Memulai Segalanya dari Rumah

15 Oktober 2020

Sudah tujuh bulan berlalu sejak kami mengerjakan seluruh pekerjaan dari rumah. Semua masih baik-baik saja walau tak sempurna. Alhamdulillah, kami masih diberikan kesehatan dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.

Memulai segalanya dari rumah tidaklah mudah. Ah, saya belum pernah membicarakan ini sebelumnya karena khawatir dianggap kufur nikmat. Sementara orang lain di luar sana mendapatkan kesulitan karena pandemi ini, kehidupan kami masih terjamin walau tak ada lagi tabungan. Paling tidak, kami masih bisa sebulan penuh memesan makanan melalui aplikasi daring.

Setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya membicarakan hal ini, paling tidak, sekali. Bahwa saya juga mengalami kesulitan berada di rumah selama 24 jam. Hormat pada ibu rumah tangga yang mengurus keluarga 24/7. Tujuh bulan ini saya mengalaminya dan jujur saja, saya tidak terlalu suka.

Saya bersyukur dipasangkan dengan seorang suami yang walaupun tidak suka membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, beliau tidak pernah menuntut apapun. Tak pernah menuntut walau cucian baju menumpuk, setrikaan menumpuk, lantai belum disapu, apalagi dipel, dan lain-lain. Beliau hanya diam, dan paling-paling membereskan apa yang beliau ingin bereskan.

Saya bersyukur diberi suami yang paham betul bahwa urusan rumah tangga bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab suami. Karenanya, ketika kami tidak bisa menyewa tenaga asisten rumah tangga, dan beliau tak suka mengerjakan urusan rumah tangga, saya dibiarkan mengerjakan sesuka saya.

Dipikir-pikir, saya sudah dua bulan tidak memasak sama sekali. Selalu memesan makanan, atau katering.

Memulai segalanya dari rumah membutuhkan adaptasi dari semua anggota keluarga. Di tengah menumpuknya tugas kuliah, urusan rumah tangga menjadi nomor dua buat saya. Tidur saja saya curi-curi waktu. Hahaha.

Tetapi, di balik semua masalah, ada hikmah. Kami tetap di rumah, dan menjadi lebih akrab satu sama lain.

Semoga pagebluk ini segera berlalu. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Adaptasi


Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

14 Oktober 2020

MasyaAllah Tabarakallah.

Itu yang bisa saya ucapkan sekarang. Kuliah dari rumah  dan menemani anak yang sekolah dari rumah, plus menjadi asisten rumah tangga bagi diri sendiri, sungguh bukan hal yang mudah.

Rumah buat saya tadinya merupakan tempat beristirahat. Tempat melepas lelah. Sekarang, rumah menjadi tempat kerja saya. Saya yang suka mengotak-ngotakkan kepentingan, sekarang sudah bercampur baur.

Dulunya, saya punya manajemen waktu sendiri. Pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor, tidak akan saya bawa pulang. Demikian juga pekerjaan rumah, tidak akan saya bawa ke kantor. Jadi saya punya cukup waktu untuk beristirahat.

Sekarang?

Hal pertama setelah membuka mata adalah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Hal yang terakhir saya lakukan sebelum tidur adalah mencuci piring. Belajar/kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti tak ada batas waktunya.

Namun, dibalik itu semua, saya bersyukur. Saya dan Abang Zi masih bisa di rumah saja dan tidak kemana-mana. Abang Zi dapat belajar mandiri (karena saya tidak mau disebut pembantu, jadi dia harus membantu urusan rumah tangga, hihi). Abang Zi lebih terampil mengerjakan urusan rumah tangga (hm, setengah tingkat lebih pandai, lah).

Untuk makanan, kami memutuskan untuk katering lauk. Saya tak suka memasak, dan tak punya waktu untuk memasak. Apalagi, jadwal kuliah saya kalau tidak dimulai pukul 1 siang, ya berakhir pukul 12 siang. Padahal Abang Zi hanya punya waktu setengah jam untuk ishoma sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Untuk baju, kami hanya menyetrika yang harus disetrika. Jika sudah menumpuk, panggil tetangga untuk menyetrikanya. Alhamdulillah.

Memang, rumah tidak serapih saat saya punya asisten. Tetapi saya lebih bahagia. Terutama dari makan hati, karena ternyata ada fitnah yang tersebar tentang saya dan mantan asisten saya. Padahal kan saya yang di-PHK, hiks.

Di mana sulit seperti ini, saya memang harus banyak bersyukur. Saya telah diberikan perlindungan yang layak, serta sarana yang memadai.

Semoga pagebluk ini segera berlalu, ya. Aamiin. ^^

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagebluk


Perpustakaan Universitas Indonesia

24 September 2020

Perpustakaan UI

Kali ini saya akan menulis sebuah tulisan bertema perpustakaan, dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September lalu. Memang terlambat, tetapi tak apa, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Saya akan mengulas tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok.

Sebagai anak Salemba, saya jarang sekali berkunjung ke Perpustakaan UI di Depok ini. Tetapi bukan berarti tidak pernah. Sekali dua kali, sebelum Pandemi Covid19 melanda, saya menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan yang sangat besar ini.

Perpustakaan UI sangatlah besar. Di dalamnya ada sekitar satu juta lima ratus ribu buah buku. Tentu saja kebanyakan buku yang ada di sini adalah buku paket kuliah atau buku-buku referensi perkuliahan lainnya.

Suasana di dalam gedung Perpustakaan UI ini sangatlah menyenangkan. Sofa-sofa empuk bertebaran di sana. Sebelum masuk, tamu harus menunjukkan Kartu Identitas Mahasiswa UI terlebih dahulu. Jika Anda tak punya kartu mahasiswa, maka Anda harus mendaftarkan diri ke resepsionis dan menukar KTP Anda dengan kartu tamu. Kemudian Anda diwajibkan menitipkan semua barang bawaan termasuk makanan dan minuman, kecuali barang berharga dan barang elektronik. Tak usah khawatir, tersedia loker dan tas transparan untuk membawa laptop. Lalu, naik lift menuju lantai tujuan.

Perpustakaan UI juga menyediakan buku-buku daring. Buku-buku daring ini hanya bisa diakses oleh mahasiswa UI saja karena untuk membuka aksesnya harus menggunakan username dan password SSO UI. Dalam masa Pandemi Covid-19 ini, Perpustakaan UI ditutup dan tidak dapat dikunjungi. Karenanya, perpustakaan daring sangat membantu mahasiswa dalam mencari sumber referensi perkuliahan.

Secara berkala, petugas perpustakaan UI akan mengirimkan surel kepada seluruh mahasiswa jika ada buku baru yang masuk katalog. Hal tersebut sangat membantu mahasiswa sehingga mahasiswa dapat langsung mengakses buku daring itu dari situs perpustakaan.

Begitulah cerita saya tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok. Nanti setelah pandemi berakhir, saya akan mengunjungi perpustakaan itu lagi dan menikmati membaca buku di dalamnya.

#HariKunjungPerpustakaan #TantanganRBM


Iduladha, Gembira namun Hati-hati

4 Agustus 2020

Selamat Iduladha, Semuanya…

Sudah lama, ya, sejak terakhir saya menulis di blog ini. Konsistensi satu tulisan perhari mulai luntur seiring selesainya kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Maafkan saya.

Hari ini saya kembali menulis sebagai tugas dari Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Ya, Komunitas Ibu Profesional memiliki kelompok menulis yang bernama “Rumah Belajar Menulis” (RBM). Kali ini, RBM memberikan tugas menulis kerangka blog untuk semua anggotanya yang ingin debut sebagai penulis.

Tema tulisan kali ini adalah “Iduladha di Masa Pandemi”. Mari kita mulai.

