Mitos apa Fakta, ya? Tentang ASI, nih!

6 Oktober 2015

Zee Usia 3 Bulan

1. ASI yang keluar pertama kali dan berwarna kuning itu harus dibuang karena rusak.

MITOS!!!

FAKTAnya, ASI kuning itu adalah kolostrum yang manfaatnya sangat besar untuk sistem imunitas bayi. Jangan dibuang, ya! berikan sepuasnya pada bayi.

2. Ibu dengan payudara kecil, ASInya kurang buat bayinya.

MITOS!!!

FAKTAnya, ASI tidak bergantung sama besar kecilnya payudara! Dikira payudara saya kayak punya Jupe, apa? Hahaha… Tapi toh tetap saja, Zee bisa minum ASI sampai usia 2 tahun dan dia menyapih dirinya sendiri!
Produksi ASI itu bergantung permintaan. Payudara kita lebih hebat dari dispenser akua. Bayi minta 200ml, maka payudara akan langsung memproduksi ASI sebesar 200ml. Bayi minta 500ml, segitu juga yang diproduksi sama payudara.

3. ASI yang encer kualitasnya tidak baik.

MITOS!!!

FAKTAnya, ASI terdiri dari 2 bagian, foremilk (ASI depan), dan hindmilk (ASI belakang). Foremilk mengandung lebih banyak gula ketimbang lemak, dan keluarnya duluan, serta bentuknya agak encer. Hindmilk mengandung lebih banyak lemak, keluar belakangan, dan bentuknya lebih pekat. Keduanya dibutuhkan oleh bayi. Gak ada ASI jelek selama itu keluar langsung dari pabriknya.

4. Bayi yang selalu menangis dan minta menyusu tandanya dia lapar karena ASInya gak cukup dan perlu tambahan susu formula.

MITOS!!!

FAKTAnya, bayi baru lahir (Newborn Baby) itu selalu mencari bau ibunya. Yah, bayangkan saja ya, 40 minggu ada di dalam perut ibu, hangat, nyaman, dan terdengar detak jantung ibu yang menenangkan, sekarang dia harus berjuang sendiri di dunia ini. Suara detak jantung ibunya hilang, dunia jadi lebih dingin. Jadi sebenarnya, NB itu nangis karena mencari suara detak jantung ibunya yang menenangkan dia. Gak selalu lapar sih, tidak juga berarti ASI kurang.
ASI juga selalu bisa dicerna oleh bayi, 100%! Sementara susu formula hanya 30%. Bayi setelah minum susu formula jadi tenang, bukan selalu berarti dia kenyang, tapi mungkin dia kehabisan energi karena perut kecilnya harus bejuang mencerna susu artifisial yang masuk ke perutnya.

5. ASI yang diperah dan disimpan akan berubah menjadi darah.

MITOS!!!

FAKTAnya, ASI tetap ASI. selama saya menyusui anak saya dalam 2 tahun pertama hidupnya, saya gak pernah melihat ASI perah berubah warna selain putih susu (kadang kekuningan, kadang kehijauan, tergantung apa yang saya makan). Jadi, jangan mau dikibulin lagi ya 😀

6. Bayi diare karena alergi ASI ibunya.

MITOS!!!

FAKTAnya, kecuali dokter mendiagnosa ibunya punya penyakit serius yang harus diobati sedang obat itu keras untuk bayi, bayi diare bukannya karena alergi ASI ibunya. Ingatlah, ASI itu sepaket sama bayi. Rejeki pertama dari Allah SWT. untuk setiap manusia.
Bayi diare ada dua kemungkinan, pertama, dia tidak diare, hanya fesesnya konsistensinya encer saja, bergerindil gitu, dan pup sering banget, kedua, benar-benar pup air.

Diare itu bila bayi benar-benar pup air tanpa ampas. Kalo masih ada ampas, bukan diare namanya. Dan bayi ASIX memang pupnya encer bergerindil. Wajar. Dan frekuensinya beragam, ada yang 14x sehari, sampai 14 hari sekali. Selama dia hanya minum ASI, dan tidak menunjukkan kesakitan, wajar.

Dan jika bayi memang pup cair tanpa ampas, maka yang perlu diobservasi adalah apa makanan ibunya, bukan ASInya. Bayi alergi pada makanan yang dimakan ibunya, bukan pada ASInya.

7. Bayi laki-laki minum ASI lebih banyak daripada bayi perempuan, sehingga perlu tambahan susu formula.

MITOS!!!

FAKTAnya, balik lagi, ya! Percaya Tuhan, kan? Percaya kehebatan Tuhan, kan? Percaya kalau Tuhan itu adil? 🙂
Maka harusnya kita percaya bahwa ASI itu sudah sesuai kualitas dan kuantitasnya untuk bayi. Baik bayi laki-laki ataupun perempuan, sudah pas, gak perlu ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Gak perlu tambahan susu formula, ya.

8. Jika bayi sakit, ibunya yang harus minum obat, nanti obatnya masuk ke ASI.

MITOS!!!

FAKTAnya, sang ibu harus meminum 100 dosis obat agar obat itu berpengaruh pada tubuh bayi. Jika bayinya yang sakit, ya dia yang harus minum obat, donk ^_^
Dan setelah minum obat boleh kok langsung nenen. Karena ASI bukan susu sapi yang (katanya) anti sama benda asing dalam tubuh termasuk obat. (kenyataannya, belum ada jurnal ilmiah akan hal ini, dan masih diperdebatkan). ASI sifatnya menyesuaikan kebutuhan bayi. Believe it ^_^

9. Setelah ibu keluar rumah, ASInya harus dibuang sedikit, karena ASi itu akan bikin bayi masuk angin.

MITOS!!!

FAKTAnya, bahkan MASUK ANGIN itu gak ada di dunia kedokteran (hehehe). ASI, selama masih di pabriknya (a.k.a. payudara ibu), akan selalu bagus, steril, dan sehat. Gak bakalan kemasukan angin, kok 😀

10. Jika ASI belum keluar setelah melahirkan, bayi boleh minum susu formula.

MITOS!!!

FAKTAnya, mitos ini adalah penyebab terbesar kegagalan pemberian ASI Eksklusif dan ASI lanjutan hingga 2 tahun!

Bayi punya cadangan lemak yang cukup untuknya bertahan selama 72 jam. Jadi, gausa buru-buru, tetap ajari bayi untuk nenen. Jika bayi dikasih susu formula via dot, nanti daya isap bayi pada payudara ibu akan berkurang, karena mengisap dot lebih mudah daripada mengisap puting ibu.
Jika daya isap bayi berkurang, akhirnya produksi ASI pun berkurang. Apa yang terjadi? Ya! ASI kering lebih awal.

Jadi jangan pernah mengenalkan bayi pada dot sebelum dia kenal payudara ibunya.

Ini dulu 10 MITOS tentang ASI yang beredar di sekitar kita, dan 10 FAKTA yang menyertainya.

yuk jadi ibu dan ayah yang cerdas dan gak gampang termakan MITOS. Kalau bukan kita yang melindungi anak-anak kita, siapa lagi?

Go ASI, Go Generasi Sehat Indonesia!!!


Pelajaran 7: Konjungtivitis

27 Februari 2013

Conjunctivitis (also called pink eye[1] or madras eye[2]) is inflammation of the conjunctiva (the outermost layer of the eye and the inner surface of the eyelids).[1] It is most commonly due to an infection (usually viral, but sometimes bacterial[3]) or an allergic reaction. “Wikipedia

Dua minggu yang lalu, Zimam kena konjungtivitis. Matanya merah dan bengkak. Ketularan temannya yang juga konjungtivitis, di mana temennya itu ketularan ibunya.

Kesel banget sebenernya! Tapi itulah risiko masukin anak ke Taman Penitipan. Berbagai infeksi tersebar, dan tubuh kita semacam tampungan.

Satu hal tentang konjungtivitis yang aku pelajari di Milis Sehat, bahwa biasanya (dan sangat jarang tidak) disebabkan oleh virus. Karena itu, dia tak perlu antibiotik baik topikal (yang kita kenal dengan “obat mata”), maupun oral. Cukup seka dengan kasa steril dan air matang hangat, dari dalam ke luar.

Makanya, waktu Zimam pulang dengan dengan satu matanya bengkak, aku cuma bisa menghela nafas dan berpikir: “Yosh! Perjuangan ngompres mata Zimam, nih!”

Kenapa perjuangan? Emang dipikir Zee mau gitu, matanya dikompres gitu aja? Hahaha……. (ketawa Pahlawan Bertopeng)

Zimam with conjunctivitis

Tapi alhamdulillah, dengan bujuk rayu maut, Zimam mau juga ngompres matanya (sendiri!) pake kapas+kasa steril dan air hangat..

Tanpa obat-obatan, konjungtivitis Zimam sembuh setelah hampir 2 minggu! ^_^

Hore…. Ayah dan Danda berhasil melewati pelajaran ini dengan lumayan baik ^_^


Pelajaran 6: Demam, Batuk, Pilek

30 November 2012

Ehem,,,,, yakin nih, cuma demam, batuk, dan pilek? Hellowwww… bukannya Danda pasti udah expert nih sama penyakit yang biasa menyerang anak-anak ini, yang nama kerennya adalan COMMON COLD???

Terus, kenapa pula dibahas?

Karena, Ayah dan Danda belajar lagi, tau!!!!
Karena biarpun “cuma” common cold, ini bukan common cold yang biasa dihadapin sama Ay-Dan!

Apa bedanya?

Simpel.. selama 2 tahun ini, kalo Zee diserang common cold, Danda punya 1 obat mujarab. ASI!!!
Mau separah apa common cold yang dialami Zee, disumpel nenen, paling lama seminggu beres hehehe…

Nah, sekarang, Zee kan dah gak nenen lagi, obat super mujarabnya udah gak bisa lagi dikonsumsi sama Zee. Dan aku pun menyadari, bahwa aku ketagihan ASI!! (>_<)

Menghadapi Zee yang muntah karena batuknya, dan tidak ada ASI yang bisa menenangkannya, rasanya gimanaaaaaaaaa gitu 🙂

Tapi ya,,, tetep,,, aku gak boleh ngasih nenenku lagi, karena selain rasanya pasti udah asin karena penumpukan protein akibat gak dikeluarkan selama sebulanan, aku juga gak mau mundur langkah. Menyapih dengan cinta itu gak gampang. Sekarang aja aku masih belum yakin Zee lulus WWL.

Alhamdulillah, aku masih bisa berpikir lurus, dan tidak panik sehingga membawa Zee ke dokter (tau sendiri kan, dokter di Pangkalpinang pasti oleh2nya puyer berantibiotik gak peduli apa penyakitnya), Zee sembuh dari common cold-nya karena labu kuning, apel, bawang putih, dan makanan bergizi lainnya.

Lama, tidak instan, tapi sudah berjalan di koridor yang benar. Alhamdulillah ^_^


Pelajaran 5: Diarrhea and Vomitting

1 Oktober 2012

Ahay… Ayah.. Danda… Yuk belajar lagi!

Sepertinya itulah yang dikatakan pada kami, Ay-Dan Zimam, ketika Zee mengalami diare dan muntah Sabtu kemarin.

Zee pernah mencret, dia juga pernah muntah, tapi keduanya sekaligus… Tak pernah terlintas di pikiranku.

Awalnya, Jumat sore, seperti biasa, Zee malas makan, Danda malas masak. Setelah bujuk-bujuk Ayah, akhirnya Ayah setuju membeli martabak telur dan Hok Lo Pan untuk makan malam. Hok Lo Pan bikinan Acau dengan isian coklat kacang yamh wuih… menggiurkan! Juga martabak telur bebek+daging sapi yang tebal gila 🙂

Well, enough with Hok Lo Pan n Martabak Telur-nya (aku gak pernah mau bilang itu martabak mesir! hehe).. Balik ke Zee..

Dia dengan semangat makan Hok Lo Pannya. Dia suka. Setelah makan 2 potong besar Hok Lo Pan, dia minta tidur. Sejak sore aku sudah curiga, perut Zee ndut dan kencang. Bunyinya dung..dung..

Esok paginya, Zee bangun siang. Sudah lemas dan tak nafsu makan. Aku ajak dia sarapan anggur dan kostela, eh.. pepaya.. Dia juga merengek minta yakult.

Gak lama setelah itu, dia muntah. Sedikit sih, anggurnya keluar.

Wew, aku pun membersihkan kotoran di baju Zee, mengajaknya ke kamar mandi, mandi dan ganti baju. Muntahannya kan bau!

Gak lama dari itu, dia minta tidur sambil nenen. Setelah dia tenang, aku meninggalkannya sendirian di kamar. Beberes di dapur. Dan aku mendengar Zee berteriak, “Danda…”

Aku segera ke kamar dan melihat kasur penuh muntahan. Ew.. aku bimbing Zee ke kamar mandi, kembali aku mandikan dia. Kasur urusan belakangan, yang penting Zee bersih. Aku bahkan menahan diri agar tidak marah. Gimanapun juga Zee gak sengaja melakukannya.

Nah, setelah ini, tragedi terjadi. Aku bersiap membersihkan kasur. Zee keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Dan di dapur, dia mencret!

Tahu donk konsistensi mencret? Cair, bener-bener cair! Aku cuma bisa menghela nafas. Aku angkut Zee yang sedang meringis sakit perut ke kamar mandi, kasihan juga dia.

Kasur jadi prioritas nomor 2, sekarang lantai dapur dulu. Sejak Zee lahir sampe sekarang, baru inilah aku membersihkan lantai dari BAB. Rasanya ajaib 🙂

Saat aku sibuk membersihkan bekas mencretnya, Zee keluar dari kamar mandi, mungkin dia bosan, atau takut, atau apalah.. Dan pas dia keluar, dia mencret lagi. Dengan wajah bersalah dia memanggilku, “Danda..”

“Zimam di kamar mandi aja, ya, nak! Biar kalau ee’ lagi gak ngotorin lantai.”

Zee mengangguk setuju dan tidak lagi keluar kamar mandi. Mungkin dia tau bahwa kalau dia keluar dan mencret di luar, itu akan merepotkan aku.

Selama di kamar mandi, Zee mencret tidak kurang dari 7 kali. Benar-benar kasian. Segera aku sms Ayah Zee, minta dibelikan oralit. Kebetulan persediaan oralit kami habis karena 2 bulan yang lalu aku juga kena GE 🙂

Siangnya, Zee juga mencret di kamar, mengotori seluruh kasur.

Panik? Sedikit. Tapi sebagai ibu, aku harus benar-benar bisa mengontrol rasa panikku! Tidak boleh panik! Alhamdulillah, Ayah Zee juga mendukung keputusanku dan tidak panik juga.

Oralit, ASI, cairan-cairan lain. Cuma itu yang aku kasih ke Zee karena Zee menolak mentah-mentah semua makanan yang aku tawarkan padanya. Kalaupun dia makan, pasti muntah lagi.

Seminggu!
Ya! Butuh waktu Seminggu untuk Zee agar pulih seperti sedia kala. Selama seminggu itu, yang aku berikan hanya cairan, ASI, oralit, dan diet BRATY+tempe. Karena Zee alergi gluten dan karena di Pangkalpinang tidak ada yang jual yoghurt plain, maka diet BRATY Zee menjadi: banana, rice, apple, tempe, dan yakult :p
(mestinya BRATY itu: banana, rice, apple, toast, dan yoghurt)

Nah loh? Kenapa gak dikasih obat sama sekali?
=> obat apa?

Obat antidiare atau antimuntah, lah!

Hahaha, itu karena diare dan muntah tidak boleh dihentikan, ibu-ibu ^_^
Menghentikan muntah dan diare itu seperti menyimpa sampah di kolong kasur. Kotornya gak keliatan. Kesannya sembuh karena feses sudah padat, padahal penyakit aslinya belum pulih, di perut masih banyak kuman. Dan yang bahaya dai diare dan muntah ada DEHIDRASI-nya!!! Karena itu, jaga pasien muntaber agar tidak dehidrasi. Dan… JANGAN PANIK!!!!!!!

Karena ketika ibu panik, yang jadi korban adalah si anak 🙂