Belajar di Dalam Kelas

16 Juli 2019

Game Level #4 Memahami Gaya Belajar Anak
Hari #5

Hari ini hari pertama Abang Zi sekolah di kelas tiga. Sungguh terasa kemandirian Abang Zi ini. Di gerbang sekolah, dia menolak diantar masuk. “Biar Abang Zimam masuk sendiri saja. Ayah sama Danda pulang saja, sana!” Katanya. Sedih, gak, sih? ^_^”

Abang Zi sekolah cuma 3 jam, pukul 10 pagi dia sudah pulang. Alhamdulillah, Danda bisa menjemput Abang Zi sehingga kami bisa mengobrol bersama.

“Kalau Abang di kelas, ngerjain tugas dari Bunda, teman Abang ribut sendiri, Abang terganggu, nggak?” Danda bertanya sembari mengalanisis gaya belajar Abang Zi.

“Nggak sih, tapi setengahnya Abang Zimam pengen ribut bareng teman-teman. Gak terganggu, tapi pengen ikutan.” Jawab Abang Zi.

Kira-kira dia terganggu, gak sih, sebenarnya? ^_^

Bakda asar, Abang Zi mengaji di dekat musala dekat rumah. Pulangnya, Abang lapor bahwa dia dapat PR dari ustadzah, dan dia tak mau curang dengan buka google untuk mengerjakannya. Ah, Abang, kalau cuma nanya google, gak papa kali, Bang. ^_^

Abang Zi pun lapor bahwa besok dia disuruh membawa beberapa perlengkapan untuk menghias lokernya. Abang Zi pun menjelaskan dengan detail hiasan seperti apa yang dia inginkan. Kami pun mengerjakan hiasan itu bersama, di malam hari.

Begitu hiasan loker sudah siap, Danda pun menyuruh Abang Zi untuk bersiap tidur. Sikat gigi dan ganti baju tidur. Tapi duh, Abang Zi sudah terlanjur membaca buku. Dan seperti biasa, dia sulit diganggu saat membaca buku. >_<

Setelah beberapa kali panggilan, Abang Zi pun bangun dan ke kamar mandi untuk sikat gigi dan ganti baju tidur. Hari pertama sekolah yang seru, selesai. InsyaAllah esok akan lebih seru lagi. ^_^

Skor observasi gaya belajar Abang Zi adalah

Visual: 19 poin
Auditori: 13 poin
Kinestetik: 13 poin


#hari5
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Belajar di Atas Awan

13 Juli 2019

Game Level #4 Memahami Gaya Belajar Anak
Hari #2

Alhamdulillah, tabarakallah. Hari ini kami kami sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi tanah kelahiran Abang Zi, Kota Pangkalpinang. Penerbangan pagi yang kami pilih membuat pemandangan di atas awan menjadi terlihat sangat indah. Abang Zi yang duduk di dekat jendela, menyukainya. Walau di tengah perjalanan dia minta tukar bangku, karena ada seorang anak kecil yang sangat aktif yang duduk persis di belakang Abang Zi.

Ketika pesawat akan mendarat, Abang Zi melihat gugusan awan tebal berwarna putih seperti kapas.

Zimam: Danda, itu gula-gula kapan, ya? (katanya menggoda, dia tahu kok kalau itu awan)

Danda: hahaha, kalau itu gula-gula kapas, nanti hujannya lengket, loh.

Zimam: hehehe. Bener juga.

Danda: Abang masih ingat proses terbentuknya hujan? Berapa tahun sejak penguapan? (Danda pernah menjelaskan tentang prosrs terbentuknya hujan melalui alat peraga, saat Abang Zi masih TK)

Zimam: seratus tahun, eh, bener, kan?

Danda: seratus ribu tahun, Bang.

Zimam: uwow. Kalau pertama menguap palingan jadi awan yang tipis itu, ya?

Danda: mungkin saja.

Menjelang pendaratan, dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah menyala, kami bisa melihat dengan jelas, tanah Bangka. Ada banyak lahan kosong dengan danau di tengahnya. Lahan bekas tambang timah.

Zimam: Danda, itu apa? Seperti pohon raksasa habis ditebang.

Danda: itu bekas tambang timah, Bang. Dibiarin gundul begitu lalu tergenanglah airnya, jadi danau besar deh.

Zimam: ya ampun. Kalau jalan-jalan terus jatuh, gimana?

Danda: sebenarnya sih, gak ada anak-anak yang boleh main dekat-dekat situ sih, Bang.

Zimam: jadi jelek, ya, Danda.

Danda: iya, jadi jelek dan rusak. Padahal seharusnya penambang itu wajib mengembalikan kondisi lahan pertambangan menjadi seperti sedia kala. Tapi gak pernah dilakukan.

Abang Zi mengangguk-angguk sambil memperhatikan kubangan raksasa yang terbentuk dari hasil penambangan timah di Bangka.

Sesampaikan di Kota Pangkalpinang, kami mengunjungi kantor lama Ayah dan Danda, dan mengunjungi sekolah lama Abang Zi, PAUD Cerdas.

Abang Zi “disekolahkan” sejak berusia 2,5 bulan di Taman Penitipan Anak di dekat kantor waktu itu. Karena itu, Ayah dan Danda tenang dalam bekerja dan membangun bonding kuat dengan Abang Zi. Karena kami yakin guru-guru di PAUD Cerdas akan menjaga Abang Zi dengan baik.

Danda kagum ketika kami ke dana (setelah 6 tahun), dan para guru masih ingat dengan kami. Kepala sekolah masih ingat dengan wajah Abang Zi (6 tahun loh), para guru juga masih ingat dengan wajah Danda. Hebat banget… ^_^

Setelah salat Jumat, kami kembali ke kantor lama Ayah dan Danda dan bersilaturahim dengan kawan di sana. Abang Zi yang mungkin bosan, bermain sendiri di taman depan kantor. Ah, Abang Zi. Sudah besar dan tak rewel lagi saat bosan. Karena tahu, Ayah dan Danda entah kapan bisa bertemu kawan-kawan ini lagi.

Skor observasi gaya belajar Abang Zi adalah

Visual: 9 poin
Auditori: 9 poin
Kinestetik: 5 poin

#hari2
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Melatih Kecerdasan Otak Kanan dengan Sudoku

17 April 2018

Beberapa hari terakhir Abang Zimam sedang suka main Sudoku. Hmm, gak tiba-tiba suka juga, sih. Awalnya saya yang mengenalkan Zi pada permainan favorit saya ini.

Yap, Sudoku memang permainan favorit saya. Dulu kenalnya waktu saya baru jenal internet dan bertemu dengan laman tentang left-handers alias kidal. Saya memang kidal. Begitu saya tahu kalau Sudoku itu permainan orang kidal karena mengandalkan otak kanan, saya langsung tertarik memainkannya dan langsung (bisa dibilang) ahli, hehe.

Papan Sudoku terlihat berwarna-warni buat saya. Karena itu, begitu saya punya gawai, dan ingin memasang permainan pengantar tidur di gawai saya, permainan yang saya pilih adalah Sudoku. Hehe, iya, saya kalau cari ngantuk mainnya main Sudoku 🙂

Zi sekarang berusia 7 tahun, juga sudah fasih mengenal angka dan menggunakan logika, karena itu saya rasa sekarang saat yang tepat mengenalkan Sudoku padanya.

Awalnya Zi cuma mengintip kalau saya sedang main Sudoku. Lama-lama, saya tawarkan dia untuk main juga. Saya pindahkan levelnya jadi level mudah (saya lebih sering memainkan level sulit di Sudoku). Menjelaskan aturannya satu demi satu.

Aturan permainan Sudoku:

  1. Sudoku terdiri dari 9 kotak besar, di mana di setiap kotak besar terdapat 9 kotak kecil
  2. Setiap kotak kecil dalam satu kotak besar berisi angka dari 1 sampai 9
  3. Dalam 1 kotak besar (yang terdiri dari 9 kotak kecil) tidak boleh ada angka yang berulang/double
  4. Dalam 1 baris ke samping (yang terdiri dari 9 kotak kecil berbaris menyamping) tidak boleh ada angka berulang/double
  5. Dalam 1 kolom ke bawah (yang terdiri dari 9 kotak kecil berbaris ke bawah) tidak boleh ada angka berulang/double

Setelah Zi memahami aturan dasarnya, barulah saya mengajarkannya cara mengisi angka yang tepat. Cari 1 kotak di mana hanya bisa diisi oleh 1 angka saja. Kerjakan yang pasti-pasti dulu, kalau ada kotak yang meragukan, tinggalkan.

Seru sekali melihatnya suka dengan permainan “baru” ini, targetnya, bisa menyelesaikan level “easy” kurang dari 10 menit, sehingga bisa naik ke level “medium” 🙂


Pelajaran 8: Gondongan

29 Maret 2018

Tahukah Kamu apa itu “gondongan”? Lalu, kenapa gondongan bisa jadi “pelajaran” untuk Ayah dan Danda Zimam? Apakah Zimam kena gondongan? Atau yang lain yang kena?

Gondongan (mumps) adalah infeksi virus yang menyerang kelenjar parotis – satu dari tiga pasang kelenjar penghasil liur (ludah) – yang terletak di bawah telinga manusia. Jika kita terserang gondongan, salah satu atau kedua kelenjar parotis akan membengkak. Gondongan ini adalah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi MMR. Efek samping dari penyakit yang paling parah adalah kehilangan pendengaran.

Orang yang terinfeksi gondongan bisa menunjukkan beberapa gejala, kadang ringan, kadang berat. Masa inkubasi virus gondongan sekitar 14-24 hari. Gejala yang timbul antara lain:

  • Bengkak, salah satu atau kedua kelenjar ludah akan bengkak dan rasanya sakit (parotitis)
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Lemah dan lesu
  • Sakit saat mengunyah dan menelan

Gejala yang paling dikenal dari penyakit gondongan ini yaitu pembengkakan kelenjar ludah yang menyebabkan pipi menjadi bengkak (gondong).

Nah, sekarang siapa sih yang tertular gondongan di rumah Zimam? Danda yang kena! 😀

Sepertinya karena gara-gara aku rutin menjemput Zimam di sekolahnya. Teman-teman Zi ini banyak yang tertular gondongan juga. Aku sebenarnya khawatir Zi juga tertular, sih. Karena seharusnya dia divaksin MMR ulang di usia 6 tahun, tapi karena vaksin MMR sedang kosong di mana-mana, Zi gak dapat suntikan vaksin MMR 6 tahun, deh.

Alhamdulillah, ternyata Zi gak tertular virus gondongan, malah aku yang kena, hahaha.

Awalnya Sabtu, 3 Maret 2018 lalu, aku merasa ada yang aneh dengan wajahku di depan cermin, kok asimetris, ya?. Memang aku merasa agak sakit di bagian pangkal tenggorokan. Nyeri saat menelan atau mengunyah makanan. Tapi saat itu, aku menyangkal diriku tertular virus gondongan. Aku masih berpikir, ini hanya pembengkakan kelenjar bening biasa, seperti yang biasa terjadi kalau kita batuk pilek. Karena aku sama sekali tidak demam.

Aku pun masih melakukan aktivitas di luar rumah. Dengan menggunakan masker mulut tentunya. Sejak (alm) Kei -adiknya Zi yang meninggal di usia 36 jam- divonis pneumonia bawaan dari kandungan, aku memang agak trauma dengan yang namanya polusi. Jadi, kemana-mana selalu memakai masker mulut sekali pakai.

Akhirnya di hari Senin, 5 Maret 2018, aku merasakan sakit mengunyah dan menelanku semakin parah. Akupun mengajak adikku ke dokter di klinik dekat rumah. Dokter tersebut mendiagnosa aku memang tertular gondongan. Dokter itu heran, gondongan kok gak demam?.

“Ibu pernah kena gondongan, sebelumnya?” Dokter itu bertanya. Gondongan memang infeksi virus, kalau sudah pernah kena, kena berikutnya gak akan separah kena pertama, seperti cacar air ataupun campak.

“Belum pernah, Dok. Tapi saya sudah pernah suntik MMR.” Jawabku. Aku memang pernah minta divaksin MMR ke dokter anak Zi di Pangkalpinang dulu, karena menurut orang tuaku, aku belum pernah divaksin campak. Jika aku tertular campak saat hamil, itu sangat berbahaya bagi janin. Jadi aku minta divaksin MMR dan Varicella, waktu itu. Yaitu vaksin untuk penyakit Campak, Gondongan, Rubella, dan Cacar Air. Vaksin-vaksin untuk penyakit yang bila menulari ibu hamil, akan sangat membahayakan janin yang dikandungnya. Biasanya, pasien yang sudah pernah divaksin atau pernah tertular sebelumnya, kalaupun sekarang tertular, tidak akan separah yang belum pernah divaksin atau pernah tertular sebelumnya.

Mendengar aku sudah divaksin MMR, dokter tersebut berbinar matanya.

“Di mana ibu vaksin MMR?” Tanyanya penuh harap.

Aku langsung paham, mungkin sang dokter sekarang sedang mencari vaksin MMR entah untuk siapa di keluarganya. Bisa untuk dirinya sendiri, atau untuk anaknya. Mengingat vaksin MMR sangat langka keberadaannya saat ini.

“Saya vaksinnya di Pangkalpinang, Dok. Tahun 2012.”

“Oh.” Ada nada kecewa dalam suaranya.

Entah mungkin karena sang dokter menganggap aku sudah paham akan penyakit gondongan ini (karena sudah inisiatif memvaksin diri sendiri), dokter langsung orat-oret resep sambil menyebutkan kegunaannya. Rata-rata beliau memberi aku resep multivitamin saja untuk meningkatkan ketahanan tubuh.

You know what? Penyakit gondongan ini gak ada obatnya, loh!

What????? 😲

Iyyes! Karena penyebabnya adalah virus, dan semua penyakit yang disebabkab oleh virus memang tidak ada obatnya. Yang bikin sembuh adalah ketahanan diri kita menguris virus itu. Obat yang beredar itu rata-rata hanya mengobati atau mengatasi gejalanya saja. Supaya kita lebih nyaman gitu.

Nah, setelah aku menebus obat resep dari dokter di apotek, aku pulang, makan, dan minum obat. Alhamdulillah, setelah 5 hari bengkakku kempes dan aku sembuh.

Akan tetapi … ternyata pasien gondongan masih harus dikarantina 14-24 hari setelah sembuh, boooo …

Karena dalam 14-24 hari setelah sembuh itu, pasien masih bisa nyebar-nyebarin virus gondongan ke orang lain. Makanya aku kemana-mana pakai masker. Dan terbiasa sampai sekarang walaupun sudah lewat dari 24 hari. 😂

Gondongan lagi musim, nih, sekarang. Karena itu, jaga kesehatan kalian ya, Teman-teman. Jangan ikut-ikutan tertular karena kalo sudah tertular, maka kalian harus dikarantina paling nggak sebulan lamanya. Wuih…


January Full of Memory … (Part 2)

19 Februari 2018

Assalamualaikum…

Tulisan ini adalah bagian kedua dari judul yang sama beberapa waktu yang lalu. 🙂

Ceritanya, keluarga kami sudah punya rencana berkenaan dengan wisuda master Pak Suami. Wisuda master Pak Suami dijadwalkan diadakan pada bulan Januari 2018. Untuk itu aku sudah memesan gamis plus khimar cantik yang serasi dikenakan dengan jas “suit” wisuda Pak Suami.

Namun, karena ternyata tanggal penyelenggaraan wisuda mepet banget dengan HPL Baby K, Pak Suami memutuskan aku tidak ikut. Jadi yang akan pergi ke Jogja untuk menghadiri wisuda beliau adalah mama mertua, papa mertua, dan Abang Zimam. Karena kan seharusnya aku tuh tanggal segitu kalo gak lagi hamil dan nunggu lahiran, ya lagi jaga bayi baru lahir yang gak mungkin dibawa ke mana-mana dulu.

Rencananya, Pak Suami akan berangkat hari Senin, 22 Januari, jam 7 malam, karena ada jadwal acara yang harus dia datangi di hari Selasa pagi. Mama, papa, dan Zimam akan menyusul berangkat hari Selasa siang. Lalu mereka menghadiri wisuda di Rabu pagi, kemudian kembali ke Jakarta pada Rabu malam. Sedang Pak Suami kembali Kamis siang karena paginya harus mengembalikan toga wisuda lebih dulu.

Tapi ternyata kan Allah swt punya rencana lain. Keita dipilihkan penjaga yang terbaik sehingga aku gak perlu lagi menjaga Keita di dunia.

Malam setelah kami mengantar Keita kembali ke pangkuan Ilahi, aku berkata pada Pak Suami (kalau gak mau dibilang: memelas :p), “Ay, kalau gitu Danda ikut lah ya ke Jogja. Sama siapa Danda di rumah kalo gak ikut?”

Itu sebenarnya adalah “Ucapan Patah Hati”, karena sebenarnya ada saja orang di rumah. Di hari-hari biasa juga aku sering kok sendirian di rumah hehe.

Dan setelah kami berpamitan dengan Keita dan kembali ke kamar perawatan, Pak Suami langsung membelikan tiket pesawat untukku, dengan jadwal yang sama dengan Zimam.

Hari Senin kami habiskan dengan menerima tamu. Ada banyak sekali tamu yang datang. Kepada mereka kami juga berpamitan bahwa besok kami akan berangkat ke Jogja. Perjalanan “patah hati” yang dibalut menghadiri wisuda master. 🙂

Dipikir-pikir, Keita benar-benar anak baik. Dia lahir dan pergi di saat yang tepat. Andai dia meninggal di hari Senin siang, saja. Semua rencana akan kacau. Mana bisa ayahnya berangkat ke Jogja meninggalkan hal yang belum selesai? Atau misal meninggal malam Selasa? atau hari Selasa? Gak kebayang seperti apa perasaan Ayahnya di jogja. Saat Kei di NICU saja, Pak Suami sempat ingin membatalkan keberangkatan ke jogja. Gak ikut wisuda gak papa yang penting sudah terdaftar. Hanya aku melarang, selain ini adalah puncak pencapaiannya setelah dua tahun berjuang, wisuda ini juga merupakan wisuda pertama yang didatangi Mama. Pak Suami khawatir, bila aku harus bolak-balik mengurus Kei di NICU.

Ternyata Keita dibimbing Allah untuk mendukung rencana ayahnya. Benar-benar anak yang baik ^_^ Bagaimana kami tidak merindukanmu, Nak! 🙂

Pak Suami pun berangkat ke Jogja hari Senin malam. sementara kami di rumah masih saja menerima tamu sampai jam 10 malam. Benar-benar terharu.

Besoknya, jam 10 pagi kami bersiap ke bandara Halim untuk menyusul ayahnya Keita ke Jogja. Dan di ruang tunggu bandara, kami merasakan hal itu. GEMPA.

Selain itu, penerbangan kami juga ditunda selama 90 menit. Iya, 90 menit, bukan 19 menit, ya. Katanya cuaca di Jogja tidak bagus. Dan memang sih, di pesawat terjadi guncangan. Aku kan gak tidur seharian di hari Minggu sampai Senin. nah begitu sampai di kursi pesawat, aku langsung tertidur sampai- sampai gak ngeh sama Peragaan Posedur Keselamatan Penumpang. Aku dibangunkan oleh turbulance.

Sesampainya di Bandara Adi Sutjipto ternyata memang hujan deras. Pak Suami sudah menjemput kami di bandara, dan kami pun jalan-jalan.

Hari Rabu adalah hari-H buat Pak Suami. Usahanya selama 2 tahun membuahkan hasil. Dia pun diwisuda dengan gelar MBA, master of bussiness administration.

Oya, atas saran tamu-tamu yang datang ke rumah untuk melayat, kami memperpanjang keberadaan kami di Jogja. Yang tadinya hanya sampai Rabu malam, menjadi Jumat Malam. AKhirnya kami pun bis jalan-jalan keliling Jogja, ke The World Landmark Merapi Park, ke Monjali, ke Keraton, dan Masjid Kauman. Rencana ke Prambanan batal karena hujan, akhirnya mampir sebentar di Candi Kalasan.

Ada satu hal istimewa yang terjadi di akhir bulan Januari. Ulang Tahun Pernikahan kami yang ke 9. Yaitu tanggal 25 Januari 2018. Yang akhirnya kami rayakan bersama orang tua. Menyenangkan sekali.

Hari Jumat malam kami pun kembali ke Jakarta. Di Jakarta sudah ada ibuku, iya, ibuku. Beliau memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, karena juga merasa patah hati ditinggal cucu baru yang belu sempat beliau lihat.

Hari Sabtu pagi, kami sarapan bersama.

Terakhir kalinya orang tuaku dan orang tua suami bertemu itu adalah 9 tahun yang lalu saat Baralek kami di Bukittinggi. Dan saat itu kami berkumpul lagi tanpa direncanakan. Karena sebenarnya ibuku tidak ada rencana ke Jakarta untuk menemaniku melahirkan.

Sekali lagi, Keita membuat keajaiban. Dia membuat seluruh keluargaku berkumpul. Dia juga akhirnya membuat Abangnya bahagia karena rumah kami ramai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah 94:5)

Aku benar-benar membuktikan hal ini. Januari 2018 bagiku seperti roller coaster. Hampir setiap hari terjadi momen tak terlupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan bulan ini?

Yeptirani Syari


Go To Surabaya ~

11 November 2017

Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng.

Hari ini, kami sekeluarga berangkat ke Surabaya untuk lanjut ke Bangkalan. Besok, 12 November 2017, Bibinya #AbangZimam insyaAllah akan dilamar pria dari Jakarta hehe.

Gak nyangka sih, adik kecilku sekarang sudah besar. Sudah mau jadi istri orang.

Mohon doa restu semoga acara lancar, dan niat baik mereka dimudahkan sampai ke jenjang pernikahan. Aamiin…
Jakarta, 11 November 2017

Yeptirani


Cerita Hujan

12 Oktober 2016

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba mempraktikkan apa yang sudah jadi trending topic di grup ladies angkatanku pas SMA. #kidsactivity judulnya. Beberapa teman dapat inspirasi dari pinterest, dan membagikannya ke grup. Aku juga punya loh pinterest, tapi jarang cari inspirasi di sana *tutupmuka* 😀

Kali ini aku mengajak anakku, #AbangZimam, untuk bermain “Cerita Hujan”. Kegiatan ini dilakukan bada isya. Supaya dia tidak minta main keluar sama teman-temannya. Malam itu dingin, bung! Hahaha!

Bahannya simpel, caranya gampang. Kamu bisa mempraktikkannya juga di rumah, main sama anak-anakmu.

Bahan: plastik klip, cari yang agak besar supaya kita bisa leluasa menggambar; spidol permanen yang buat nulis presentasi di OHP (iye jadul banget yak, haha, apa itu namanya, yang ada tulisan F-nya); pewarna makanan biru, dikit aja biar airnya tetap bening; air, cukup dari kran.

Gambar plastik klip seperti gambar di atas, lalu isi air sebatas “akar pohon”.

Cara main: duduk berhadapan sama anak, gunakan alat penunjuk (aku pakai bolpen permanen itu, dipasang tutupnya), lalu ceritakan siklus hujan sambil nunjuk-nunjuk gambar.

Jangan lupa, minta anak menceritakan kembali apa yang sudah kita ceritakan. Dan sisipkan fakta unik.

Misalnya: hujan yang kemarin turun pas Abang Zimam pulang sekolah itu, penguapannya terjadi di jaman dinosaurus, loh…

Atau, air sebagian diminum sama pohon, makanya kita harus menjaga pohon, jangan ditebang sembarangan. Kalo pohon gak ada, nanti gak ada yang minum sebagian air hujan ini… nanti jadi banjir, donk..

Juga, fakta bahwa air selalu mencari tempat yang lebih rendah, dan air selalu berusaha agar permukaannya rata.

Yes, ini praktikum IPA ala anak TK! Hehehe..

Alhamdulillah, besoknya anakku bisa cerita ke teman-temannya tentang cerita hujan ini. Dan dia paham, ke mana larinya air di bumi ini.

Silakan kalau dicoba ^_~