Kuatkan Hatimu

22 Oktober 2020

Pengin cerita lagi soal Kei dari Iland, boleh ya?

Kemarin tuh dia ulang tahun. Keiys, penggemarnya, sudah sejak sebulan lalu menyiapkan perayaan ulang tahunnya. Secara kami sakit hati karena dia nggak debut. Nah, sejak tanggal 20, iklan ulang tahunnya sudah dipajang di mana-mana. Di Samseong Superior Tower, CoEx Crown Media, CoEx Media Tower, Samseong Station Grand Theatre, dan di kafe-kafe sekitar CoEx.

Dan semalam, Kei muncul dengan seorang teman, jalan-jalan sambil melihat iklan ulang tahunnya. Aduh ini seperti apa ya?

Karena sejak tereliminasi dari I-Land di episode final, Kei seperti hilang. Memang sih, dia masih trainee, jadi nggak bisa bebas keluar gedung agensi. Apalagi dia terkenal walaupun trainee. Jadi kehadirannya semalam itu seperti hadiah untuk para Keiys.

Seperti imbalan atas kerja keras kami menunggu dan menyiapkan perayaan ulang tahunnya.

Setela itu, bagai badai.

Karena dia kembali bersembunyi dan entah kapan keluar lagi, hahaha.

Para penggemarnya harus bersatu, untuk tetap menunggu.

Semangat, Kei. Keiys akan menunggumu.

Ah, cerita soal idol nih jadinya. Hehehe.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Badai


Perang di Pagi Hari

19 Oktober 2020

Kejadian yang sama berulang lagi. Hahaha.

Sejak tidak punya asisten rumah tangga, seluruh pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri. Padahal saya juga kuliah. Jadi memang harus pandai-pandai mengatur waktu, jika tidak, seharian saya tidak akan punya “me time”.

Pagi hari di hari kerja bukan hal yang saya suka. Mulai dari Abang Zi yang lambat bergerak karena masih mengantuk, sampai pekerjaan yang begitu banyak yang harus dikerjakan sebelum saya masuk kelas.

PJJ Abang Zi yang selalu harus dikawal juga sering membuat konsentrasi saya terpecah. Jika ada yang berkata, Sabtu Minggu tak ada bedanya saat PSBB, itu tidak berlaku buat saya. Karena saya bahagia ketika hari Jumat tiba. Artinya esok Sabtu, dan Abang Zi tak perlu sekolah.

Entah sampai kapan perang di pagi hari ini berlangsung. Hahaha.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagi


Jangan Berharap Lebih!

16 Oktober 2020

Saya ingin bercerita tentang perasaan saya. Ketika saya mengusahakan sesuatu tetapi ternyata hasilnya nihil. Apa yang saya lakukan setelahnya?

Libur semester di tengah pandemi membuat saya dan Abang Zi menghabiskan waktu di rumah saja. Saya pun menonton tayangan televisi berjudul I-Land. Tayangan ini tentang 23 remaja yang berjuang meraih mimpinya menjadi idol di Korea Selatan. Salah satu pelamar I-Land yang menjadi perhatian saya adalah pelamar dari Jepang bernama K (Kei).

Kei ini penari, atau dancer. Saat dia menari tubuhnya seakan mengikuti irama musik tanpa disuruh. Seakan dia dilahirkan untuk menari. Saya bukan penggemar dance sebelumnya, setelah melihat Kei menari, saya jadi suka memperhatikan koreografi tarian modern ini.

Karena saya rasa rating I-Lang cocok ditonton Abang Zi, saya menontonnya bersama Abang Zi. Dan ternyata dia juga suka pada Kei. Jadilah kami berdua adalah penggemar Kei.

Ketika I-Land mengadakan sistem voting, saya ikut memberikan suara. Tentu saja pada Kei. Entah bagaimana ceritanya, saya diajak ikut serta menjadi tim voting Kei untuk Indonesia. Kami mengelola 3.500 akun untuk divoting setiap hari. Hingga di episode final, ternyata Kei tereliminasi.

Usaha kami selama sebulan penuh hilang begitu saja. Sedihnya bukan main. Abang Zi menangis semalaman. Saya? Tidak bisa tidur sampai pagi. Pikiran saya berkecamuk, sedih, tidak terima. Tetapi, dengan adanya teman bercerita di media sosial, lambat laun saya bisa menerima kenyataan, bahwa Kei belum debut menjadi idol.

Apa yang saya lakukan setelah itu? Saya mencari teman. Ada banyak yang seperti saya di media sosial, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kei tereliminasi di episode final. Mengingat kemampuan Kei di atas rata-rata. dia sangat hebat.

Sebulan berlalu sejak episode final I-Land. Saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa Kei tidak cocok berada di grup yang terbentuk dari pertunjukan bertahan I-Land. Bahwa dia sedang mempersiapkan grup debutnya sendiri. Kami, penggemar Kei, bahkan tengah mempersiapkan perayaan ulang tahun Kei di tanggal 21 Oktober nanti dengan meriah. Saya dan teman-teman masih mendukung Kei.

Jika kita melakukan sesuatu, namun hasilnya nihil, jangan ratapi sendirian, cari teman. Seandainya ada, cari teman senasib. Jika tidak ada, cari teman yang memahamimu.

Jangan simpan sendiri.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Nihil


Memulai Segalanya dari Rumah

15 Oktober 2020

Sudah tujuh bulan berlalu sejak kami mengerjakan seluruh pekerjaan dari rumah. Semua masih baik-baik saja walau tak sempurna. Alhamdulillah, kami masih diberikan kesehatan dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik.

Memulai segalanya dari rumah tidaklah mudah. Ah, saya belum pernah membicarakan ini sebelumnya karena khawatir dianggap kufur nikmat. Sementara orang lain di luar sana mendapatkan kesulitan karena pandemi ini, kehidupan kami masih terjamin walau tak ada lagi tabungan. Paling tidak, kami masih bisa sebulan penuh memesan makanan melalui aplikasi daring.

Setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya membicarakan hal ini, paling tidak, sekali. Bahwa saya juga mengalami kesulitan berada di rumah selama 24 jam. Hormat pada ibu rumah tangga yang mengurus keluarga 24/7. Tujuh bulan ini saya mengalaminya dan jujur saja, saya tidak terlalu suka.

Saya bersyukur dipasangkan dengan seorang suami yang walaupun tidak suka membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah, beliau tidak pernah menuntut apapun. Tak pernah menuntut walau cucian baju menumpuk, setrikaan menumpuk, lantai belum disapu, apalagi dipel, dan lain-lain. Beliau hanya diam, dan paling-paling membereskan apa yang beliau ingin bereskan.

Saya bersyukur diberi suami yang paham betul bahwa urusan rumah tangga bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab suami. Karenanya, ketika kami tidak bisa menyewa tenaga asisten rumah tangga, dan beliau tak suka mengerjakan urusan rumah tangga, saya dibiarkan mengerjakan sesuka saya.

Dipikir-pikir, saya sudah dua bulan tidak memasak sama sekali. Selalu memesan makanan, atau katering.

Memulai segalanya dari rumah membutuhkan adaptasi dari semua anggota keluarga. Di tengah menumpuknya tugas kuliah, urusan rumah tangga menjadi nomor dua buat saya. Tidur saja saya curi-curi waktu. Hahaha.

Tetapi, di balik semua masalah, ada hikmah. Kami tetap di rumah, dan menjadi lebih akrab satu sama lain.

Semoga pagebluk ini segera berlalu. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Adaptasi


Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

14 Oktober 2020

MasyaAllah Tabarakallah.

Itu yang bisa saya ucapkan sekarang. Kuliah dari rumah  dan menemani anak yang sekolah dari rumah, plus menjadi asisten rumah tangga bagi diri sendiri, sungguh bukan hal yang mudah.

Rumah buat saya tadinya merupakan tempat beristirahat. Tempat melepas lelah. Sekarang, rumah menjadi tempat kerja saya. Saya yang suka mengotak-ngotakkan kepentingan, sekarang sudah bercampur baur.

Dulunya, saya punya manajemen waktu sendiri. Pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor, tidak akan saya bawa pulang. Demikian juga pekerjaan rumah, tidak akan saya bawa ke kantor. Jadi saya punya cukup waktu untuk beristirahat.

Sekarang?

Hal pertama setelah membuka mata adalah memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Hal yang terakhir saya lakukan sebelum tidur adalah mencuci piring. Belajar/kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti tak ada batas waktunya.

Namun, dibalik itu semua, saya bersyukur. Saya dan Abang Zi masih bisa di rumah saja dan tidak kemana-mana. Abang Zi dapat belajar mandiri (karena saya tidak mau disebut pembantu, jadi dia harus membantu urusan rumah tangga, hihi). Abang Zi lebih terampil mengerjakan urusan rumah tangga (hm, setengah tingkat lebih pandai, lah).

Untuk makanan, kami memutuskan untuk katering lauk. Saya tak suka memasak, dan tak punya waktu untuk memasak. Apalagi, jadwal kuliah saya kalau tidak dimulai pukul 1 siang, ya berakhir pukul 12 siang. Padahal Abang Zi hanya punya waktu setengah jam untuk ishoma sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Untuk baju, kami hanya menyetrika yang harus disetrika. Jika sudah menumpuk, panggil tetangga untuk menyetrikanya. Alhamdulillah.

Memang, rumah tidak serapih saat saya punya asisten. Tetapi saya lebih bahagia. Terutama dari makan hati, karena ternyata ada fitnah yang tersebar tentang saya dan mantan asisten saya. Padahal kan saya yang di-PHK, hiks.

Di mana sulit seperti ini, saya memang harus banyak bersyukur. Saya telah diberikan perlindungan yang layak, serta sarana yang memadai.

Semoga pagebluk ini segera berlalu, ya. Aamiin. ^^

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pagebluk


Perpustakaan Universitas Indonesia

24 September 2020

Perpustakaan UI

Kali ini saya akan menulis sebuah tulisan bertema perpustakaan, dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September lalu. Memang terlambat, tetapi tak apa, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Saya akan mengulas tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok.

Sebagai anak Salemba, saya jarang sekali berkunjung ke Perpustakaan UI di Depok ini. Tetapi bukan berarti tidak pernah. Sekali dua kali, sebelum Pandemi Covid19 melanda, saya menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan yang sangat besar ini.

Perpustakaan UI sangatlah besar. Di dalamnya ada sekitar satu juta lima ratus ribu buah buku. Tentu saja kebanyakan buku yang ada di sini adalah buku paket kuliah atau buku-buku referensi perkuliahan lainnya.

Suasana di dalam gedung Perpustakaan UI ini sangatlah menyenangkan. Sofa-sofa empuk bertebaran di sana. Sebelum masuk, tamu harus menunjukkan Kartu Identitas Mahasiswa UI terlebih dahulu. Jika Anda tak punya kartu mahasiswa, maka Anda harus mendaftarkan diri ke resepsionis dan menukar KTP Anda dengan kartu tamu. Kemudian Anda diwajibkan menitipkan semua barang bawaan termasuk makanan dan minuman, kecuali barang berharga dan barang elektronik. Tak usah khawatir, tersedia loker dan tas transparan untuk membawa laptop. Lalu, naik lift menuju lantai tujuan.

Perpustakaan UI juga menyediakan buku-buku daring. Buku-buku daring ini hanya bisa diakses oleh mahasiswa UI saja karena untuk membuka aksesnya harus menggunakan username dan password SSO UI. Dalam masa Pandemi Covid-19 ini, Perpustakaan UI ditutup dan tidak dapat dikunjungi. Karenanya, perpustakaan daring sangat membantu mahasiswa dalam mencari sumber referensi perkuliahan.

Secara berkala, petugas perpustakaan UI akan mengirimkan surel kepada seluruh mahasiswa jika ada buku baru yang masuk katalog. Hal tersebut sangat membantu mahasiswa sehingga mahasiswa dapat langsung mengakses buku daring itu dari situs perpustakaan.

Begitulah cerita saya tentang Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok. Nanti setelah pandemi berakhir, saya akan mengunjungi perpustakaan itu lagi dan menikmati membaca buku di dalamnya.

#HariKunjungPerpustakaan #TantanganRBM


Iduladha, Gembira namun Hati-hati

4 Agustus 2020

Selamat Iduladha, Semuanya…

Sudah lama, ya, sejak terakhir saya menulis di blog ini. Konsistensi satu tulisan perhari mulai luntur seiring selesainya kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Maafkan saya.

Hari ini saya kembali menulis sebagai tugas dari Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta. Ya, Komunitas Ibu Profesional memiliki kelompok menulis yang bernama “Rumah Belajar Menulis” (RBM). Kali ini, RBM memberikan tugas menulis kerangka blog untuk semua anggotanya yang ingin debut sebagai penulis.

Tema tulisan kali ini adalah “Iduladha di Masa Pandemi”. Mari kita mulai.

Kerangka Blog Catatan Harian Yeptirani

Alhamdulillah, kita dipertemukan kembali dengan hari Raya Iduladha 1441 Hijriah. Hari raya di mana umat Islam dianjurkan berkurban dengan seekor kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Daging hewan kurban tersebut akan dibagikan ke orang-orang yang kesehariannya bisa membeli daging sendiri karena harganya yang mahal.

Perayaan hari raya tahun ini sedikit berbeda. Seperti hari Raya Idulfitri yang lalu, Iduladha tahun ini dirayakan tanpa pulang kampung. Kalau biasanya Abang Zi akan menghabiskan malam di musala untuk memukul bedug, tahun ini kami di rumah saja. Bedug memang tetap dipukul, namun itu dilakukan oleh anak-anak atau pemuda yang tempat tinggalnya benar-benar di sebelah musala. Dan menjaga jarak.

Sebagai anak tertua di Jakarta, saya membuka pintu rumah lebar-lebar saat hari raya. Kebetulan, kambing kurban kami disembelih hari Sabtu, jadi open house-nya dilakukan hari Sabtu juga.

Open house? Katanya sedang pandemi?

Ada beberapa hal yang membuat kami memutuskan tetap menerima tamu (saudara kandung). Selain karena PSBB di Jakarta sudah diturunkan statusnya menjadi PSBB Transisi dan PSBL, kami tak memiliki saudara dekat di Jakarta. Hanya itu-itu saja yang jadi sandaran. Dan, rumah kami yang tak terlalul jauh membuat kami sebenarnya sudah sering berinteraksi walaupun PSBB.

Saat adik saya datang, dia langsung membersihkan dirinya. Mencuci tangan, menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuh, dan menjemur jaketnya. Barulah ia membantu membakar sate di halaman.

Ada satu kegiatan yang tidak kami lakukan di hari raya ini, yaitu ziarah ke makam Keita. Tadinya kami hanya berniat menunda, karena penuhnya taman makam, tetapi akhirnya jadi batal. Padahal makam Keita jaraknya tak sampai 10 menit berjalan kaki. Tetap saja jarang dikunjungi. Terakhir kami ke sana, ada sebuah pohon tumbuh di atas pusara Keita. Saya jadi penasaran, sebesar apa pohon itu sekarang. Pohon yang dipupuki oleh Keita.

Oh iya, biarkan saya bercerita tentang penyembelihan hewan kurban tahun ini.

Jika tahun-tahun sebelumnya, semua orang mendekat pada penjagal, dan berakhir dengan suasana ricuh, tahun ini area penjagalan dibatasi dengan pering bambu. Hanya pemilik hewan kurban yang akan disembelih saja yang boleh masuk area jagal. Lebih tertib dan lebih sepi dari biasanya.

Pada akhirnya, walau dengan segala keterbatasan, kami merayakan hari Raya Iduladha dengan khidmat dan bahagia. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga tahun depan hari Raya Iduladha dapat dirayakan dengan penuh kegembiraan tanpa ketakutan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441H