Kerangka Blog Catatan Harian Yeptirani

Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali dengan hari Raya Iduladha 1441 Hijriah. Hari raya di mana umat Islam dianjurkan berkurban dengan seekor kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Daging hewan kurban tersebut akan dibagikan ke orang-orang yang kesehariannya bisa membeli daging sendiri karena harganya yang mahal.

Perayaan hari raya tahun ini sedikit berbeda. Seperti hari Raya Idulfitri yang lalu, Iduladha tahun ini dirayakan tanpa pulang kampung. Kalau biasanya Abang Zi akan menghabiskan malam di musala untuk memukul bedug, tahun ini kami di rumah saja. Bedug memang tetap dipukul, namun itu dilakukan oleh anak-anak atau pemuda yang tempat tinggalnya benar-benar di sebelah musala. Dan menjaga jarak.

Sebagai anak tertua di Jakarta, saya membuka pintu rumah lebar-lebar saat hari raya. Kebetulan, kambing kurban kami disembelih hari Sabtu, jadi open house-nya dilakukan hari Sabtu juga.

Open house? Katanya sedang pandemi?

Ada beberapa hal yang membuat kami memutuskan tetap menerima tamu (saudara kandung). Selain karena PSBB di Jakarta sudah diturunkan statusnya menjadi PSBB Transisi dan PSBL, kami tak memiliki saudara dekat di Jakarta. Hanya itu-itu saja yang jadi sandaran. Dan, rumah kami yang tak terlalul jauh membuat kami sebenarnya sudah sering berinteraksi walaupun PSBB.

Saat adik saya datang, dia langsung membersihkan dirinya. Mencuci tangan, menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuh, dan menjemur jaketnya. Barulah ia membantu membakar sate di halaman.

Ada satu kegiatan yang tidak kami lakukan di hari raya ini, yaitu ziarah ke makam Keita. Tadinya kami hanya berniat menunda, karena penuhnya taman makam, tetapi akhirnya jadi batal. Padahal makam Keita jaraknya tak sampai 10 menit berjalan kaki. Tetap saja jarang dikunjungi. Terakhir kami ke sana, ada sebuah pohon tumbuh di atas pusara Keita. Saya jadi penasaran, sebesar apa pohon itu sekarang. Pohon yang dipupuki oleh Keita.

Oh iya, biarkan saya bercerita tentang penyembelihan hewan kurban tahun ini.

Jika tahun-tahun sebelumnya, semua orang mendekat pada penjagal, dan berakhir dengan suasana ricuh, tahun ini area penjagalan dibatasi dengan pering bambu. Hanya pemilik hewan kurban yang akan disembelih saja yang boleh masuk area jagal. Lebih tertib dan lebih sepi dari biasanya.

Pada akhirnya, walau dengan segala keterbatasan, kami merayakan hari Raya Iduladha dengan khidmat dan bahagia. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga tahun depan hari Raya Iduladha dapat dirayakan dengan penuh kegembiraan tanpa ketakutan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441H


Rahasia Charlie

3 Juli 2020

Oleh: Efi Femiliyah, Rezky Ayu Andira, Shalikah, Yuliana Samad, Bebby Jovanka, Dwiagris Tiffania, Annisa M. Gumay, dan Yeptirani Syari

Cerpen Keroyokan Front

     Sudah sepekan aku tinggal di rumah baru ini. Bang Udin memanggilku dengan Charlie. Ah, Charlie, nama yang mencerminkan kegantenganku. Jujur saja, dibeli oleh Bang Udin merupakan keberkahan untukku, karena sepertinya Bang Udin orang yang baik. Semoga saja harapanku menjadi kenyataan. Aku selalu melihat Bang Udin didatangi banyak orang, entah apa pekerjaannya. Masa bodoh, lah. Yang penting dari sejak aku datang, aku selalu makan enak.

