Sembuh dan Sehat Lagi, Ya!

6 April 2019

Game Level 1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #9

photogrid_1554470565768Tema: Komunikasi dengan anak

Partner Family Forum: Abang Zimam anak Ayah dan Danda yang sedang sakit mata

Topik: Sembuh dan sehat lagi!

Masalah: Sejak Abang Zimam pulang dengan mata bengkak Selasa lalu, berangsur-angsur mata Ayah dan Danda juga ikutan bengkak. Puncaknya hari ini, mata Danda gatal bukan kepalang, sehingga Danda izin cuti sakit. Daripada sekantor kena sakit mata juga, mending istirahat dan ke dokter, kan? Ayah juga sama, gak masuk kantor. Kami bertiga kompakan sakit mata.

Misi: Minum obat dari dokter secara teratur agar lekas sembuh

Waktu: Family time (almost week end, karena sekeluarga bolos), all day after visiting the doctor.

dsc_0647-01

~~~

Zimam: Danda, kalau Abang Zimam sujud, matanya kayak mau jatuh.

Danda: Mata Abang sakit, ya? Perih sekali, kah? Memang begitu, Nak, kalau kita sakit mata. Waktu rukuk atau sujud, matanya kayak berat gitu. Tapi, insyaAllah kalau kita ikhlas, ini salah satu peluntur dosa kita, Bang.

(Abang Zimam sudah mendapat pelajaran tentang dosa dan penghapus dosa dari Danda, Ayah, dan guru agama di kelas, jadi Danda tak perlu membahas lebih panjang lagi sekarang.)

Danda: Abang, ayuk minum obat. Sekarang sudah waktunya minum obat.

Zimam: Obatnya tablet, ya, Danda?

Danda: Iya, Abang bisa, kan? Minum obat tablet?

Zimam: (ragu-ragu)

Danda: Abang pasti bisa. Minum satu-satu. Letakkan di pangkal lidah lalu dorong dengan air. Ambil puding di kulkas untuk dimakan setelah minum obat, gin! Terserah Abang mau yang rasa apa.

Zimam: Minum satu-satu, kan?

Danda: Iya, minum satu-satu (Dandanya dek-dekkan).

Zimam: Alhamdulillah, satu masuk. Satu lagi.

(Dua tablet sudah ditelan Abang Zimam, tinggal tetes matanya)

Danda: Yuk, pakai obat tetesnya dulu baru makan puding. Soalnya, obat tetes matanya juga pahit.

(Danda meneteskan obat ke mata Abang Zimam, dia mulai merasa pahit lalu segera makan puding manisnya)

Zimam: Kok bisa, sih, tetes mata terasa pahit? Kan gak ditelan?

Danda: Karena mata, hidung, dan mulut kita punya saluran penghubung, Nak. Obat tetes mata itu akan masuk ke saluran hidung, dari hidung masuk mulut, kemudian kerongkongan. Karena lewat di pangkal lidah, otomatis rasa pahit akan terasa. Abang kan sudah tahu, kalau perasa pahit kita ada di pangkal lidah?

Zimam: Iya tahu. Oh, pantasan saja. Pahit banget. (meringis sambil makan puding)

Danda: Abang hebat, loh. Sudah bisa minum obat tablet sendiri, Gak pakai digerus dulu sama Danda. Terus Abang juga hebat, sudah mau minum dan pakai obat tepat waktu. Cool!

Zimam: Abang Zimam kan pengen cepat sembuh, Danda.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda berempati pada Abang Zimam yang mengadu kalau kesakitan saat salat (mengganti kalimat yang mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati).

Danda mengajak Abang Zimam minum obat (mengatakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan).

Danda mendukung Abang Zimam minum obat tablet sendiri (mengganti kata “tidak bisa” menjadi kata “bisa”).

Danda juga mengajarkan bagaimana cara minum obat tablet (fokus pada solusi bukan masalah).

Ketika Abang Zimam bertanya kenapa obat tetes mata terasa pahit, Danda menjelaskan alurnya dengan bahasa yang sederhana (Keeping information short and simple/KISS).

Danda memuji Abang Zimam yang bisa minum obat tablet sendiri (jelas dalam memberikan pujian).

Hasil: Alhamdulillah, obatnya sudah diminum Abang Zimam. Danda tak perlu lagi menggerus obat tiap kali Abang Zimam sakit dan harus minum oba tablet.

#hari9
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: Silakan lihat preview tulisan ini di instagram Danda, ya ^_^