NHW #3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

20 Agustus 2018

Ini sesi yang bikin galau, deh. Karena pekan ini NHW #3 menyuruh mahasiswi untuk menulis surat cinta pada suami.

What? Surat cinta? Surat cinta yang itu?

Iya. Benar-benar surat cinta. Jatuh cintalah pada suami! Begitu perintahnya. ^_^

Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa menulis surat cinta pada suami itu ternyata membutuhkan keberanian tersendiri. Saya suka drama korea. Ada banyak gombalan di dalamnya. Tapi tetap saja, kalau saya harus menggombal, butuh keberanian. 😀

Akhirnya surat cinta 3 halaman itu berhasil saya tulis dan saya serahkan ke suami tercinta. Apa isinya? Maaf, yang itu confidential ^_^

NHW kali ini mengajak saya melihat potensi dari diri saya sendiri, potensi suami, potensi anak, potensi lingkungan, dan mencari kira-kira rahasia Tuhan mana yang menjadi peran kami di muka bumi. Sungguh tugas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Yeptirani Syari_NHW3_Jakarta4

Kamis, 16 Agustus 2018

Sebelum terlelap, saya serahkan sepucuk surat cinta tugas NHW#3 kepada suami saya. Malu rasanya, karena saya belum pernah menulis surat cinta padanya sebelumnya. Kami bertemu di zaman milenial. Di mana sms dan telepon murah sudah menjadi pemersatu pasangan yang terpisah jarak. Kami bertemu di masa di mana kantor ekspedisi barang lebih mudah ditemukan ketimbang kantor pos, apalagi bus surat. Sungguh, menulis surat bukanlah hal yang mudah.

Setelah beberapa kali menyobek kertas bekas yang saya pakai untuk menulis konsep surat, saya akhirnya bisa menuliskan sebuah surat cinta dengan kertas Hello Kitty cantik kesukaan saya. Dalam bayangan saya, suami saya cuma akan mengangguk-angguk tanpa ekspresi ketika membacanya. Ternyata saya salah.

Malam itu sudah larut, suami saya memasuki kelambu tidur kami setelah menidurkan si sulung. Saya menyerahkan surat itu. Dia membacanya. Awalnya sambil bercanda. Saya pun merajuk. Lalu dia membaca dalam diam. Kemudian memeluk saya sambil berkata, “terima kasih, ya. Aku suka dikasih surat seperti ini. Aku orangnya tidak ekspresif, kamu pandai menulis, aku suka sekali membaca surat kamu, istriku.”

Air mata saya tiba-tiba menetes. Saya terharu. Saya tidak menyangka tanggapannya demikian. Saya jatuh cinta lagi pada suami saya, yang jatuh cinta lagi pada saya.

~~~

Namanya Azzimam Wiracatha Zulkifli, pemimpin yang disiplin, cerdas, dapat mengayomi, dan dapat diberi amanah. Dia anak pertama kami.

Sejak lahir dia bukan anak yang merepotkan. Jika orang tua lain begadang saat baru punya bayi, kami tidur lelap, karena Zimam hampir tak pernah bangun malam. Saat anak lain rewel di waktu sakit, Zimam diam saja, sesekali meringis menahan sakit, membuat kami berdua akhirnya meringis menahan sakit di dada karena melihat anak yang tidak mengeluh.

Zimam anak yang patuh dan mudah diberi tahu. Mungkin karena contoh dari kami berdua juga. Dia anak yang pemberani dan penyayang. Suka memeluk dan mencium orang tuanya walau usianya tak kecil lagi. Dia juga penyayang kucing.

Kami tak pernah menuntut Zimam menjadi anak yang pandai, tapi ternyata nilainya tertinggi di kelasnya. Kami tak pernah menuntut dia menonjol, tapi ternyata dia menjadi ketua kelas. Kami tak pernah menuntut dia berbakat di segala bidang, tapi ternyata dia dipilih mewakili sekolahnya untuk lombah story telling yang diadakan oleh LIA, juga kandidat atlet Pencak Silat Tapak Suci untuk PORDA, namun kami tahan untuk tidak ikut karena padatnya jadwal latihan. Kami melihat banyak bakat di dalam dirinya yang tak kami ketahui sebelumnya.

Jangan suruh dia mewarnai. Dia tak tahan duduk diam lebih dari 7 menit, 1 menit kali usianya sekarang. Jangan pula suruh dia menyanyi, nanti telinga kita akan sakit karena dia buta nada, seperti ibunya.

Saya melihat calon pemimpin masa depan dalam diri Zimam. Kini tugas kami, orang tuanya. Memupuk bakat itu, hingga dia benar-benar jadi pemimpin yang adil seperti Nabi Zulkifli a.s.

~~~

Saya Yeptirani Syari, anak pertama dari dua bersaudara. Dilahirkan dengan keluarga utuh sampai berusia 8 tahun. Hidup hanya dengan ibu dan adik perempuan sampai berusia 14 tahun. Lalu merantau menempuh pendidikan di luar rumah sampai menikah di usia 24 tahun.

Saya suka menulis. Suka berimajinasi karena kehidupan saya yang tidak sempurna membuat saya berimajinasi menyempurnakan kehidupan saya, sehingga menghasilkan suatu cerita fiksi. Saya juga seorang introvert yang sulit berkawan namun nyaman diajak bicara.

Saya mengakui bahwa saya orang yang cerdas. Selalu ranking 1 sejak SD sampai SMP lalu diterima di SMA terfavorit zaman itu, SMA Taruna Nusantara. Saya rasa kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menciptakan generasi cerdas berikutnya, karena gen kecerdasan turun dari ibu. Saya hadir dengan mengemban tugas menurunkan gen cerdas yang saya miliki. Saya meyakini itu.

Ibu adalah sekolah pertama. Saya sekarang meyakini, kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menjadi guru pertama bagi anak-anak kami bahkan sejak mereka dalam kandungan. Karena itu suami saya dapat bekerja dengan tenang karena anak-anaknya telah berada di tangan yang tepat. Guru pertama mereka, ibunya.

~~~

Saya tinggal di tengah Kota Jakarta dengan kehidupan Kampung Betawi. Sampai saat ini, inilah lingkungan favorit saya. Di kampung ini pulalah, anak kedua saya berbaring untuk selamanya. Saya bermimpi menjadikan kampung ini menjadi kampung halaman baru kami. Kampung ini kampung yang cukup sempurna, saya merasa terberkahi berada di lingkungan ini.

Saya pikir, Allah ingin saya lebih mudah bersosialisasi, karena itu saya ditempatkan di sini. Saya bermimpi membuka sebuah perpustakaan tanpa asap rokok untuk tempat nongkrong anak-anak muda di kampung ini. Mungkin sebuah kursus bahasa Inggris gratis juga.

Ada banyak anak yatim dan kurang mampu yang seumur dengan Zimam di sini. Saya juga bermimpi bisa menyekolahkan salah satu dari mereka.

Semoga impian saya diridai Allah Subhanawataala. Aamiin.

~~~

Dari semua hal di atas, saya rasa saya bisa menyimpulkan bahwa keluarga kami adalah keluarga pembelajar dan hadir untuk mengajak orang lain belajar bersama kami. Banyak impian yang saya punya, semoga semuanya bisa menjadi kenyataan, satu demi satu.

~~~

NHW#3 End


Kuliah di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

7 Juli 2018

Tahu Institut Ibu Profesional? Pernah dengar?

Institut Ibu Profesional adalah sebuah wadah belajar bagi ibu dan calon ibu untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri, dan seorang ibu.

Di IIP, ada banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan. Untuk memperoleh semua itu, ada tahapan-tahapan yang harus kita lalui agar ilmu yang kita dapat sesuai dengan yang kita butuhkan.

Tahapan pertama kuliah di Institut Ibu Profesional adalah Kelas Matrikulasi.

Pengumuman pembukaan Kelas Matrikulasi IIP ini adalah salah satu pengumumman yang saya tunggu tahun ini. Dulu saya pernah mengenal IIP lewat email. Pernah juga mengikuti kuliah-kuliah dari Ibu Septi Peni – pendiri IIP – via webinar. Namun, dulu IIP belum terorganisasi dengan baik seperti sekarang. Saya mengikuti perkuliahannya dengan setengah hati hingga akhirnya saya di-DO dari kelas (-_-”).

Kemudian saya melihat sepak terjang teman-teman yang konsisten di IIP, bergabung setelah IIP lebih terorganisasi dengan baik, dan saya pun kembali tertarik.

Alangkah senangnya saya ketika ada pengumuman pembukaan kelas matrikulasi batch #6 di akun instagram IIP yang memang saya tandai.

pengumuman pendaftaran matrikulasi #6

Senin, 25 Juni 2018, adalah tanggal paling seru selama tahun 2018. Pukul 10 pagi, stand by pegang ponsel, menanti tautan untuk mendaftar ke Kelas Matrikulasi. Ternyata pendaftar harus membayar iuran. Untung saja ada internet banking, fiuh. Pukul 09.03WIB, saya selesai mendaftar. Dan sekitar pukul 1 siang, pendaftaran ditutup karena kuota sudah terpenuhi. MasyaAllah… ⊂((・▽・))⊃

Kemudian, saya, kami, para pendaftar, dibuat harap-harap cemas karena proses selanjutnya adalah proses verifikasi. Saya berharap saya tidak melakukan kesalahan saat menulis alamat surel atau nomor ponsel. sampai akhirnya, seseorang dari IIP menghubungi saya lewat whatsapp di nomor yang saya daftarkan. Kemudian, data saya diverifikasi, dan saya dimasukkan ke Kelas Fondation selama 2 pekan ke depan.

Ya, saya lolos masuk ke Kelas Matrikulasi Batch #6 Institut Ibu Profesional, dan akan menjalani proses perkuliahan selama 4 bulan ke depan. o(〃^▽^〃)o

InsyaAllah istiqomah, Aamiin.


Dongeng Sebelum Tidur dan Perkembangan Bahasa si Kecil

2 Maret 2018

photo_2018-03-05_19-54-04

Membacakan dongeng sebelum tidur adalah hal yang rutin saya lakukan untuk Zimam semenjak dia masih dalam kandungan. Waktu itu saya tidak berpikir terlalu jauh. Saya hanya suka dongeng, suka mendengarkan dongeng, dan suka membaca cerita dongeng. Waktu saya kecil pun, saya selalu dibacakan dongeng sebelum tidur oleh ibu atau om saya.

Dongeng yang saya bacakan kadang tidak bersumber dari buku cerita. Saya bahkan lebih sering menceritakan dongeng karangan saya sendiri. Dongeng karangan saya biasanya berbentuk fabel, dan saya sengaja memilih hewan-hewan yang dianggap tabu diucapkan sebagai tokoh utama, misalnya, monyet, anjing, babi, atau ular. Tujuan saya hanya supaya anak saya terbiasa mendengar kata-kata itu sebagai nama hewan biasa, bukan kata-kata makian.

Membacakan dongeng sebelum tidur untuk anak saya ternyata sangat banyak manfaatnya. Selain menjalin kedekatan batin antara saya dan anak, saya juga bisa mengajarkannya bahasa sehari-hari. Bisa dibilang, untuk anak seusianya, anak saya memiliki kemampuan berbahasa di atas rata-rata. Ke depannya, kebiasaan membaca dongeng ini akan menularkan kebiasaan membaca pada anak.

Kemampuan berbahasa anak saya terlihat sejak kata pertamanya keluar. Dia dengan mudah mengungkapkan apa yang dia mau melalui media verbal walaupun dia belum lancar berbicara. Kata-kata yang dia gunakan juga merupakan kata-kata yang biasa saya pakai untuk mendongeng. Misalnya, tak peduli orang-orang di sekelilingnya berkata “mam”, anak saya akan tetap berkata “makan”. Tak peduli orang-orang di sekelilingnya berkata “bobo” dan “mimik”, anak saya tetap berkata “tidu” (tidur) dan “minum”. Dan kata-kata itu bertahan sampai sekarang, sampai dia masuk usia sekolah dan akhirnya dipuji oleh guru kelasnya sebagai anak dengan bahasa paling sopan.

Perkembangan bahasa anak dapat juga distimulasi dengan cara memintanya menceritakan kembali dongeng yang sudah kita ceritakan. Dengan begitu, anak akan “terpaksa” memilih kata-kata yang cocok untuk bercerita, “terpaksa” bicara dengan struktur baik, dan “terpaksa” menyusun kata-kata yang baik hingga pendengar dapat memahami maksud ceritanya. Ternyata, efek dongeng sangat besar, ya.

Jadi, karena mendongeng sebelum tidur sangat besar efek baiknya terhadap perkembangan bahasa anak, yuk, mari kita lestarikan kebiasaan mendongeng bagi anak kita sebelum mereka tidur.

photo_2018-03-05_19-54-21


January Full of Memory … (Part 1)

1 Februari 2018

WhatsApp Image 2018-02-03 at 12.20.54

Januari 2018 merupakan bulan penuh kenangan buatku. Aku ragu apa aku bisa melupakan bulan ini.

Sejak awal Januari, aku menantikan kelahiran Baby K. Kami mulai membuka lagi kamus bahasa Sanskerta dan mencari nama yang bagus untuk Baby K. Dia sudah punya nama depan, dan nama belakang, tapi belum punya nama tengah. Sesuai kesepakatan, nama tengah anak-anak laki-laki Zulkifli diambil dari bahasa Sanskerta.

Tanggal 11 Januari 2018, yang terkenal karena lagu Gigi itu, aku mulai merasakan konstraksi yang konsisten setiap setengah jam dengan durasi sekitar 30 detik.

2018-03-02-15-16-23

Hari Sabtu-nya, aku dan Pak Suami beserta Abang Zimam berangkat untuk periksa ke obgyn. Ternyata sudah bukaan 1. Tapi aduhai boooo kontraksinya.

Untungnya, aku sudah beberapa kali berlatih prenatal gentle yoga dan teknik pernafasannya sangat membantu dalam mengatasi kontraksiku.

Tanggal 15 Januari 2018, hari Senin, adalah hari terakhir aku bekerja. Malam sebelumnya aku tidak bisa tidur karena kontraksi yang aku rasakan makin kuat. Akhirnya aku lemas di kantor. Memang, Baby K “bergerak” di malam hari, kontraksi malam lebih kuat daripada kontraksi siang, karena itu aku hanya bisa tidur di siang hari karena malam harinya aku selalu terbangun karena kontraksi.

Esoknya, hari Selasa, 16 Januari 2018, di malam hari sepulang Pak Suami dari kantor, kami mengunjungi RS Hermia untuk periksa. Kontraksi makin kuat. Ternyata masih bukaan 1 saja. PIhak rumah sakit menyarankan agar aku menginap, tapi aku mau pulang. Entah, aku serasa punya feeling harus pulang. Akhirnya aku diijinkan pulang dengan oleh-oleh nasihat, kalau kontraksi nambah, atau bekas sesar nyeri, atau keluar air atau keluar lendir, segera ke rumah sakit.

2018-03-02-15-22-13

Tepat seminggu sejak kontraksi pertama datang. Bukaan masih saja bukaan 1 sedang kontraksi intensitas maupun durasinya makin sering dan lama. Dari seorang teman yoga, aku mendapatkan kontak seorang doula yang juga praktisi akupresure, yang bisa melakukan akupresur untukku dan membantu nambah bukaan. Aku hubungi dia, namanya Mbak Felicia Pukiat, dan kami pun janjian bertemu hari Jumat.

Kamis, 18 Januari 2018, kontraksiku makin nambah, sampai-sampai aku hampir menangis, lupa semua ajaran nafas dari prenatal gentle yoga, yang ada hanya rasa nyeri di sekujur tubuh bagian bawah, terutama sebelah kemaluan dan anus. Namun seorang teman yang juga obgyn mengingatkanku bahwa kontraksinya orang VBAC memang lebih nyeri ketimbang kontraksinya yang belum pernah SC. Well, noted then.

2018-03-02-15-19-27

Akhirnya karena aku merasa tidak kuat, aku ajak suamiku untuk mengantarku ke rumah sakit esoknya. Janjian dengan Mbak Felicia aku pindahkan ke rumah sakit karena aku memang mau periksa.

Jumat, 19 Januari 2018. Dengan sisa tenaga aku turun dari motor di depan UGD Hermina Jatinegara. Pak Suami memarkir motor, (rencananya) aku mendaftar ke resepsionis UGD.

Ternyata kontraksi datang sesaat aku duduk di depan resepsionis. Segera saja dia memanggil security dan membawa kursi roda agar aku bisa dibawa ke ruang VK. Dan ternyata, karena melihat kontraksiku yang hebat, walaupun diperiksa masih saja bukaan 1, aku disuruh (kalau gak mau bilang dipaksa) menginap.

Doulaku datang dan memijatku, bukaan langsung nambah jadi bukaan 3, wow. Gimana aku gak merekomendasikan akupresure? 🙂

Setelah semalaman berkutat dengan rasa nyeri kontraksi, berdamai (dengan bantuan doula) dengan rasa nyeri itu, dan akhirnya benar-benar berhasil menjadikan nyeri kontraksi sebagai gelombang cinta (sebelumnya aku heran, kok bisa nyeri kontraksi dibilang gelombang cinta, ini nyeri!!!!), Sabtu, 20 Januari 2018, pukul 12.28 siang, aku melahirkan Baby K dengan proses VBAC. SUKSES!!!!!

2018-03-02-15-25-45

Namun, Kei lahir dengan tubuh biru dan tangisan tertahan seperti sesenggukan. Siapa sangka, tangisan sesenggukan itu adalah suara terakhir Kei yang aku dengar.

Kei hanya sebentar ditaruh di perutkku, dia kemudian diambil dan dirawat oleh suster dan dokter anak. Sementara aku? Dijahit!

Aku pun dipindahkan ke ruang perawatan umum, Kei dipindahkan ke NICU. Kisah tentang Baby K pun dimulai.

Karena lahir dengan kelainan, ketuban hijau keruh seperti kuah kacang ijo (kata Pak Suami, aku gak lihat sendiri), badan kebiruan (walau kemudian memerah), nafas tersengal, nangis sesenggukan dan tidak teriak, segala macam pemeriksaan dilakukan terhadap Kei. Jantung, otak, paru-paru. Dan terlihat bahwa paru-parunya kotor, obgynku curiga Kei kena pneumonia, dia bertanya apakah suamiku merokok, atau aku berada di lingkungan perokok. Aku pun teringat akan satu tempat di kantor yang sering aku pakai untuk tidur siang, di mana di sana sering tercium bau rokok. Well, aku tak tahu lah.

Baby K dirawat dengan status saturasi oksigen hanya 70%, dia pun bernafas dengan dibantu ventilator. Namun, ventilator di Hermina Jatinegara kurang (apaaa gitu) sehingga tidak bisa sempurna menyemprotkan oksigen ke paru-paru Kei. Mereka butuh suatu alat bernama HFO (High Frequency Oscillation), yang bisa menyemprotkan oksigen dengan lebih halus dan lebih kuat untuk Kei. Biasanya, mereka menyewa dari beberapa rumah sakit mitra. Namun, saat Kei memerlukan alat itu, semua alatnya sedang dipakai. Opsi berikutnya adalah merujuk Kei ke rumah sakit dengan fasilitas HFO. Semalam suntuk Pak Suami beserta staf NICU di Hermina mencari RS dengan HFO itu. Yah, mungkin bukan rejeki kami, sampai dengan tengah malam mencari, tak satu pun RS yang kami hubungi available untuk menjadi rujuak Kei. Dan sejak malam itu kondisi Kei terus menurun.

36 jam Kei bertahan dengan saturasi 70% aja, artinya paru-paru kecilnya hanya bisa menyerap 70% oksigen saja, dan itu harus dibagi ke jantung dan otak. Akhirnya pada Minggu malam Senin, jam 00.28 tengah malam, kami, aku dan suamiku mengantar Kei pergi kembali ke pangkuan Ilahi dengan kondisi saturasi akhir oksigen yang mampu diserapnya adalah 34%

2018-03-02-15-26-38

Posisiku saat itu masih di rumah sakit, dan akan pulang hari Senin, rencananya Kei memang akan ditinggal di NICU (bila dia bertahan). Oya, boleh aku bercerita satu hal sedih? Apabila Kei bertahan sampai Senin pagi, ada HFO yang kemungkinan free dan bisa dipakai loh. Tapi ya, dia pergi duluan.

Satu hal yang membuat aku bersyukur adalah, kepergian Kei sama sekali tidak memberatkan orang tuanya.

Setelah Kei pergi tengah malam itu, kami berdua tidak bisa tidur. Aku minta suamiku pulang untuk melakukan hal terberat dari semua kisah ini, memberitahukan kabar ini kepada seluruh keluarga. Jujur saja, hal yang paling berat setelah melepas kepergian orang yang kita cintai itu adalah MENGABARKAN HAL INI KEPADA ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI LAINNYA.

Dan aku minta ijin untuk menangis sepuasku di kamar perawatan sendirian.

Pagi hari datang, ternyata adik sepupuku, dan sahabatku sudah ada di rumah sakit, untuk menjemputku dan Baby K, bahkan sebelum Pak Suami tiba.

Sekitar jam 10 pagi, aku pulang membawa jenazah Baby K. Ternyata di rumah, sudah dipasangi terpal, kafan dan pemandi jenazah sudah siap, liang kubur sudah digali, nisan sudah dibuatkan. Betapa aku sangat terharu akan kesigapan para tetanggaku ini. Sebelumnya aku juga dibuat terharu akan kesigapan teman-teman alumni angkatan 9 Taruna Nusantara yang ikut memantau perkembangan Kei dan aktif mencari informasi atas ketersediaan HFO di rumah sakit lain yang bisa disewa.

Akhirnya, Baby Kei sudah selesai dimandikan, dikafani, dan siap dibawa ke musholla untuk disholatkan pada pukul 11.30WIB. Saat adzan zhuhur tiba, Baby K dibawa ke musholla. Sesaat setelah sholat zhuhur, dia disholatkan kemudian dimakamkan. Sebuah prosesi pemakaman sederhana yang dihadiri lebih banyak orang dari yang aku pikir sebelumnya. Ayahnya lah yang menguburkannya, mengadzankannya sekali lagi, dan menutup liang lahatnya.

DSC_0768

Ternyata kami punya banyaaaaaakkkkk sekali orang yang sayang pada kami. Terbukti hari itu dari pagi sampai malam banyak sekali orang yang datang berkunjung. Bahkan ada karangan bunga dari kantorku.

WhatsApp Image 2018-02-03 at 16.14.24

Yang di atas ini diklaim jadi milik Abang Zimam dan hanya boleh dibongkar atas ijinnya Hehe..

Baby K ternyata sesuai dengan namanya. Aku menamakannya K dari kata KADO, karena dia memang kado buat kami. Tapi kami ingin memanggilkan Kei, maka kucari di kamus bahasa Jepang, dan menemukan kata Kei(hin) yang artinya Hadiah, aku kombinasikan dengan kata Ta (dari Ta-nya NobiTa), yang artinya besar. Keita, hadiah besar. Alkeita, sebuah hadiah besar.

Ayahnya memberi nama Wiradharma. Wira adalah panglima atau pejuang, dharma adalah berwelas asih. Wiradharma artinya pejuang yang berwelas asih. Zulkifli, diambil dari nama ayahnya, adalah nama Nabi yang sanggup diberi tanggung jawab dan suka beribadah. Dan Keita, walau usianya hanya 36 jam, benar-benar sebuah kado besar, pejuang tangguh yang welas asih dan sanggup diberi tanggung jawab. Karena proses dia di dalam perut, melahirkan dia, merawat dia walau singkat, sampai melepas kepergiannya, memberikan sesuatu yang baru bagi hubunganku dengan suami.

Tidak hanya itu, nama Keita ternyata memberikan kado besar lain yang tidak kami sadari. Karena menurut keyakinanku, bahwa semua bayi lahir dalam keadaan suci dan ketika dia kembali ke Sang Pencipta maka dia kembali dalam keadaan suci dan masuk surga. Menurut para pemuka agama kami, bayi yang meninggal itu akan jadi “tabungan” orang tuanya di hari akhir kelak. Benar-benar kado besar, kan?

Apakah Januari 2018 berakhir di sini? No! Ada hal lain yang terjadi sampai penghujung Januari. Tapi aku akan menuliskannya lain kali, di Bagian 2. Karena bagian ini kurasa terlalu panjang ^_^

InsyaAllah, sampai ketemu di bagian 2, ya.
Yeptirani Syari.


Mitoni, Tujuh Bulanan?

8 November 2017

Minggu ini Baby K sudah mau 29 minggu usianya. Yup, panggilannya adalah K. Bacanya Kkhei, ya! Kayak orang bule bilang huruf K ^_^

Kalau orang-orang ngerayain upacara tujuh bulanan, aku gak pernah ngerayain kayak gituan. Baik 4 bulan, 7 bulan, baby shower, dan lain-lain. Mending duitnya ditabung buat lahiran. Soalnya lahiran Baby K ini kemungkinan akan mahal, karena harus di rumah sakit yang gak dicover BPJS. Mana rumah sakitnya gak bisa sembarangan karena aku ingin melahirkan Baby K dengan VBAC (Vaginal Birth after Caesarean).

Alias, melahirkan normal pascasesar.

InsyaAllah gapapa kok, aku yakin. ^_^

2018-02-02-19-53-22


Biochemical Pregnancy (Kehamilan Biokimia)

24 Juni 2017

Kali ini aku ingin membahas tentang Biochemical Pregnancy alias Kehamilan Biokimia.

Awalnya bermula ketika pada bulan Maret 2016 aku terlambat haid, di-testpack garis dua, diperiksa di Rumah Sakit juga positif hamil, namun ketika di-USG, kantong rahim tak terlihat. Namun, 15 hari kemudian aku haid, dan dinyatakan negatif hamil oleh dokter. Tapi karena aku sudah periksa di Rumah Sakit maka aku dianggap keguguran, dan statusku saat itu adalah G2P1 (kehamilan kedua, sebelumnya 1 kali melahirkan).

Tahun ini, aku kembali terlambat haid dan ketika di-USG juga kantong rahim tak terlihat. Trauma dengan kejadian tahun lalu, aku berdiskusi dengan dokterku dan dia berkata bahwa yang aku alami adalah kehamilan biokimia (biochemical pregnancy).

Apa sih Biochemical Pregnancy itu?

Menurut http://www.newyorkfertilityservices.com, Biochemical Pregnancy adalah termasuk KEHAMILAN. Karena sudah jelas, embrio terbentuk dan hormon kehamilan (Beta HCG) telah muncul (itu sebabnya testpack jadi positif). Masa-masa di mana embrio sudah terbentuk namun belum menempel ke dinding rahim inilah yang disebut masa biokimia (biochemical), karena pada masa-masa ini, seorang perempuan dibilang hamil hanya dan bila hanya dilakukan test terhadapnya.

Soalnya perutnya masih rata, belum berubah bentuk. Kulit juga masih belum mulai terpigmentasi. Dan ketika dilakukan ultrasonografi pun, belum ada kantong rahim membesar.

Tapi, apakah bila seorang perempuan mengalami masa biokimia lalu embrionya luruh dan tidak menempel, bisa dikatakan hamil lalu keguguran? Bisa!

Kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir, dan apabila hormon Beta HCG terbentuk, maka sudah jelas ada embrio yang tumbuh. Apakah embrio tersebut sudah tertanam di dinding rahim atau luruh, hanya Allah yang tahu. Dan apabila embrio tersebut luruh, maka ibu bisa dikatakan mengalami keguguran. Tercatatlah statusnya sebagai A1 (atau A seterusnya bila sebelumnya pernah mengalami keguguran).

Itulah yang aku alami tahun lalu. ^_^

Well, ya, walaupun bikin beberapa orang kecewa (termasuk diri sendiri), Aku menerima ini sebagai suratan takdir. 🙂


Kado itu Datang Juga ♥

15 Juni 2017

Hallo… Assalamualaikum…

Aku punya kabar gembira, setelah 7 tahun penantian, Allah memberikan sebuah kado kepada kami. #AbangZimam mau punya adik ^_^

2018-01-02-09-17-52

Sekarang usianya sudah 7 minggu lebih. Tapi tahu, gak? Kado ini gak gampang loh kami peroleh.

Berawal ketika aku merasa haidku terlambat 6 hari, entah kenapa, seperti saat aku keguguran tahun lalu, aku merasa punya insting untuk testpack. Dan seperti diduga, hasilnya samar. Diulang bada isya masih samar. Diulang subuh keesokan harinya dengan pipis pertama, masih juga samar.

2018-01-02-08-49-20

Untungnya Pak Suami datang dari Jogja malamnya, jadi besoknya aku bisa ngajak dia ke dokter kandungan buat periksa.

Kami pun ke dokter kandungan di RS Hermina Jatinegara. Pertimbangannya, selain dekat, RS itu termasuk mantan RSIA yang udah pasti fokus ke ibu dan bayi. Aku juga pernah periksa ke sana jadi masih ada rekam medisku di sana. Aku asal memilih obgyn karena belum ada yang dirasa cocok. Kami memilih dokter Eva Febia karena dokter itu yag antriannya paling pendek Open-mouthed smile

Di ruang praktik, ketika diperiksa, ternyata seperti tahun lalu, saat G2P1 ada di dalam perut, gak kelihatan kantung rahimnya walau sudah 5 minggu. Padahal Abang Zimam umur segitu kantong rahimnya udah gede.

Akupun menceritakan bahwa tahun lalu aku mengalami hal yang sama, telat haid, testpack positif, di-USG yang kelihatan, 15 hari kemudian haid banyak banget, diperiksa lagi, rahim sudah kosong. Dokter Eva berkata kemungkinan yg aku alami adalah Biochemical Pregnancy (Kehamilan Biokimia). Nanti aku posting tentang Kehamilan Biokimia ini, ya.

Dokterpun meresepkan pil progesteron yang diminum 1x sehari selama 30 hari. Tujuannya untuk menyuburkan dinding rahim agar janin bisa nempel ke rahim. Dan aku disuruh testpack minggu depannya.

2018-02-02-10-58-47

Waktu berlalu, ternyata pil progesteron ditambah puasa Ramadhan sukses membuat asam lambungku naik dan mual sekali. Curhatlah aku ke adik kelasku yang obgyn, dia menyarankan aku kembali ke dokter dan merekomendasikan teman obgynnya di Hermina, dokter Sitti Fausihar.

Kami pun ke dokter tersebut. Dokter Sitti mengubah progesteronnya menjadi yang anal, dipakai seminggu. Serta memberikan beberapa resep agar aku bisa puasa dengan baik. Wuih, progesteron anal-nya itu gede loh, dan aku harus memakainya sebelum tidur. Itu sesuatuh!! Open-mouthed smile

Kemudian, seperti dilihat di atas, 2 hari yang lalu kami kembali ke dokter Sitti, dan hasilnya kantong rahim sudah terlihat ^_^

Alhamdulillah….

Kado indah ini insyaAllah akan kami jaga sampai waktunya tiba Smile

Mohon doanya ya….