     Aku sebenarnya heran dengan penampakan diriku sebagai ayam ganteng saat ini. Aku mengingat dengan jelas sebelum dibeli Bang Udin, bulu-buluku berwarna merah kehitaman. Pola berwarna kuning ada di bagian punggungku, bulu hitam di bagian dada. Tapi setelah bang Udin memberiku ramuan yang entah apa gerangan, warna buluku berubah. Yang kuingat hanyalah aku diletakkan di dalam wadah besar yang diberi ramuan itu. Lalu bang Udin mengaduk-adukku dalam wadah tersebut dengan tangannnya, seperti mengaduk keripik yang dibumbui. Aku kini berubah dari jengger, paruh, bulu, kulit, kaki, bahkan pantatku menjadi hitam legam. Ada apa dengan diriku sebenarnya?

     Pagi ini seperti biasa kulihat Bang Udin sibuk di ruang tengah. Ia mulai menata meja, botol-botol air minum, dan nampan besar berwarna emas yang baunya, duh, aneh sekali. Terkadang ia menunduk dan termenung sejenak sambil berbicara tak jelas. Ah, biarlah, yang penting hari ini aku tetap makan enak di rumah mewahku ini. Kemarin badanku rasanya habis diputar dan dibalik-balik di dalam wadah. Aku lelah dan ingin tidur. Eh, tapi tunggu dulu, siapa pria muda berbadan tegap yang menghampiri Bang Udin itu?

     Pria itu datang dengan wajah kusut dan berminyak persis plastik bekas gorengan. Yaiks, aku tak suka bau orang itu! Firasatku tidak enak. Kugeser pantat legamku sedikit menjauh. Belum sempat mendarat sempurna, Bang Udin mengangkat dan memutar-mutar tubuhku di atas nampan emas hingga kepalaku terasa pusing. Sejurus kemudian, awwww! Sehelai buluku pun dicabutnya dan diberikan kepada pria asing itu. Kutatap Bang Udin tak percaya dan membatin teganya kau, Bang!

     “Bulu ini… buluh perindu. Kilik sedikit ke perempuan itu dan dia akan jadi milikmu,” pesan Bang Udin dengan percaya diri. Ah, Bang Udin ini ada-ada saja! Mana mungkin buluku punya kekuatan ajaib, aku kan hanya ayam biasa. Lihat saja nanti, pasti laki-laki itu akan kembali lagi untuk protes.

    Hari-hari pun berlalu, beberapa orang yang pernah kutemui berdatangan lagi. Namun, kali ini aku tidak diajak masuk ke ruangan Bang Udin. Tapi sayup-sayup kudengar, mereka merutuk padanya.

     “Aam..puun, Bang, ada cara lebih jitu untuk mendapatkan perempuan yang Abang suka itu.” Bang Udin berbisik pada mereka.

     Seketika pria itu mengeluarkan dompet tebalnya sambil tertawa, “Hahaha, Siti Maemunah, kau akan jadi milikku, Sayang.”

     Mereka mendekat ke arahku dan tiba-tiba satu temannya mengambilku dengan paksa.

     “Petookkk…petoookk!!” Aku tak dapat menghindar. Pria tegap ini memegangiku dengan kuat dan kami pergi dari rumah Bang Udin.

     “Ingat, Bang … namanya Ki Manteb, di pengkolan Jalan Sawo, ya!” teriak Bang Udin sambil mengibaskan lembaran uang di tangannya.

     “Kamu punya foto perempuan itu, nggak?” tanya lelaki tua berkumis yang tinggal di pengkolan Jalan Sawo.

     “Ada Ki, ini foto Siti Maemunah binti Rohadi,” jawab pria tegap tadi sambil tersenyum puas.

     “Mantap … sebelum menyembelih si cemani, saya cuci tangan dulu ya..,” sahut Ki Manteb seraya menuju wastafel.

     Hati ini mulai kacau karena sebentar lagi riwayatku tamat, tega betul Bang Udin mengirimku ke sini. Aku makin memelas saat tangan kiri Ki Manteb menggerayangi leher dan punggungku sementara tangan kanannya menggenggam golok.

     “Lho.. jari saya kenapa jadi hitam begini?” sahut Ki Manteb keheranan ketika hampir menyembelihku.. Ia kemudian menaruh golok dan menggosok-gosokkan serbet ke leher dan tubuhku. Sepertinya, tangan basah Ki Manteb melunturkan ramuan yang dilumurkan Bang Udin pada buluku tempo hari.

     “Gunung gundul… Ini bukan ayam cemani!” Ki Manteb berteriak kesetanan.

     Aku tahu apa itu ayam cemani, karena aku punya seekor teman yang berbulu cemani. Tapi aku hanya ayam kampung biasa, darahku merah kehitaman, buluku juga berwarna-warni, tidak seperti temanku itu.

     Ki Manteb melepaskan genggamannya dari tubuhku. Kesempatan ini kugunakan untuk menggeliat kabur. Masih terngiang rutukan dan cacian dari mulut Ki Manteb dan laki-laki yang membawaku tadi. Sekilas kulihat, laki-laki itu membawa golok sambil tergesa-gesa berjalan ke rumah Bang Udin.

***

Cerpen ini disusun bersama dalam rangka lomba menulis cerpen keroyokan dari Rumah Belajar Menulis Komunitas Ibu Profesional Jakarta. Semoga suka, ya ^^

Cerpen Keroyokan Banner


Cakrawala

20 Oktober 2019

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata ini, “cakrawala’”.

Cakrawala adalah garis imajiner, pemisah langit dan bumi.

Cakrawala adalah bukti bahwa bumi itu bulat. Jika tidak, bagaimana mungkin langit dan bumi menyatu dan hanya dipisahkan oleh sebuah garis?

Sejak kecil, aku suka melihat cakrawala. Rasanya ingin bermain di sana. Tapi kata bundaku, cakrawala itu tidak ada. Jika kita mendekat, maka cakrawala menjauh. Cakrawala ada karena keterbatasan kemampuan pandangan mata kita. Dan kita sebagai manusia, sudah ditakdirkan untuk hanya percaya pada yang kita lihat.

ODB_290518

Gambar diambil dari sini

Di depan mata kita, ubin yang garisnya sejajar saja bisa tampak miring dan seakan-akan bisa bersatu di satu titik tertentu, kan?

Inilah keajaiban mata manusia. Eh, kita tidak sedang membicarakan mata, ding. Kita sedang membicarakan garis. Hehehe.

Kembali ke cakrawala. Hm… Jadi simpulannya apa, ya? ^_^

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari10
#garis

NB: ini hari terakhir tantangan WRITOBER, yeay!!! Eh, tapi blog Danda ini akan ramai lagi, secara, Kelas Bunda Sayang sudah masuh semester II mulai Senin depan… Tarataratarara.. Yeay!!


Lupa dengan Apa yang Sudah Terlupa

19 Oktober 2019

Pernah nggak sih, kita lupa sesuatu, tapi terus kita lupa apa yang kita lupakan?

Aku sering.

Misalkan waktu mau ke luar rumah, saat mengunci pintu depan, aku ingat kalau aku melupakan sesuatu, tapi aku lupa apa itu.

Setelah di perjalanan, barulah kita ingat apa yang terlupa itu.

Ah, aku lupa mematikan magic com.

Ah, aku lupa menghidupkan lampu teras.

Ah, aku lupa meninggalkan uang untuk si mbak belanja.

Dan lain-lain.

images

Gambar diambil dari sini

Kata orang itu karena faktor U, usia. Tapi menurutku itu karena gudang pikiran kita tak tertata dengan baik.

Ada banyak sekali pelatihan menata gudang pikiran. Aku sempat ikut beberapa kali. Tapi seperti biasa, teori tanpa praktik apa gunanya? Gudang pikiranku masih acak-acakan sehingga saat aku memerlukan sesuatu, perlu waktu untuk mendapatkannya.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu pernah lupa dengan apa yang kamu lupakan?

#Writober
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta
#hari9
#lupa