Tampil di Depan Umum, Siapa Takut?

24 Maret 2019

Selama 2 kali Sabtu berturut-turut, tanggal 16 dan 23 Maret 2019, Zimam kami daftarkan untuk mengikuti Pelatihan Junior Publuc Speaker di Rumah Psikologi Giera (@rumahpsikologigiera). Alasannya karena waktu story telling di LIA Pramuka beberapa waktu lalu, suara Zimam nyaris tak terdengar. Sepertinya dia demam panggung.

Foto dari Syari (ๅคๆ—ฅ), Yeptirani

Seperti biasa, sebelum didaftarkan, saya menanyakan pendapatnya dulu. Maukah ikut, Kenapa ikut, Apa manfaatnya jika ikut. Hal-hal tersebut selalu kami paparkan sebelum mendaftarkan Zimam ke sebuah acara. Tujuannya agar Zimam merasa nyaman dan tak terpaksa mengikutinya.

Setelah pemaparan kami sampaikan dan Zimam setuju, barulah saya mendaftarkannya dalam acara ini.

DSC_0556

Sesi pertama dilakukan pada hari Sabtu, 16 Maret 2019. Acara dimulai pukul 09.00 WIB di Rumah Psikologi Giera di Komplek Sekneg Cempaka Putih. Kami terlambat tiba saat itu. 15 menit terlambat. Namun karena masih awal, dan masih perkenalan, Zimam dapat berbaur dengan baik.

Orang tua diminta tidak menemani anak-anaknya. Karena itu saya dan Ayah Zimam pun berkeliling mencari sarapan, mengingat yang sudah sarapan di rumah ya hanya Zimam ๐Ÿ™‚

Pilihan sarapan kami jatuh pada Soto Ambengan Pak Sadi. Review? Kapan-kapan, ya. Hehe.

Pukul setengah 11 siang, kami diminta kembali ke Rumah Psikologi Giera untuk mendengarkan presentasi anak. Ternyata anak-anak diminta menggambar dan mempresentasikan gambarnya. Zimam lancar dan singkat dalam presentasinya. Hahaha.

DSC_0543

Kemudian kami pun pulang.

Sabtu berikutnya, 23 Maret 2019, kami kembali ke Rumah Psikologi Giera. Anak-anak kembali ditinggal, dan kami kembali sarapan di Soto Ambengan Pak Sadi. Setengah 11, kami kembali ke Giera dan mendapati anak-anak sudah siap dengan presentasinya.

Ternyata anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok, di mana masing-masing kelompok bertugas mewawancarai seorang pedagang di sekitar Giera. Ada tukang mi ayam, tukang jus, dan tukang sayuran. Zimam kebagian kelompok yang mewawacarai tukang mi ayam.

DSC_0559

Presentasi Zimam atas wawancara dengan Tukang Mi Ayam-nya cukup bagus dan lancar. Bahkan saya tak percaya bahwa dia sebegitu lancarnya, bila dibandingkan dengan saat di LIA, sih. Hahaha.

Secara keseluruhan, kami merekomendasikan acara semacam ini untuk perkembangan kepribadian anak. Jika ada yang seperti ini lagi, kami mempertimbangkan mengikut sertakan Zimam kembali.

^_^


Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah

3 Maret 2019

Sabtu, 2 Maret 2019 kemarin, #AbangZimam ikut serta di acara Playdate Aksi Selamatkan Bumi dari Sampah yang diadakan di Auditorium Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta alias Perpustakaan Cikini. Playdate ini diselenggarakan oleh Rumah Belajar Menulis, Komunitas Ibu Profesional Jakarta, dalam rangka grand launching buku Aksi Lima Sahabat Selamatkan Bumi dari Sampah.

