Tampil di Depan Umum, Siapa Takut?

24 Maret 2019

Selama 2 kali Sabtu berturut-turut, tanggal 16 dan 23 Maret 2019, Zimam kami daftarkan untuk mengikuti Pelatihan Junior Publuc Speaker di Rumah Psikologi Giera (@rumahpsikologigiera). Alasannya karena waktu story telling di LIA Pramuka beberapa waktu lalu, suara Zimam nyaris tak terdengar. Sepertinya dia demam panggung.

Foto dari Syari (ๅคๆ—ฅ), Yeptirani

Seperti biasa, sebelum didaftarkan, saya menanyakan pendapatnya dulu. Maukah ikut, Kenapa ikut, Apa manfaatnya jika ikut. Hal-hal tersebut selalu kami paparkan sebelum mendaftarkan Zimam ke sebuah acara. Tujuannya agar Zimam merasa nyaman dan tak terpaksa mengikutinya.

Setelah pemaparan kami sampaikan dan Zimam setuju, barulah saya mendaftarkannya dalam acara ini.

DSC_0556

Sesi pertama dilakukan pada hari Sabtu, 16 Maret 2019. Acara dimulai pukul 09.00 WIB di Rumah Psikologi Giera di Komplek Sekneg Cempaka Putih. Kami terlambat tiba saat itu. 15 menit terlambat. Namun karena masih awal, dan masih perkenalan, Zimam dapat berbaur dengan baik.

Orang tua diminta tidak menemani anak-anaknya. Karena itu saya dan Ayah Zimam pun berkeliling mencari sarapan, mengingat yang sudah sarapan di rumah ya hanya Zimam ๐Ÿ™‚

Pilihan sarapan kami jatuh pada Soto Ambengan Pak Sadi. Review? Kapan-kapan, ya. Hehe.

Pukul setengah 11 siang, kami diminta kembali ke Rumah Psikologi Giera untuk mendengarkan presentasi anak. Ternyata anak-anak diminta menggambar dan mempresentasikan gambarnya. Zimam lancar dan singkat dalam presentasinya. Hahaha.

DSC_0543

Kemudian kami pun pulang.

Sabtu berikutnya, 23 Maret 2019, kami kembali ke Rumah Psikologi Giera. Anak-anak kembali ditinggal, dan kami kembali sarapan di Soto Ambengan Pak Sadi. Setengah 11, kami kembali ke Giera dan mendapati anak-anak sudah siap dengan presentasinya.

Ternyata anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok, di mana masing-masing kelompok bertugas mewawancarai seorang pedagang di sekitar Giera. Ada tukang mi ayam, tukang jus, dan tukang sayuran. Zimam kebagian kelompok yang mewawacarai tukang mi ayam.

DSC_0559

Presentasi Zimam atas wawancara dengan Tukang Mi Ayam-nya cukup bagus dan lancar. Bahkan saya tak percaya bahwa dia sebegitu lancarnya, bila dibandingkan dengan saat di LIA, sih. Hahaha.

Secara keseluruhan, kami merekomendasikan acara semacam ini untuk perkembangan kepribadian anak. Jika ada yang seperti ini lagi, kami mempertimbangkan mengikut sertakan Zimam kembali.

^_^


Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah

3 Maret 2019

Sabtu, 2 Maret 2019 kemarin, #AbangZimam ikut serta di acara Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah yang diadakan di Auditorium Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta alias Perpustakaan Cikini. Playdate ini diselenggarakan oleh Rumah Belajar Menulis, Komunitas Ibu Profesional Jakarta, dalam rangka grand launching buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah.

IMG-20190222-WA0031

Acara ini seru sekali, karena di sini Zimam dikenalkan dengan berbagai jenis sampah, yaitu sampah organik (sampah yang bisa membusuk atau terurai secara alamai di bumi), sampah anorganik (yaitu sampah yang tidak bisa membusuk dan sulit terurai, bahkan tidak terurai sama sekali), dan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

DSC_0455

Selain itu, Zimam juga diajarkan bagaimana memperlakukan sampah-sampah tersebut. Sampah organik, misalnya, dikomposting hingga menjadi pupuk kompos, atau untuk beberapa tanaman, bisa ditanam kembali. Lalu sampah anorganik, dijadikan bahan craft/kerajinan.

Zimam juga diedukasi agar mengurangi pemakaian benda-benda yang akan menjadi sampah anorganik, semisal sedotan plastik, atau wadah sekali pakai.

Lewat video, Zimam juga diajak jalan-jalan ke Bantar Gebang, daerah yang merupakan tempat pembuangan akhir sampah DKI Jakarta dan sekitarnya. Sedih rasanya melihat lingkungan Bantar Gebang itu. Gunungan sampahnya mencapai 40 meter, karena tiap harinya menampung 7.500 ton sampah warga DKI dan sekitarnya.

Kemudian Zimam juga diajak untuk mendengarkan dongeng tentang Loly si lalat yang tak suka hinggap di rumah lima sahabat karena rumah lima sahabat itu bersih dari sampah.

DSC_0458

Zimam juga diajak membuat celengan dari botol minum kemasan. Bentuknya pesawat terbang, loh.

DSC_0465DSC_0467DSC_0470

Kemudian ada talkshow bersama Kakak kecil yang sudah aktif dengan zerowaste, Kak Nayla Belva. Kak Belva ini berusia 10 tahun, dan aktif di bidang zerowaste sejak tahun 2016, wow. Kak Belva ini menginspirasi Zimam untuk aktif juga mengurangi sampah. Zimam sudah tidak mau memakai sedotan plastik, loh.

Di akhir acara, Zimam diajak menyaksikan pertunjukan sulap dari GePPuK, Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan.

DSC_0472

DSC_0477

Sebelum pulang, Zimam pun dapat hadiah dari Beebikinan, karena berani menceritakan kembali kegiatan hari itu.

DSC_0490-01DSC_0491-01DSC_0493

Seperti acara komunitas IP Jakarta lainnya, acara ini minim sampah. Peserta diberi tahu untuk membawa kotak makan sendiri, hingga kudapan yang akan dinikmati selama acara ditempatkan di kotak makan masing-masing. Minum pun harus membawa botol minum masing-masing dengan air isi ulang disediakan panitia.

Secara keseluruhan, Zimam, Danda, dan Nini menikmati semua acara yang disuguhkan panitia. Edukasi tentang sampah ini memang harus digalakkan, dan dimulai sejak dini.

~~~


Masuk Dufan Gratis ๐Ÿ’•

15 Mei 2018

Aku ingin share pengalamanku ke Dunia Fantasi Ancol beberapa hari yang lalu.

Masuk Dufan ini bukan yang pertama buatku. Tapi terakhir aku ke Dufan tuh sudah puluhan tahun yang lalu, waktu masih gadis. Sekarang jadi ibu-ibu beranak dua, baru kali ini ke sana lagi.

Kali ini aku ke Dufan bersama anak dan suami.

Awalnya ini Pak Zul yang ke sana di hari Sabtu pekan sebelumnya, dengan teman-temannya. Dia pun membeli Annual Pass Dufan. Kemudian, tanggal 29 April (dua hari setelah ulang tahunku), dia mengajak kami ke sana, dan membelikan Annual Pass Dufan juga. Jadilah, kami bisa kapan saja ke Dufan tanpa membayar, dalam setahun.

Kemudian, kami ke Dufan lagi kemarin, 12 Mei, bersama adik-adikku. Karena sudah punya Annual Pass, kami masuk Dufan tanpa membayar lagi. Hanya saja, kalau punya Annual Pass biasa, antrenya panjaaaaaaaang…. akhirnya kami membeli lagi tiket Fasttrack. Biar bisa main tanpa antre ๐Ÿ˜

Ternyata main di Dufan tanpa mengantre itu seru, yah? Hehe

Kamu mau ke Dufan juga? Moda transportasi menuju Dufan sangat mudah, loh. Cukup naik bus Transjakarta jurusan Ancol, turun di halte Ancol, tinggal jalan kaki sedikit, sampai, deh ke Dufan.

Kamu harus membayar karcis masuk Ancol dulu sebelum membeli tiket ke Dufan. Karcis masuknya Rp25.000/orang. Tiket masuk Dufan waktu itu sih Rp295.000, dan ada promo untuk Annual Pass Rp299.000, siapa nolak? Haha..

Annual Pass Dufan tidak bisa dipindahtangankan, ya. Cuma kita yang datanya terdaftar di dalam kartu yang bisa memakainya.

Mau masuk Dufan gratis juga?


Keliling Jakarta, Menata Hati ๐Ÿ’—

28 April 2018

Kemarin aku ulang tahun.

Mungkin karena kehilangan bayi masih jadi sebuah duka buatku, aku merasa ulang tahun kali ini begitu sepi dan penuh air mata. Aku menangis.

Aku gak berani curhat sama siapa-siapa, takut dibilang gak pandai bersyukur, atau dibilang sedang terjebak dalam “jebakan 99”. Jadi aku pendam sendiri kesepianku dan mencoba tersenyum. Bahkan aku berusaha agar tak banyak yang tahu kalau aku sedang ulang tahun. Belum pernah seperti itu sebelumnya.

Kemarin, dengan izin suami, aku mencoba mencari hiburan untuk diriku. Sederhana. Aku berkelana naik bus Transjakarta.

Aku yang masih bertugas di Jalan Juanda, setelah makan siang dengan teman-teman, langsung naik bus jurusan Harmoni. Kemudian aku pindah jurusan ke jurusan Pulogadung untuk turun di Halte Balaikota. Aku memang lagi pingin ke Lenggang Jakarta buat beli minuman.

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan menuju Senen. Nyebrang dikit lewat jembatan penyeberangan orang, aku masuk Plaza Atrium Senen. Aku memanjakan diriku dengan membeli produk-produk kecantikan di Boston.

Tadinya aku ingin naik ke lantai 5, ke toko pernak pernik, tapi karena sudah capek, aku kembali ke halte dan naik bus jurusan Kampung Melayu. Aku turun di halte Tegalan untuk masuk ke toko buku Gramedia. Kembali di sana aku memanjakan diriku, membeli stationary lucu-lucu yang sama sekali gak penting, di mana sampai rumah aku nyesel belinya ๐Ÿ˜…. Terus juga beli Sop Ayam Pak Min legendaris untuk makan malam.

Kembali ke halte busway, dan naik bus lagi. Kali ini aku dapat bus jurusan Grogol-Kampung Melayu.

Dari halte Kampung Melayu aku naik bus jurusan Kampung Rambutan. Aku turun di halte Cawang Otista. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai rumah.

Anakku sedang makan malam ketika aku sampai di rumah. Yah, alamat makan malam sendirian, nih! Apalagi Pak Suami sms, bilang ada rapat. Well, baiklah!

***

Jam 10 malam, anak sudah tidur, Pak Suami belum pulang, aku gak boleh tidur karena Pak Suami gak bawa kunci rumah. Saat itulah tiba-tiba aku merasa amat sangat kesepian. Buka-buka Facebook kok malah banyak postingan bayi di timeline-ku, makin mewek aku!

Suami pulang keheranan, mataku bengkak karena nangis. Aku minta maaf, Pak Suami, aku gak bisa nahan air mata.

Iya tahu, aku harus mensyukuri apa yang ada. Jangan menangisi apa yang hilang. Sudah jangan pikirin Keita lagi, kan masih ada Zimam yang mesti diurus. Tapi tetap saja, kalo lihat anak bayi, aku jadi nangis. Lihat baju bayi aja bisa bikin mataku panas, kok!

Iya tahu, Keita sekarang sudah diurus oleh bidadari surga. Keita juga yang insyaAllah akan menungguku di surga nanti. Tapi tetap saja, kalau ingat Keita, rasanya aku pingin gendong dia. Ada perasaan menyesal kenapa pada saat dia di pelukanku, walau sudah tak bernyawa, gak aku usel-usel sampai puas. Waktu itu aku pikir, dia kan sudah jadi mayat, gak boleh banyak disentuh, kasihan. Kudengar mayat kalau disentuh akan kesakitan. Entahlah.

Aku ingin curhat dengan seseorang, yang mau menerima kesedihan dan dukaku. Bukan sama Pak Suami, aku gak mau curhat sama beliau. Kasihan, karena duka ini juga duka beliau. Aku ingin curhat dengan orang yang gak merasakan duka ini, tapi juga gak akan bilang: “sudah, gapapa, jangan dipikirkan lagi!”

Aku ingin curhat yang bisa nangis sepuasku, sampai mataku bengkak lagu aku tertidur.

Hahaha, ulang tahun kok sedih, ya? ๐Ÿ˜‚

Mohon doa, semoga sisa usiaku jadi berkah, ya teman-teman…


Melanglang Jakarta dengan Transjakarta

16 November 2016

Kemarin, Selasa, 15 November 2016, saya bikin janji sama Kak Rani, dokter kulit yang juga kakak kelas saya. Dia praktik di Rawa Belong, sedang saya berkantor di Otista.

PR loh buat saya, nentuin mau naik apa ke sana? Secara Jakarta lagi macet-macetnya beberapa hari terakhir ini. Sejak musim hujan, pembangunan gorong-gorong di mana-mana, macet jadi 2x lipat!

Mau naik taksi online seperti uber, grab, atau gocar…. udahlah jauh dan mahal, dah pasti macet pula! Mau naik ojek online, pas ngecek harganya 28.000 wow! Artinya jauh donk? Mana kuat sejauh itu membonceng motor?

Akhirnya saya putuskan untuk naik busway alias transjakarta. Masalahnya… saya gak tau harus turun di mana?

Dari google saya menemukan bahwa TJ ke dekat rawa belong itu transit di Harmoni Central Busway. Baiklah! Kita ke HCB dulu!

Sesampainya di HCB, tanya-tanya donk sama petugas di sana. Kebetulan, ada bis yang siap berangkat, rute Harmoni-Lebak Bulus. Saya diarahkan naik bis itu dan turun di halte RS Medika.

Langsung percaya? Sayanya nggak hihihi… saya cek dulu di google, bahkan aplikasi gojek, apa benar RS Medika dekat dengan Rawa Belong? Ternyata ongkos gojeknya 2.000 rupiah, berarti dekat tuh! Hihihi.. baik, kita berangkat!

Ternyata haltenya jauuuuhhh hikshiks..

Oya, saya melewati Halte Busway Jelambar, halte terdekat dengan Kantor Cabang Oriflame Daan Mogot. Cuma 2 halte apa ya, dari Harmoni. Waduh, dulu saya ke sana naik yang ke arah Grogol, pantesan jauh. Besok-besok kalau mau ke Kancab Daan Mogot naik busway, naiknya yang Harmoni-Lebak Bulus aja deh!

Turun di Halte RS Medika, saya naik gojek. Dari Pak Gojek saya dapat info, lebih dekat kalau turun di halte Kelapa Dua Sasak timbang RS Medika. Memang, sebelum sampai di halte RS Medika, bis melewati halte Kelapa Dua Sasak.

Setelah menyelesaikan treatment dengan Kak Rani, saya pun memanggil gojek dengan aplikasi go-busway. Saya pilih halte Kelapa Dua Sasak, seperti saran Pak Gojek yang mengantar saya tadi. Permintaan saya diterima oleh Pak Gojek yang lagi berhenti di sebelah klinik.

Pas bilang kalau saya mau ke Otista lewat HCB, Pak Gojek menyarankan saya naik bis di Taman Anggrek saja. Baiklah, saya ikuti saran si Bapak. Saya pun diantar ke halte busway di depan Mal Taman Anggrek. Makasih ya Pak Driver, mau nganter saya..

Pas saya masuk halte, bis ke arah Harmoni datang. Saya pun naik. Ternyata bis ini jurusan Harmoni-Grogol! Bis yang dulu saya naiki waktu mau ke Kancab Oriflame Daan Mogot. Daaannn… dekat banget sodara-sodara! Gak sampai setengah jam sudah sampai di HCB.

Alhamdulillah, pas saya turun dari bis, bis yang mau ke PGC siap berangkat. Langsung deh saya hop in alias naik bisnya. Berdiri sebentar, terus dapat tempat duduk pas di halte Salemba UI. Alhamdulillah…

Saya orang Jakarta Timur. Mainnya palingan ke Jakarta Pusat (Senen, Atrium, Monas, TIM), Jakarta Selatan (Tebet, Kokas, Sudirman, Blok M), atau Jakarta Timur itu sendiri. Wilayah Jakarta Barat dan Utara sama sekali asing buat saya. Makanya, pas saya bisa muter-muter pakai busway, seneng banget hihihi…

Jujur saja, saya merasa aman naik busway. Paling tidak, kalau saya nyasar, saya nyasarnya di dalam halte, nanti tinggal naik bis berlawanan ^_^

Sekarang sudah tahu dooonk… rute busway mana yang bisa dipakai kalau pergi ke rawa belomg atau daan mogot.. hihihi…