Review Game Level #9: Memacu Kreativitas Anak

Beda dari biasanya, di level #9 ini kami diajak membuat sebuah reviu. Jujur saja, setelah aliran rasa, menulis saya sudah kehilangan renjana menulis sebuah reviu. Hey, kami sudah menulis preambule, lima belas cerita, dan aliran rasa, kenapa harus menulis sebuah reviu lagi?

Tapi, motivasi dari teman-teman di Peer Group Daffodil memacu saya membuka lagi aplikasi Open Live Writer dan mulai menulis.

Review Game Level #9: Memacu Kreativitas Anak

Di mana saya akan mulai, ya? Hm…

Ah, pertama, masih banyak orang yang salah menulis. Alih-alih menulis kata “kreativitas”, mereka menulis “kreatifitas”. Halo, itu salah, Sayangku. Karena kata “kreativitas” berasal dari bahasa Inggris “creativity”. Segala macam kata yang berakhiran “-ity” dalam bahasa Inggris, akan diterjemahkan mejadi “-itas” dalam bahasa Indonesia. Misalnya, university (universitas), celebrity (selebritas), effectivity (efektivitas), security (sekuritas), dan juga creativity (kreativitas).

Tapi, bahkan fasilitator kami yang sudah diingatkan berkali-kali tetap saja menulis “kreatifitas”, hahaha. Mata ini rasanya gatal sekali saat membacanya. Mungkin beliau sudah terbiasa salah, jadi yah sulit dibetulkan. Hehehe.

Oke, sekarang kita bahas tentang kreativitas. Apa itu kreativitas menurut rangkuman Danda Zi setelah mengikuti berbagai diskusi, menjalankan tantangan 15 hari, serta menuangkannya dalam tulisan?

Kreativitas adalah suatu hal yang ada dalam diri setiap individu. Seperti sel-satu yang membentuk tubuh manusia, kreativitas adalah sel-satu bagi pemikiran manusia. Ia ada bahkan sebelum manusia itu terbentuk. Dan berkembang atau tidaknya suatu kreativitas, bergantung pada lingkungan yang membesakan seseorang.

Disiplin Pribadi Menumbuhkembangkan Kreativitas
– Prasasti Ki Suratman, SMA Taruna Nusantara

Tahun 1989, saat SMA Taruna Nusantara sedang didirikan, Ki Suratman menulis kalimat di atas pada sebuah batu prasasti. Kalimat yang selalu dipertanyakan oleh setiap siswa baru yang kritis. Kenapa Disiplin bisa mengembangkan kreativitas? Bukankah sebaliknya?

Ternyata maksud kalimat di atas adalah, bila kita disiplin pada diri kita, maka akan ada banyak kesempatan bagi kita untuk menjadi kreatif. Melalui Game Level #9 inilah, saya mempraktikkan dengan tertulis, apa yang ditulis Ki Suratman 30 tahun yang lalu.

Sebagai orang tua, saya banyak belajar. Selama ini kami keluarga yang membebaskan anak, dengan disiplin pribadinya, untuk jadi kreatif. Game Level #9 membuat kami mencatat setiap kreativitasnya.

Kami akan terus memantau, dan mendukung setiap kreativitas baik, yang diciptakan putra kami tercinta, Abang Zi, dan adik-adiknya kelak.

#Review
#GameLevel9
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#BerpikirKreatif
#thinkcreative
#InstitutIbuProfesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: