Jangan Berharap Lebih!

16 Oktober 2020

Saya ingin bercerita tentang perasaan saya. Ketika saya mengusahakan sesuatu tetapi ternyata hasilnya nihil. Apa yang saya lakukan setelahnya?

Libur semester di tengah pandemi membuat saya dan Abang Zi menghabiskan waktu di rumah saja. Saya pun menonton tayangan televisi berjudul I-Land. Tayangan ini tentang 23 remaja yang berjuang meraih mimpinya menjadi idol di Korea Selatan. Salah satu pelamar I-Land yang menjadi perhatian saya adalah pelamar dari Jepang bernama K (Kei).

Kei ini penari, atau dancer. Saat dia menari tubuhnya seakan mengikuti irama musik tanpa disuruh. Seakan dia dilahirkan untuk menari. Saya bukan penggemar dance sebelumnya, setelah melihat Kei menari, saya jadi suka memperhatikan koreografi tarian modern ini.

Karena saya rasa rating I-Lang cocok ditonton Abang Zi, saya menontonnya bersama Abang Zi. Dan ternyata dia juga suka pada Kei. Jadilah kami berdua adalah penggemar Kei.

Ketika I-Land mengadakan sistem voting, saya ikut memberikan suara. Tentu saja pada Kei. Entah bagaimana ceritanya, saya diajak ikut serta menjadi tim voting Kei untuk Indonesia. Kami mengelola 3.500 akun untuk divoting setiap hari. Hingga di episode final, ternyata Kei tereliminasi.

Usaha kami selama sebulan penuh hilang begitu saja. Sedihnya bukan main. Abang Zi menangis semalaman. Saya? Tidak bisa tidur sampai pagi. Pikiran saya berkecamuk, sedih, tidak terima. Tetapi, dengan adanya teman bercerita di media sosial, lambat laun saya bisa menerima kenyataan, bahwa Kei belum debut menjadi idol.

Apa yang saya lakukan setelah itu? Saya mencari teman. Ada banyak yang seperti saya di media sosial, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kei tereliminasi di episode final. Mengingat kemampuan Kei di atas rata-rata. dia sangat hebat.

Sebulan berlalu sejak episode final I-Land. Saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa Kei tidak cocok berada di grup yang terbentuk dari pertunjukan bertahan I-Land. Bahwa dia sedang mempersiapkan grup debutnya sendiri. Kami, penggemar Kei, bahkan tengah mempersiapkan perayaan ulang tahun Kei di tanggal 21 Oktober nanti dengan meriah. Saya dan teman-teman masih mendukung Kei.

Jika kita melakukan sesuatu, namun hasilnya nihil, jangan ratapi sendirian, cari teman. Seandainya ada, cari teman senasib. Jika tidak ada, cari teman yang memahamimu.

Jangan simpan sendiri.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Nihil


Memulai Segalanya dari Rumah

15 Oktober 2020

Sudah tujuh bulan berlalu sejak kami mengerjakan seluruh pekerjaan dari rumah. Semua masih baik-baik saja walau tak sempurna. Alhamdulillah, kami masih diberikan kesehatan dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.

Memulai segalanya dari rumah tidaklah mudah. Ah, saya belum pernah membicarakan ini sebelumnya karena khawatir dianggap kufur nikmat. Sementara orang lain di luar sana mendapatkan kesulitan karena pandemi ini, kehidupan kami masih terjamin walau tak ada lagi tabungan. Paling tidak, kami masih bisa sebulan penuh memesan makanan melalui aplikasi daring.

Setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya membicarakan hal ini, paling tidak, sekali. Bahwa saya juga mengalami kesulitan berada di rumah selama 24 jam. Hormat pada ibu rumah tangga yang mengurus keluarga 24/7. Tujuh bulan ini saya mengalaminya dan jujur saja, saya tidak terlalu suka.

Saya bersyukur dipasangkan dengan seorang suami yang walaupun tidak suka membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, beliau tidak pernah menuntut apapun. Tak pernah menuntut walau cucian baju menumpuk, setrikaan menumpuk, lantai belum disapu, apalagi dipel, dan lain-lain. Beliau hanya diam, dan paling-paling membereskan apa yang beliau ingin bereskan.

Saya bersyukur diberi suami yang paham betul bahwa urusan rumah tangga bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab suami. Karenanya, ketika kami tidak bisa menyewa tenaga asisten rumah tangga, dan beliau tak suka mengerjakan urusan rumah tangga, saya dibiarkan mengerjakan sesuka saya.

Dipikir-pikir, saya sudah dua bulan tidak memasak sama sekali. Selalu memesan makanan, atau katering.

Memulai segalanya dari rumah membutuhkan adaptasi dari semua anggota keluarga. Di tengah menumpuknya tugas kuliah, urusan rumah tangga menjadi nomor dua buat saya. Tidur saja saya curi-curi waktu. Hahaha.

Tetapi, di balik semua masalah, ada hikmah. Kami tetap di rumah, dan menjadi lebih akrab satu sama lain.

Semoga pagebluk ini segera berlalu. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Adaptasi


Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

14 Oktober 2020

MasyaAllah Tabarakallah.

Itu yang bisa saya ucapkan sekarang. Kuliah dari rumah  dan menemani anak yang sekolah dari rumah, plus menjadi asisten rumah tangga bagi diri sendiri, sungguh bukan hal yang mudah.

Rumah buat saya tadinya merupakan tempat beristirahat. Tempat melepas lelah. Sekarang, rumah menjadi tempat kerja saya. Saya yang suka mengotak-ngotakkan kepentingan, sekarang sudah bercampur baur.

Dulunya, saya punya manajemen waktu sendiri. Pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor, tidak akan saya bawa pulang. Demikian juga pekerjaan rumah, tidak akan saya bawa ke kantor. Jadi saya punya cukup waktu untuk beristirahat.

Sekarang?

Hal pertama setelah membuka mata adalah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Hal yang terakhir saya lakukan sebelum tidur adalah mencuci piring. Belajar/kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti tak ada batas waktunya.

Namun, dibalik itu semua, saya bersyukur. Saya dan Abang Zi masih bisa di rumah saja dan tidak kemana-mana. Abang Zi dapat belajar mandiri (karena saya tidak mau disebut pembantu, jadi dia harus membantu urusan rumah tangga, hihi). Abang Zi lebih terampil mengerjakan urusan rumah tangga (hm, setengah tingkat lebih pandai, lah).

Untuk makanan, kami memutuskan untuk katering lauk. Saya tak suka memasak, dan tak punya waktu untuk memasak. Apalagi, jadwal kuliah saya kalau tidak dimulai pukul 1 siang, ya berakhir pukul 12 siang. Padahal Abang Zi hanya punya waktu setengah jam untuk ishoma sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Untuk baju, kami hanya menyetrika yang harus disetrika. Jika sudah menumpuk, panggil tetangga untuk menyetrikanya. Alhamdulillah.

Memang, rumah tidak serapih saat saya punya asisten. Tetapi saya lebih bahagia. Terutama dari makan hati, karena ternyata ada fitnah yang tersebar tentang saya dan mantan asisten saya. Padahal kan saya yang di-PHK, hiks.

Di mana sulit seperti ini, saya memang harus banyak bersyukur. Saya telah diberikan perlindungan yang layak, serta sarana yang memadai.

Semoga pagebluk ini segera berlalu, ya. Aamiin. ^^

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagebluk


Cakrawala

20 Oktober 2019

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata ini, “cakrawala’”.

Cakrawala adalah garis imajiner, pemisah langit dan bumi.

Cakrawala adalah bukti bahwa bumi itu bulat. Jika tidak, bagaimana mungkin langit dan bumi menyatu dan hanya dipisahkan oleh sebuah garis?

Sejak kecil, aku suka melihat cakrawala. Rasanya ingin bermain di sana. Tapi kata bundaku, cakrawala itu tidak ada. Jika kita mendekat, maka cakrawala menjauh. Cakrawala ada karena keterbatasan kemampuan pandangan mata kita. Dan kita sebagai manusia, sudah ditakdirkan untuk hanya percaya pada yang kita lihat.

ODB_290518

Gambar diambil dari sini

Di depan mata kita, ubin yang garisnya sejajar saja bisa tampak miring dan seakan-akan bisa bersatu di satu titik tertentu, kan?

Inilah keajaiban mata manusia. Eh, kita tidak sedang membicarakan mata, ding. Kita sedang membicarakan garis. Hehehe.

Kembali ke cakrawala. Hm… Jadi simpulannya apa, ya? ^_^

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari10
#garis

NB: ini hari terakhir tantangan WRITOBER, yeay!!! Eh, tapi blog Danda ini akan ramai lagi, secara, Kelas Bunda Sayang sudah masuh semester II mulai Senin depan… Tarataratarara.. Yeay!!


Lupa dengan Apa yang Sudah Terlupa

19 Oktober 2019

Pernah nggak sih, kita lupa sesuatu, tapi terus kita lupa apa yang kita lupakan?

Aku sering.

Misalkan waktu mau ke luar rumah, saat mengunci pintu depan, aku ingat kalau aku melupakan sesuatu, tapi aku lupa apa itu.

Setelah di perjalanan, barulah kita ingat apa yang terlupa itu.

Ah, aku lupa mematikan magic com.

Ah, aku lupa menghidupkan lampu teras.

Ah, aku lupa meninggalkan uang untuk si mbak belanja.

Dan lain-lain.

images

Gambar diambil dari sini

Kata orang itu karena faktor U, usia. Tapi menurutku itu karena gudang pikiran kita tak tertata dengan baik.

Ada banyak sekali pelatihan menata gudang pikiran. Aku sempat ikut beberapa kali. Tapi seperti biasa, teori tanpa praktik apa gunanya? Gudang pikiranku masih acak-acakan sehingga saat aku memerlukan sesuatu, perlu waktu untuk mendapatkannya.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu pernah lupa dengan apa yang kamu lupakan?

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari9
#lupa


Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)

18 Oktober 2019

Alhamdulillah, setahap lagi aku jadi mahasiswi. Hehehe.

Setelah lulus dan mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP, tahap yang aku lalui tinggal masuk Universitas Indonesia dengan mengikuti SIMAK UI. Mohon doanya, ya.

Mengikuti seleksi beasiswa LPDP itu gampang-gampang susah. Iya, banyakan gampangnya ketimbang susahnya. Paling tidak, begitu menurutku.

Karena aku melaluinya bersama teman-teman, berbagi ilmu dan jawaban saat latihan soal dan latihan wawancara. Hasilnya? Alhamdulillah lancar.

Setelah lulus pun, aku dikumpulkan bersama beberapa teman sesama Mata Garuda (orang yang menerima beasiswa dari LPDP) dan membentuk suatu kelompok Persiapan Keberangkatan atau PK.

Kami dikumpulkan tanpa pernah bertemu satu sama lain, dan saling membantu untuk menyukseskan acara Persiapan Keberangkatan yang cuma sepekan. Sepertinya, ikatan kuat dijalin sebelum kami dilepas, deh. Sehingga ke manapun kami pergi, ada tempat untuk kembali.

Aku sangat bersyukur, dapat kesempatan ini.

logao-lpdp2

Kalau aku bisa, kamu juga bisa.

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari8
#jingga
#jinggawarnalpdp


Kelinci di Bulan II

17 Oktober 2019

Bulan merah jambu luruh di kotamu
Kuayun sendiri langkah langkah sepi
Menikmati angin menabur daun daun
Mencari kembaranmu di waktu lalu

Lirik lagu Tak Bisa Pindah ke Lain hati, dari KLA Project.

Ah, tak tahu kenapa, akhir-akhir ini selalu teringat akan lagu lawas KLA Project ini. Judul sebenarnya adalah Tak Bisa ke Pindah ke Lain Hati, tapi lirik yang aku ingat hanya bagian Bulan Merah Jambu, hihihi.

bulanmerahmalaminididepanrumahku

Gambar diambil dari sini

Ngomong-ngomong soal bulan, aku pernah menulis tentang Kelinci di Bulan dalam blog ini. Ceritanya tentang mitos orang Jepang, bahwa ada keluarga kelinci yang tinggal di bulan. Bayang-bayang mereka terlihat dari bumi. Memang sih, penampakan bulan dari bumi, itu-itu saja.

Apa yang menyebabkan kita hanya bisa melihat satu sisi bulan saja?

Itu karena waktu rotasi dan waktu revolusi bulan terhadap bumi sama-sama 29,5 hari. Jadi, 1 hari di bulan adalah 29,5 hari di bumi. Demikian juga 1 tahun di bulan terhadap bumi, sama dengan 29,5 hari di bumi.

Jadi karena kesamaan waktu rotasi dan revolusi itulah, yang menyebabkan kita hanya bisa melihat satu sisi bulan saja dari bumi. Yaitu bulan dengan gambar kelinci disana. Hehe.

Setiap daerah punya mitos berbeda tentang bulan. Tergantung pada apa yang mereka lihat di sana.

Kalau kamu, apa yang kamu lihat di permukaan bulan?

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari7
#bulan