IMG-20190222-WA0031

Acara ini seru sekali, karena di sini Zimam dikenalkan dengan berbagai jenis sampah, yaitu sampah organik (sampah yang bisa membusuk atau terurai secara alamai di bumi), sampah anorganik (yaitu sampah yang tidak bisa membusuk dan sulit terurai, bahkan tidak terurai sama sekali), dan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

DSC_0455

Selain itu, Zimam juga diajarkan bagaimana memperlakukan sampah-sampah tersebut. Sampah organik, misalnya, dikomposting hingga menjadi pupuk kompos, atau untuk beberapa tanaman, bisa ditanam kembali. Lalu sampah anorganik, dijadikan bahan craft/kerajinan.

Zimam juga diedukasi agar mengurangi pemakaian benda-benda yang akan menjadi sampah anorganik, semisal sedotan plastik, atau wadah sekali pakai.

Lewat video, Zimam juga diajak jalan-jalan ke Bantar Gebang, daerah yang merupakan tempat pembuangan akhir sampah DKI Jakarta dan sekitarnya. Sedih rasanya melihat lingkungan Bantar Gebang itu. Gunungan sampahnya mencapai 40 meter, karena tiap harinya menampung 7.500 ton sampah warga DKI dan sekitarnya.

Kemudian Zimam juga diajak untuk mendengarkan dongeng tentang Loly si lalat yang tak suka hinggap di rumah lima sahabat karena rumah lima sahabat itu bersih dari sampah.

DSC_0458

Zimam juga diajak membuat celengan dari botol minum kemasan. Bentuknya pesawat terbang, loh.

DSC_0465DSC_0467DSC_0470

Kemudian ada talkshow bersama Kakak kecil yang sudah aktif dengan zerowaste, Kak Nayla Belva. Kak Belva ini berusia 10 tahun, dan aktif di bidang zerowaste sejak tahun 2016, wow. Kak Belva ini menginspirasi Zimam untuk aktif juga mengurangi sampah. Zimam sudah tidak mau memakai sedotan plastik, loh.

Di akhir acara, Zimam diajak menyaksikan pertunjukan sulap dari GePPuK, Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan.

DSC_0472

DSC_0477

Sebelum pulang, Zimam pun dapat hadiah dari Beebikinan, karena berani menceritakan kembali kegiatan hari itu.

DSC_0490-01DSC_0491-01DSC_0493

Seperti acara komunitas IP Jakarta lainnya, acara ini minim sampah. Peserta diberi tahu untuk membawa kotak makan sendiri, hingga kudapan yang akan dinikmati selama acara ditempatkan di kotak makan masing-masing. Minum pun harus membawa botol minum masing-masing dengan air isi ulang disediakan panitia.

Secara keseluruhan, Zimam, Danda, dan Nini menikmati semua acara yang disuguhkan panitia. Edukasi tentang sampah ini memang harus digalakkan, dan dimulai sejak dini.

~~~


Masuk Dufan Gratis ๐Ÿ’•

15 Mei 2018

Aku ingin share pengalamanku ke Dunia Fantasi Ancol beberapa hari yang lalu.

Masuk Dufan ini bukan yang pertama buatku. Tapi terakhir aku ke Dufan tuh sudah puluhan tahun yang lalu, waktu masih gadis. Sekarang jadi ibu-ibu beranak dua, baru kali ini ke sana lagi.

Kali ini aku ke Dufan bersama anak dan suami.

Awalnya ini Pak Zul yang ke sana di hari Sabtu pekan sebelumnya, dengan teman-temannya. Dia pun membeli Annual Pass Dufan. Kemudian, tanggal 29 April (dua hari setelah ulang tahunku), dia mengajak kami ke sana, dan membelikan Annual Pass Dufan juga. Jadilah, kami bisa kapan saja ke Dufan tanpa membayar, dalam setahun.

Kemudian, kami ke Dufan lagi kemarin, 12 Mei, bersama adik-adikku. Karena sudah punya Annual Pass, kami masuk Dufan tanpa membayar lagi. Hanya saja, kalau punya Annual Pass biasa, antrenya panjaaaaaaaang…. akhirnya kami membeli lagi tiket Fasttrack. Biar bisa main tanpa antre ๐Ÿ˜

Ternyata main di Dufan tanpa mengantre itu seru, yah? Hehe

Kamu mau ke Dufan juga? Moda transportasi menuju Dufan sangat mudah, loh. Cukup naik bus Transjakarta jurusan Ancol, turun di halte Ancol, tinggal jalan kaki sedikit, sampai, deh ke Dufan.

Kamu harus membayar karcis masuk Ancol dulu sebelum membeli tiket ke Dufan. Karcis masuknya Rp25.000/orang. Tiket masuk Dufan waktu itu sih Rp295.000, dan ada promo untuk Annual Pass Rp299.000, siapa nolak? Haha..

Annual Pass Dufan tidak bisa dipindahtangankan, ya. Cuma kita yang datanya terdaftar di dalam kartu yang bisa memakainya.

Mau masuk Dufan gratis juga?


Keliling Jakarta, Menata Hati ๐Ÿ’—

28 April 2018

Kemarin aku ulang tahun.

Mungkin karena kehilangan bayi masih jadi sebuah duka buatku, aku merasa ulang tahun kali ini begitu sepi dan penuh air mata. Aku menangis.

Aku gak berani curhat sama siapa-siapa, takut dibilang gak pandai bersyukur, atau dibilang sedang terjebak dalam “jebakan 99”. Jadi aku pendam sendiri kesepianku dan mencoba tersenyum. Bahkan aku berusaha agar tak banyak yang tahu kalau aku sedang ulang tahun. Belum pernah seperti itu sebelumnya.

Kemarin, dengan izin suami, aku mencoba mencari hiburan untuk diriku. Sederhana. Aku berkelana naik bus Transjakarta.

Aku yang masih bertugas di Jalan Juanda, setelah makan siang dengan teman-teman, langsung naik bus jurusan Harmoni. Kemudian aku pindah jurusan ke jurusan Pulogadung untuk turun di Halte Balaikota. Aku memang lagi pingin ke Lenggang Jakarta buat beli minuman.

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan dengan menuju Senen. Nyebrang dikit lewat jembatan penyeberangan orang, aku masuk Plaza Atrium Senen. Aku memanjakan diriku dengan membeli produk-produk kecantikan di Boston.

Tadinya aku ingin naik ke lantai 5, ke toko pernak pernik, tapi karena sudah capek, aku kembali ke halte dan naik bus jurusan Kampung Melayu. Aku turun di halte Tegalan untuk masuk ke toko buku Gramedia. Kembali di sana aku memanjakan diriku, membeli stationary lucu-lucu yang sama sekali gak penting, di mana sampai rumah aku nyesel belinya ๐Ÿ˜…. Terus juga beli Sop Ayam Pak Min legendaris untuk makan malam.

