Mengaji Bulan Ini, Serba-serbi Puasa

21 April 2019

Image-1

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk mengaji di bulan ini. Seharusnya, jadwal materi bulan ini adalah sunnah-sunnah wudu, tapi karena momennya mau Ramadan, maka bahasan bulan ini lompat ke puasa.

PUASA
Apa itu PUASA?

Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa juga berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa.

Pernah kan dengar sabda Rasul tentang orang yang berpuasa namun hanya dapat lapar dan haus saja? Itu karena dia tidak menahan dirinya dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa.

Apa saja hal-hal yang membatalkan pahala puasa?

1. Berbohong.

Dikatakan bahwa berbohong adalah bibitnya dosa besar. Segala dosa besar diawali dari berbohong. Karena itu jangan sekali-sekali kita terbiasa berbohong, apalagi saat kita berpuasa. Sayang amat, pahalanya luntur.

Berbohong ada yang dibolehkan, kok. Misalnya: berbohong untuk mendamaikan orang yang sedang bertengkar.

Misalnya si Ruqaya dan Fatima sedang bertengkar, kita ingin mendamaikan mereka. Kita datangi Ruqaya, dan bilang: “Aya, ada salam dari Fatima. Katanya dia menyesal sudah bertengkar sama kamu. Dia minta maaf tapi gak sempat melulu ke tempatmu, tau sendiri kan anaknya kecil-kecil. Tapi dia bilang ke aku kalau dia nyesel banget.”

Kemudian kita datangi Fatima dan bilang: “Tima, Ruqaya titip salam. Dia bilang dia nyesel banget untuk tengkar sama kamu. Dia mau minta maaf, cuma ibunya lagi sakit kan jadi harus jaga ibunya. Tapi dia bilang dia nyesel banget.”

Saat Ruqaya dan Fatima bertemu, mereka pun berbaikan karena merasa pihak lain sudah minta maaf duluan. Itu bohong yang diizinkan.

Bohong lain yang dibolehkan adalah bohong saat memuji pasangan. “Aih, Papah, kalau udah mandi gitu seger, kan ganteng kayak Shahruk Khan.” (Padahal di papah mah jauh banget dari SRK :D), itu bohong yang dibolehkan.

Atau, misal kita jadi saksi suatu kejadian namun hanya sepotong, lalu orang minta kesaksian kita, dan kita bilang kita TIDAK TAHU. Itu tak apa-apa. Karena kita pun hanya tahu sepotong, bukan seluruh cerita. Dikhawatirkan jika kita ikut campur, kita akan memperburuk suasana. Kita diizinkan berkata TIDAK TAHU.

Selain itu, bohong dosa, loh! 🙂

2. Ghibah.

Alias ngomongin orang. Definisi ghibah itu, kalau ngomongin seseorang saat orang itu gak ada, yang mana kalau orang itu dengar, dia akan sedih atau sakit hati. Kalau ngomongin kebaikan seseorang atau prestasi seseorang mah bukan ghibah namanya.

Termasuk mendengarkan ghibah! Sama aja dosanya, sama-sama melunturkan pahala puasa kita. Naudzubillah.

Ingat, ngomongin kejelekan orang itu, kalau salah jadi fitnah, kalau benar jadi ghibah. Mending diem deh ^_^

3. Namimah.

Alias mengadu domba, kayak kumpeni zaman old, gitu. Udah jelas, lah ya..

4. Sumpah palsu.

Kadang kita gampang banget dah bilang “billahi” atau “wallahu” di saat kita ngomong. Padahal kita gak sadar bahwa kita sedang bersumpah dengan nama Allah. Bahkan kadang kita bercanda dengan kata-kata itu. Naudzubillah. Mulai sekarang, gunakan kata-kata itu jika dan hanya jika kita sedang bersumpah atas nama Allah saja. Tidak dalam percakapan sehari-hari.

5. Melihat dengan pandangan syahwat.

Deuh, ini PR banget buat saya yang suka nonton drama korea. (;´・`)>

~~~

Nah, ini hal-hal yang membatalkan puasanya, bukan cuma pahalanya sih… Jadi kalau melakukan ini, wes makan dan minum aja lah.

1. Memasukan sesuatu ke 5 lubang: telinga, hidung, mulut, kemaluan depan, dan kemaluan belakang.

Mata tidak termasuk 5 lubang ini, karenanya memakai tetes mata tidak membatalkan puasa walaupun kita tahu, tetes mata pasti masuk ke mulut.

2. Membuka rongga yang tadinya tertutup dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Infus, Resipien donor darah, dan lain-lain. (Pendonor tidak batal puasa karena tak ada yang masuk). Suntikan obat tidak membatalkan puasa karena tidak dilakukan pada pembuluh darah.

3. Gila, Pingsan seharian, mabuk seharian.

Gila walau sesaat, membatalkan puasa. Pingsan dan mabuk yang cuma 2 jam tidak membatalkan puasa. Muntah yang tidak ditelan tidak membatalkan puasa.

4. Lupa/tidak niat puasa ramadan sebelum azan subuh.

Niat puasa ramadan bisa dilakukan selepas azan magrib. Namun bila sampai subuh tiba kita belum juga mengucapkan niat berpuasa, maka puasa kita batal dan harus diqodo’.

~~~

Tentang Qodo dan Fidyah.

Barangsiapa yang batal puasa karena dirinya sendiri (sakit, haid, nifas, lapar yang teramat sangat, haus yang teramat sangat, dll.) maka dia wajib mengganti (qodo’) puasanya di lain hari, tapi tidak wajib membayar fidyah.

Barangsiapa yang batal puasa karena orang lain (ibu menyusui yang bayinya mencret kalau ibunya puasa, ibu hamil yang ketubannya berkurang saat berpuasa, orang yang menyelamatkan orang lain yang hampir tenggelam lalu dia terminum air saat misi penyelamatan), maka dia wajib mengganti puasanya (qodo’), dan membayar fidyah sebesar 0,7kg per hari dia batal.

Kasus 1:

Seorang ibu menyusui tidak membayar puasanya selama 30 hari di tahun 2010, saat itu dia tidak tahu bahwa dia harus mengganti puasanya dan hanya membayar fidyah sebesar 21kg beras. Di tahun 2019 di menyadari bahwa dia salah, dan mengganti puasanya. Maka dia harus membayar fidyah sebesar (8 tahun x 30 hari x 0,7 kg) yaitu 168 kg beras. Untuk apa? untuk puasa yang lalai dia ganti selama ini.

Kasus 2:

Sang ibu sudah melunasi 30 hari utang puasanya di tahun 2019 namun dia belum sanggup membayar 168kg beras, dia hanya sanggup membayar 68kg, maka yang 100kg bisa dibayar di tahun berikutnya dan tidak terduplikasi.

Kasus 3:

Sang ibu hanya sanggup mengganti puasanya sebanyak 10 hari saja di tahun 2019. Maka dia wajib mengganti yang 20 hari di tahun berikutnya, diikuti membayar fidyah sebesar 20 hari x 0,7 kg beras.

Intinya utang yang belum terbayar dan melewati ramadan, jadi fidyah plus utang.

~~~

Puasa qodo’, boleh digabung dengan puasa syawal ataupun puasa sunnah lainnya. Cukup niat saja yang jelas, mau puasa apa. Jangan lupa, niat di malam hari untuk puasa qodo’. Puasa wajib boleh digabung dengan puasa sunnah, namun tak boleh digabung dengan puasa wajib lainnya.

~~~

Sunnah berbuka puasa: disegerakan

Sunnah sahur: diakhirkan (hati-hati dengan azan subuh)

Tarawih di masjid sebelah 23 rakaat, apa boleh saya ikut 8 rakaat lalu pulang dan witir di rumah? BOLEH.

Apa boleh saya ikut 10 rakaat lalu pulang dan melanjutkannya sampai 23 rakaat di rumah? BOLEH.

Bagaimana kalau saya ikut witir di masjid lalu mau tahajud dan witir lagi? Salat witir tinggal ditambahin aja, 2 rakaat, 4 rakaat, biar tetap jadi ganjil. Kan tadi sudah salat witir 3 rakaat di masjid.

~~~

Mandi wajib saat puasa. (Ini bahasan orang dewasa, silakan bijak dalam membaca)

Bagi perempuan yang haid dan nifas, sucinya dihitung sejak tak ada lagi darah menetes. Bila dia suci sebelum azan subuh, maka puasanya sah. Mandi setelah azan pun tak apa asal tetap dapat subuhan. Kalau setelah azan ada flek lagi, maka dia wajib mengganti puasa hari itu.

Bagi suami istri yang berhubungan, sucinya dihitung sejak selesainya.

Buat istri yang tidak mencapai klimak, pas di siang hari ia mendapati mani suaminya keluar lagi, maka dia tak wajib mandi. Namun, bila sang istri mencapai klimak, saat di siang hari ia mendapati mani suaminya keluar, maka dia wajib mandi karena dikhawatirkan maninya sendiri juga ikut di sana, karena mani perempuan itu keluarnya di rahim, dan bisa jadi tidak keluar dari tubuh.

~~~

Demikian pelajaran bulan ini. Jika ada pendapat lain atau gimana, silakan, nanti saya tanyakan lagi ke ustazah, ya.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. InsyaAllah puasa kita full pahala, aamiin.


Autonomi, Sebuah Aliran Rasa dari Game Level #1

19 April 2019

Game Level #1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Aliran Rasa

PhotoGrid_1555552275228

Tak terasa, sudah 17 hari berlalu sejak tantangan 10 hari Game Level #1 digulirkan. Sudah 15 tantangan dikerjakan. Saatnya saya menuliskan sebuah aliran rasa.

Semua bermula pada 25 Maret 2019 lalu, ketika fasil mengumumkan materi level 1, Kuliah Bunda Sayang, yaitu Komunikasi Produktif. Esoknya, tantangan digulirkan. Tantangan ini dikerjakan dari tanggal 28 Maret 2019 sampai dengan tanggal 7 April 2019. Tantangan berisi game, di mana kita harus menerapkan teori komunikasi produktif pada kehidupan sehari-hari kita, dan mengabadikannya melalui tulisan, video, atau gambar.

Menyenangkan rasanya, mengerjakan game demi game dalam level 1 ini. Teori komunikasi produktif dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak saya terapkan satu persatu.

Menyadari bahwa diri saya berada di tahap autonomi, dalam game level 1 ini, sungguh membuat saya bahagia. Tahap autonomi adalah tahap di mana saya menerapkan teori komunikasi produktif ini tak hanya berhenti di hari ke-10 melainkan melanjutkannya hingga hari ke-15. Sebenarnya hingga hari ke 17, namun saya tak punya akses ke laptop.

Tentang komunikasi dengan pasangan, saya, kami, kadang masih di fase orang tua, kadang di fase anak-anak, kadang di fase dewasa. Buat saya itu tak masalah, selama kami bisa mengatasinya bersama.

DSC_0718-01

Dan teruntuk anak saya tercinta, Abang Zimam, bahasa cinta kita ternyata bahasa sentuhan fisik, ya, Sayang. Kita senang sekali balugut. Jika Danda sedih, Abang Zimam memeluk Danda. Jika Abang Zimam sedih, Abang Zimam mencari Danda untuk dipeluk. Bahagia pun demikian.

Kata-kata mendukung juga menjadi motivasimu, Sayang. Panggilan sayang dari Danda, “Pintar”, untukmu, bisa meroketkan semangatmu. Tetaplah demikian, Sayang. Tetaplah maju.

Akhir kata, terima kasih untuk Tim Bunda Sayang yang telah merumuskan materi Komunikasi Produktif ini. Terima kasih telah mengingatkan kami untuk tetap memperbaiki diri. InsyaAllah, game selanjutnya, saya akan jadi lebih baik lagi. Aamiin.

#AliranRasaKomunikasiProduktif
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional

PS: Ingin membaca Game Level #1 Danda dari Hari pertama hingga hari kelima belas? Silakan klik tautan berikut:

Hari Pertama: https://yeptirani.wordpress.com/2019/03/29/komunikasi-produktif-dan-kemampuan-bercerita-anak/

Hari Kedua: https://yeptirani.wordpress.com/2019/03/30/gawai-dan-ilmu-alam-komunikasi-dengan-anak-jadi-seru/

Hari Ketiga: https://yeptirani.wordpress.com/2019/03/31/makan-di-mana-kita-ayah-abang-ayo-kita-diskusikan/

Hari Keempat: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/01/i-know-you-and-you-know-me-really/

Hari Kelima: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/02/pukul-berapa-sekarang/

Hari Keenam: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/03/bagaimana-kalau-kita-tidur-sekarang/

Hari Ketujuh: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/04/urusan-mandi-pun-perlu-dikomunikasikan-loh/

Hari Kedelapan: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/05/mari-bermain-teka-teki/

Hari Kesembilan: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/06/sembuh-dan-sehat-lagi-ya/

Hari Kesepuluh: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/07/what-are-you-doing/

Hari Kesebelas: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/08/filmnya-seru-kan/

Hari Kedua Belas: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/09/komunikasi-dengan-diri-sendiri/

Hari Ketiga Belas: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/10/mari-berbicara-yeptirani/

Hari Keempat Belas: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/11/time-capsule/

Hari Kelima Belas: https://yeptirani.wordpress.com/2019/04/12/bicara-yang-baik-atau-diam/

Alhamdulillah, Game Level #1 Komunikasi Produktif, Selesai. ^_^


Pesta Demokrasi Indonesia 2019

17 April 2019

Alhamdulillah, hari ini sudah tanggal 17 April 2019. H-10 resmi 35 kali saya mengelilingi matahari, hari di mana pesta demokrasi Indonesia digelar tiap lima tahun.

Pagi ini saya bangun seperti biasa, walau tahu saya harus berangkat ke TPS untuk memberikan suara.

Semalam, saya sudah menyiapkan fotokopi KTP dan KK untuk menemani form A5 saya dan suami. Ya, kami menggunakan form A5 karena kami terdaftar di TPS di kota Pangkalpinang, bukan di Jakarta. Padahal lima tahun yang lalu, kami mendapatkan formulir C6.

PicsArt_04-17-10.14.57

Saya berangkat ke TPS terdaftar pada pukul sepuluh pagi, kemudian ditolak dan diminta datang lagi pukul dua belas siang karena saya menggunakan formulir A5 dan masuk DPK. Selepas zuhur, saya kembali ke TPS dan sudah sepi. Tak lama mengantre, saya mendapatkan surat suara untuk memilih presiden dan wakil presiden. Saya tidak berhak memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD, karena pindah provinsi. Semoga lima tahun yang akan datang, saya bisa memilih lima surat suara (empat, untuk DKI Jakarta).

Saya masuk bilik suara, yang tak terlalu rahasia karena tiga perempat tertutup. Saya yakin bisa melihat orang lain mencoblos yang mana, saat saya melewati mereka. Gak sengaja, loh.

Setelah mencoblos pilihan saya (saya berhati-hati supaya mencoblos bukan di wajah mereka, hahaha), saya melipat kembali surat suara saya dan memasukkannya ke kotak presiden. Mencelupkan kelingking pada tinta, dan keluar. Alhamdulillah.

DSC_0718

Saya sudah menunaikan tugas saya sebagai warga negara. Apapun hasilnya, saya akan menerimanya sebagai takdir Allah subhanawataala.

Ah, jadi ingat akan cerita semut pada kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dongeng yang turun temurun diceritakan untuk anak-anak sebelum tidurnya.

Dikisahkan bahwa Raja Namrud memberi perintah untuk membakar Nabi Ibrahim alaihissalam. Seekor semut yang mendengarnya segera membuat wadah air atau bejana dan mengambil air di danau. Dengan susah payah ia mengangkut bejana itu menuju kota, tempat Sang Nabi di bakar.

Di jalan, ia bertemu dengan seekor gagak. Gagak pun bertanya, hendak kemanakah si semut pergi dengan susah payah membawa bejana berisi air. Semut menyampaikan maksud tujuannya, hendak membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Gagak mencemooh semut, ia berkata, air yang semut bawa tak akan cukup untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Namun semut berkata, paling tidak dengan air itu dia telah memutuskan di pihak mana dia berdiri, dan dia bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan di hari akhir nanti.

~~~

Di sinilah saya, bagaikan semut yang membawa setetes air. Saya tahu suara saya setara dengan setetes air. Menang tidaknya pilihan saya, bukan mutlak karena suara saya. Namun, paling tidak, saya telah memutuskan di mana saya berpihak, dan saya bisa mempertanggungjawabkan pilihan saya di hadapan Rabb di hari akhir nanti.

DSC_0721

Selamat menikmati pesta demokrasi Indonesia 2019. Untuk Indonesia yang lebih baik. ^_^

PS: itu hijab saya memang ungu, bukan ketumpahan tinta pemilu ^_^


Bicara yang Baik atau Diam

12 April 2019

Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #15

photogrid_1554832796427

Tema: Komunikasi dengan diri sendiri.

Partner Family Forum: Danda dan Abang Zimam.

Topik: Bicara yang baik atau diam.

Behind the Scene:

Waktu Danda beli bubur, tukang bubur tiba-tiba bertanya tentang plafon rumah yang bocor. Plus provokasi-provokasi yang menjurus ke adu domba Danda dengan tuan rumah. Setengah kaget, Danda segera mengakhiri percakapan dan pulang. Sepanjang jalan, Danda berpikir, itu tukang bubur tahu masalah rumah saya dari mana, ya?

Di lain kesempatan, Danda membaca kisah yang sedang viral saat ini. Perundungan terhadap anak SMP yang dilakukan oleh anak SMA. Bukan hanya perundungan verbal, namun juga penganiayaan fisik. Dengan pelaku yang tidak terlihat menyesal, dan korban yang takut melapor.

Kok wow, ya?

Misi: Belajar bicara baik, atau diam.

Waktu: Family time, 18-21.

dsc_0666-01

~~~

Zimam: Danda: hoaks itu apa, sih?

Danda: Berita bohong, Nak. Fitnah.

Zimam: Fitnah kok bisa dibilang lebih kejam dari pembunuhan?

Danda: Iya, karena kalau membunuh, orangnya meninggal, udah. Kalau memfitnah, orang yang difitnah bisa sengsara seumur hidupnya. Misalnya nih, si A, dia tidak mencuri tapi difitnah mencuri. Dia gak bisa membuktikan kalau dia tidak mencuri. Lalu dia dipenjara. Aturan dia latihan Tapak Suci, eh harus dipenjara, kan kasihan. Udah gitu, biasanya orang yang keluar dari penjara itu dijauhi orang lain. Belum lagi anak-anaknya, bakalan diejekin anak lainnya karena bapaknya dipenjara. Padahal kan bapaknya gak salah, tapi difitnah.

Zimam: Hoo, gitu ya?

Danda: Makanya, kita gak boleh memfitnah orang. Ngomongin orang lain juga gak boleh. Apalagi ngomongin kejelekan orang lain. Karena ngomongin kejelekan orang lain itu, kalau salah jadi fitnah, kalau benar jadi ghibah. Sama-sama dosa.

Zimam: Ghibah itu apa?

Danda: Ghibah itu ngomongin orang, ngegosip. Dosanya seperti makan bangkai saudaranya.

Zimam: Hiiii, kalau fitnah lebih kejam dari membunuh, kalau ghibah makan bangkai saudaranya. Kok mau, sih? Kan mentah.

Danda: Makanya, no ghibah, gak usah ngomongin kejelekan orang, kecuali untuk menyelamatkan orang lainnya.

Zimam: Menyelamatkan?

Danda: Misalnya, ada rumah yang punyanya kejam, setiap yang kerja di sana pasti dipukuli. Kalau kita nyebarin berita itu ke orang lain supaya mereka gak kerja di rumah itu, boleh. Asal bukan fitnah, loh, ya. Beneran kejadianya gitu. Tapi kalau gak benar ya fitnah jadinya.

Zimam: Oh, gitu.

Danda: Karena itu kita harus bicara yang baik-baik saja, ya! Kalau enggak, ya mendingan diam.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda berusaha mendengarkan semua cerita Abang Zimam dengan kosakata, diksi, dan pilihan kata positif.  Berusaha bicara yang baik, atau diam.

Hasil: Kami masih belajar. Membicarakan orang lain itu cuma dua, kalau salah jadinya fitnah, kalau benar jadinya ghibah. Dua-duanya dosa besar.

#hari15
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: Tulisan hari kesebelas sampai hari kelima belas memang tidak Danda bagi di instagram ^_^.


Time Capsule

11 April 2019

Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #14

photogrid_1554832664894

Tema: Komunikasi dengan diri sendiri.

Partner Family Forum: Yeptirani Hasanah Syari.

Topik: Time Capsule.

Behind the Scene:

Danda beberes laci meja kerja di kantor. Di situ ada sebuah kertas yang dibungkus plastik bening yang sepertinya sudah lama tak dibuka. Di luarnya ada sebuah kerta post it kuning dengan tulisan: “Jangan dibuka sebelum tahun 2018”. Sekarang sudah 2019, maka itu Danda membukanya.

Misi: Membawa energi positif ke dalam diri, hingga berefek pada tahun-tahun yang akan datang.

dsc_0665-01

~~~

Ternyata kertas tersebut adalah sebuah time capsule yang Danda buat di tahun 2016. Judul tulisan itu adalah “Apa yang akan terjadi pada Yeyep 2 tahun yang akan datang”. Ada banyak poin, namun, satu poin yang menarik perhatian Danda adalah tulisan “Ayah promosi kasi di kantor pusat.”

Danda langsung teringat tahun lalu, 2018, setahun setelah Ayah lulus pascasarjana dan telah mengikuti serangkaian tes hingga berstatus “ready now” untuk jadi kepala seksi. Kami berharap, dan tak punya impian Ayah diangkat di kantor pusat. Kami berharap kami pindah ke daerah. Ternyata Ayah dipromosi di kantor pusat, suatu pencapaian tersendiri untuk seorang pelaksana. Saat itu kami sedih, namun menerima hal itu sebagai takdir dari Allah (merujuk ke sesuatu yang tak kita minta namun terjadi pada kita).

Setelah membaca kertas tadi, Danda merasa malu. Penempatan Ayah di kantor pusat bukan semata-mata takdir Allah. Itu Danda yang minta, dan Allah mengabulkannya. Dan Danda sekali lagi terkagum pada kemisterian Penguasa Alam Semesta ini. Allah tahu apa yang terbaik, dan dari sekian banyak impian di time capsule tersebut, Allah mengabulkan beberapa yang baik untuk kami.

Hubungannya dengan komunikasi produktif, sebuah time capsule adalah bukti bahwa sikap positif kita hari ini, berpengaruh pada apa yang akan terjadi pada diri kita beberapa tahun yang akan datang. Karena itu, atur kosakata kita, pilih kata-kata yang membawa energi positif, dan mencerminkan kebaikan dalam diri kita.

Danda membuat satu time capsule baru yang berisi kejadian yang akan terjadi pada tahun 2021. Ingatkan Danda untuk membuka time capsule ini bersama-sama, di tahun 2022, ya. InsyaAllah.

~~~

Hasil: Hati-hati dalam berkata, bahkan dalam bermimpi. Kita tak kan tahu, mana impian yang dikabulkan Allah.

#hari14
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


Mari Berbicara, Yeptirani!

10 April 2019

Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #13photogrid_1554831041228

Tema: Komunikasi dengan diri sendiri.

Partner Family Forum: Yeptirani Hasanah Syari.

Topik: Memahami cara bicara diri sendiri.

Behind the Scene:

Di hari #12 saya menantang diri sendiri untuk memahami pola bicara dan berkomunikasi diri ini dengan orang lain. Beberapa pertanyaan diajukan untuk dipikirkan jawabannya.

Misi: Berhasil menerapkan komunikasi produktif sebagai kebiasaan sehari-hari.

img-20190409-wa0001-01

~~~

Kosakata kita adalah output struktur berpikir dan cara kita berpikir.

Kadang diri ini masih menganggap sebuah masalah adalah masalah. Namun, di lain kesempatan, diri ini mampu menjadikannya tantangan. Dan saya merasa jauh lebih menyenangkan jika masalah dianggap sebagai tantangan alih-alih sebagai masalah. Well, walau kadang saya memilih menghindari masalah tersebut. Sebisa mungkin diri ini berkata positif walau pikiran sedang di titik negatif. Karena setelah itu, pikiran mengikuti lidah, positif.

Kata-kata kita itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata kita.

Sejauh ini, saya memahami betapa menyenangkannya bila menganggap sebuah masalah sebagai tantangan, atau sebuah hal yang sulit sebagai hal yang menarik, atau mencari tahu tentang sesuatu yang tak saya tahu. Walau di satu titik jenuh, saya memilih menghindari masalah, hal sulit, atau sesuatu yang tak saya tahu.

Pemilihan diksi adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya.

Saya tipe orang yang berkata “jalanan penuh, ya.” alih-alih “macet”. Walau di lain kesempatan, saya masih menganggap sebuah gelas kosong setengah bukannya isi setengah. Namun, saya menyadari, ketika kita bersyukur, misal dengan memandang gelas isi setangah, kebahagiaan yang kita rasakan akan berlipat ganda. Demikian pula ketika saya berpikir, “Hore, satu game terlewati!” ketika saya berhasil menyelesaikan tantangan hari kesepuluh dan mengonfirmasi bagde YE untuk diri ini. Itu terasa jauh lebih menyenangkan ketimbang berpikir, “yah, masih sembilan game lagi.”

~~~

Hasil: Saya masih harus mengembangkan kemampuan komunikasi produktif saya, baik pada keluarga, maupun diri sendiri.

#hari13
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


Komunikasi dengan Diri Sendiri

9 April 2019

Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #12

photogrid_1554762403561

Tema: Komunikasi dengan diri sendiri.

Partner Family Forum: Yeptirani Hasanah Syari.

Topik: Bicara dengan diri sendiri.

Behind the Scene:

Setelah sekian hari, tibalah saya untuk kembali. Berkomunikasi pada diri sendiri. Apakah selama ini saya sudah berkomunikasi dengan produktif pada diri saya sendiri? Ataukah saya menyia-nyiakan diri ini?

Misi: Berbicara dengan baik pada Yeptirani Hasanah Syari.

dsc_0659-01

~~~

Kosakata kita adalah output struktur berpikir dan cara kita berpikir.

Hai, Yeptirani. Bagaimana dirimu berbicara dengan orang-orang di sekitarmu? Bagaimana bahasa yang Kamu pilih? Apakah bahasa lisanmu sebaik bahasan tulisanmu?

Kata-kata kita itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata kita.

Masih suka berkata “masalah”, atau sudah menggantinya dengan kata “tantangan”? Masih suka berkata “sulit”, atau sudah menggantinya dengan kata “menarik”? Masih suka berkata “aku tidak tahu”, atau sudah menggantinya dengan kata “ayo mencari tahu”?

Pemilihan diksi adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya.

Masih suka berkata “macet”, atau sudah menggantinya dengan “jalanan penuh”? Masih suka memandang gelas setengah kosong, atau memandanganya dengan setengah isi? Masih berpikir “masih sembilan game lagi”, atau “tinggal sembilan game lagi”?

~~~

Hasil: Saya masih mencari jawaban di atas. Saya yakin akan dapat jawabannya pada tulisan berikutnya.

#hari12
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional