Perpustakaan Universitas Indonesia

24 September 2020

Perpustakaan UI

Kali ini saya akan menulis sebuah tulisan bertema perpustakaan, dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September lalu. Memang terlambat, tetapi tak apa, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Saya akan mengulas tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok.

Sebagai anak Salemba, saya jarang sekali berkunjung ke Perpustakaan UI di Depok ini. Tetapi bukan berarti tidak pernah. Sekali dua kali, sebelum Pandemi Covid19 melanda, saya menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan yang sangat besar ini.

Perpustakaan UI sangatlah besar. Di dalamnya ada sekitar satu juta lima ratus ribu buah buku. Tentu saja kebanyakan buku yang ada di sini adalah buku paket kuliah atau buku-buku referensi perkuliahan lainnya.

Suasana di dalam gedung Perpustakaan UI ini sangatlah menyenangkan. Sofa-sofa empuk bertebaran di sana. Sebelum masuk, tamu harus menunjukkan Kartu Identitas Mahasiswa UI terlebih dahulu. Jika Anda tak punya kartu mahasiswa, maka Anda harus mendaftarkan diri ke resepsionis dan menukar KTP Anda dengan kartu tamu. Kemudian Anda diwajibkan menitipkan semua barang bawaan termasuk makanan dan minuman, kecuali barang berharga dan barang elektronik. Tak usah khawatir, tersedia loker dan tas transparan untuk membawa laptop. Lalu, naik lift menuju lantai tujuan.

Perpustakaan UI juga menyediakan buku-buku daring. Buku-buku daring ini hanya bisa diakses oleh mahasiswa UI saja karena untuk membuka aksesnya harus menggunakan username dan password SSO UI. Dalam masa Pandemi Covid-19 ini, Perpustakaan UI ditutup dan tidak dapat dikunjungi. Karenanya, perpustakaan daring sangat membantu mahasiswa dalam mencari sumber referensi perkuliahan.

Secara berkala, petugas perpustakaan UI akan mengirimkan surel kepada seluruh mahasiswa jika ada buku baru yang masuk katalog. Hal tersebut sangat membantu mahasiswa sehingga mahasiswa dapat langsung mengakses buku daring itu dari situs perpustakaan.

Begitulah cerita saya tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok. Nanti setelah pandemi berakhir, saya akan mengunjungi perpustakaan itu lagi dan menikmati membaca buku di dalamnya.

#HariKunjungPerpustakaan #TantanganRBM


Backpacker ke Taman Safari

30 Juli 2018

“Ay, kita ke Puncak, yuk. Naik motor,” kata saya pada Pak Suami di suatu waktu.

“Ayuk,” sambut Pak Suami.

Begitulah, akhir pekan kemarin kami pun berangkat ke Puncak dengan mengendarai sepeda motor. Tujuanya adalah Safari Malam di Taman Safari.

Berangkat dengan 3 ransel (tiap orang menyandang satu ransel), kami mengendarai sepeda motor ke arah Cisarua, Bogor. Rasanya seru. Biarpun lelah, namun semua terbayar dengan pemandangan di sepanjang jalan. Pemandangan mobil yang terpaksa parkir di sepanjang jalan, sementara kami bisa melaju tanpa halangan. ( ͡° ͜ʖ ͡°)

Kami berangkat dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta alias beloved Jekardah sekitar jam 1 siang. Salah jalan lewat Condet di mana jalanan ditutup karena ada Festival Condet. Namanya juga Festival Condet, ya di Condet, lah. (*~▽~)

Tadinya kami mau makan siang di Bandar Condet (nanti lah ulasannya ya, kalu sempat makan di sana lagi, soalnya recommended kok menurut kami), tapi karena muter-muter gak ketemu juga Bandar Condet-nya (ingat, jalanan ditutup), akhirnya kami makan bakso di pinggir jalan, deh. Haduh, jauh amat yak, antara Bandar Condet sama Bakso Kaki Lima? ^_^

Perjalanan kami lanjutkan, capek, berhenti, lelah, istirahat, tiba waktu salat, menepi di masjid. Hingga akhirnya kami sampai di Taman Safari pada pukul 5 sore.

Tanya-tanya petugasnya, dia bilang bahwa Safari Malam akan buka pukul 7 malam. Kami disilakan menunggu di taman dekat pintu masuk. Ada fasilitas toilt, kantin, dan musala di sana.

Karena kami belum punya tempat menginap (duh, memang backpacker nih, tanpa rencana pasti –_-’), akhirnya kami turun untuk mencari penginapan. Awalnya kami mencari penginapan di dekat Taman Safari, tapi semua penuh, sisa bungalow yang harga semalamnya bisa buat beli hape Xiaomi Redmi 6A.

