Sedekah kepada Anak Kandung

2 Maret 2020

Game Level #11: Fitrah Seksualitas
Hari #11

PhotoGrid_1583083191644

Karena hari Minggu adalah GFOS di grup WAG Kelas Bunda Sayang, maka Danda akan menulis tentang sesuatu yang Danda baca di medsosl, yang masih berkaitan dengan Fitrah Seksualitas.

Beberapa tahun lalu, Danda pernah membaca sebuah status dari praktisi parenting yang memiliki anak laki-laki yang sudah aqil baligh. Ceritanya sang anak mengajukan proposal secara lisan untuk mendapatkan dana les tambahan, kalau tidak salah, bahasa Inggris. Sang ibu bertanya tentang imbalan yang didapat orang tua jika proposal tersebut disetujui. Sang anak menjawab bahwa skor bahasa inggrisnya akan naik 100 poin. Sang ibu menawar kenaikan 150 poin. Sang anak minta tetap di 100 poin. Akhirnya sang ibu meminta kenaikan skor 125 poin, take it or leave it. Sang anak pun setuju. Konsekuensinya, apabila setelah les sang anak tidak mendapat kenaikan skor minimal 125 poin, maka sang anak harus mengembalikan semua investasi untuk les yang diberikan orang tuanya. Di hari tes, sang anak membaca doa agar terbebas dari utang. Hahaha.

Di bawah status itu beliau menjelaskan, bahwa kewajiban orang tua terhadap anak laki-laki itu berbeda dengan anak perempuan. Jika pada anak perempuan, tanggung jawab orang tua adalah sampai dia menikah, maka pada anak laki-laki, hanya sampai dia aqil baligh saja. Setelah aqil baligh seharusnya seorang laki-laki sudah menjadi  mandiri, secara biologis, emosional, dan finansial. Itu sebabnya orang tuanya tak lagi punya kewajiban memenuhi semua kebutuhannya.

Kepada anak laki-laki yang sudah aqil baligh namun belum mandiri secara finansial, orang tua boleh saja menghidupinya dengan 2 tujuan:

1. Sebagai sedekah. Kasihan karena dia masih miskin.

2. Sebagai investasi.

Yang namanya investasi tentu saja kita berharap ada hasil. Khususnya hasil yang menguntungkan. Misalnya, kita menyekolahkan anak, kita berharap anak memahami ilmu dan lulus dengan baik, serta dapat mengamalkan ilmunya. Kita tidak akan berinvestasi jika itu merugikan, kan?

Tentu saja, hal itu harus dikomunikasikan dengan anak laki-laki, agar dia memahami posisinya ketika sudah aqil baligh. Jika dia memahaminya, sepertinya tak akan ada lagi pemuda galau yang mengalami pubertas yang merepotkan orang-orang sekitarnya.

DSC_0250-01

Sebagai orang tua dari anak laki-laki, Ayah dan Danda sedang dalam proses mengomunikasikan hal ini pada Abang Zi. Tentu saja agar dia siap menghadapi posisinya setelah aqil baligh nanti. Semoga Allah meridhai. Aamiin. ^^

PicsArt_03-02-03.59.49

#Hari11
#GameLevel11
#Tantangan10Hari
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional