NHW #3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

20 Agustus 2018

Ini sesi yang bikin galau, deh. Karena pekan ini NHW #3 menyuruh mahasiswi untuk menulis surat cinta pada suami.

What? Surat cinta? Surat cinta yang itu?

Iya. Benar-benar surat cinta. Jatuh cintalah pada suami! Begitu perintahnya. ^_^

Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa menulis surat cinta pada suami itu ternyata membutuhkan keberanian tersendiri. Saya suka drama korea. Ada banyak gombalan di dalamnya. Tapi tetap saja, kalau saya harus menggombal, butuh keberanian. 😀

Akhirnya surat cinta 3 halaman itu berhasil saya tulis dan saya serahkan ke suami tercinta. Apa isinya? Maaf, yang itu confidential ^_^

NHW kali ini mengajak saya melihat potensi dari diri saya sendiri, potensi suami, potensi anak, potensi lingkungan, dan mencari kira-kira rahasia Tuhan mana yang menjadi peran kami di muka bumi. Sungguh tugas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Yeptirani Syari_NHW3_Jakarta4

Kamis, 16 Agustus 2018

Sebelum terlelap, saya serahkan sepucuk surat cinta tugas NHW#3 kepada suami saya. Malu rasanya, karena saya belum pernah menulis surat cinta padanya sebelumnya. Kami bertemu di zaman milenial. Di mana sms dan telepon murah sudah menjadi pemersatu pasangan yang terpisah jarak. Kami bertemu di masa di mana kantor ekspedisi barang lebih mudah ditemukan ketimbang kantor pos, apalagi bus surat. Sungguh, menulis surat bukanlah hal yang mudah.

Setelah beberapa kali menyobek kertas bekas yang saya pakai untuk menulis konsep surat, saya akhirnya bisa menuliskan sebuah surat cinta dengan kertas Hello Kitty cantik kesukaan saya. Dalam bayangan saya, suami saya cuma akan mengangguk-angguk tanpa ekspresi ketika membacanya. Ternyata saya salah.

Malam itu sudah larut, suami saya memasuki kelambu tidur kami setelah menidurkan si sulung. Saya menyerahkan surat itu. Dia membacanya. Awalnya sambil bercanda. Saya pun merajuk. Lalu dia membaca dalam diam. Kemudian memeluk saya sambil berkata, “terima kasih, ya. Aku suka dikasih surat seperti ini. Aku orangnya tidak ekspresif, kamu pandai menulis, aku suka sekali membaca surat kamu, istriku.”

Air mata saya tiba-tiba menetes. Saya terharu. Saya tidak menyangka tanggapannya demikian. Saya jatuh cinta lagi pada suami saya, yang jatuh cinta lagi pada saya.

~~~

Namanya Azzimam Wiracatha Zulkifli, pemimpin yang disiplin, cerdas, dapat mengayomi, dan dapat diberi amanah. Dia anak pertama kami.

Sejak lahir dia bukan anak yang merepotkan. Jika orang tua lain begadang saat baru punya bayi, kami tidur lelap, karena Zimam hampir tak pernah bangun malam. Saat anak lain rewel di waktu sakit, Zimam diam saja, sesekali meringis menahan sakit, membuat kami berdua akhirnya meringis menahan sakit di dada karena melihat anak yang tidak mengeluh.

Zimam anak yang patuh dan mudah diberi tahu. Mungkin karena contoh dari kami berdua juga. Dia anak yang pemberani dan penyayang. Suka memeluk dan mencium orang tuanya walau usianya tak kecil lagi. Dia juga penyayang kucing.

Kami tak pernah menuntut Zimam menjadi anak yang pandai, tapi ternyata nilainya tertinggi di kelasnya. Kami tak pernah menuntut dia menonjol, tapi ternyata dia menjadi ketua kelas. Kami tak pernah menuntut dia berbakat di segala bidang, tapi ternyata dia dipilih mewakili sekolahnya untuk lombah story telling yang diadakan oleh LIA, juga kandidat atlet Pencak Silat Tapak Suci untuk PORDA, namun kami tahan untuk tidak ikut karena padatnya jadwal latihan. Kami melihat banyak bakat di dalam dirinya yang tak kami ketahui sebelumnya.

Jangan suruh dia mewarnai. Dia tak tahan duduk diam lebih dari 7 menit, 1 menit kali usianya sekarang. Jangan pula suruh dia menyanyi, nanti telinga kita akan sakit karena dia buta nada, seperti ibunya.

Saya melihat calon pemimpin masa depan dalam diri Zimam. Kini tugas kami, orang tuanya. Memupuk bakat itu, hingga dia benar-benar jadi pemimpin yang adil seperti Nabi Zulkifli a.s.

~~~

Saya Yeptirani Syari, anak pertama dari dua bersaudara. Dilahirkan dengan keluarga utuh sampai berusia 8 tahun. Hidup hanya dengan ibu dan adik perempuan sampai berusia 14 tahun. Lalu merantau menempuh pendidikan di luar rumah sampai menikah di usia 24 tahun.

Saya suka menulis. Suka berimajinasi karena kehidupan saya yang tidak sempurna membuat saya berimajinasi menyempurnakan kehidupan saya, sehingga menghasilkan suatu cerita fiksi. Saya juga seorang introvert yang sulit berkawan namun nyaman diajak bicara.

Saya mengakui bahwa saya orang yang cerdas. Selalu ranking 1 sejak SD sampai SMP lalu diterima di SMA terfavorit zaman itu, SMA Taruna Nusantara. Saya rasa kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menciptakan generasi cerdas berikutnya, karena gen kecerdasan turun dari ibu. Saya hadir dengan mengemban tugas menurunkan gen cerdas yang saya miliki. Saya meyakini itu.

Ibu adalah sekolah pertama. Saya sekarang meyakini, kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menjadi guru pertama bagi anak-anak kami bahkan sejak mereka dalam kandungan. Karena itu suami saya dapat bekerja dengan tenang karena anak-anaknya telah berada di tangan yang tepat. Guru pertama mereka, ibunya.

~~~

Saya tinggal di tengah Kota Jakarta dengan kehidupan Kampung Betawi. Sampai saat ini, inilah lingkungan favorit saya. Di kampung ini pulalah, anak kedua saya berbaring untuk selamanya. Saya bermimpi menjadikan kampung ini menjadi kampung halaman baru kami. Kampung ini kampung yang cukup sempurna, saya merasa terberkahi berada di lingkungan ini.

Saya pikir, Allah ingin saya lebih mudah bersosialisasi, karena itu saya ditempatkan di sini. Saya bermimpi membuka sebuah perpustakaan tanpa asap rokok untuk tempat nongkrong anak-anak muda di kampung ini. Mungkin sebuah kursus bahasa Inggris gratis juga.

Ada banyak anak yatim dan kurang mampu yang seumur dengan Zimam di sini. Saya juga bermimpi bisa menyekolahkan salah satu dari mereka.

Semoga impian saya diridai Allah Subhanawataala. Aamiin.

~~~

Dari semua hal di atas, saya rasa saya bisa menyimpulkan bahwa keluarga kami adalah keluarga pembelajar dan hadir untuk mengajak orang lain belajar bersama kami. Banyak impian yang saya punya, semoga semuanya bisa menjadi kenyataan, satu demi satu.

~~~

NHW#3 End


NHW #2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

13 Agustus 2018

Nice Homework pekan kedua di perkuliahan Kelas Matrikulasi IIP Batch #6 ini mengangkat tema Indikator Perempuan Profesional.

Untuk mengerjakan NHW kali ini, saya diharuskan bertanya pada diri sendiri, perempuan seperti apa yang kamu anggap baik? Lalu bertanya pada suami, dan pada anak. Ini agak… gimana, ya? Saya belum pernah bertanya tentang hal ini sebelumnya. Baik pada suami maupun pada anak. Jadi, ya… pertanyaan saya lumayan membuat suami terkejut.(*^▽^*)

Yeptirani Syari_NHW2_Jakarta4

A. Indikator sebagai individu.

Indikator ini saya tanyakan pada diri sendiri, individu yang baik itu seperti apa? Saya menemukan beberapa poin, yaitu:

~ Sehat

~ Bahagia

~ Disiplin

~ Cantik

B. Indikator sebagai istri

Indikator ini saya tanyakan pada suami lewat whatsapp. Supaya ada bukti tertulis, andaikata lupa. ヽ(⌐■_■)ノ♪♬

Dari jawaban suami didapat beberapa poin, yaitu:

~ Rajin ibadah

~ Nggak ribut masalah uang

~ Bisa ngasih perhatian ke anak

~ Bisa diajak diskusi

~ Bisa masak (yang ini suami minta izin dulu ke saya, apa saya gak keberatan bila beliau memasukkan poin ini Open-mouthed smile)

C. Indikator sebagai ibu

Indikator ini saya dapatkan setelah wawancara santai dengan anak saya, Abang Zimam. Alhamdulillah anak saya masih ada satu lagi, jadi saya masih bisa berdiskusi dengan dia. ٩(ˊᗜˋ*)و

Zimam mengutarakan isi hatinya dengan bahasa sederhana. Dan saya memahaminya.

~ Tidak berteriak (Abang takut kalau Danda teriak-teriak)

~ Menjemput Abang Zimam pulang sekolah (Abang senang kalau Danda ada di sekolah jemput Abang)

~ Memasak untuk Abang Zimam (bawakan bekal, ya)

~ Memeluk (yang ini saya yang nawarin hehe)

Demikian indikator perempuan profesional versi saya, suami, dan anak. Semangat mengerjakan Nice Homework.. !(•̀ᴗ•́)و ̑̑



NHW #1 Adab Menuntut Ilmu

6 Agustus 2018

NHW adalah Nice Homework, yaitu PR menyenangkan yang harus diselesaikan oleh seluruh matrikan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Minggu ini, NHW pertama telah diluncurkan setelah materi diberikan. Saya pun harus memecahkan teka teki tentang Adab Menuntut Ilmu ini. 🙂

Yeptirani Syari_NHW1_Jakarta4

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini adalah Jurusan Manajemen Waktu dan Jurusan Kebahagiaan.

2.Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Alasan terkuatnya adalah karena saya masih harus belajar tentang manajemen waktu. Serta karena hidup ini harus bahagia.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

Strategi yang saya rencakanan adalah dengan belajar memilah dan memilih mana yang penting dan genting mana yang tidak. Saya berencana disiplin mencatat di to-do-list serta belajar menerima apa yang ada di sekeliling saya dengan ikhlas.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Sikap yang harus saya perbaiki adalah sikap malas dan moody. Juga sikap tidak puas dan terus menuntut. Mengembangkan diri bukan hal yang dilarang, tetapi tetap bahagia.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

– Tim Matrikulasi Ibu Profesional


Kelas Matrikulasi IIP Batch #6, Tugas Pertama: Membuat Aliran Rasa

28 Juli 2018

Apa itu aliran rasa? Jujur, baru kali ini saya mendengarnya. Terus, saya harus membuat alira rasa? Keyapa caranya? (bahasa Banjar: seperti apa caranya?).

Setelah selesai menjalani Kelas Fondation, kami memasuki Kelas Matrikulasi yang sesungguhnya. Kami diperkenalkan dengan Google Classroom karena semua materi akan dibagikan lewat aplikasi itu. Kelas pun diambil alih oleh Fasilitator, Mbak Kiki Puspitasary (@kpuspitasary). Tugas pertama yang diberikan Fasil pada kami adalah Membuat Aliran Rasa.

OMG 」( ̄▽ ̄」)

Mana tuh tugas due date-nya sehari, pun. (‐^▽^‐)

Untung saja saya masih punya stok quote yang dibuat di YourQuote. Ambil saja sebiji, sesuaikan, jadi.

 

Yeptirani - Tugas#1 - Jakarta4 (a)

Quote di atas saya buat tanggal 21 April 2018. Menyambut hari Kartini. Saya rasa quote ini cocok dengan aliran rasa yang saya butuhkan. Tapi, untuk melengkapi dan menyesuaikan, saya membuat satu quote baru.

 

Yeptirani - Tugas#1 -Jakarta4 (b)

Inilah aliran rasa yang saya buat. Aliran rasa ini berlaku selama saya menjalankan perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #6.

Ah, gak sabar rasanya, ingin mengerjakan tugas-tugas selanjutnya. (*^▽^*)

***


Kuliah di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

7 Juli 2018

Tahu Institut Ibu Profesional? Pernah dengar?

Institut Ibu Profesional adalah sebuah wadah belajar bagi ibu dan calon ibu untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri, dan seorang ibu.

Di IIP, ada banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan. Untuk memperoleh semua itu, ada tahapan-tahapan yang harus kita lalui agar ilmu yang kita dapat sesuai dengan yang kita butuhkan.

Tahapan pertama kuliah di Institut Ibu Profesional adalah Kelas Matrikulasi.

Pengumuman pembukaan Kelas Matrikulasi IIP ini adalah salah satu pengumumman yang saya tunggu tahun ini. Dulu saya pernah mengenal IIP lewat email. Pernah juga mengikuti kuliah-kuliah dari Ibu Septi Peni – pendiri IIP – via webinar. Namun, dulu IIP belum terorganisasi dengan baik seperti sekarang. Saya mengikuti perkuliahannya dengan setengah hati hingga akhirnya saya di-DO dari kelas (-_-”).

Kemudian saya melihat sepak terjang teman-teman yang konsisten di IIP, bergabung setelah IIP lebih terorganisasi dengan baik, dan saya pun kembali tertarik.

Alangkah senangnya saya ketika ada pengumuman pembukaan kelas matrikulasi batch #6 di akun instagram IIP yang memang saya tandai.

pengumuman pendaftaran matrikulasi #6

Senin, 25 Juni 2018, adalah tanggal paling seru selama tahun 2018. Pukul 10 pagi, stand by pegang ponsel, menanti tautan untuk mendaftar ke Kelas Matrikulasi. Ternyata pendaftar harus membayar iuran. Untung saja ada internet banking, fiuh. Pukul 09.03WIB, saya selesai mendaftar. Dan sekitar pukul 1 siang, pendaftaran ditutup karena kuota sudah terpenuhi. MasyaAllah… ⊂((・▽・))⊃

Kemudian, saya, kami, para pendaftar, dibuat harap-harap cemas karena proses selanjutnya adalah proses verifikasi. Saya berharap saya tidak melakukan kesalahan saat menulis alamat surel atau nomor ponsel. sampai akhirnya, seseorang dari IIP menghubungi saya lewat whatsapp di nomor yang saya daftarkan. Kemudian, data saya diverifikasi, dan saya dimasukkan ke Kelas Fondation selama 2 pekan ke depan.

Ya, saya lolos masuk ke Kelas Matrikulasi Batch #6 Institut Ibu Profesional, dan akan menjalani proses perkuliahan selama 4 bulan ke depan. o(〃^▽^〃)o

InsyaAllah istiqomah, Aamiin.