Sedikit putus asa sebenarnya. Tapi dasar saya ini orang yang malas mengkhawatirkan sesuatu, saya bilang ke Pak Suami, “kalau sampai waktu Safari Malam kita belum dapat penginapan dekat-dekat sini, udah aja, ikut Safari Malam dulu, nanti kita cari penginapan di bawah, kan murah-murah tuh”.

“Penginapan dekat-dekat sini” itu maksudnya adalah penginapan dengan harga maksimal 500 ribu rupiah semalam.

Pencarian kami membuahkan hasil. Di Hotel Lembah Safari, kami menemukan kamar untuk 3 orang seharga Rp375.000,00. Alhamdulillah.

Setelah beristirahat sejenak dan salat magrib, kami pun berangkat ke Taman Safari dan membeli tiket Safari Malam. Harga tiket Safari Malam adalah Rp180.000,00 per orang. Tiga orang jadi Rp540.000,00 cash.

DSC_1462

Di Safari Malam, kami diajak berkeliling dengan kereta mobil terbuka, melihat binatang-binatang yang terjaga di malam hari.

DSC_1466DSC_1471

Setelah itu, kereta berhenti di Baby Zoo. Ini seperti kebun binatang khusus binatang malam. Di sana ada burung hantu yang bisa diajak berfoto dengan pengunjung.

DSC_1492

Untuk befoto dengan burung hantu, kami membeli karcis seharga Rp20.000,00. Puas-puas ambil foto, deh.

DSC_1486

^Abang Zimam menggendong Gito.^

DSC_1481

Selain Baby Zoo, di Safari Malam juga ada wahana Menunggang Unta, wahana permainan macam di Dufan, dan bermacam-macam atraksi. Zimam memilih wahana menunggang unta. Kami membeli karcis seharga Rp25.000,00 untuk ini.

DSC_1495

DSC_1498

Setelah puas bermain di Safari Malam, kami lanjut jalan-jalan ke Puncak. Mampir di warung pinggir jalan untuk makan malam dan menghangatkan badan. (⌐■_■)

Screenshot_20190302-171757

Dan kami pun kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

Paginya, setelah bermain air sejenak di hotel, kami bersiap pulang.

DSC_1512

^Abang Zimam bermain balon sabun di halaman depan kamar hotel^

Perjalanan kembali ke Jakarta lebih cepat dari perjalanan berangkat. Mungkin karena kami pun sudah lelah. Kami tiba di rumah sekitar jam 3 sore. Istirahat sejenak, kemudian jalan-jalan lagi keliling kota sambil mencari makan malam.

Pekan kemarin adalah pekan yang seru, dengan backpacking sekadarnya ala keluarga Zulkifli.( ´ ▽ ` )ノ

Mau coba travelling sekeluarga seperti kami? ^_^


Jalan-jalan ke Ngarai Sianok

23 Juni 2018

DSC_1276

Kalau saya bilang “jalan-jalan”, maka, benar jalan-jalan. 🙂

Itu benar.

Awalnya, kami berkunjung ke rumah saudara kami yang berada di depan gerbang Janjang Saribu (tangga seribu). Kami berpetualang jalan kaki menuruni Janjang Saribu, Ngarai Sianok, Gua Jepang, Panorama, Jam Gadang, dan pulang.

Esoknya, para keponakan mengajak kami jalan-jalan ke Janjang 40, lalu Jam Gadang, Panorama, Gua Jepang, Ngarai Sianok, dan naik Janjang Saribu, untuk kemudian pulang ke rumah naik gojek.

Kenapa jalan kaki?

karena tak ada satupun mobil rental mau menjemput atau mengantar kami. Saking pennuhnya jalanan Bukittinggi.

Wow…

DSC_1239DSC_1240DSC_1243DSC_1246DSC_1255DSC_1258

Janjang Saribu

DSC_1266DSC_1277DSC_1281DSC_1286DSC_1290DSC_1292DSC_1293

Kapan-kapan, saya akan saya uls objek wisata ini satu persatu, ya. Doakan agar kesempatan itu segera datang. 🙂


Berkunjung ke Rumah Kelahiran Bung Hatta

23 Juni 2018

Liburan lebaran tahun ini giliran kami habiskan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kenal Kota Bukittinggi? Iyap, Kota kelahiran salah satu bapak proklamator kita, Muhammad Hatta.

DSC_1327

Letaknya di Jalan Soekarno-Hatta, dekat Pasar Bawah. Tak jauh dari Janjang 40 yang terkenal di Pasar Bawah.

Di rumah ini, Bung Hatta dilahirkan oleh Ibunda Saliha. Sebagai urang Minang yang menganut garis ibu, Bung Hatta tinggal di keluarga ibunya.

Keluarga ibu Bung Hatta termasuk keluarga kaya. Terbukti mereka memiliki dua buah rangkiang (ruang penyimpanan beras), dapur tungku yang bagus, dan istal lengkap dengan kereta kudanya. Punya kuda dan keretanya pada zaman dahulu bisa disetarakan dengan punya mobil mewah di zaman sekarang. Rangkiang besar 2 buah, bisa jadi setara dengan rekening deposito yang penuh di beberapa bank. 🙂

Tapi, dengan kemampuan ninik mamak Bung Hatta menyekolahkan Bung Hatta sampai ke Jakarta, iya, mereka memang orang berada.

DSC_1310

Rangkiang

DSC_1314

Dapur Tungku

DSC_1315

Kereta Kuda

DSC_1316

Istal

Nah kan, bagus-bagus ya fasilitas di Rumah Kelahiran Bung Hatta ini. Tapi semua ini hanya boleh dilihat, ya. Tak boleh digunakan apalagi dibawa pulang, ya. Hehehe.

Di rumah ini juga ada banyak kamar, salah satunya adalah kamar tempat Bung Hatta dilahirkan.

DSC_1319

Untuk masuk ke Rumah Kelahiran Bung Hatta ini, pengunjung tidak dikenai biaya, loh. Hanya saja, pengunjung wajib memelihara isi rumah, menjaga kebersihan, dan membuang sampah pada tempatnya.

Liburan ke Bukittinggi? Mampir ke Rumah Kelahiran Bung Hatta, yuk!

~~~


Masuk Dufan Gratis 💕

15 Mei 2018

Aku ingin share pengalamanku ke Dunia Fantasi Ancol beberapa hari yang lalu.

Masuk Dufan ini bukan yang pertama buatku. Tapi terakhir aku ke Dufan tuh sudah puluhan tahun yang lalu, waktu masih gadis. Sekarang jadi ibu-ibu beranak dua, baru kali ini ke sana lagi.

Kali ini aku ke Dufan bersama anak dan suami.

Awalnya ini Pak Zul yang ke sana di hari Sabtu pekan sebelumnya, dengan teman-temannya. Dia pun membeli Annual Pass Dufan. Kemudian, tanggal 29 April (dua hari setelah ulang tahunku), dia mengajak kami ke sana, dan membelikan Annual Pass Dufan juga. Jadilah, kami bisa kapan saja ke Dufan tanpa membayar, dalam setahun.

Kemudian, kami ke Dufan lagi kemarin, 12 Mei, bersama adik-adikku. Karena sudah punya Annual Pass, kami masuk Dufan tanpa membayar lagi. Hanya saja, kalau punya Annual Pass biasa, antrenya panjaaaaaaaang…. akhirnya kami membeli lagi tiket Fasttrack. Biar bisa main tanpa antre 😁

Ternyata main di Dufan tanpa mengantre itu seru, yah? Hehe

Kamu mau ke Dufan juga? Moda transportasi menuju Dufan sangat mudah, loh. Cukup naik bus Transjakarta jurusan Ancol, turun di halte Ancol, tinggal jalan kaki sedikit, sampai, deh ke Dufan.

Kamu harus membayar karcis masuk Ancol dulu sebelum membeli tiket ke Dufan. Karcis masuknya Rp25.000/orang. Tiket masuk Dufan waktu itu sih Rp295.000, dan ada promo untuk Annual Pass Rp299.000, siapa nolak? Haha..

Annual Pass Dufan tidak bisa dipindahtangankan, ya. Cuma kita yang datanya terdaftar di dalam kartu yang bisa memakainya.

Mau masuk Dufan gratis juga?


Keliling Jakarta, Menata Hati 💗

28 April 2018

Kemarin aku ulang tahun.

Mungkin karena kehilangan bayi masih jadi sebuah duka buatku, aku merasa ulang tahun kali ini begitu sepi dan penuh air mata. Aku menangis.

Aku gak berani curhat sama siapa-siapa, takut dibilang gak pandai bersyukur, atau dibilang sedang terjebak dalam “jebakan 99”. Jadi aku pendam sendiri kesepianku dan mencoba tersenyum. Bahkan aku berusaha agar tak banyak yang tahu kalau aku sedang ulang tahun. Belum pernah seperti itu sebelumnya.

Kemarin, dengan izin suami, aku mencoba mencari hiburan untuk diriku. Sederhana. Aku berkelana naik bus Transjakarta.

Aku yang masih bertugas di Jalan Juanda, setelah makan siang dengan teman-teman, langsung naik bus jurusan Harmoni. Kemudian aku pindah jurusan ke jurusan Pulogadung untuk turun di Halte Balaikota. Aku memang lagi pingin ke Lenggang Jakarta buat beli minuman.

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan menuju Senen. Nyebrang dikit lewat jembatan penyeberangan orang, aku masuk Plaza Atrium Senen. Aku memanjakan diriku dengan membeli produk-produk kecantikan di Boston.

Tadinya aku ingin naik ke lantai 5, ke toko pernak pernik, tapi karena sudah capek, aku kembali ke halte dan naik bus jurusan Kampung Melayu. Aku turun di halte Tegalan untuk masuk ke toko buku Gramedia. Kembali di sana aku memanjakan diriku, membeli stationary lucu-lucu yang sama sekali gak penting, di mana sampai rumah aku nyesel belinya 😅. Terus juga beli Sop Ayam Pak Min legendaris untuk makan malam.

Kembali ke halte busway, dan naik bus lagi. Kali ini aku dapat bus jurusan Grogol-Kampung Melayu.

Dari halte Kampung Melayu aku naik bus jurusan Kampung Rambutan. Aku turun di halte Cawang Otista. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai rumah.

Anakku sedang makan malam ketika aku sampai di rumah. Yah, alamat makan malam sendirian, nih! Apalagi Pak Suami sms, bilang ada rapat. Well, baiklah!

***

Jam 10 malam, anak sudah tidur, Pak Suami belum pulang, aku gak boleh tidur karena Pak Suami gak bawa kunci rumah. Saat itulah tiba-tiba aku merasa amat sangat kesepian. Buka-buka Facebook kok malah banyak postingan bayi di timeline-ku, makin mewek aku!

Suami pulang keheranan, mataku bengkak karena nangis. Aku minta maaf, Pak Suami, aku gak bisa nahan air mata.

Iya tahu, aku harus mensyukuri apa yang ada. Jangan menangisi apa yang hilang. Sudah jangan pikirin Keita lagi, kan masih ada Zimam yang mesti diurus. Tapi tetap saja, kalo lihat anak bayi, aku jadi nangis. Lihat baju bayi aja bisa bikin mataku panas, kok!

Iya tahu, Keita sekarang sudah diurus oleh bidadari surga. Keita juga yang insyaAllah akan menungguku di surga nanti. Tapi tetap saja, kalau ingat Keita, rasanya aku pingin gendong dia. Ada perasaan menyesal kenapa pada saat dia di pelukanku, walau sudah tak bernyawa, gak aku usel-usel sampai puas. Waktu itu aku pikir, dia kan sudah jadi mayat, gak boleh banyak disentuh, kasihan. Kudengar mayat kalau disentuh akan kesakitan. Entahlah.

Aku ingin curhat dengan seseorang, yang mau menerima kesedihan dan dukaku. Bukan sama Pak Suami, aku gak mau curhat sama beliau. Kasihan, karena duka ini juga duka beliau. Aku ingin curhat dengan orang yang gak merasakan duka ini, tapi juga gak akan bilang: “sudah, gapapa, jangan dipikirkan lagi!”

Aku ingin curhat yang bisa nangis sepuasku, sampai mataku bengkak lagu aku tertidur.

Hahaha, ulang tahun kok sedih, ya? 😂

Mohon doa, semoga sisa usiaku jadi berkah, ya teman-teman…


Perjalanan Pertama

26 Februari 2018

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, termasuk buat #AbangZimam. Siang ini adalah perjalanan pertama Zimam dengan kartu uang sendiri.

Sebenarnya Zimam sudah lama punya kartu uang sendiri. Yaitu kartu keanggotaan dari Bobo yang bekerja sama dengan Flazz BCA. Kartunya bergambar bobo dengan cetakan nama Zimam. Kartu itu sudah saya isi sebesar Rp50.000,00 tapi selalu lupa dibawa hingga gak pernah dipakai.

Siang ini, aku sempat memasukkan kartu itu ke tas gantinya sebelum berangkat ke EF.

Ekspresi Zimam bahagiaaaa sekali saat tau dia akan membayar sendiri tarif bus yang akan dia tumpangi 🙂

“Bener Abang Zimam yang bayar sendiri, Danda?,” Katanya setengah tak percaya.

“Iya bang.. bener!” Jawabku.

Dan begitulah, yang selama ini selalu aku yang tap kartu uang untuk naik bus, sekarang dia bisa mengetap kartu uangnya sendiri 🙂