Mengaji Bulan Ini, Serba-serbi Puasa

21 April 2019

Image-1

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk mengaji di bulan ini. Seharusnya, jadwal materi bulan ini adalah sunnah-sunnah wudu, tapi karena momennya mau Ramadan, maka bahasan bulan ini lompat ke puasa.

PUASA
Apa itu PUASA?

Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa juga berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa.

Pernah kan dengar sabda Rasul tentang orang yang berpuasa namun hanya dapat lapar dan haus saja? Itu karena dia tidak menahan dirinya dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa.

Apa saja hal-hal yang membatalkan pahala puasa?

1. Berbohong.

Dikatakan bahwa berbohong adalah bibitnya dosa besar. Segala dosa besar diawali dari berbohong. Karena itu jangan sekali-sekali kita terbiasa berbohong, apalagi saat kita berpuasa. Sayang amat, pahalanya luntur.

Berbohong ada yang dibolehkan, kok. Misalnya: berbohong untuk mendamaikan orang yang sedang bertengkar.

Misalnya si Ruqaya dan Fatima sedang bertengkar, kita ingin mendamaikan mereka. Kita datangi Ruqaya, dan bilang: “Aya, ada salam dari Fatima. Katanya dia menyesal sudah bertengkar sama kamu. Dia minta maaf tapi gak sempat melulu ke tempatmu, tau sendiri kan anaknya kecil-kecil. Tapi dia bilang ke aku kalau dia nyesel banget.”

Kemudian kita datangi Fatima dan bilang: “Tima, Ruqaya titip salam. Dia bilang dia nyesel banget untuk tengkar sama kamu. Dia mau minta maaf, cuma ibunya lagi sakit kan jadi harus jaga ibunya. Tapi dia bilang dia nyesel banget.”

Saat Ruqaya dan Fatima bertemu, mereka pun berbaikan karena merasa pihak lain sudah minta maaf duluan. Itu bohong yang diizinkan.

Bohong lain yang dibolehkan adalah bohong saat memuji pasangan. “Aih, Papah, kalau udah mandi gitu seger, kan ganteng kayak Shahruk Khan.” (Padahal di papah mah jauh banget dari SRK :D), itu bohong yang dibolehkan.

Atau, misal kita jadi saksi suatu kejadian namun hanya sepotong, lalu orang minta kesaksian kita, dan kita bilang kita TIDAK TAHU. Itu tak apa-apa. Karena kita pun hanya tahu sepotong, bukan seluruh cerita. Dikhawatirkan jika kita ikut campur, kita akan memperburuk suasana. Kita diizinkan berkata TIDAK TAHU.

Selain itu, bohong dosa, loh! 🙂

2. Ghibah.

Alias ngomongin orang. Definisi ghibah itu, kalau ngomongin seseorang saat orang itu gak ada, yang mana kalau orang itu dengar, dia akan sedih atau sakit hati. Kalau ngomongin kebaikan seseorang atau prestasi seseorang mah bukan ghibah namanya.

Termasuk mendengarkan ghibah! Sama aja dosanya, sama-sama melunturkan pahala puasa kita. Naudzubillah.

Ingat, ngomongin kejelekan orang itu, kalau salah jadi fitnah, kalau benar jadi ghibah. Mending diem deh ^_^

3. Namimah.

Alias mengadu domba, kayak kumpeni zaman old, gitu. Udah jelas, lah ya..

4. Sumpah palsu.

Kadang kita gampang banget dah bilang “billahi” atau “wallahu” di saat kita ngomong. Padahal kita gak sadar bahwa kita sedang bersumpah dengan nama Allah. Bahkan kadang kita bercanda dengan kata-kata itu. Naudzubillah. Mulai sekarang, gunakan kata-kata itu jika dan hanya jika kita sedang bersumpah atas nama Allah saja. Tidak dalam percakapan sehari-hari.

5. Melihat dengan pandangan syahwat.

Deuh, ini PR banget buat saya yang suka nonton drama korea. (;´・`)>

~~~

Nah, ini hal-hal yang membatalkan puasanya, bukan cuma pahalanya sih… Jadi kalau melakukan ini, wes makan dan minum aja lah.

1. Memasukan sesuatu ke 5 lubang: telinga, hidung, mulut, kemaluan depan, dan kemaluan belakang.

Mata tidak termasuk 5 lubang ini, karenanya memakai tetes mata tidak membatalkan puasa walaupun kita tahu, tetes mata pasti masuk ke mulut.

2. Membuka rongga yang tadinya tertutup dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Infus, Resipien donor darah, dan lain-lain. (Pendonor tidak batal puasa karena tak ada yang masuk). Suntikan obat tidak membatalkan puasa karena tidak dilakukan pada pembuluh darah.

3. Gila, Pingsan seharian, mabuk seharian.

Gila walau sesaat, membatalkan puasa. Pingsan dan mabuk yang cuma 2 jam tidak membatalkan puasa. Muntah yang tidak ditelan tidak membatalkan puasa.

4. Lupa/tidak niat puasa ramadan sebelum azan subuh.

Niat puasa ramadan bisa dilakukan selepas azan magrib. Namun bila sampai subuh tiba kita belum juga mengucapkan niat berpuasa, maka puasa kita batal dan harus diqodo’.

~~~

Tentang Qodo dan Fidyah.

Barangsiapa yang batal puasa karena dirinya sendiri (sakit, haid, nifas, lapar yang teramat sangat, haus yang teramat sangat, dll.) maka dia wajib mengganti (qodo’) puasanya di lain hari, tapi tidak wajib membayar fidyah.

Barangsiapa yang batal puasa karena orang lain (ibu menyusui yang bayinya mencret kalau ibunya puasa, ibu hamil yang ketubannya berkurang saat berpuasa, orang yang menyelamatkan orang lain yang hampir tenggelam lalu dia terminum air saat misi penyelamatan), maka dia wajib mengganti puasanya (qodo’), dan membayar fidyah sebesar 0,7kg per hari dia batal.

Kasus 1:

Seorang ibu menyusui tidak membayar puasanya selama 30 hari di tahun 2010, saat itu dia tidak tahu bahwa dia harus mengganti puasanya dan hanya membayar fidyah sebesar 21kg beras. Di tahun 2019 di menyadari bahwa dia salah, dan mengganti puasanya. Maka dia harus membayar fidyah sebesar (8 tahun x 30 hari x 0,7 kg) yaitu 168 kg beras. Untuk apa? untuk puasa yang lalai dia ganti selama ini.

Kasus 2:

Sang ibu sudah melunasi 30 hari utang puasanya di tahun 2019 namun dia belum sanggup membayar 168kg beras, dia hanya sanggup membayar 68kg, maka yang 100kg bisa dibayar di tahun berikutnya dan tidak terduplikasi.

Kasus 3:

Sang ibu hanya sanggup mengganti puasanya sebanyak 10 hari saja di tahun 2019. Maka dia wajib mengganti yang 20 hari di tahun berikutnya, diikuti membayar fidyah sebesar 20 hari x 0,7 kg beras.

Intinya utang yang belum terbayar dan melewati ramadan, jadi fidyah plus utang.

~~~

Puasa qodo’, boleh digabung dengan puasa syawal ataupun puasa sunnah lainnya. Cukup niat saja yang jelas, mau puasa apa. Jangan lupa, niat di malam hari untuk puasa qodo’. Puasa wajib boleh digabung dengan puasa sunnah, namun tak boleh digabung dengan puasa wajib lainnya.

~~~

Sunnah berbuka puasa: disegerakan

Sunnah sahur: diakhirkan (hati-hati dengan azan subuh)

Tarawih di masjid sebelah 23 rakaat, apa boleh saya ikut 8 rakaat lalu pulang dan witir di rumah? BOLEH.

Apa boleh saya ikut 10 rakaat lalu pulang dan melanjutkannya sampai 23 rakaat di rumah? BOLEH.

Bagaimana kalau saya ikut witir di masjid lalu mau tahajud dan witir lagi? Salat witir tinggal ditambahin aja, 2 rakaat, 4 rakaat, biar tetap jadi ganjil. Kan tadi sudah salat witir 3 rakaat di masjid.

~~~

Mandi wajib saat puasa. (Ini bahasan orang dewasa, silakan bijak dalam membaca)

Bagi perempuan yang haid dan nifas, sucinya dihitung sejak tak ada lagi darah menetes. Bila dia suci sebelum azan subuh, maka puasanya sah. Mandi setelah azan pun tak apa asal tetap dapat subuhan. Kalau setelah azan ada flek lagi, maka dia wajib mengganti puasa hari itu.

Bagi suami istri yang berhubungan, sucinya dihitung sejak selesainya.

Buat istri yang tidak mencapai klimak, pas di siang hari ia mendapati mani suaminya keluar lagi, maka dia tak wajib mandi. Namun, bila sang istri mencapai klimak, saat di siang hari ia mendapati mani suaminya keluar, maka dia wajib mandi karena dikhawatirkan maninya sendiri juga ikut di sana, karena mani perempuan itu keluarnya di rahim, dan bisa jadi tidak keluar dari tubuh.

~~~

Demikian pelajaran bulan ini. Jika ada pendapat lain atau gimana, silakan, nanti saya tanyakan lagi ke ustazah, ya.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. InsyaAllah puasa kita full pahala, aamiin.