Pesta Demokrasi Indonesia 2019

Alhamdulillah, hari ini sudah tanggal 17 April 2019. H-10 resmi 35 kali saya mengelilingi matahari, hari di mana pesta demokrasi Indonesia digelar tiap lima tahun.

Pagi ini saya bangun seperti biasa, walau tahu saya harus berangkat ke TPS untuk memberikan suara.

Semalam, saya sudah menyiapkan fotokopi KTP dan KK untuk menemani form A5 saya dan suami. Ya, kami menggunakan form A5 karena kami terdaftar di TPS di kota Pangkalpinang, bukan di Jakarta. Padahal lima tahun yang lalu, kami mendapatkan formulir C6.

PicsArt_04-17-10.14.57

Saya berangkat ke TPS terdaftar pada pukul sepuluh pagi, kemudian ditolak dan diminta datang lagi pukul dua belas siang karena saya menggunakan formulir A5 dan masuk DPK. Selepas zuhur, saya kembali ke TPS dan sudah sepi. Tak lama mengantre, saya mendapatkan surat suara untuk memilih presiden dan wakil presiden. Saya tidak berhak memilih anggota DPR, DPRD, dan DPD, karena pindah provinsi. Semoga lima tahun yang akan datang, saya bisa memilih lima surat suara (empat, untuk DKI Jakarta).

Saya masuk bilik suara, yang tak terlalu rahasia karena tiga perempat tertutup. Saya yakin bisa melihat orang lain mencoblos yang mana, saat saya melewati mereka. Gak sengaja, loh.

Setelah mencoblos pilihan saya (saya berhati-hati supaya mencoblos bukan di wajah mereka, hahaha), saya melipat kembali surat suara saya dan memasukkannya ke kotak presiden. Mencelupkan kelingking pada tinta, dan keluar. Alhamdulillah.

DSC_0718

Saya sudah menunaikan tugas saya sebagai warga negara. Apapun hasilnya, saya akan menerimanya sebagai takdir Allah subhanawataala.

Ah, jadi ingat akan cerita semut pada kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dongeng yang turun temurun diceritakan untuk anak-anak sebelum tidurnya.

Dikisahkan bahwa Raja Namrud memberi perintah untuk membakar Nabi Ibrahim alaihissalam. Seekor semut yang mendengarnya segera membuat wadah air atau bejana dan mengambil air di danau. Dengan susah payah ia mengangkut bejana itu menuju kota, tempat Sang Nabi di bakar.

Di jalan, ia bertemu dengan seekor gagak. Gagak pun bertanya, hendak kemanakah si semut pergi dengan susah payah membawa bejana berisi air. Semut menyampaikan maksud tujuannya, hendak membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Gagak mencemooh semut, ia berkata, air yang semut bawa tak akan cukup untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Namun semut berkata, paling tidak dengan air itu dia telah memutuskan di pihak mana dia berdiri, dan dia bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan di hari akhir nanti.

~~~

Di sinilah saya, bagaikan semut yang membawa setetes air. Saya tahu suara saya setara dengan setetes air. Menang tidaknya pilihan saya, bukan mutlak karena suara saya. Namun, paling tidak, saya telah memutuskan di mana saya berpihak, dan saya bisa mempertanggungjawabkan pilihan saya di hadapan Rabb di hari akhir nanti.

DSC_0721

Selamat menikmati pesta demokrasi Indonesia 2019. Untuk Indonesia yang lebih baik. ^_^

PS: itu hijab saya memang ungu, bukan ketumpahan tinta pemilu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: