Belajar di Atas Awan

13 Juli 2019

Game Level #4 Memahami Gaya Belajar Anak
Hari #2

Alhamdulillah, tabarakallah. Hari ini kami kami sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi tanah kelahiran Abang Zi, Kota Pangkalpinang. Penerbangan pagi yang kami pilih membuat pemandangan di atas awan menjadi terlihat sangat indah. Abang Zi yang duduk di dekat jendela, menyukainya. Walau di tengah perjalanan dia minta tukar bangku, karena ada seorang anak kecil yang sangat aktif yang duduk persis di belakang Abang Zi.

Ketika pesawat akan mendarat, Abang Zi melihat gugusan awan tebal berwarna putih seperti kapas.

Zimam: Danda, itu gula-gula kapan, ya? (katanya menggoda, dia tahu kok kalau itu awan)

Danda: hahaha, kalau itu gula-gula kapas, nanti hujannya lengket, loh.

Zimam: hehehe. Bener juga.

Danda: Abang masih ingat proses terbentuknya hujan? Berapa tahun sejak penguapan? (Danda pernah menjelaskan tentang prosrs terbentuknya hujan melalui alat peraga, saat Abang Zi masih TK)

Zimam: seratus tahun, eh, bener, kan?

Danda: seratus ribu tahun, Bang.

Zimam: uwow. Kalau pertama menguap palingan jadi awan yang tipis itu, ya?

Danda: mungkin saja.

Menjelang pendaratan, dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah menyala, kami bisa melihat dengan jelas, tanah Bangka. Ada banyak lahan kosong dengan danau di tengahnya. Lahan bekas tambang timah.

Zimam: Danda, itu apa? Seperti pohon raksasa habis ditebang.

Danda: itu bekas tambang timah, Bang. Dibiarin gundul begitu lalu tergenanglah airnya, jadi danau besar deh.

Zimam: ya ampun. Kalau jalan-jalan terus jatuh, gimana?

Danda: sebenarnya sih, gak ada anak-anak yang boleh main dekat-dekat situ sih, Bang.

Zimam: jadi jelek, ya, Danda.

Danda: iya, jadi jelek dan rusak. Padahal seharusnya penambang itu wajib mengembalikan kondisi lahan pertambangan menjadi seperti sedia kala. Tapi gak pernah dilakukan.

Abang Zi mengangguk-angguk sambil memperhatikan kubangan raksasa yang terbentuk dari hasil penambangan timah di Bangka.

Sesampaikan di Kota Pangkalpinang, kami mengunjungi kantor lama Ayah dan Danda, dan mengunjungi sekolah lama Abang Zi, PAUD Cerdas.

Abang Zi “disekolahkan” sejak berusia 2,5 bulan di Taman Penitipan Anak di dekat kantor waktu itu. Karena itu, Ayah dan Danda tenang dalam bekerja dan membangun bonding kuat dengan Abang Zi. Karena kami yakin guru-guru di PAUD Cerdas akan menjaga Abang Zi dengan baik.

Danda kagum ketika kami ke dana (setelah 6 tahun), dan para guru masih ingat dengan kami. Kepala sekolah masih ingat dengan wajah Abang Zi (6 tahun loh), para guru juga masih ingat dengan wajah Danda. Hebat banget… ^_^

Setelah salat Jumat, kami kembali ke kantor lama Ayah dan Danda dan bersilaturahim dengan kawan di sana. Abang Zi yang mungkin bosan, bermain sendiri di taman depan kantor. Ah, Abang Zi. Sudah besar dan tak rewel lagi saat bosan. Karena tahu, Ayah dan Danda entah kapan bisa bertemu kawan-kawan ini lagi.

Skor observasi gaya belajar Abang Zi adalah

Visual: 9 poin
Auditori: 9 poin
Kinestetik: 5 poin

#hari2
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional