Game Level #4 Memahami Gaya Belajar Anak

11 Juli 2019

Setelah tiga kali berturut-turut alias hattrick mendapatkan badge Outstanding Performance karena mengerjakan lima belas tantangan dalam tujuh belas hari pada tiga game terakhir, saatnya menghadapi tantangan baru. Pada game level #4 ini, mahasiswi Kelas Bunda Sayang diajak untuk memahami gaya belajar anak.

Sumber: Komunitas Ibu Profesional

Zaman sekarang dan zaman dulu, jauh berbeda. Jika dulu kita sekolah, masih diharuskan mendengarkan guru berbicara di depan kelas, zaman sekarang sekolah adalah tempat murid dan guru berdiskusi.

Danda masih ingat, waktu SD ada 2-3 anak di kelas yang selalu duduk paling belakang, mereka selalu menggangu teman lainnya. Mereka tak pernah bisa diam. Saat guru tak dikelas, ketua kelas diserahi tugas mencatat teman-teman yang berisik, mereka selalu masuk catatan. Akhirnya, karena dicap “terlalu nakal”, saat kelas 5 SD mereka tinggal kelas.

Sekarang Danda baru menyadari, kemungkinan mereka hanya tidak cocok dengan gaya belajar guru didikan penjajahan. Sementara saat itu di dunia pendidikan hanya dikenal 2 tipe belajar (visual dan auditori), mungkin gaya belajar mereka adalah kinestetik, gaya belajar yang tak ada di teori saat itu.

Andai mereka lahir lebih lambat, mungkin mereka bisa jadi bintang kelas. Mungkin.

Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individuyang tidak bisa membaca atau menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar, dan tidak kembali belajar.

– Alvin Toffler

Karenanya, Danda sangat bersyukur diberi tema materi ini oleh Kelas Bunda Sayang. Kami jadi punya alat untuk memahami karakter belajar anak kami.

Semalam Ayah dan Danda berdiskusi tentang materi ini. Ayah bilang, Abang Zi adalah anak kinestetik, Danda bilang visual. Hahaha. Tuh kan, kami brda pendapat. Ah memang sebaiknya kami melaksanakan saja tantangan kali ini dengan baik, dan mendiskusikan hasilnya, sehingga kami memahami gaya belajar Abang Zi.

Cukup curhatnya, Danda! Sekarang kembali ke materi! ^_^

Oke, gaya belajar manusia (masih) diketahui ada tiga jenis. -besok atau lusa, jenis gaya belajar bisa bertambah, loh, tergantung siapa yang menemukan-. Yaitu gaya belajar VISUAL, AUDITORI, dan KINESTETIK.

Gaya Belajar Tipe Visual

Anak dengan gaya belajar visual jika berbicara maka lirikannya ke atas. Dia bicara dengan tempo cepat, lebih suka membaca komik ketimbang novel, dan sukit menerima perintah verbal.

Anak visual sebaiknya belajar dengan menggambar atau video. Belajar mandiri tak cocok untuk anak dengan tipe ini.

Gaya Belajar Tipe Auditori

Anak dengan gaya belajar auditori selalu melirik ke kiri/kanan bila berbicara. Anak tipe ini mengandalkan kesuksesannya melalui telinga. Anak tipe ini mudah terganggu kebisingan, tapi lebih mudah mengingat apa yang didengarnya ketimbang yang dilihatnya.

Anak auditori sebaiknya belajar melalui diskusi.

Gaya Belajar Tipe Kinestetik

Ini gaya belajar yang belum diakui saat Danda kecil dulu.

Anak tipe kinestetik jika berbicara lirikan matanya ke bawah dan berbicara lebih lambat. Anak kinestetik belajar melalui gerakan, sentuhan, dan praktik langsung. Anak kinestetik tak bisa diam, dan selalu ingin bereksplorasi dengan lingkungan.

Anak dengan tipe kinestetik jangan dipaksa belajar berjam-jam. Izinkan anak kinestetik belajar sambil mengunyah permen karet karena itu membantunya berkonsentrasi.

~~~

Setiap individu bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar. Namun, pasti ada satu yang lebih dominan dari yang lain.

Sesuai prinsip Ibu Profesional (meninggikan gunung alih-alih menguruk lembah), gaya belajar yang dominan ini yang diasah, sehingga anak-anak bisa lebih optimal dalam belajar, dan yang pasti, lebih hepi.

Okay, Ayah dan Danda siap mengobservasi Abang Zi dan menemukan gaya belajar dominannya. Semangat 💪

Don’t Teach Me, I Love to Learn
#gamelevel4
#tantangan10hari
#gayabelajaranak
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#kuliahbunsayiip