Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Menyapih dengan Cinta

28 Februari 2013

Apa tugas dan kewajiban seorang ibu pada bayinya? Banyak!
Tapi salah satunya adalah menyusui sampai masa penyempurnaan, 2 tahun.

Lalu apa setelah itu? Bagaimanakah masa-masa indah menyusui itu akan diakhiri? Bahagia dengan keikhlasan dan tawa, atau sedih dengan deraian air mata?

Aku memilih yang pertama!

Seperti yang kita tahu, di sekitar kita, jika ada anak yang disapih, maka penyapihannya begitu menyiksa. Oke, mungkin tidak semua. Tapi aku menyaksikan sendiri saat adikku dan adik sepupuku disapih dulu. Mereka menangis berderai-derai. Ibunya juga meringis menahan sakit payudara yang bengkak karena tidak lagi disedot. Apa itu yang akan terjadi padaku dan bayiku?

Aku memutuskan untuk TIDAK! Aku mau menyapih bayiku dengan cinta, tawa, keikhlasan, dan tanpa deraian air mata!

Dan itu tidak mudah!

Langkap pertama yang aku ambil adalah, BERDISKUSI dengan Sang Ayah (dan jika ada, dengan anggota keluarga lain yang serumah juga).
Aku bilang sama Ayah Zee, aku mau menyapih Zee dengan cinta, perlahan-lahan, smooth, dan diakhiri dengan keputusan Zee untuk tidak nenen lagi.

Awalnya Ayah Zee pesimis. “Mana ada bayi yang rela disapih? Udahlah, pake cara yang biasa aja!”

Cara yang “biasa”? Hehe… Nehi!!

Aku berjuang, bergerilya. Aku mengirim banyak sekali artikel tentang pentingnya Weaning With Love ke alamat surel Ayah Zee. Aku hubungi sahabatnya yang pro-ASI dan WWL, supaya ngajak Ayah Zee diskusi tentang pentingnya WWL. Aku lakukan sounding-sounding pribadi ke Zimam, di depan si Ayah, agak Ayah setuju dengan konsep WWL kita.

Akhirnya Ayah Zee melunak. Tidak lagi melarang atau menentang, namun mengambil sikap abstain. Awalnya aku takut. Takut kalo gagal, si Ayah akan menyalahkan aku. Tapi lama-lama aku berpikir, “Well, saat aku menerapkan konsep RUM pertama kali, Ayah juga menentang, tapi akhirnya mendukung, setelah aku buktikan efek baiknya.” Dan aku yakin, si Ayah juga akan bersikap demikian untuk Weaning with Love ini.

Langkah kedua adalah SOUNDING ke Zimam.
”Abang sudah besar, minumnya air putih pake gelas. Yang minum susu itu adek bayi.”

Sejak usia 18 bulan sampai usia 21 bulan, itulah sounding kami ke Zimam. Berawal dengan deal tidak nenen di muka umum karena malu, Abang sudah besar. Zimam setuju. Walau konsekuensinya, kita harus segera pulang jika Zimam mau nenen 🙂

Lambat laun, Zimam mulai terbiasa, walau dia ingin nenen, kalau sedang ada di luar rumah, dia akan menahannya sampai kami tiba. Kami pun tak perlu buru-buru pulang ke rumah lagi.

Sejak usia 21 bulan, tepatnya sepulang dari mudik lebaran ke Bukittinggi, sounding untuk Zimam berubah, ada peningkatan: “Abang sudah besar, bentar lagi 2 tahun. Kalo sudah 2 tahun itu berarti nenennya berhenti, ya! Nanti, Abang ulang tahun ada balon, ada kue, ada kado. Tapi nenennya berhenti, ya!”

Awalnya Zimam menolak, protes. Tapi lama-lama mungkin karena di sekolahnya sering ada ulang tahun temannya, dia jadi antusias menyambut ulang tahunnya sendiri. Ada balon, ada kue, ada kado.

Tepat di ulang tahunnya yang kedua, kami pun benar-benar merayakannya, walau cuma bertiga. Ada balon, ada kue, ada kado. Perayaan ulang tahun Zimam mundur sehari, tanggal 31 Oktober. Malamnya dia masih minta nenen, besoknya juga (1 November).

Pada 1 November, saat Zimam minta nenen, aku tagih janjinya: “Katanya Abang mau berhenti nenen? Kan ulang tahunnya udah dirayakan, ada balon, ada kue, ada kado. Katanya mau berhenti nenen?”
Zimam memaksa nenen…
”Yasuda, malam ini boleh nenen, tapi besok nggak, ya!”

Sungguh, saat aku bilang gitu, aku gak tau bahwa ternyata malam itu adalah malam terakhir Zimam nenen ke aku! T_T

Aku berpikir, kalaupun besok Zimam minta nenen, ya aku kasih tapi aku tawar dulu, malam ini nggak, besok aja ya…

Tapi ternyata.. besoknya, besoknya, dan besoknya lagi, Zimam sendiri yang gak minta nenen. Dia gak minta ya aku gak nawarin!

Sakit sekaligus bangga liat bayi kecilku berusaha memenuhi janjinya. Walau aku tau persis, janji itu adalah trap yang dibuat orang tuanya untuk dia (hihihi…)

Alih-alih minta nenen, Zimam malah minta digosok punggungnya.. “gayuk pandung!” katanya..

Walaupun Zimam sudah tidak minta nenen lagi, aku gak serta-merta bilang: Zimam lulus WWL!! Tidak..
Sekarang, setelah 4 bulan berlalu, aku baru berani bilang bahwa ZIMAM LULUS DISAPIH DENGAN CINTA!!!! ^_^

Dan untuk semua ini, aku akan berterima kasih kepada mereka-mereka yang membantuku, mendukungku, membimbingku, menuntunku, memelukku, dan sebagainya. Mereka adalah:

Ayah Zulkifli Malin Sutan, partner terkompak sepanjang sejarah. Kita sering berselisih paham, namun, selalu berakhir dengan dukungan untukku. ^_^

Nini Sjari Juniarsih, yang terharu saat mendengar cerita bahwa Zee menyapih dirinya sendiri. Iri, ya, Bunda? ^_^

Milis Sehat, tempat pertama kali aku membaca istilah “Weaning with Love,” mempelajarinya, membanding-bandingkan dengan metode lain, dan memutuskan akan menggunakannya kelak. 🙂

Milis Asiforbaby, tempat menguatkan diri saat proses WWL itu hampir tiba.

Grup Tambah ASI Tambah Cinta, sharing ilmu WWL dari para senior benar-benar menguatkan.

Grup AIMI ASI, cuma ada satu metode penyapihan di sini, penyapihan dengan cinta!!! ^_^

Alhamdulillah, proses menyapih dengan cinta ini tanpa disertai payudara bengkak, atau deraian air mata Zimam. Kenapa nggak dicoba? ^_^

sapih-zee

Weaning with LOVE


Perjuangan Memberikan yang Terbaik: Tetap ASI sampai 2 Tahun

5 November 2012

Tidak terasa, sudah 2 tahun berlalu sejak aku muter-muter kota Pangkalpinang nyari dokter kandungan yang pro-normal, namun akhirnya sesar juga.

Kelahiran Zee yang melalui proses operasi tidak membuatku lantas berkecil hati dalam memenuhi hak dasarnya: ASI. Aku malah makin semangat karena mitosnya, ibu yang melahirkan sesar, ASI-nya lebih dikit timbang ibu yang melahirkan normal. Oke, itu mitos. Mitos itulah yang memicu semangatku untuk rajin pumping, sampai akhirnya Zee lulus ASI Eksklusif, terus rajin pumping dan rajin memasak makanan rumahan untuk Zee sampai Zee lulus ASI dan MPASI Rumahan tanpa Tambahan Garam dan Gula 1 Tahun, dan melanjutkan pumping dan menyusui agar Zee lulus ASI 2 tahun.

Kata orang, yang paling susah itu adalah ASI Eksklusif 6 bulan. Well, itu kata orang yang gak ngasih makanan rumahan ke anaknya!

Nyatanya, memberikan mpasi rumahan tanpa garam dan gula ternyata lebih sulit dari pada hanya ASI 6 bulan.

Katanya, setelah 1 tahun, semuanya akan lebih mudah. Nyata tidak, kok 🙂
Memberikan ASI lanjutan sampai 2 tahun itu banyak tantangannya. Baik dari dalam maupun dari luar.

Lingkungan tempat aku tinggal masih belum menerima anak usia 1 tahun masih full ASI tanpa tambahan susu bubuk. Banyak sekali dorongan dan bujukan agar aku memberikan susu bubuk ke anakku. Tapi aku tetap bertahan pumping. Juga tetap bertahan memberikan makanan rumahan untuk Zee. Melarangnya makan makanan bungkusan.

Tantangan terberat muncul saat aku dikirim tugas ke Jakarta selama 5 hari. Saat itu Zee masih berusia 16 bulan. Masih senang-senangnya nenen. Kekhawatiran muncul di benakku, jangan-jangan dia gak mau nenen lagi setelah aku kembali. Oh, tidak!

Tapi dengan dukungan teman-teman di Grup FB AIMI, aku yakin, Zee akan nenen lagi setelah aku kembali. Dan ya, saat aku pulang, yang dia tanyakan pertama kali adalah: Nda… cucu! *gubrak*

Selama aku di Jakarta, juga bukan gampang. Minta ijin setiap 3 jam untuk pumping juga tidak mudah. Apalagi saat tutor bertanya: berapa usia anaknya?
Karena ketika aku menjawab: 16 bulan, rata-rata reaksinya adalah: sudah besar ini!

Biar sudah besar juga masih harus minum ASI, bo.. T_T

Sekitar 2 bulan setelah kepergian pertamaku, aku dikirim lagi ke Jakarta, 3 hari, pulangnya, langsung dikirim ke Gadog, Bogor, seminggu.

Dunia rasanya berputar jungkir balik. Stok ASIP di frizer tiba-tiba menipis tajam. Belum lagi selama di Gadog, di Pusat Pendidikan dan Pelatihanku yang kompleknya berbukit itu, aku harus “hiking” 4 kali sehari untuk pumping. Menyimpan ASIP di frizer Kepala Bagian Umum di bawah sedang kamarku ada di atas. Kelasku di bawah, kamarku di atas. Mantab pokoknya ^_^

Tapi semua sudah dilewati dengan baik. Sampai akhirnya Zee lulus ASI 2 tahun, dan disapih dengan cinta.

Menjelang Zee 2 tahun, cibiran yang aku terima makin banyak dan beragam. Zee yang usianya sudah 20 bulan ++ dan masih nenen, dibilang nanti akan gak bisa berhenti nenen lah, nanti manja lah, penakut lah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Tapi aku bertahan, palingan aku jawab: di Al-Quran dibilang 2 tahun ya 2 tahun. Dan aku pergi 😀

Buktinya, Zee dengan mudah menyapih dirinya sendiri kok 🙂

Dan sekarang, aku akan berterima kasih pada orang-orang dan pihak-pihak yang telah membantu dan mendukungku sampai Zee lulus ASI 2 tahun. Mereka adalah:

Ayah Zulkifli Malin Sutan. Dukungannya agar Zee tetap ASI dan disapih dengan cinta sungguh luar biasa, terutama ketika beliau harus jadi single parent saat aku ke luar kota.

Nini Sjari Juniarsih. Yang bersemangat sekali agar cucunya disusui sampai sempurna 2 tahun.

Teman-teman di kantor. Yang mau membantu merawat Zee selama 1 jam tiap hari, dan menjaganya dari makanan yang aneh-aneh, serta memberi aku kesempatan untuk pumping.

PAUD Cerdas. Tempat Zee “bersekolah” yang patuh akan pemberian ASI pada Zee, dan menjaga Zee dari makanan-makanan aneh.

Milis Sehat. Yang terus mengawal aku untuk memberikan yang terbaik bagi Zee.

Grup Tambah ASI Tambah Cinta. Teman setia di kalan sepi. Teman berbagi di kala ramai. 🙂

Grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Konselor virtual di saat galau. Terima kasih atas semua saran membangunnya.

Harapanku, Zee akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan menyapih dirinya sendiri tanpa ketakutan dan deraian air mata.

Anak Cinta ASI Doktor ASI


10 (Silly) Reasons Why I Breastfeed My Baby…

6 Februari 2012

pernah dimuat di note FB saya

1. Penelitian bilang ASI jauh lebih bagus dari susu formula, bagusnya apa? mending brosing sendiri lah ya.. :p

2. Aku ini emak pelit n irit, kalo ada yang gratisan, manalah aku mau bayar? makanya aku ngasih ASI yang jelas-jelas gretongan! kan lumayan duit yang mestinya buat beli susu dialihkan jadi buat beli apel (delicious!) atau pir (seger!) atau pizza (yummy!) atau SHOPPING!!! (yeay!!! ^_^)

3. Aku ini emak pemalas! ngebayangin harus bangun tengah malam, tuang air panas, bikin susu formula buat bayi, trus megangin botol susunya sampe dia tidur? hah! ngebayanginnya aja udah males! mending tinggal singkap daster+bra, bayi tidur aku juga tidur lagi.. pules! hehehe…

4. Aku ini emak yang gak mau repot! kemaren pulang kampung, ngeliat temen seperjuangan (sama2 pulkam gitu, kenal aja nggak :p) repot banget! bawa termos isi air panas, bawa botol susu buanyak buanget, bawa kantong2 isi susu.. halah ngeliatnya aja repot surepot… beda banget sama diriku yang waktu Zee ngerengek mo minum susu, tinggal pasang nursing apron, singkap baju+bra, nyusu deh ^_^

5. Aku ini suka banget shopping… kalo aku ngasih ASI, maka ada banyak yang bisa dibeli: breastpumps, botol2 ASI lucu-lucu, cooler bag lucu-lucu, nursing apron, bayu menyusui cantik-cantik.. pokoknya banyak! bandingkan dengan kalo ngasih sufor? palingan yang bisa dibeli cuma botolnya kan? boring!

6. Aku ini suka makan tapi gak pengen gemuk! and I get it by breastfeeding my baby! hehehe… makan banyak tapi tetep langsing tanpa harus repot2 lari, sit up, push up, senam, etc..etc.. huahahahahaaa… *ketawa puas*

7. Karena aku menyusui, aku jadi “dimanja” sama orang2 sekitarku. Jam makan, harus langsung makan.. Makan mesti yang enak-enak dan sehat-sehat (hehehe…) makanan tinggal dikit? Aku yang didulukan.. aku males makan? ditanya: mau makan apa? hehehe… *gak yakin perlakuannya juga kayak gini kalo Zee minum sufor bukan ASI :p

8. Aku ini tukang tidur! Kadang begitu banyaknya kerjaan, aku jadi gak punya waktu istirahat. dengan ngelonin Zee, sambil nyusuin, aku juga bisa ikutan tidur.. lumayan.. 2-3 jam (hehehe… itu lumayan ya? :p)

9. Bisa jadi bos waktu nyusuin Zee… huahahaha!!! Pas nyusuin, biar hape ada semeter di dekatku, kalo hape bunyi tapi tanganku gak bisa menjangkau tuh hape, aku tinggal teriak: Yah, tolong ambilin hape, donk!… kan Danda lagi ditempelin Zee hehehe…

10. Jadi idola Zee… sedeket apapun Zee sama gurunya, atau ayahnya.. sampe-sampe kalo lagi maen sama ayah, danda dicuekin, kalo dah haus yang dicari cuma satu! *huahahahahhaa……

Ada yang mau nambahin alasan konyol (tapi cerdas) why I breastfeed my baby? ^_^

Zimam ketagihan ASI
Asiknya yang lagi ketagihan ASI ^_^↑


Perjuangan Memberikan yang Terbaik: ASI Eksklusif 6 Bulan

1 September 2011

Walau Zee sudah lama lulus ASI Eksklusif-nya, tapi biarkan aku cerita tentang perjuangan di belakangnya. (maksa :p)

Cerita ini bermula ketika sebulan setelah ulang tahun pernikahan kami, aku gak datang bulan lagi. Hehehe, akhirnya hamil juga.

Hamil anak pertama tuh harap-harap cemas, ya? Daftar do and don’t-nya bejibun, tapi semua dipilah-pilah sesuai kelompok “mitos” dan “fakta” hehehe. Alhamdulillah 40 minggu 4 hari aku lewati dengan baik dengan segala bumbu menariknya.

Merencanakan kelahiran Zee. Aku baca dari sebuah artikel di internet, bahwa ibu berhak merencanakan bagaimana dia melahirkan. Karena itu aku merencanakan melahirkan secara spontan, IMD, dan ASI eksklusif 6 bulan (waktu itu gak kebayang mau ngasih MPASI Rumahan :p).

Baca entri selengkapnya »


Peralatan Tempur ASIX untuk Zee ^_^

19 April 2011

Apa artinya berjuang tanpa peralatan tempur? Bisa-bisa kalah duluan, loh! Hahaha…

Karena itu, aku mempersenjatai diriku dengan semua peralatan tempur agar perjuangan memberikan ASI eksklusif buat Baby Zee tercapai dengan baik.

bawaan tiap hari ke kantor
bawaan tiap hari ke kantor

Ini dia peralatan tempurku:

Baca entri selengkapnya »