Tahap Telur Hijau, Awal Melangkah

16 Januari 2021

PicsArt_01-16-07.03.29

Alhamdulillah, sejak 8 Januari 2021 lalu, saya resmi menjadi mahasiswa kelas Bunda Cekatan, Institut Ibu Profesional. Untuk itu, saya harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh Peri-peri Hutan Kupu-kupu untuk menyelesaikan tahapan demi tahapan di Bunda Cekatan.

Tahap pertama adalah Tahap Telur-telur yang dimulai dengan Tahap Telur Hijau.

PicsArt_01-16-07.24.36

Dalam Tahap Telur Hijau ini, mahasiwa kembali diajak merunut empat kuadran dalam hidupnya: Bisa dan Suka, Bisa tapi Tak Suka, Tak Bisa tapi Suka, dan Tak Bisa dan Tak Suka.

PicsArt_01-16-06.18.46

Kemudian, dari seluruh kekuatan ini, mahasiswa diajak untuk menulis ulang lima hal dari kuadran Bisa dan Suka yang telah ditulis.

PicsArt_01-16-06.24.37

Walaupun sebenarnya hal ini telah kami kerjakan saat berkuliah di kelas Matrikulasi dahulu, ternyata setelah ditulis ulang, hal-hal dalam empat kuadran ini berbeda dengan yang saya tulis sekitar 2-3 tahun lalu saat Matrikulasi. Haha.

Ini menunjukkan bahwa manusia berubah, dan potensi manusia pun bisa bertambah atau berkurang tergantung bagaimana kita memanfaatkan potensi kita.

Oh iya, lima hal di kuadran Suka dan Bisa yang saya tulis di atas, menjadi pijakan saya untuk menjalani perkuliahan di Bunda Cekatan selanjutnya.

Bismillah, saya bisa. ^^

#InstiturIbuProfesional
#HutanKupuCekatan
#TelurHijau
#LacakKekuatanmu


Aliran Rasa Wisatawan Hotel Asyik

15 Desember 2020

PicsArt_12-15-05.50.10

Selama dua bulan berada di Hotel Asyik, Transcity Harmony, Institut Ibu Profesional, inilah saatnya saya menulis ALIRAN RASA.

Transcity Harmony.

Awalnya saya skeptis dengan TH karena platform yang digunakan adalah FBG, iya, Facebook Group.

Jujur saya sudah jarang buka Facebook, apalagi masuk grup. Kehidupan di dunia nyata banyak sekali menyita waktu saya. Kalaupun saya membuka media sosial, itu hanya untuk posting sesuatu yang wajib atau menurut saya wajib saja. Misal, posting satu foto di twitter. Dan iya, saya lebih banyak menghabiskan waku di twitter ketimbang di platform media sosial lain.

Jadi, ketika saya mendapatkan pengumuman bahwa untuk ikut Bunda Cekatan saya harus masuk Transcity Harmoni di FBG, saya sedikit kecewa. Ada rasa malas, karena bentuk FBG sangat membingungkan. “Kenapa nggak pakai google classroom seperti biasanya, sih?” gerutu saya.

Hasilnya, saya terlambat menyelesaikan misi pertama. Well, keterlambatan itu bukan 100% karena saya malas belajar menggunakan FBG, melainkan karena berbarengan dengan jadwal UTS saya.

Oh iya, saya adalah mahasiswi di dunia nyata. Tepatnya mahasiswa magister akuntansi. Jadi, yah. Tugas kuliah menyita 80% waktu sadar saya. 20%-nya saya gunakan untuk melakukan hal pribadi seperti mandi, makan, dan beribadah. Saya hanya tidur 4 jam sehari. Itupun tetap saja keteteran dengan tugas kuliah TT

Stop mengeluhnya, mari kembali ke Aliran Rasa, hahaha.

Apapun itu, ini pilihan hidup saya, dan saya yakin pasti bisa menjalaninya.

Sempat pasrah, mungkin tidak diizinkan ikut gerbong Buncek Batch 2 karena terlambat menyelesaikan misi pertama, ternyata saya mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya segera menyelesaikan misi pertama, dan kedua, kemudian mengumpulkannya ke link yang tersedia. Alhamdulillah, dua misi selesai.

PicsArt_12-14-07.16.17PicsArt_12-15-05.40.24

Sekarang, saya tinggal menunggu kunci untuk masuk Gerbang Hutan Kupu-kupu dan mengukuti perkuliahan di Bunda Cekatan.

Saya dengar, gerbang buncek akan dibuka di bulan Januari, tepat setelah saya selesai UAS. Alhamdulillah, bisa menyesuaikan waktu karena dibukanya pas liburan. ^^

Sampai jumpa di Bunda Cekatan ^^

#InstitutIbuProfesional
#TranscityHarmony
#WisatawanHotelAsyik


Misi Wahana Perahu Kano

3 Desember 2020

Petualangan Perahu Kano

Gambar diambil dari sini

Halo, Syari di sini.

Saya tahu saya terlambat menulis tentang petualangan saya di Wahana Perahu Kano, tetapi alhamdulillah, ada kesempatan untuk saya menyusul menyetorkan tugas di misi ini. ^^

Saya adalah alumni Kuliah Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. Dari awal, mengapa saya memasuki perkuliahan di Institut Ibu Profesional, tujuannya tetap sama, saya ingin menjadi individu, istri, dan ibu yang lebih baik dari sekarang.

Usia saya bertambah tua, kehidupan berrumah tangga juga semakin lama, dan anak saya semakin besar. Saya tidak boleh berhenti belajar untuk meningkatkan kualitas diri saya, baik sebagai individu, istri, maupun ibu yang baik.

Kali ini saya sedang menunggu kursi Perkuliahan Bunda Cekatan dibuka. Walau status saya di dunia nyata adalah Mahasiswi, entah mengapa, saya tetap tak ingin ketinggalan kereta untuk menjadi Mahasiswi di Institut Ibu Profesional.

Kalau di dunia nyata saya adalah mahasiswi S2, jika saya masuk Bunda Cekatan, saya akan masuk jadi mahasiswi S2 di IIP juga, hihihi.

Karena Kuliah Matrikulasi adalah kuliah penyesuaian, dan Bunda Sayang adalah strata 1-nya. Hehe.

Kenapa, sih, saya ngotot pengin banget ikut kuliah Bunda Cekatan? Nanti kuliah di Maksi-nya keteteran, loh.

Duh, jangan didoakan gitu, donk… Justru saya ingin mengatur waktu dengan jauh lebih baik, makanya pengin banget mengeruk ilmu dari Perkuliahan Bunda Cekatan. Namanya saja “Bunda Cekatan”, biar saya jadi cekatan, donk. ^^

Kenapa haru Bunda Cekatan? Well, saya tidak tahu, apakah ada program terstruktur lain selain di IIP. Jadi yang saya tahu cuma ini, karena itu, saya ikuti ini saja ^^

Seperti halnya saya menyelesaikan tugas di Bunda Sayang dengan baik, saya yakin, saya bisa melaksanakan semua misi di Bunda Cekatan dengan baik pula. Mungkin saya akan down, tetapi, saya akan ingat lagi betapa sulitnya masuk IIP. Saingannya banyak banget, beneran.

InsyaAllah, Bunda Cekatan adalah jalan untuk saya, menjadi individu, istri, dan ibu yang jauh lebih baik lagi.

Bismillah.

#PetualanganPerahuKano
#WisatawanHotelAsyik
#TranscityHarmony
#InstitutIbuProfesional


Jangan Berharap Lebih!

16 Oktober 2020

Saya ingin bercerita tentang perasaan saya. Ketika saya mengusahakan sesuatu tetapi ternyata hasilnya nihil. Apa yang saya lakukan setelahnya?

Libur semester di tengah pandemi membuat saya dan Abang Zi menghabiskan waktu di rumah saja. Saya pun menonton tayangan televisi berjudul I-Land. Tayangan ini tentang 23 remaja yang berjuang meraih mimpinya menjadi idol di Korea Selatan. Salah satu pelamar I-Land yang menjadi perhatian saya adalah pelamar dari Jepang bernama K (Kei).

Kei ini penari, atau dancer. Saat dia menari tubuhnya seakan mengikuti irama musik tanpa disuruh. Seakan dia dilahirkan untuk menari. Saya bukan penggemar dance sebelumnya, setelah melihat Kei menari, saya jadi suka memperhatikan koreografi tarian modern ini.

Karena saya rasa rating I-Lang cocok ditonton Abang Zi, saya menontonnya bersama Abang Zi. Dan ternyata dia juga suka pada Kei. Jadilah kami berdua adalah penggemar Kei.

Ketika I-Land mengadakan sistem voting, saya ikut memberikan suara. Tentu saja pada Kei. Entah bagaimana ceritanya, saya diajak ikut serta menjadi tim voting Kei untuk Indonesia. Kami mengelola 3.500 akun untuk divoting setiap hari. Hingga di episode final, ternyata Kei tereliminasi.

Usaha kami selama sebulan penuh hilang begitu saja. Sedihnya bukan main. Abang Zi menangis semalaman. Saya? Tidak bisa tidur sampai pagi. Pikiran saya berkecamuk, sedih, tidak terima. Tetapi, dengan adanya teman bercerita di media sosial, lambat laun saya bisa menerima kenyataan, bahwa Kei belum debut menjadi idol.

Apa yang saya lakukan setelah itu? Saya mencari teman. Ada banyak yang seperti saya di media sosial, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kei tereliminasi di episode final. Mengingat kemampuan Kei di atas rata-rata. dia sangat hebat.

Sebulan berlalu sejak episode final I-Land. Saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa Kei tidak cocok berada di grup yang terbentuk dari pertunjukan bertahan I-Land. Bahwa dia sedang mempersiapkan grup debutnya sendiri. Kami, penggemar Kei, bahkan tengah mempersiapkan perayaan ulang tahun Kei di tanggal 21 Oktober nanti dengan meriah. Saya dan teman-teman masih mendukung Kei.

Jika kita melakukan sesuatu, namun hasilnya nihil, jangan ratapi sendirian, cari teman. Seandainya ada, cari teman senasib. Jika tidak ada, cari teman yang memahamimu.

Jangan simpan sendiri.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Nihil


Memulai Segalanya dari Rumah

15 Oktober 2020

Sudah tujuh bulan berlalu sejak kami mengerjakan seluruh pekerjaan dari rumah. Semua masih baik-baik saja walau tak sempurna. Alhamdulillah, kami masih diberikan kesehatan dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.

Memulai segalanya dari rumah tidaklah mudah. Ah, saya belum pernah membicarakan ini sebelumnya karena khawatir dianggap kufur nikmat. Sementara orang lain di luar sana mendapatkan kesulitan karena pandemi ini, kehidupan kami masih terjamin walau tak ada lagi tabungan. Paling tidak, kami masih bisa sebulan penuh memesan makanan melalui aplikasi daring.

Setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya membicarakan hal ini, paling tidak, sekali. Bahwa saya juga mengalami kesulitan berada di rumah selama 24 jam. Hormat pada ibu rumah tangga yang mengurus keluarga 24/7. Tujuh bulan ini saya mengalaminya dan jujur saja, saya tidak terlalu suka.

Saya bersyukur dipasangkan dengan seorang suami yang walaupun tidak suka membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, beliau tidak pernah menuntut apapun. Tak pernah menuntut walau cucian baju menumpuk, setrikaan menumpuk, lantai belum disapu, apalagi dipel, dan lain-lain. Beliau hanya diam, dan paling-paling membereskan apa yang beliau ingin bereskan.

Saya bersyukur diberi suami yang paham betul bahwa urusan rumah tangga bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab suami. Karenanya, ketika kami tidak bisa menyewa tenaga asisten rumah tangga, dan beliau tak suka mengerjakan urusan rumah tangga, saya dibiarkan mengerjakan sesuka saya.

Dipikir-pikir, saya sudah dua bulan tidak memasak sama sekali. Selalu memesan makanan, atau katering.

Memulai segalanya dari rumah membutuhkan adaptasi dari semua anggota keluarga. Di tengah menumpuknya tugas kuliah, urusan rumah tangga menjadi nomor dua buat saya. Tidur saja saya curi-curi waktu. Hahaha.

Tetapi, di balik semua masalah, ada hikmah. Kami tetap di rumah, dan menjadi lebih akrab satu sama lain.

Semoga pagebluk ini segera berlalu. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Adaptasi


Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

14 Oktober 2020

MasyaAllah Tabarakallah.

Itu yang bisa saya ucapkan sekarang. Kuliah dari rumah  dan menemani anak yang sekolah dari rumah, plus menjadi asisten rumah tangga bagi diri sendiri, sungguh bukan hal yang mudah.

Rumah buat saya tadinya merupakan tempat beristirahat. Tempat melepas lelah. Sekarang, rumah menjadi tempat kerja saya. Saya yang suka mengotak-ngotakkan kepentingan, sekarang sudah bercampur baur.

Dulunya, saya punya manajemen waktu sendiri. Pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor, tidak akan saya bawa pulang. Demikian juga pekerjaan rumah, tidak akan saya bawa ke kantor. Jadi saya punya cukup waktu untuk beristirahat.

Sekarang?

Hal pertama setelah membuka mata adalah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Hal yang terakhir saya lakukan sebelum tidur adalah mencuci piring. Belajar/kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti tak ada batas waktunya.

Namun, dibalik itu semua, saya bersyukur. Saya dan Abang Zi masih bisa di rumah saja dan tidak kemana-mana. Abang Zi dapat belajar mandiri (karena saya tidak mau disebut pembantu, jadi dia harus membantu urusan rumah tangga, hihi). Abang Zi lebih terampil mengerjakan urusan rumah tangga (hm, setengah tingkat lebih pandai, lah).

Untuk makanan, kami memutuskan untuk katering lauk. Saya tak suka memasak, dan tak punya waktu untuk memasak. Apalagi, jadwal kuliah saya kalau tidak dimulai pukul 1 siang, ya berakhir pukul 12 siang. Padahal Abang Zi hanya punya waktu setengah jam untuk ishoma sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Untuk baju, kami hanya menyetrika yang harus disetrika. Jika sudah menumpuk, panggil tetangga untuk menyetrikanya. Alhamdulillah.

Memang, rumah tidak serapih saat saya punya asisten. Tetapi saya lebih bahagia. Terutama dari makan hati, karena ternyata ada fitnah yang tersebar tentang saya dan mantan asisten saya. Padahal kan saya yang di-PHK, hiks.

Di mana sulit seperti ini, saya memang harus banyak bersyukur. Saya telah diberikan perlindungan yang layak, serta sarana yang memadai.

Semoga pagebluk ini segera berlalu, ya. Aamiin. ^^

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagebluk


Iduladha, Gembira namun Hati-hati

4 Agustus 2020

Selamat Iduladha, Semuanya…

Sudah lama, ya, sejak terakhir saya menulis di blog ini. Konsistensi satu tulisan perhari mulai luntur seiring selesainya kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Maafkan saya.

Hari ini saya kembali menulis sebagai tugas dari Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Ya, Komunitas Ibu Profesional memiliki kelompok menulis yang bernama “Rumah Belajar Menulis” (RBM). Kali ini, RBM memberikan tugas menulis kerangka blog untuk semua anggotanya yang ingin debut sebagai penulis.

Tema tulisan kali ini adalah “Iduladha di Masa Pandemi”. Mari kita mulai.

Kerangka Blog Catatan Harian Yeptirani

Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali dengan hari Raya Iduladha 1441 Hijriah. Hari raya di mana umat Islam dianjurkan berkurban dengan seekor kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Daging hewan kurban tersebut akan dibagikan ke orang-orang yang kesehariannya bisa membeli daging sendiri karena harganya yang mahal.

Perayaan hari raya tahun ini sedikit berbeda. Seperti hari Raya Idulfitri yang lalu, Iduladha tahun ini dirayakan tanpa pulang kampung. Kalau biasanya Abang Zi akan menghabiskan malam di musala untuk memukul bedug, tahun ini kami di rumah saja. Bedug memang tetap dipukul, namun itu dilakukan oleh anak-anak atau pemuda yang tempat tinggalnya benar-benar di sebelah musala. Dan menjaga jarak.

Sebagai anak tertua di Jakarta, saya membuka pintu rumah lebar-lebar saat hari raya. Kebetulan, kambing kurban kami disembelih hari Sabtu, jadi open house-nya dilakukan hari Sabtu juga.

Open house? Katanya sedang pandemi?

Ada beberapa hal yang membuat kami memutuskan tetap menerima tamu (saudara kandung). Selain karena PSBB di Jakarta sudah diturunkan statusnya menjadi PSBB Transisi dan PSBL, kami tak memiliki saudara dekat di Jakarta. Hanya itu-itu saja yang jadi sandaran. Dan, rumah kami yang tak terlalul jauh membuat kami sebenarnya sudah sering berinteraksi walaupun PSBB.

Saat adik saya datang, dia langsung membersihkan dirinya. Mencuci tangan, menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuh, dan menjemur jaketnya. Barulah ia membantu membakar sate di halaman.

Ada satu kegiatan yang tidak kami lakukan di hari raya ini, yaitu ziarah ke makam Keita. Tadinya kami hanya berniat menunda, karena penuhnya taman makam, tetapi akhirnya jadi batal. Padahal makam Keita jaraknya tak sampai 10 menit berjalan kaki. Tetap saja jarang dikunjungi. Terakhir kami ke sana, ada sebuah pohon tumbuh di atas pusara Keita. Saya jadi penasaran, sebesar apa pohon itu sekarang. Pohon yang dipupuki oleh Keita.

Oh iya, biarkan saya bercerita tentang penyembelihan hewan kurban tahun ini.

Jika tahun-tahun sebelumnya, semua orang mendekat pada penjagal, dan berakhir dengan suasana ricuh, tahun ini area penjagalan dibatasi dengan pering bambu. Hanya pemilik hewan kurban yang akan disembelih saja yang boleh masuk area jagal. Lebih tertib dan lebih sepi dari biasanya.

Pada akhirnya, walau dengan segala keterbatasan, kami merayakan hari Raya Iduladha dengan khidmat dan bahagia. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga tahun depan hari Raya Iduladha dapat dirayakan dengan penuh kegembiraan tanpa ketakutan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441H