Kembali ke halte busway, dan naik bus lagi. Kali ini aku dapat bus jurusan Grogol-Kampung Melayu.

Dari halte Kampung Melayu aku naik bus jurusan Kampung Rambutan. Aku turun di halte Cawang Otista. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai rumah.

Anakku sedang makan malam ketika aku sampai di rumah. Yah, alamat makan malam sendirian, nih! Apalagi Pak Suami sms, bilang ada rapat. Well, baiklah!

***

Jam 10 malam, anak sudah tidur, Pak Suami belum pulang, aku gak boleh tidur karena Pak Suami gak bawa kunci rumah. Saat itulah tiba-tiba aku merasa amat sangat kesepian. Buka-buka Facebook kok malah banyak postingan bayi di timeline-ku, makin mewek aku!

Suami pulang keheranan, mataku bengkak karena nangis. Aku minta maaf, Pak Suami, aku gak bisa nahan air mata.

Iya tahu, aku harus mensyukuri apa yang ada. Jangan menangisi apa yang hilang. Sudah jangan pikirin Keita lagi, kan masih ada Zimam yang mesti diurus. Tapi tetap saja, kalo lihat anak bayi, aku jadi nangis. Lihat baju bayi aja bisa bikin mataku panas, kok!

Iya tahu, Keita sekarang sudah diurus oleh bidadari surga. Keita juga yang insyaAllah akan menungguku di surga nanti. Tapi tetap saja, kalau ingat Keita, rasanya aku pingin gendong dia. Ada perasaan menyesal kenapa pada saat dia di pelukanku, walau sudah tak bernyawa, gak aku usel-usel sampai puas. Waktu itu aku pikir, dia kan sudah jadi mayat, gak boleh banyak disentuh, kasihan. Kudengar mayat kalau disentuh akan kesakitan. Entahlah.

Aku ingin curhat dengan seseorang, yang mau menerima kesedihan dan dukaku. Bukan sama Pak Suami, aku gak mau curhat sama beliau. Kasihan, karena duka ini juga duka beliau. Aku ingin curhat dengan orang yang gak merasakan duka ini, tapi juga gak akan bilang: “sudah, gapapa, jangan dipikirkan lagi!”

Aku ingin curhat yang bisa nangis sepuasku, sampai mataku bengkak lagu aku tertidur.

Hahaha, ulang tahun kok sedih, ya? ๐Ÿ˜‚

Mohon doa, semoga sisa usiaku jadi berkah, ya teman-teman…


Memperpanjang SIM Beda Kota lewat Mobil SIM Keliling

6 Maret 2018

2018 benar-benar tahun spesial buatku. Selain ada banyak kejadian hebat, tahun ini juga SIM C-ku habis masa berlakunya. SIM C-ku ini terbitan Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, apa bisa aku perpanjang di Jakarta?

SIM C pertamaku terbit tahun 1997. Waktu itu umurku baru 13 tahun. Ya, dulu aku “nembak umur” untuk dapat SIM. Bukan hal yang bisa dibanggakan. Hanya saja, kenyataannya demikianlah. ๐Ÿ˜‘

Setelah usiaku lewat dari 17 tahun, dan SIM pertamaku mati, aku mengambil SIM C dengan prosedur resmi. Usiaku 19 tahun waktu itu, tahun 2003. Aku mengikuti tes teori dan praktik sesuai aturan, bayarpun sesuai aturan, gak pakai calo atau joki. *ini baru bangga!!! ๐Ÿ˜„

SIM C resmi pertamaku tadi diterbitkan di Kota Sumenep, Jawa Timur.

Setelah aku lulus kuliah dan bekerja di Kementerian Keuangan, aku (minta) ditempatkan di kampung halamanku, Banjarmasin. Maka ketika SIM C resmi pertamaku ini habis masa berlakunya, posisiku sedang ada di Banjarmasin.

Aku sempat mencari tahu, bagaimana cara memperpanjang SIM Jawa Timur di Kalimantan Selatan. Ternyata tidak bisa dan harus membuat SIM baru. Baiklah, aku pun mengikuti semua prosedur resmi pembuatan SIM C baru. Tahun 2008 SIM C resmi keduaku terbit.

Kemudian aku menikah dan ikut suamiku ke kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Kami tinggal di sana selama sekitar empat tahun, dan SIM C milikku yang diterbitkan di Banjarmasin habis masa berlakunya saat aku di Pangkalpinang. Tahun 2013, aku harus memperbarui SIM C-ku. SIM terbitan Kalimantan Selatan diperpanjang di Kepulauan Bangka Belitung? Bisa, hanya saja aku harus ke Banjarmasin dan minta surat pindah atas berkasku, sehingga berkasku dikirim ke Pangkalpinang. Bayanganku saat itu cuma… R-I-B-E-T!!!! Akhirnya aku memilih membuat SIM C baru dengan mengikuti segala macam tes sesuai prosedur.

Tahun 2013 pula aku pindah mengikuti suami (lagi) ke Jakarta. Kupikir kami tak akan lama di sini, ternyata sampai SIM habis masa berlakunya, kami masih saja di Jakarta ๐Ÿ™‚ Masa iya aku harus membuat SIM baru di Jakarta? Gak kebayang ribetnya deh.

Ternyata ada banyak perubahan yang terjadi dalam lima tahun. Bukan hanya presiden dan gubernur yang ganti, sistem pembuatan SIM pun mengalami perbaikan. Sekarang memperpanjang SIM bisa di mana saja! Jadi tahun ini aku tak perlu membuat SIM baru. Horeeee!!!!

Kebetulan sekali, di dekat rumahku ada mobil SIM keliling yang parkir di Dealer Honda di seberang Rumah Sakit Budhi Asih. Aku pun ke sana untuk memperpanjang SIM C-ku. Kalau ingin tahu, jadwal dan tempat Simling (SIM Keliling) di Jakarta tuh di mana saja, coba buka link ini ya.

SIM Keliling di Dewi Sartika dimulai pukul 08.00 sampai formulir habis. Dari hari Senin sampai hari sabtu. Ada 150 formulir disediakan setiap hari. Rata-rata formulir habis sekitar pukul 11.00-12.00 siang. Cukup siapkan SIM lama kita ditambah 2 lembar fotokopi KTP, minta formulir, isi dengan benar, dan kumpulkan ke petugas jaga. Tunggu nama kita dipanggil, dan SIM jadi.

Begitu sampai di lokasi simling, aku langsung meminta formulir. Karena aku tidak membawa fotokopi KTP, aku minta tolong petugas di sana untuk memfotokopikan KTP-ku. Aku membayar Rp3.000,00 untuk 2 lembar fotokopi KTP. Kemudian berkasku masuk mobil untuk antre diproses.

Proses pembuatan SIM-nya sih cepat, nunggu antreannya yang lama. Hahaha. Aku tiba di lokasi simling pukul setengah 10 pagi, dan baru dipanggil masuk mobil untuk proses pembuatan SIM pada pukul 12 siang huehehe. Selama menunggu, aku sudah jajan sebotol air mineral seharga Rp4.000,00, semangkuk bakso seharga Rp14.000,00, dan sebotol Estee dingin seharga Rp6.000,00 ๐Ÿ˜€

Setelah namaku dipanggil, aku masuk mobil SIM. Pertama aku diperiksa dengan tes buta warna oleh bu dokter, kemudian diperkenankan membayar Rp25.000,00 untuk biaya cek kesehatan, dan Rp30.000,00 untuk asuransi.

Baru kali ini aku membaca dengan saksama polis asuransi SIM ini. Ternyata hanya berlaku jika kita mengalami kecelakaan saat kita mengemudi. Oalah…

Santunannya sebesar Rp2.000.000,00 bila meninggal dunia, Rp2.000.000,00 bila cacat tetap, dan Rp200.000,00 bila harus dirawat di rumah sakit. Tidak jelas 200ribu itu total semua santunan atau santunan perhari saja.

Setelah itu, aku diminta duduk di depan kamera untuk difoto, diambil sidik jarinya, dan tanda tangan. Tidak sampai 2 menit, SIM sudah jadi. Aku diperkenankan membayar Rp75.000,00 untuk pembuatan SIM ini. Kemudian, setelah SIM jadi, SIM tersebut diserahkan kepadaku, lalu ada petugas jaga yang menjual semacam laminating kartu, hm… antigores kartu gitu lah… harganya Rp15.000,00 sepasang.

Itu gambar SIM fotonya sengaja disembunyikan. Karena semanis apapun diriku, foto di SIM dan KTP gak pernah bagus! Hikshiks…

Jadi, biaya yang harus disediakan untuk mengurus perpanjangan SIM C di Mobil Simling adalah:

Rp25.000 untuk biaya cek kesehatan

Rp30.000 untuk asuransi

Rp75.000 untuk biaya pembuatan SIM (ini diakui negara dan masuk PNBP ya)

Rp15.000 untuk laminating SIM

Rp24.000 untuk jajan ๐Ÿ˜€

Sekarang, masa aktif SIM C-ku sudah panjang. Sampai tahun 2023. Jadi aku sudah bisa ngojekin anak lagi, deh. Nanti, entah di Indonesia bagian mana aku akan memperpanjang SIM ini di tahun 2023. ^_^

Tapi sekarang aku bisa lega, karena aku tidak perlu lagi dites untuk membuat SIM. Tinggal perpanjang saja terus. Kan sudah online. ๐Ÿ™‚


Perjalanan Pertama

26 Februari 2018

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, termasuk buat #AbangZimam. Siang ini adalah perjalanan pertama Zimam dengan kartu uang sendiri.

Sebenarnya Zimam sudah lama punya kartu uang sendiri. Yaitu kartu keanggotaan dari Bobo yang bekerja sama dengan Flazz BCA. Kartunya bergambar bobo dengan cetakan nama Zimam. Kartu itu sudah saya isi sebesar Rp50.000,00 tapi selalu lupa dibawa hingga gak pernah dipakai.

Siang ini, aku sempat memasukkan kartu itu ke tas gantinya sebelum berangkat ke EF.

Ekspresi Zimam bahagiaaaa sekali saat tau dia akan membayar sendiri tarif bus yang akan dia tumpangi ๐Ÿ™‚

“Bener Abang Zimam yang bayar sendiri, Danda?,” Katanya setengah tak percaya.

“Iya bang.. bener!” Jawabku.

Dan begitulah, yang selama ini selalu aku yang tap kartu uang untuk naik bus, sekarang dia bisa mengetap kartu uangnya sendiri ๐Ÿ™‚


Pakai FLIP, Transfer Antarbank jadi Gratis

14 Februari 2017

Udah tau FLIP, belum? Sebuah aplikasi di playstore yang memungkinkan kita untuk transfer-transfer ke beda bank tanpa tambahan biaya.

Tau kan, kalo lagi belanja online tuh, trus sellernya ternyata pake BCA sedang rekening aku Mandiri, suka kesel-kesel gimanaaaa gitu, sayang aja 6.500 rupiah keluar percuma.

Awalnya adikku yang pakai aplikasi FLIP ini. Aku sih tertarik, tapi Pak Suami bilang jangan instal, nanti penipuan, secara ke depannya transfer antar bank LINK bakal gratis kok. Catat ya, KE DEPANNYA. Berarti bukan sekarang kan? ๐Ÿ˜ฆ

Lama-lama aku pun tertarik instal aplikasi ini. Secara nih, rekeningku bertaburan di mana-mana, halah ๐Ÿ˜€

Aku memang punya beberapa rekening dengan tujuan tertentu. Ada yang nabung buat beli rumah, ada yang nabung buat jalan-jalan, ada yang jadi dana cadangan. Semuanya adalah rekening syariah, karena biasanya rekening syariah itu bebas biaya dan bebas bunga hehe.

Masalahnya, gaji bulananku yang jadi sumber buat ngisi rekening-rekening syariah itu dibayar di Mandiri dan BRI. Nambah 6.500 lagi deh kalau mau transfer ke rekening-rekening itu.

Makanya aku jadi tertarik mengunduh aplikasi ini. Aku pun cari di playstore.

Aplikasinya gak besar kok, cuma 11,13MB. Setelah terpasang, kita akan disuruh registrasi dengan memasukkan alamat surel (email), dan nomor hape. Kemudian kita akan diarahkan ke grup whatsapp tertentu. Kenapa? Karena menurut peraturan Bank Indonesia, untuk transaksi yang hubungannya sama uang ini, verifikasinya harus tatap muka. Makanya, kita akan diarahkan ke grup terdekat dengan tempat tinggal kita. Nanti di grup tersebut akan diberikan jadwal-jadwal verifikasi terdekat dengan hari kita mendaftar.

Saat itu, saya mendaftar di hari Selasa. Dari jadwal yang diberikan, saya melihat jadwal hari Jumat jam 17.00-19.00 di Stasiun Tebet lah yang paling pas dengan saya. Maka saya pun diarahkan ke grup whatsapp khusus yang memilih verifikasi di stasiun tebet.

Oya, jangan khawatir, beres verifikasi kelar, kita diijinkan left group kok ^_^

Verifikasi di Stasiun Tebet waktu itu dipandu oleh Kak Nanda. oOa, di FLIP semua orang dipanggil Kakak, gak cowok, gak cewek, gak tua, gak muda. Agak aneh sih memanggil seorang laki-laki dengan sebutan “kak” secara di budayaku, panggilan “kakak” hanya untuk perempuan, laki-laki dipanggil “abang”.

Kak Nanda menyilakan anggota grup memilih jam yang paling nyaman. Antara 17.00-19.00. Awalnya aku mau ke tebet jam setengah 6, karena aku baru bisa pulang jam segitu. Tapi dipikir-pikir, mending aku ijin bentar jam 5 sore, kelar urusan langsung pulang deh hihi…

Berangkatlah aku jam 5 sore ke stasiun tebet. [Lama eui gak ke sta tebet, berubah banyak ya dia]. Gak terlalu susah cari keberadaan Kak Nanda ini. Begitu ketemu, dia cuma minta KTP-ku untuk difoto dan disesuaikan dengan aslinya. Aku yakin dia ragu, soalnya aslinya jauh lebih cantik, sih *plakk* ๐Ÿ˜€

Udah gitu, udah deh. Aku terverifikasi dan dapat email dari FLIP. Langsung bisa memakai jasa FLIP.

Sistem FLIP tuh gini, kalau kita mau transfer dari BRI ke Mandiri, maka kita akan diarahkan untuk transfer ke rekening BRI FLIP. Kemudian, FLIP akan transfer ke rekening Mandiri tujuan. Kita akan diberikan bukti transfer loh.

Aku belum sebulan menggunakan jasa FLIP, tapi udah segini aja penghematanku hihi. Makasih FLIP. Tau aja emak-emak suka perhitungan. Lumayan 6.500 bisa dapat 10 batang cabe rawit.
Transfer dari Mandiri ke BSM, dari BNI ke Mandiri, dari BCA Syariah (pakenya yang BCA karena free) ke BRI, dll. Bahkan tadi pagi, aku tranfer dari BNI ke Mandiri. Aturan kan kalau habis transfer ke rekening BNI FLIP harus konfirmasi dulu ke FLIP, nah ini aku lupa konfirm hehe. Eh, duitnya udah ditransfer aja ke rekening Mandiriku. Sampe bingung harus berbuat apa, *cieeee*

Cuma sayangnya, gak ada opsi transfer dari dan ke BRI Syariah, jadi kalau mau transfer ke BRIS masih kena biaya 6.500 saya.

Juga gak ada opsi transfer ke BCA Syariah, padahal transfer dari BCA ke BCA Syariah atau sebaliknya, kan gratis, walaupun harus pakai kode transfer [536 untuk BCA Syariah].

So far aku merasa terbantu sih dengan keberadaan FLIP, buat transfer antarrekening yang aku punya, atau buat belanja belenji daring (online). Aku harap sih FLIP bisa hadir di belahan bumi Indonesia lainnya, sehingga gak cuma yang bisa verifikasi di Jakarta aja yang bisa menikmati hasa dari FLIP. ^_^

Yang BRI Syariah dan BCA Syariah, boleh ya, jadi PR. Hihihi..

Semangat, FLIP!