344

~~~

Abang Zi punya pengalaman buruk dengan dokter gigi. Gigi susu pertamanya dicabut oleh dokter, dan sang dokter tidak ramah anak. Setelah itu, Abang Zi selalu menolak giginya dicabut dan menunggu sampai tanggal sendiri. Tapi gigi yang satu ini berbeda. Sebelum gigi susunya tanggal, sudah ada gigi tetap yang tumbuh di belakangnya. Karena itu, kasus ini perlu bantuan ahli.

Karena pengalaman buruk yang dialami Abang Zi, dia selalu ngeles saat diajak ke dokter gigi. Danda jadi harus berputar otak untuk membujuk si Abang. Apapun yang terjadi, gigi itu harus dicabut.

Akhirnya Danda memutuskan ke pedodontis, atau dokter gigi anak. Agak mahal ketimbang dokter gigi biasa, namun Danda berharap pengalaman buruk Abang Zi ini terbayar manis.

Selamat mengantre giliran masuk pedodontis, Abang Zi gugup. Terlihat dia selalu bergerak ke sana-ke mari. Setelah masuk ruang praktik, ternyata giliran Abang ini pas jam makan siang. Dokternya menyuruh Abang untuk makan dulu agar ada tenaga. Danda pun mengajak Abang Zi makan di kantin rumah sakit.

Selama makan, Abang Zi mengaku makanannya tidak enak karena dia gugup. Danda menyemangati dengan berkata, “ini harus dilewati, Bang. Abang pasti bisa, Abang kan anak pintar.”

Akhirnya giliran Abang Zi tiba. Giginya ternyata juga ada yang harus ditambal. Dengan sabar sang dokter membimbing Abang Zi untuk berkumur saat rasa pahit dirasa. Dokter ini punya rasa empati yang sangat tinggi, cocok buat anak-anak. Memanglah dia kan dokter gigi anak.

Gigi bermasalah Abang Zi pun dicabut dengan lancar. Tanpa meninggalkan trauma bagi Abang Zi. Dia pun patuh saat dokter menginstruksikan hal-hal yang harus dia lakukan agar giginya sehat.

DSC_1011-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan spasial – Abang Zi paham mana yang baik untuk dirinya dan mengambil keputusan menjalankannya);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan mengendalikan emosi – terutama mengendalikan rasa cemas dan takut menjelang masuk ke ruang praktik dokter);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan dan kebenaran – Abang Zi memilih melakukan hal yang baik untuk dirinya sendiri);
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (climbers – tantangan yang dihadapi Abang Zi untuk berani diperiksa oleh dokter gigi)

Abang Zi keluar ruang praktik dalam keadaan tenang. Dia berkata bahwa dokternya sopan dan baik dan dia senang dengan sang dokter. Ah, rupanya selama ini tersinggung dengan sikap dokter yang lama. Maafkan Ayah dan Danda, ya, Bang. >_<

PicsArt_06-23-12.18.57

#hari10
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Cara Baik Memulai Hari

14 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #1

PhotoGrid_1560388218431

Nama Projek: Cara Baik Memulai Hari

Pimpinan Projek: Danda Zimam

Penanggung Jawab: Ayah Zimam (semua dilakukan atas persetujuan beliau).

Gagasan: Menurut riset kecil yang Danda lakukan, waktu terbaik mengonsumsi buah-buahan adalah sebelum makan berat dan di pagi hari saat perut kosong. Karena itu, gagasan projek hari pertama ini adalah memulai hari dengan makanan baik, yaitu buah-buahan.

PhotoGrid_1560466374805

~~~

Hari ini Abang Zi ikut Nini menginap di rumah Acilnya (adik perempuan Danda). Oh iya, lebaran tahun ini Nini Zi datang ke Jakarta dan kami berlebaran bersama di ibukota. Nah, berhubung di rumah cuma ada Ayah dan Danda, dan Game Level 3 segera dimulai sementara Danda tak mau menyia-nyiakan waktu untuk ikut game (biar dapat Badge OP lagi hihihi), akhirnya Danda mengajak Ayah untuk melakukan projek hari ini.

Judulnya “meningkatkan kecerdasan anak”, kok anaknya gak terlibat?

Ide selanjutnya saat Danda dan Ayah melakukan projek ini adalah “anak yang cerdas dilahirkan oleh orang tua yang cerdas”. Kami sebagai orang tua harus cerdas dulu, supaya bisa mencerdaskan anak kami, Abang Zi. Karena itulah, di hari pertama ini, projek keluarga dalam tantangan game level 3 dilakukan oleh kami berdua.

Tantangan hari ini cukup sederhana. Hanya memulai hari dengan mengonsumsi buah-buahan. Namun bagi keluarga kami, itu suatu hal yang jarang terjadi di hari kerja. Kami berdua jarang sarapan di rumah. Hampir selalu sarapan di kantor. Dan godaan untuk sarapan dengan berbagai menu sarapan Nusantara itu lebih besar bila kami sarapan di kantor. Karena itu, ini sebuah tantangan bagi Ayah dan Danda, untuk duduk manis dan mengonsumsi buah-buahan di rumah. 🙂

DSC_0963-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan logika-matematika – Ayah dan Danda menghitung dan memilih kalori yang masuk di pagi hari)
  • Kecerdasan emosional (kemampuan memotivasi diri – Ayah dan Danda mampu memotivasi diri sendiri untuk duduk manis dan mengonsumsi buah-buahan)
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan – Ayah dan Danda memahami bahwa mengonsumsi buah-buahan di pagi hari adalah sebuah hal yang baik untuk dilakukan)
  • Kecerdasan Menghadapi Tantangan (climbers – Ayah dan Danda melatih diri menjadi individu bertipe climbers)

Jika pemilihan kecerdasan ini terasa agak memaksa, wajar. Seperti yang dibilang oleh para ahli:

Screenshot_20190612-040008-01

Jadi, tak apa memilih satu atau dua kecerdasan yang terlibat, karena sejatinya seluruh kecerdasan sedang dilatih dan ditingkatkan di sini. ^_^

PicsArt_06-13-10.39.17

#hari1
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Game Level #3 Meningkatkan Kecerdasan Anak

13 Juni 2019

PhotoGrid_1560376261979

Setelah (sekali lagi) mendapatkan badge Outstanding Performance karena mengerjakan 15 tantangan dalam 17 hari pada game sebelumnya, dan setelah berleha-leha libur Ramadan dan lebaran, maka saatnya kami kembali ke kelas. Melaksanakan tantangan berikutnya pada Game Level #3: Meningkatkan Kecerdasan Anak.

Screenshot_20190612-035938-01

Materi pada Game Level #3 ini “dalem” banget, dah. Kami diajak untuk membentuk individu yang sukses dan bahagia. Apa itu sukses? Apa itu bahagia?

Screenshot_20190612-040530-01

Sukses, menurut KBBI Edisi V adalah berhasil, beruntung.

Screenshot_20190612-040543-01

Sedangkan Bahagia menurut KBBI Edisi V adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Menurut D. Paul Relly, dalam bukunya “Success is Simple”, sukses didefinisikan sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga.

Bahagia sendiri, menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya “Authentic Happiness”, dibagi menjadi 3 kategori:

  1. Hidup yang penuh kesenangan (pleasant life) – kebahagiaan yang lebih bersifat material;
  2. Hidup nyaman (good life) – kebahagiaan yang lebih bersifat mental; dan
  3. Hidup bermakna (meaningful life) – kebahagiaan yang lebih bersifat spiritual.

Yang manapun yang jadi tujuan kita, untuk mencapai kategori HIDUP SUKSES DAN BAHAGIA, kita perlu memiliki berbagai KECERDASAN HIDUP.

Screenshot_20190612-040024-01

Kecerdasan dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

  1. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotinent/IQ);
  2. Kecerdasan Emosional (Emotional Intellegence/EI);
  3. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intellenece/SI); dan
  4. Kecerdasan Menghadapi Tantangan (Adversity Intellegence /AI).

Screenshot_20190612-040008-01

Kecerdasan Intelektual (IQ)

Screenshot_20190612-040621-01

Kecerdasan Intelektual terdiri dari 9 macam, yaitu:

  1. Kecerdasan bahasa (linguistic);
  2. Kecerdasan musik (musical);
  3. Kecerdasan logika-matematika (logical-mathematical);
  4. Kecerdasan spasial (spatial);
  5. Kecerdasan kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic);
  6. Kecerdasan intrapersonal;
  7. Kecerdasan interpersonal;
  8. Kecerdasan naturalis; dan
  9. Kecerdasan eksistensial.

Kecerdasan Emosional (EI)

Screenshot_20190612-040614-01

Komponen dasar kecerdasan emosional adalah:

  1. Kemampuan mengenali emosi diri sendiri (kesadaran diri);
  2. Kemampuan mengenali emosi;
  3. Kemampuan memotivasi diri sendiri;
  4. Kemampuan mengenali emosi orang lain (empati); dan
  5. Kemampuan membina hubungan dengan orang lain (keterampilan sosial).

Kecerdasan Spiritual (SI)

Screenshot_20190612-040628-01

Dari hasil penelitian seorang ahli syaraf, V.S. Ramachandran, pada tahun 1977, terdapat God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual (spiritual centre) yang terletak antara jaringan syaraf dan otak.

dari spiritual centre ini menghasilkan suara hati yang memiliki kemampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bisa dibandingkan dengan panca indera.

Ada 3 prinsip dalam kecerdasan spiritual, yaitu:

  1. Prinsip kebenaran;
  2. Prinsip keadilan; dan
  3. Prinsip kebaikan.

Kecerdasan menghadapi tantangan (Adversity Intellegence)

kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.

Menurut Stoltz, ada 3 tipe kecerdasan ini, yaitu:

  1. Quitters – kemampuan seseorang yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti bila menghadapi kesulitan;
  2. Campers – kemampuan seseorang yang pernah mencoba menyelesaikan suatu kesulitan, atau sedikit berani menghadapi tantangan, tetapi tidak berani menghadapi risiko secara tuntas; dan
  3. Climbers – sebutan untuk orang yang seumur hidup selalu menghadapi kesulitan sebagai suatu tantangan dan terus berusaha untuk menyelesikan hambatan tersebut sehingga mencapai suatu keberhasilan.

Manusia tidak dilahirkan menjadi Quitters, Campers, atau Climbers. Manusia dibentuk untuk itu.

TANTANGAN GAME LEVEL #3

Dari keempat kecerdasan di atas, dalam game ini, kami ditantang untuk membuat suatu projek keluarga (Family Project), yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan anak, dan keluarga, demi meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP

#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Birthday Challenge

27 April 2019

IMG_20190427_234236_013

Alhamdulillah hari ini saya sudah 35 kali mengelilingi matahari. Terima kasih pada Allah Subhanawataala, atas 35 kali kesempatan emas ini.

Hari ini ditutup dengan makan malam keluarha di Shaburi All You Can Eat, Kokas. Kenaoa Shaburi? Karena makan di sana gratis buat yang ulang tahun ^^

InsyaAllah tahun-tahun berikutnya lebih shalihah lagi, lebih baik lagi, dan lebih pintar lagi.

Banyak birthday wishes yang saya ucapkan, berharap terkabul satu demi satu, aamiin.

Dan malam ini saya membuat challenge dengan Pak Suami. Challenge menurunkan lingkar perut. Waktunya adalah mulai malam ini hingga malam takbir lebaran nanti.

Hukuman bila kalah, mengikuti perintah yang menang. Kalau Pak Suami kalah, dia harus lari pagi 3 akhir pekan berturut-turut, 2x putaran keliling jalan arus-salak. Bila saya kalah, saya harus lari keliling lingkar dalam monas. Yeay ^^

Doakan menang, yaaaa ❤


Abang Zimam Sunat

3 Juli 2018

Hari ini, Zimam menjalani satu milestone penting dalam hidupnya. Sunat atau khitan.

Sebagai seorang anak laki-laki muslim, sunat atau khitan ini wajib dilakukan. Selain wajib dari segi agama, sunat ini juga bagus dari segi kesehatan.

Sebelum Zimam disunat, hampir setiap hari aku khawatir akan ISK, infeksi saluran kemih. Waktu aku masih membantu Zi beristinja’ sehabis buang air, aku selalu membersihkan penisnya. Sekarang Zi beristinja’ sendiri karena sudah mulai besar, dan dikenalkan dengan malu. Proses pembersihan penis bagian dalam belum tentu dilakukan dengan baik olehnya.

Awalnya Zi ingin sunatnya dilakukan di rumah nenek di Bukittinggi. Karena kami ke sana pas lebaran, aku tawarkan pada Zi untuk sunat sebelum puasa, lalu dirayakan di rumah nenel. Tapi ternyata dia berubah pikiran, dia tak ingin lagi sunatnya dirayakan. Karena itu kami memundurkan jadwal sunatnya jadi pas liburan kenaikan kelas.

Untuk metode sunat sendiri, dengan beberapa pertimbangan dan masukan dari dokternya Zi maupun teman-teman kami, sunat metode konvensional yang kami pilih. Dan setelah mencari, Rumah Sunat 123 menjadi pilihan tempat sunat untuk Zi.

DSC_1381Sunat konvensional rupanya memerlukan waktu yang lebih lama ketimbang metode lainnya. Karena ada proses menjahit satu-satu. Totak waktu yang aku pakai untuk merekam proses ini adalah 26 menit. Belum termasuk bius, karena bagian ini belum sempat kuabadikan 😀

Saat Zi disunat, ada dokter hm.. semacam dokter yang sedang belajar, lah.. datang menyaksikan proses sunat Zi. Menurut dokter itu, sunat metode konvensional sangat jarang diminati masyarakat, karena itu, kesempatan langka buatnya bisa menyaksikan proses sunat konvensional ini. Hahaha, ada-ada saja, ya.

Setelah setengah jam berlalu, Zi diperbolehkan bangun dan memakai sarung. Pesan dokter sunatnya, Zi jangan pakai celana batok, biar kepala penisnya terbiasa. Kata dokter lagi, yang bikin anak gak nyaman pakai celana biasa setelah disunat adalah, biasanya kepala penis ini terlindungi kulit, nah, setelah kulit itu disunat, tak ada lagi yang melindungi, si kepala yang terlanjur sensitif karena memang tak pernah bersentuhan dengan dunia luar akan membuat Zi tidak nyaman di awal.

Setelah selesai sunat, Zi mendapatkan serifikat lulus sunat. Alhamdulillah.

DSC_1397

DSC_1392

Selesai sudah tugas kami sebagai orang tua, menjalankan perintah agama, menyunat Zi. Mohon doa semoga Zi tetap menjadi anak shalih kebanggaan orang tua. Aamiin.


VBAC–Vaginal Birth after Cesarean

2 Februari 2018

Apa itu VBAC?

Dalam bahasa Indonesia, VBAC adalah Pesalinan normal setelah sebelumnya sesar. Vaginal Birth after Cesarean.

Halo semuanya, ijinkan aku membagi tentang pengalaman VBAC-ku. well, ya, walaupun Baby K sudah di surga sekarang, tapi proses melahirkan Baby K secara VBAC masih sangat berkesan buatku. Lagian, Baby K insyaAllah sudah ada yang jaga, kan? Aku bisa tenang ^_^

Kisah ini dimulai ketika aku baru saja melahirkan #AbangZimam dengan proses sesar. Dari milis sehat, aku menemukan kata VBAC, yang artinya Vaginal Birth after Cesarean, alias Persalinan Normal Pascasesar. Jalan-jalan di internet, facebook, kenalan dengan grup GBUS (Gentle Birth untuk Semua), makin mengenalkan aku dengan “bisanya seorang perempuan melakukan vbac”.

Sejak saat itu, aku mantab, persalinan berikutnya aku mau vbac jika memungkinkan.

Awalnya aku ingin memberi adik buat Abang Zimam di usianya yang ketiga, ternyata Allah SWT berencana lain. Aku baru hamil ketika Abang Zimam berusia 5 tahun (tahun 2016). Dan itu pun gugur dalam masa biokimia (liat postinganku di Biochemical Pregnancy, deh ^_^).

Dan ketika pada tahun 2017 aku kembali dipercaya untuk hamil Baby K, dan saat di-USG Baby Kei sudah terdengar detak jantungnya, bahkan ketika masih di meja periksa, aku sudah bilang sama obgynku, “Dok, saya pengen vbac.”

Dan jawaban dokter itulah yang membuat aku betah periksa terus dengannya sampai kelahiran Baby K. “Oh, bisa! Kenapa nggak?”

Dia adalah dr. Sitti Fausihar Sp.OG di Rumah Sakit Hermina Jatinegara.

Bertemu dengan dokter Sitti bisa dibilang takdir dari Allah. Tahun 2015, aku merasa bekas sesarku perih, aku ajak suami ke obgyn di Hermina. Aku asal tunjuk obgyn, cari obgyn perempuan yang paling sedikit antreannya saat itu hehe. Dialah dokter Sitti. Siapa sangka, tahun 2017 dokter Sitti menjadi obgyn yang panjang antreannya hahaha…

Tahun 2017 ketika aku positif hamil dan merasa punya masalah dengan asam lambung, aku berkonsultasi via whatsapp dengan adik kelasku yang obgyn. Dia merekomendasikan dokter Sitti (bila aku memang ingin konsultasi di RS Hermina Jatinegara). Rupanya dokter ini teman adikku itu (belakangan baru aku tahu, kalo dokter Sitti juga adik kelas dari abang kelasku tempat aku konsultasi via telepon juga. what a small world! ^_^).

Periksa ke dokter Sitti ini enak. Karena dia malah nyuruh aku ke puskesmas untuk minta vitamin dan cek darah. Dari dokter Sitti pula aku tau bahwa Faskes BPJS Tingkat I untuk ibu hamil, yang paling bagus adalah PUSKESMAS. Karena itu aku patuhi sarannya, dan aku pindahkan faskes BPJS-ku ke Puskesmas Kec. Kramatjati.

Ternyata dia benar. Aku di-treatment benar-benar sesuai guideline dari Pemerintah. Dikasih buku pink, cek darah HIV dan Hepatitis gratis, vitamin-vitamin gratis tiap bulan, serta nasihat-nasihat untuk ibu hamil lainnya. Cuma memang aku harus sabar karena antreannya panjang hehehe. Aku memilih periksa tiap hari Jumat karena antreannya paling sedikit timbang hari lainnya. Oya, jadwal periksa Poli KIA untuk ibu hamil adalah tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 08.00 – 11.00 WIB.

Agar aku berhasil vbac, ada beberapa hal yang harus aku patuhi. Aku harus menjaga pola makan, agar berat badan janin (BBJ) tidak lebih dari 3kg (karena postur tubuhku dokter mengijinkan BBJ-ku lebih besar dikit daari 3kg, asalkan jangan sampai 3,5kg). Usia kandunganku saat melahirkan tidak boleh lebih dari 40minggu, ketuban cukup, plasenta sehat dan letaknya tidak menutup jalan lahir, tidak ada lilitan tali pusar, serta dinding rahimku tebal.

Pola makanku pun diatur. Karbohidratku diganti dengan nasi merah, dan aku diharuskan makan lebih banyak daging (hiks, aku gak terlalu suka daging-dagingan sebenarnya). Tapi, demi bisa vbac, aku jalani semua itu. Sampai-sampai beli 1 lagi rice cooker untuk memasak nasi merah Smile

Hari berlalu, bulan pun berlalu. Periksa rutin tiap bulan tidak pernah aku lewati. USG rutin juga untuk memantau BBJ, letak plasenta, tali pusar, dan jumlah air ketuban.

Oya, statusku saat hamil Baby K adalah G3P1A1, kehamilan ketiga, sudah pernah melahirkan 1 kali, dan keguguran 1 kali.

Untuk vbac, bukan hanya tubuhku dan janin yang dipersiapkan. Dana juga. Karenanya aku mencari tahu, apakah vbac dicover BPJS? ternyata tidak. Hanya sc terencana yang dicover BPJS di RS Hermina. Aku pun hunting rumah sakit lain, siapa tau ada yang vbac-nya dicover BPJS, mengingat saat vbac, aku ada kemungkinan harus disesar in cito.

Rumah sakit yang paling dekat dengan rumahku selain Hermina adalah RS Budhi Asih. Aku pun mengajak suami periksa di sana. Ternyata dokter yang aku datangi tidak bersedia melakukan VBAC karena posisi tempat tinggalnya yang jauh dari RS sehingga tidak memungkinkan untuknya datang tepat waktu apabila aku harus sesar in cito.

Baiklah, artinya opsi satu-satunya hanyalah Hermina Jatinegara. Kamipun mencari tahu berapa besar biaya yang harus kami siapkan bila ingin VBAC di sana.

Untuk persalinan normal kelas melati (paling rendah), berkisar antara 7-11 juta. dan untuk Sesar kelas melati berkisar antara 22-25juta. Maka segitulah dana yang akhirnya kami siapkan untuk bisa VBAC.

Selain itu, karena ada klausul melahirkan tidak boleh lebih dari 40 minggu, sedang pengalaman Abang Zimam, kontraksi pertamaku baru terjadi tepat di 40 minggu dan bukaannya sangat lambat, aku pun mencari tempat berlatih yoga prenatal, siapa tau bisa membantu mempercepat kontraksi. Ke sana ke mari aku mencari tempat prenatal gentle yoga terdekat dengan rumahku. Tapi belum juga ada yang pas.

Suatu hari, Abang Zimam mengeluh giginya goyang, aku pun berinisiatif membawanya ke dokter gigi. Tapi ternyata, dokter gigi BPJS Zimam waktu praktiknya gak pas dengan jadwal sekolah dan kursusnya. Aku pun mencari dokter gigi BPJS yang jadwal praktiknya pas. Dan aku menemukan Klinik Hygea. Aku pun memindahkan faskes tingkat 1 Abang Zimam ke Kllinik Hygea. Faskes tersebut berlaku tanggal 1 November 2017.

Ketika aku mendaftarkan Zimam untuk periksa gigi di Klinik Hygea, aku menemukan banner iklan Prenatal Gentle Yoga squad #bidanamel di sana. Wow. Ini yang aku cari! Segera aku minta kontak ke resepsionis dan mereka memberikan kontak Bidan Nurul sebagai instruktur yoga di Hygea.

Malamnya aku langsung mengontak bidan Nurul lewat whatsApp, dan hari Minggunya, di usia kandungan 28minggu, aku mulai berlatih Prenatal Gentle Yoga.

Saat berlatih yoga itu, aku banyak sekali menemukan hal yang baru. Teori kontraksi, teori mengejan, teori mempercepat turunnya kepala bayi ke panggul. Aku mendapatkan ilmu bahwa Gymball dapat membantu mempercepat bayi masuk panggul. Aku juga mendapatkan banyak teman baru di sana.

Atas rekomendasi Bidan Nurul, pada usia kandungan 32 minggu aku membeli Gym Ball. dan mulai berlatih pelvic rocking.

Jujur saja, aku baru 2 kali berlatih senam hamil karena waktu latihannya kurasa tidak pas dengan jadwal ngantorku.

Setelah berlatih yoga secara rutin, berenang,  periksa ke obgyn dan puskesmas dengan rutin juga, pada usia kandungan 37 minggu, tepatnya 11 Januari 2018 aku mulai merasakan gelombang cinta pertama. Alhamdulillah. Suamiku membantu dengan melakukan pijat perineum. Aduhai rasanya menyenangkan. Pijat perineum hanya bisa dilakukan setelah usia kandungan 36 minggu ya, karena bisa memicu kontraksi.

Oya, di usia kandungan 34 minggu, dokter sudah memeriksa dinding rahimku dan hasilnya adalah 4,3cm, katanya seperti dinding rahim orang yang belum pernah sesar. Alhamdulillah.

Sayangnya, Pak Suami hanya berkesempatan 1 kali saja melakukan pijat perineum, karena aku keburu mengalami kontraksi yang membuatku tidak nyaman memosisikan diri untuk dipijat perineumnya.

Setelah mengalami kontraksi pertama, aku makin sering berlatih pelvic rocking di atas gym ball. Sambil nonton drama korea. Lumayan loh 1 jam lebih kalo latihannya sambil nonton 1 episode drama korea ^_^

Di usia kandungan 38 minggu, aku periksa dan sudah bukaan 1. Alhamdulillah. Ada kemungkinan aku bisa melahirkan dengan vbac karena bukaan jauh sebelum 40 minggu.

Esokya dan esoknya dan esoknya lagi, kontraksiku makin nambah. Selasa 16 Januari, aku periksa lagi, dan masih bukaan 1. Aku bercerita ke teman-teman yoga, dan dikenalkan dengan doula yang bisa melakukan akupresure, kami berjanji bertemu hari Jumat. Kabarnya akupresurenya bisa nambah bukaan.

Tapi, hari Kamis 18 Januari, aku merasa kontraksiku makin kuat. Sudah sejak Rabu sebenarnya, tapi karena aku “calm” di pagi hari, aku selalu gak jadi ngajak suami ke rumah sakit. Setiap malam, aku hampir tidak bisa tidur. Bahkan beberapa kali aku menyerah minta disesar saja karena gak tahan akan nyerinya kontraksi. Tapi suamiku tetap menguatkanku untuk tetap di niat awal, vbac. Satu-satunya posisi tidur yang bisa aku lakukan adalah duduk. 6 buah bantal aku susun, sampai-sampai pantatku nyeri sekali karena aku selalu dalam posisi duduk.

Akhirnya Jumat 19 Januari, aku minta suamiku mengantarku ke rumah sakit. Di sana, aku janjian dengan doulaku untuk pijat akupresure.

Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung disuruh ganti baju (kalau gak mau bilang dipaksa, ya, hehe), karena kontraksiku yang sangat kuat, walaupun bukaan masih saja 1. Doulaku datang dan memijatku, bukaan langsung naik ke 3.

Doula datang dengan perjanjian untuk pijat akupresure saja. Dia bertanya apa aku sudah punya pendamping persalinan? aku jawab belum. Aku juga balik bertanya apa dia bisa jadi pendamping persalinanku? Dia jawab: kamu yakin?

Merasa aku tak punya pilihan lain, dan merasa bahwa suamiku tidak sepintar itu untuk jadi pendamping persalinanku, aku meminta doula tersebut untuk jadi pendampingku, s&k terserah dia. Dia pun setuju. Dia seperti malaikat yang dikirim Allah padaku di saat-saat genting. Dia membimbingku agar mengubah persepsi nyeri menjadi gelombang cinta. Mengajari cara bernafas yang fun saat kontraksi datang. Dan mengajariku gerakan-gerakan yang membuat Baby K makin cepat turun ke panggul.

Sampai malam, bukaan masih 3,5. Belum juga 4. Aku tidak bisa tidur karena kontraksiku sangat kuat. Suamiku yang menemaniku sudah tepar kelelahan. Kubiarkan saja dia tidur. Kasihan. Malam itu suster datang memberiku obat anal untuk mengurangi kontraksi. Akupun bisa tidur selama 2 jam (walau terbangun di antaranya), dan merasa lebih segar pada jam 4 pagi. Bukaan naik menjadi 4.

Suster menyuruhku mandi, bajuku kotor sekali oleh lendir. Setelah segar, aku mulai berlatih lagi. Jam 11 pagi, pada bukaan 5, obgyn datang dan memecahkan ketubanku. Entah apa yang terpikir olehnya, mungkin sudah feeling dia sebagai dokter melihat lendir, kontraksi, dan bukaanku. Ternyata air ketubanku sudah berwarna ijo (kata suamiku teksturnya seperti kuah kacang ijo, aku gak lihat sendiri), akhirnya dokter memutuskan memberikan induksi buatku, mungkin dia juga mempertimbangkan ketebalan dinding rahimku juga kali ya makanya berani ngasih induksi.

Spontan saja nyeri kontraksiku makin bertambah. Dengan ajaran nafas “hi-hi-hoo” ajaran doula, dan pijatan suami di daerah punggung dan pantat, aku berhasil melaluinya. Bukaan 6, 7, 8, dan akupun disuruh mengedan.

Tepat pukul 12 siang dokter datang untuk membantuku mengejan. Sekali, dua kali. Semua ilmu dan teori mengedan yang diajarkan di senam hamil maupun yoga, buyar! Aku gak berhasil mengedan dengan baik T_T

15 menit berlalu, dokter memutuskan membantu persalinanku dengan forsep. Dengan aba-aba dokter, aku mengedan 1 kali, dan pukul 12.28 WIB tanggal 20 Januari 2018, Baby K pun lahir.

Fiuh!

Aku skip cerita tentang jahitan akibat forsep, ya. 15 cm di dalam, dan seluruh perineum di luar. Aku juga akan skip cerita tentang baby K karena sudah aku bahas di postingan sebelumnya ^_^

Memang aku akui, vbac-ku ini tidak termasuk gentle birth. Mana ada gentle birth tapi diperiksa dalam tiap jam, diinduksi, diforsep? Itu mah penuh trauma. Belum lagi aku seperti mimpi menjalani proses melahirkan ini, karena perintah suster datang bertubi-tubi tanpa aku tahu mana yang lebih dulu harus dipatuhi. Yang disuruh makan, yang disuruh miring kiri, yang disuruh mengedan.

Tapi aku tetap bersyukur, bisa merasakan melahirkan dengan proses pervaginam.

Dan satu lagi doaku terkabul. Dulu aku pernah berdoa, agar bisa melahirkan dalam pelukan suami. Dan itulah yang aku alami saat melahirkan Baby K.

Padahal awalnya, aku memutuskan doula lah yang mendampingi aku melahirkan. Ternyata dia terlambat datang hihihi. Dia datang saat aku bukaan 7 apa 8 gitu, dan sudah nyaman di pelukan Pak Suami. Jadinya aku bilang suamiku saja yang mendampingiku. Bukan doula.

Benar-benar suatu prosesi melahirkan yang walaupun melelahkan nan membingungkan, tapi tetap mengesankan. Andai diijinkan, aku ingin merasakan lagi proses melahirkan yang seperti ini (kalau bisa yang lebih mudah dari ini, ya). Hubunganku dengan suami terasa benar begitu dekat saat itu. Terasa sekali aku dan dia itu jadi satu kala itu (terakhir aku merasakan hal ini yaitu saat akan masuk ruang operasi untuk melahirkan Abang Zimam). Yah, cerita-cerita di drama korea atau di lirik lagu cinta itu benar adanya, loh! Hehehe…

Setelah proses melahirkan selesai, bayiku dirawat, suamiku mengurus bayiku, aku selesai dijahit, yang aku rasakan adalah LEMAS.

Ternyata benar, melahirkan menguras energi. Apalagi dari kemarin hanya 1 atau 2 suap makanan yang masuk ke perutku. Selera makanku hilang karena aku berkutat dengan kontraksi. Lain kali aku sedia makanan cair saja lah. biar tetap ada energi sebelum melahirkan. catat ya! makanan cair!

Aku benar-benar tergeletak lemas di kasur VK. Bahkan ketika petugas meminta cap jempolku (untuk disandingkan dengan cap kaki Baby K), aku minta dia mengangkatkan tanganku hahaha.

Setelah sekitar 1 jam berbaring, Aku mulai merasakan diriku kembali. Dan tahu, gak? ternyata makanan rumah sakit itu ENAK loh! wkwkwk… Yup, setelah aku gak ngalamin kontaksi, selera makan pun kembali.

Dibilang penuh trauma, iya. Dibilang lebih enak disesar, benar. Tapi jujur, aku tidak kapok melahirkan dengan normal. Walau dengan anatomi tubuhku, aku tidak yakin dokter akan mengijinkanku melahirkan pervaginam lagi ^_^

Jadi, apakah seorang perempuan bisa melahirkan secara normal setelah sebelumnya sesar? Jika syarat dan ketentuan terpenuhi, BISA.

Tapi, lakukan di rumah sakit atau kllinik yang bisa sesar in cito, ya! Artinya, sesar dadakan. Karena vbac itu tetap ada risiko ruptur uteri (sobek dinding rahim), dan apabila terjadi ruptur uteri, dalam 15 menit harus dilakukan operasi sesar agar nyawa ibu dan bayi bisa selamat.

Allah SWT telah menganugerahi manusia dengan ilmu. Yuk pergunakan sebaik mungkin. Berdayakan diri kita ya.

Yeptirani Syari

PS: Pas melahirkan, usahakan tidak teriak. Ngabisin energi soalnya. Aku yang gak teriak aja, habis lahiran lemes tak terkira, gak kebayang lemasnya yang teriak-teriak, ya? 🙂