Iduladha, Gembira namun Hati-hati

4 Agustus 2020

Selamat Iduladha, Semuanya…

Sudah lama, ya, sejak terakhir saya menulis di blog ini. Konsistensi satu tulisan perhari mulai luntur seiring selesainya kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Maafkan saya.

Hari ini saya kembali menulis sebagai tugas dari Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Ya, Komunitas Ibu Profesional memiliki kelompok menulis yang bernama “Rumah Belajar Menulis” (RBM). Kali ini, RBM memberikan tugas menulis kerangka blog untuk semua anggotanya yang ingin debut sebagai penulis.

Tema tulisan kali ini adalah “Iduladha di Masa Pandemi”. Mari kita mulai.

Kerangka Blog Catatan Harian Yeptirani

Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali dengan hari Raya Iduladha 1441 Hijriah. Hari raya di mana umat Islam dianjurkan berkurban dengan seekor kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Daging hewan kurban tersebut akan dibagikan ke orang-orang yang kesehariannya bisa membeli daging sendiri karena harganya yang mahal.

Perayaan hari raya tahun ini sedikit berbeda. Seperti hari Raya Idulfitri yang lalu, Iduladha tahun ini dirayakan tanpa pulang kampung. Kalau biasanya Abang Zi akan menghabiskan malam di musala untuk memukul bedug, tahun ini kami di rumah saja. Bedug memang tetap dipukul, namun itu dilakukan oleh anak-anak atau pemuda yang tempat tinggalnya benar-benar di sebelah musala. Dan menjaga jarak.

Sebagai anak tertua di Jakarta, saya membuka pintu rumah lebar-lebar saat hari raya. Kebetulan, kambing kurban kami disembelih hari Sabtu, jadi open house-nya dilakukan hari Sabtu juga.

Open house? Katanya sedang pandemi?

Ada beberapa hal yang membuat kami memutuskan tetap menerima tamu (saudara kandung). Selain karena PSBB di Jakarta sudah diturunkan statusnya menjadi PSBB Transisi dan PSBL, kami tak memiliki saudara dekat di Jakarta. Hanya itu-itu saja yang jadi sandaran. Dan, rumah kami yang tak terlalul jauh membuat kami sebenarnya sudah sering berinteraksi walaupun PSBB.

Saat adik saya datang, dia langsung membersihkan dirinya. Mencuci tangan, menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuh, dan menjemur jaketnya. Barulah ia membantu membakar sate di halaman.

Ada satu kegiatan yang tidak kami lakukan di hari raya ini, yaitu ziarah ke makam Keita. Tadinya kami hanya berniat menunda, karena penuhnya taman makam, tetapi akhirnya jadi batal. Padahal makam Keita jaraknya tak sampai 10 menit berjalan kaki. Tetap saja jarang dikunjungi. Terakhir kami ke sana, ada sebuah pohon tumbuh di atas pusara Keita. Saya jadi penasaran, sebesar apa pohon itu sekarang. Pohon yang dipupuki oleh Keita.

Oh iya, biarkan saya bercerita tentang penyembelihan hewan kurban tahun ini.

Jika tahun-tahun sebelumnya, semua orang mendekat pada penjagal, dan berakhir dengan suasana ricuh, tahun ini area penjagalan dibatasi dengan pering bambu. Hanya pemilik hewan kurban yang akan disembelih saja yang boleh masuk area jagal. Lebih tertib dan lebih sepi dari biasanya.

Pada akhirnya, walau dengan segala keterbatasan, kami merayakan hari Raya Iduladha dengan khidmat dan bahagia. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga tahun depan hari Raya Iduladha dapat dirayakan dengan penuh kegembiraan tanpa ketakutan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441H


Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah

11 Agustus 2019

Semoga Allah subhanawataala menerima ibadah qurban kita, aamiin.

Untuk saudaraku yang belum berqurban di tahun ini, kudoakan semoga tahun depan bisa berqurban. Aamiin…

Semoga Allah memberkahi jalan hidup kita. Aamiin.


Game Level #4 Memahami Gaya Belajar Anak

11 Juli 2019

Setelah tiga kali berturut-turut alias hattrick mendapatkan badge Outstanding Performance karena mengerjakan lima belas tantangan dalam tujuh belas hari pada tiga game terakhir, saatnya menghadapi tantangan baru. Pada game level #4 ini, mahasiswi Kelas Bunda Sayang diajak untuk memahami gaya belajar anak.

Sumber: Komunitas Ibu Profesional

Zaman sekarang dan zaman dulu, jauh berbeda. Jika dulu kita sekolah, masih diharuskan mendengarkan guru berbicara di depan kelas, zaman sekarang sekolah adalah tempat murid dan guru berdiskusi.

Danda masih ingat, waktu SD ada 2-3 anak di kelas yang selalu duduk paling belakang, mereka selalu menggangu teman lainnya. Mereka tak pernah bisa diam. Saat guru tak dikelas, ketua kelas diserahi tugas mencatat teman-teman yang berisik, mereka selalu masuk catatan. Akhirnya, karena dicap “terlalu nakal”, saat kelas 5 SD mereka tinggal kelas.

Sekarang Danda baru menyadari, kemungkinan mereka hanya tidak cocok dengan gaya belajar guru didikan penjajahan. Sementara saat itu di dunia pendidikan hanya dikenal 2 tipe belajar (visual dan auditori), mungkin gaya belajar mereka adalah kinestetik, gaya belajar yang tak ada di teori saat itu.

Andai mereka lahir lebih lambat, mungkin mereka bisa jadi bintang kelas. Mungkin.

Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individuyang tidak bisa membaca atau menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar, dan tidak kembali belajar.

– Alvin Toffler

Karenanya, Danda sangat bersyukur diberi tema materi ini oleh Kelas Bunda Sayang. Kami jadi punya alat untuk memahami karakter belajar anak kami.

Semalam Ayah dan Danda berdiskusi tentang materi ini. Ayah bilang, Abang Zi adalah anak kinestetik, Danda bilang visual. Hahaha. Tuh kan, kami brda pendapat. Ah memang sebaiknya kami melaksanakan saja tantangan kali ini dengan baik, dan mendiskusikan hasilnya, sehingga kami memahami gaya belajar Abang Zi.

Cukup curhatnya, Danda! Sekarang kembali ke materi! ^_^

Oke, gaya belajar manusia (masih) diketahui ada tiga jenis. -besok atau lusa, jenis gaya belajar bisa bertambah, loh, tergantung siapa yang menemukan-. Yaitu gaya belajar VISUAL, AUDITORI, dan KINESTETIK.

Gaya Belajar Tipe Visual

Anak dengan gaya belajar visual jika berbicara maka lirikannya ke atas. Dia bicara dengan tempo cepat, lebih suka membaca komik ketimbang novel, dan sukit menerima perintah verbal.

Anak visual sebaiknya belajar dengan menggambar atau video. Belajar mandiri tak cocok untuk anak dengan tipe ini.

Gaya Belajar Tipe Auditori

Anak dengan gaya belajar auditori selalu melirik ke kiri/kanan bila berbicara. Anak tipe ini mengandalkan kesuksesannya melalui telinga. Anak tipe ini mudah terganggu kebisingan, tapi lebih mudah mengingat apa yang didengarnya ketimbang yang dilihatnya.

Anak auditori sebaiknya belajar melalui diskusi.

Gaya Belajar Tipe Kinestetik

Ini gaya belajar yang belum diakui saat Danda kecil dulu.

Anak tipe kinestetik jika berbicara lirikan matanya ke bawah dan berbicara lebih lambat. Anak kinestetik belajar melalui gerakan, sentuhan, dan praktik langsung. Anak kinestetik tak bisa diam, dan selalu ingin bereksplorasi dengan lingkungan.

Anak dengan tipe kinestetik jangan dipaksa belajar berjam-jam. Izinkan anak kinestetik belajar sambil mengunyah permen karet karena itu membantunya berkonsentrasi.

~~~

Setiap individu bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar. Namun, pasti ada satu yang lebih dominan dari yang lain.

Sesuai prinsip Ibu Profesional (meninggikan gunung alih-alih menguruk lembah), gaya belajar yang dominan ini yang diasah, sehingga anak-anak bisa lebih optimal dalam belajar, dan yang pasti, lebih hepi.

Okay, Ayah dan Danda siap mengobservasi Abang Zi dan menemukan gaya belajar dominannya. Semangat 💪

Don’t Teach Me, I Love to Learn
#gamelevel4
#tantangan10hari
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#kuliahbunsayiip


Kehidupan Setelah Kematian

26 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #13

PhotoGrid_1561458277331

Nama Projek: Kehidupan Setelah Kematian

Pimpinan Projek: Danda Zimam

Pengamat Projek: Abang Zimam Anak Shalih

Penanggung Jawab: Ayah Zimam

Gagasan: Qadarullah, Kai Zimam meninggal dunia tanggal 24 Juni malam. Beliau adalah pamannya Danda atau adiknya Nini Zimam. Jadi hari ini Danda mesti keluar rumah dan ikut mengurus jenazah beliau. Dengan beberapa pertimbangan, termasuk jarak, Abang Zi tinggal di rumah dan tidak ikut Danda.

PhotoGrid_1561502627833

~~~

Kepergian Kai Zimam ini termasuk mengejutkan pihak keluarga Nini Zimam. Pasalnya, kami tak tahu bahwa si Kai sakit. Pihak keluarga memang tidak ingin semua orang tahu penyakit Kai. Apapun itu, kami menghormatinya.

Danda masih cuti sakit hari ini. Namun, badan sudah bisa diajak bergerak walau perut masih sakit jika sedikit ditekan. Namun, sebagai bagian dari keluarga, Danda harus berangkat takziyah dan ikut mengurus jenazah. Bersyukur ada taksi daring, Danda bisa istirahat sejenak selama satu jam perjalanan menuju rumah duka.

Sebelum berangkat, Danda pamit pada Abang Zi, Danda akan pergi untuk takziyah, paman Danda meninggal dunia, beliau adiknya Nini yang juga Kai Zimam. Danda berpesan agar Abang Zi mandi, sarapan, dan beres-beres, juga main jika suka, tapi tidak boleh main tablet. Mbak Asisten (alhamdulillah) sudah datang dan menjaga Abang Zi.

Sepulang dari takziyah, Danda mendapati Abang Zi sudah rapi, sudah makan, dan di ruang keluarga terhampar mainannya. Alhamdulillah, Abang Zi menemukan keasikan lain selain tablet.

Sembari istirahat dan menemani Abang Zi bermain, Danda bercerita tentang kejadian hari ini. Danda bertanya apakah Abang Zi tahu di mana kita tinggal setelah kematian. Abang menjawab, “di alam kubur.”

“Sampai kapan?” tanya Danda menguji.

“Sampai hari kiamat,” jawab Abang Zi sambil lalu.

“Apa yang terjadi di alam kubur?” tanya Danda lagi.

“Kalau amalnya baik, kita senang, kalau amalnya buruk, kita sedih. Disiksa terus sama malaikat Munkar dan Nakir,” jawab Abang Zi, kali ini agak serius menyimak diskusi.

“Alhamdulillah, Abang sudah paham. Sama seperti Adek Keita, Kai ini juga tinggal di alam kubur. Mempertanggungjawabkan hidupnya di dunia, sampai hari kiamat tiba. Setelah kita meninggal, kita akan tinggal di alam kubur hingga kiamat tiba. Karena itu, selagi hidup, yuk, perbanyak ibadah agar kehidupan penantian kita dan hidup kekal kita bahagia,” jelas Danda.

DSC_1034-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan interpersonal – mampu berinteraksi dengan orang lain bahkan saat sibuk sendiri);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan membina hubungan dengan orang lain – mau meladenin diskusi Danda di tengah permainan);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan – mengetahui ajaran agama tentang kehidupan setelah kematian);
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (climber – menyambut diskusi dengan baik, dan tidak menghidarinya).

Materi hari ini lumayan berat buat kami berdua. Tapi tetap harus selalu diulang sebagai pengingat. Semoga alhamarhum paman Danda meninggal dengan husnul khatimah, diterima pahalanya, diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya, dan diberi tempat layak di sisi Allah subhanawataala. Aamiin.

PicsArt_06-25-05.27.02

#hari13
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Selamat!

24 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #11

PhotoGrid_1561308975598

Nama Projek: Selamat!

Pimpinan Projek: Ayah Zimam

Pelaksana Projek: Abang Zimam Anak Pintar dan Danda Zimam

Gagasan: Alhamdulillah, MasyaAllah, Tabarakallah, Abang Zi sudah menerima rapor kelas dua dengan nilai yang menggembirakan. Karena itu, sesuai tradisi keluarga Zulkifli-Syari, setiap ada hal yang menggembirakan, kami rayakan dengan makan-makan enak.

PhotoGrid_1561308929850

~~~

Alhamdulillah, MasyaAllah, Tabarakallah.

Selamat, Abang! Rapor Abang Zi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dan ketika Danda bertanya bagaimana adab Abang Zi di sekolah, para bunda pun tidak menyebutkan adab yang membuat Danda sedih. Alhamdulillah, insyaAllah selalu jadi anak shalih, aamiin.

Kami pun merencanakan makan enak untuk merayakannya. Karena Danda masih ada tugas di luar kota, makan-makan dilakukan setelah Danda kembali ke Jakarta.

Kami memilih restoran all-you-can-eat kali ini. Sekalian jadi projek keluarga dalam melatih kecerdasan Abang Zi. Tak lupa, aturan makan di restoran all-you-can-eat kami ulang sambil lalu (khawatir anaknya bosan kalau ditutor melulu).

Tidak seperti biasanya, kali ini Abang Zi mengambil menu benar-benar sesuai apa yang bisa dia makan. Biasanya sih selalu ada sedikit makanan sisa yang akhirnya dimakan Ayah – maklum, resto ini menerapkan denda untuk setiap makanan yang tidak dihabiskan.

Sikap Abang Zi setelah makan pun bisa dibilang lebih tenang dari biasanya. Biasanya, jika dia selesau makan duluan, dia akan “berkeliling” restoran. Tak mau diam di kursinya. Malam ini, dia tenang di kursi sambil menikmati sesesap demi sesesap minuman yang dia ambil.

Ah, anak Ayah dan Danda sudah mulai besar. ^_^

PicsArt_06-24-12.07.22-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan intrapersonal –  Abang Zi paham betul yang dia inginkan malam ini);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan mengendalikan emosi – Abang Zi berhasil mengendalikan emosinya dengan baik di tempat umum);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan – Abang Zi membatasi diri dengan mengambil apa yang dia mampu habiskan saja);
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (climber – menerima tantangan pengendalian diri di restoran all-you-can-eat).

Abang Zi sudah kelas tiga sekarang. Tugas dan tanggung jawabnya sudah akan makin banyak. Usianya nanti juga akan memasuki 9 tahun. InsyaAllah, Ayah dan Danda akan terus mendampingi sampai Abang Zi mampu berpijak sendiri. InsyaAllah. Aamiin. Selamat, ya, Bang!

PicsArt_06-23-11.59.01

#hari11
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Empat Satu

21 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #8

PhotoGrid_1561035697900

Nama Projek: Empat Satu

Pimpinan Projek: Danda Zimam

Pelaksana Projek: Abang Zimam dan Danda

Penasihat: Ayah Zimam

Gagasan: Mengisi waktu keluarga dengan aktivitas yang minim motorik kasar karena Danda sedikit lelah, sambil mengasah kecerdasan intelektual Abang Zi.

PhotoGrid_1561037685704

~~~

“Danda, kita main, yuk!” Ajak Abang Zi setelah salat isya.

“Oh, Danda punya mainan baru buat Abang. Abang udah tau permainan empat satu?” Balas Danda.

Abang Zi menggeleng. Danda pun segera mengambil 1 dus kartu remi dan membukanya.

“Jokernya jangan dipakai, ya.” Danda menjelaskan.

Abang Zi terkekeh. Dia sudah tahu fungsi joker dalam kartu remi.

Danda mengocok kartu dan membagi, masing-masing mendapat 4 kartu. Danda pun menjelaskan peraturan permainan Empat Satu. Pemain yang pertama mengumpulkan skor 41 lah yang menang, atau jika kartu cadangan habis, pemain yang punya skor tertinggi yang menang. Setelah itu, kami bermain.

Abang Zimam menang 1 kali dari Danda. Skor kami 3-1. Hebat, untuk pemula.

DSC_0989-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan:

  • Kecerdasan intelektual (kecerdasan logika-matematika – bagaimana Abang Zi harus menghitung dengan cepat sekaligus mengatur strategi agar segera menang dari lawan);
  • Kecerdasan emosional (kemampuan mengelola emosi – tidak kesal berlebihan saat kalah dari Danda);
  • Kecerdasan spiritual (prinsip kebenaran – tidak curang dan menjaga adab selama permainan);
  • Kecerdasan menghadapi tantangan (climber – tak mau berhenti sebelum menang)

Kalau Danda tidak minta berhenti karena kelelahan, mungkin permainan ini bisa diteruskan sampai pagi karena Abang Zi punya target menang 10 kali dari Danda, hahaha.

PicsArt_06-20-08.38.06

#hari8
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Belajar Menjahit (Bagian 2)

17 Juni 2019

Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak
Hari #4

PhotoGrid_1560674103960

Nama Projek: Belajar Menjahit

Pimpinan Projek: Abang Zimam anak Ayah dan Danda

Penasihat: Danda Zimam

Penanggung Jawab: Ayah Zimam

Gagasan: Masih sama dengan Bagian 1, mengajarkan dan membiasakan Abang Zi dengan benang, jarum, dan alat jahit lainnya. Sekarang tantangan ditingkatkan. Jika kemarin Abang Zi memakai jarum dan benang rajut untuk menjahit (yang lubang jarumnya besar dan benangnya agak kaku), hari ini Abang Zi memakai benang dan jarum sungguhan (lubang jarum lebih kecil, dan benang yang lebih lembut).

PhotoGrid_1560612096668

~~~

Masih dengan sekardus Projek Main Bareng Keluarga dari @beebikinan, kali ini Abang Zi mencoba mengerjakan projek kedua, “Sewing Cow Hand Puppet” alias menjahit boneka tangan berbentuk sapi.

Hal tersulit dalam menjahit ini rupanya adalah “memasukkan benang ke lubang jarum” karena Abang Zi memakai jarum jahit sungguhan yang lubangnya memang relatif kecil (padahal Danda sengaja menukar jarum dari beebikinan dengan jarum jahit koleksi Danda yang lubangnya lebih besar).

DSC_0976-01

Setelah beberapa kali mencoba (dan beberapa kali diberi arahan), akhirnya itu benang nyembul juga ke lubang jarum. Si Abang bahagia sekali kelihatannya. Kemudian dia pun mulai menjahit. Danda mengajarkan teknih jahit jelujur pada Abang Zi. Sebagai pemula, jelujur cukup lah.

Setelah satu corak berhasil dijahit, Abang Zi kelelahan dan meminta sisanya dilanjutkan esok. Melihat usaha kerasnya, terutama saat memasukkan benang ke lubang jarum, Danda setuju projek ini dilanjutkan esok.

Padahal rencananya projek ini menjadi projek sehari atau oneday project, eh, malah jadi multidays project, hahaha. Kalau dilihat, ada 4 corak di boneka sapi ini, jadi projek ini bisa jadi projek 7 hari (plus memasang mulut sapi, telinga dan tanduk sapi, serta badan sapi), bagus deh, Danda jadi tak akan kekurangan ide dalam Game Level 3 ini, hehehe.

DSC_0978-01

~~~

Kecerdasan yang dilibatkan: (sama dengan kemarin, jadi Danda hanya menulis intinya saja, ya)

    • Kecerdasan intelektual (kecerdasan spasial);
    • Kecerdasan emosional (kemampuan mengelola emosi dan memotivasi diri);
    • Kecerdasan spiritual (prinsip kebaikan);
    • Kecerdasan menghadapi tantangan (belajar untuk jadi seorang climber)

Alhamdulillah, Abang Zi merasa tertantang untuk menyelesaikan projek ini.

PicsArt_06-16-03.37.32

#hari4
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional