Keliling Jakarta, Menata Hati ๐Ÿ’—

28 April 2018

Kemarin aku ulang tahun.

Mungkin karena kehilangan bayi masih jadi sebuah duka buatku, aku merasa ulang tahun kali ini begitu sepi dan penuh air mata. Aku menangis.

Aku gak berani curhat sama siapa-siapa, takut dibilang gak pandai bersyukur, atau dibilang sedang terjebak dalam “jebakan 99”. Jadi aku pendam sendiri kesepianku dan mencoba tersenyum. Bahkan aku berusaha agar tak banyak yang tahu kalau aku sedang ulang tahun. Belum pernah seperti itu sebelumnya.

Kemarin, dengan izin suami, aku mencoba mencari hiburan untuk diriku. Sederhana. Aku berkelana naik bus Transjakarta.

Aku yang masih bertugas di Jalan Juanda, setelah makan siang dengan teman-teman, langsung naik bus jurusan Harmoni. Kemudian aku pindah jurusan ke jurusan Pulogadung untuk turun di Halte Balaikota. Aku memang lagi pingin ke Lenggang Jakarta buat beli minuman.

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan menuju Senen. Nyebrang dikit lewat jembatan penyeberangan orang, aku masuk Plaza Atrium Senen. Aku memanjakan diriku dengan membeli produk-produk kecantikan di Boston.

Tadinya aku ingin naik ke lantai 5, ke toko pernak pernik, tapi karena sudah capek, aku kembali ke halte dan naik bus jurusan Kampung Melayu. Aku turun di halte Tegalan untuk masuk ke toko buku Gramedia. Kembali di sana aku memanjakan diriku, membeli stationary lucu-lucu yang sama sekali gak penting, di mana sampai rumah aku nyesel belinya ๐Ÿ˜…. Terus juga beli Sop Ayam Pak Min legendaris untuk makan malam.

Kembali ke halte busway, dan naik bus lagi. Kali ini aku dapat bus jurusan Grogol-Kampung Melayu.

Dari halte Kampung Melayu aku naik bus jurusan Kampung Rambutan. Aku turun di halte Cawang Otista. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai rumah.

Anakku sedang makan malam ketika aku sampai di rumah. Yah, alamat makan malam sendirian, nih! Apalagi Pak Suami sms, bilang ada rapat. Well, baiklah!

***

Jam 10 malam, anak sudah tidur, Pak Suami belum pulang, aku gak boleh tidur karena Pak Suami gak bawa kunci rumah. Saat itulah tiba-tiba aku merasa amat sangat kesepian. Buka-buka Facebook kok malah banyak postingan bayi di timeline-ku, makin mewek aku!

Suami pulang keheranan, mataku bengkak karena nangis. Aku minta maaf, Pak Suami, aku gak bisa nahan air mata.

Iya tahu, aku harus mensyukuri apa yang ada. Jangan menangisi apa yang hilang. Sudah jangan pikirin Keita lagi, kan masih ada Zimam yang mesti diurus. Tapi tetap saja, kalo lihat anak bayi, aku jadi nangis. Lihat baju bayi aja bisa bikin mataku panas, kok!

Iya tahu, Keita sekarang sudah diurus oleh bidadari surga. Keita juga yang insyaAllah akan menungguku di surga nanti. Tapi tetap saja, kalau ingat Keita, rasanya aku pingin gendong dia. Ada perasaan menyesal kenapa pada saat dia di pelukanku, walau sudah tak bernyawa, gak aku usel-usel sampai puas. Waktu itu aku pikir, dia kan sudah jadi mayat, gak boleh banyak disentuh, kasihan. Kudengar mayat kalau disentuh akan kesakitan. Entahlah.

Aku ingin curhat dengan seseorang, yang mau menerima kesedihan dan dukaku. Bukan sama Pak Suami, aku gak mau curhat sama beliau. Kasihan, karena duka ini juga duka beliau. Aku ingin curhat dengan orang yang gak merasakan duka ini, tapi juga gak akan bilang: “sudah, gapapa, jangan dipikirkan lagi!”

Aku ingin curhat yang bisa nangis sepuasku, sampai mataku bengkak lagu aku tertidur.

Hahaha, ulang tahun kok sedih, ya? ๐Ÿ˜‚

Mohon doa, semoga sisa usiaku jadi berkah, ya teman-teman…


Melanglang Jakarta dengan Transjakarta

16 November 2016

Kemarin, Selasa, 15 November 2016, saya bikin janji sama Kak Rani, dokter kulit yang juga kakak kelas saya. Dia praktik di Rawa Belong, sedang saya berkantor di Otista.

PR loh buat saya, nentuin mau naik apa ke sana? Secara Jakarta lagi macet-macetnya beberapa hari terakhir ini. Sejak musim hujan, pembangunan gorong-gorong di mana-mana, macet jadi 2x lipat!

Mau naik taksi online seperti uber, grab, atau gocar…. udahlah jauh dan mahal, dah pasti macet pula! Mau naik ojek online, pas ngecek harganya 28.000 wow! Artinya jauh donk? Mana kuat sejauh itu membonceng motor?

Akhirnya saya putuskan untuk naik busway alias transjakarta. Masalahnya… saya gak tau harus turun di mana?

Dari google saya menemukan bahwa TJ ke dekat rawa belong itu transit di Harmoni Central Busway. Baiklah! Kita ke HCB dulu!

Sesampainya di HCB, tanya-tanya donk sama petugas di sana. Kebetulan, ada bis yang siap berangkat, rute Harmoni-Lebak Bulus. Saya diarahkan naik bis itu dan turun di halte RS Medika.

Langsung percaya? Sayanya nggak hihihi… saya cek dulu di google, bahkan aplikasi gojek, apa benar RS Medika dekat dengan Rawa Belong? Ternyata ongkos gojeknya 2.000 rupiah, berarti dekat tuh! Hihihi.. baik, kita berangkat!

Ternyata haltenya jauuuuhhh hikshiks..

Oya, saya melewati Halte Busway Jelambar, halte terdekat dengan Kantor Cabang Oriflame Daan Mogot. Cuma 2 halte apa ya, dari Harmoni. Waduh, dulu saya ke sana naik yang ke arah Grogol, pantesan jauh. Besok-besok kalau mau ke Kancab Daan Mogot naik busway, naiknya yang Harmoni-Lebak Bulus aja deh!

Turun di Halte RS Medika, saya naik gojek. Dari Pak Gojek saya dapat info, lebih dekat kalau turun di halte Kelapa Dua Sasak timbang RS Medika. Memang, sebelum sampai di halte RS Medika, bis melewati halte Kelapa Dua Sasak.

Setelah menyelesaikan treatment dengan Kak Rani, saya pun memanggil gojek dengan aplikasi go-busway. Saya pilih halte Kelapa Dua Sasak, seperti saran Pak Gojek yang mengantar saya tadi. Permintaan saya diterima oleh Pak Gojek yang lagi berhenti di sebelah klinik.

Pas bilang kalau saya mau ke Otista lewat HCB, Pak Gojek menyarankan saya naik bis di Taman Anggrek saja. Baiklah, saya ikuti saran si Bapak. Saya pun diantar ke halte busway di depan Mal Taman Anggrek. Makasih ya Pak Driver, mau nganter saya..

Pas saya masuk halte, bis ke arah Harmoni datang. Saya pun naik. Ternyata bis ini jurusan Harmoni-Grogol! Bis yang dulu saya naiki waktu mau ke Kancab Oriflame Daan Mogot. Daaannn… dekat banget sodara-sodara! Gak sampai setengah jam sudah sampai di HCB.

Alhamdulillah, pas saya turun dari bis, bis yang mau ke PGC siap berangkat. Langsung deh saya hop in alias naik bisnya. Berdiri sebentar, terus dapat tempat duduk pas di halte Salemba UI. Alhamdulillah…

Saya orang Jakarta Timur. Mainnya palingan ke Jakarta Pusat (Senen, Atrium, Monas, TIM), Jakarta Selatan (Tebet, Kokas, Sudirman, Blok M), atau Jakarta Timur itu sendiri. Wilayah Jakarta Barat dan Utara sama sekali asing buat saya. Makanya, pas saya bisa muter-muter pakai busway, seneng banget hihihi…

Jujur saja, saya merasa aman naik busway. Paling tidak, kalau saya nyasar, saya nyasarnya di dalam halte, nanti tinggal naik bis berlawanan ^_^

Sekarang sudah tahu dooonk… rute busway mana yang bisa dipakai kalau pergi ke rawa belomg atau daan mogot.. hihihi…