Komunikasi Produktif dan Kemampuan Bercerita Anak

29 Maret 2019

Game Level #1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #1

picsart_03-28-10.04.48

Tema: Komunikasi dengan anak.

Partner Family Forum: Abang Zimam, 8 tahun, Anak pertama (sekaligus satu-satunya setelah adiknya meninggal) dari Ayah dan Danda.

Topik: Menyampaikan informasi dari sekolah.

Masalah: Abang Zimam adalah anak yang super cuek. Dia juga pelupa. Ditanya pun kadang jawabannya seadanya. Sehingga jarang sekali informasi dari sekolah disampaikan langsung ke Danda. Akibatnya, informasi tentang sekolah sering sekali terlambat Danda terima. Jika ada orang tua siswa lain yang berbaik hati berbagi di grup, baru Danda tahu info itu. Ini harus diperbaiki. Abang Zimam harus bisa menyampaikan sendiri informasi sekolahnya pada Danda.

Misi: berkomunikasi dengan Abang Zimam agar dia mau bercerita tentang sekolahnya.

Waktu: family time, 19-21.

dsc_0579-01

~~~

Danda: Abang sini, deh. Abang tahu, gak? Danda mau berbagi rahasia sama Abang.

Zimam: rahasia apaan?

Danda: sini dulu! (mendudukkan Abang Zimam di hadapan Danda, sama-sama bersila), Danda pingin bilang sama Abang, sebenarnya, Danda tuh sedih kalau dengar informasi tentang sekolahan dari bunda guru, atau dari buk mia (mbak di rumah), atau dari mamanya N. Danda sukanya dengar dari Abang Zimam langsung.

Zimam: kenapa?

Danda: karena Danda memang pinginnya bisa tukar cerita dengan Abang, eh, Abangnya gak mau cerita. Kan sedih, ya? Abang cerita donk, kalau ditanya sama Danda, ya.

Zimam: Caranya gimana?

Danda: gampang, kok. Abang cukup ceritakan sejak Abang sampai di sekolah tuh Abang ketemu siapa saja, lalu main apa saja. Terus, misal baris di depan siapa. Terus di kelas, bunda guru ngajarin apa. Apa ada yang lucu di kelas, atau ada yang ngeselin. Terus jam istirahat mainnya apa, makan di mana, beli apa di kantin sehat. Gitu-gitu aja. Yang biasa-biasa aja kayak gitu. Kalau Abang cerita secara urut, informasi dari bunda guru biasanya gak akan kelewat, loh. Abang gak akan lupa, bunda titip pesan apa saja ke Danda.

Zimam: oh, gitu doank?

Danda: iya. Sekarang coba deh Danda nanya, ya. Hari ini Abang Zimam ngapain aja, sih, di sekolah? Pasti seru, ya? Soalnya tadi pagi Abang buru-buru ingin berangkat ke sekolah, kan?

Zimam: (bercerita runut sejak dia tiba di sekolah sampai kembali ke rumah, Danda menangapi antusias)

Danda: tuh, kan. Abang bisa. Danda tahu, kok, kalau Abang itu bisa cerita. Abang kan anak pintar. Abang pintar sekali, sudah bisa bercerita dengan baik. Besok dan seterusnya, janji, ya, kalau Danda bertanya tentang hari ini, Abang cerita ya.

Zimam: iya, janji.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda mengajak Abang Zimam berbicara berhadapan, dengan suara tenang (mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah/rumus 7-38-55).

Danda berkata bahwa Danda akan sangat senang kalau tau informasi tentang sekolah Abang Zimam langsung dari Abang Zimam sendiri dan bukan dari orang lain(mengatakan apa yang diinginkan, bukan apa yang tak diinginkan).

Danda mengajarkan Abang Zimam, bagaimana cara menceritakan keseharian di sekolah (fokus pada solusi bukan pada masalah).

Kami mempraktikkan hal ini, Danda bertanya pada Abang Zimam tentang keseharian di sekolah, Abang Zimam mencoba bercerita, Danda pun memberi apresiasi positif atas cerita Abang Zimam (mengganti kalimat interogasi menjadi pernyataan observasi, dan memberi pujian dengan jelas).

Output: Abang Zimam sudah mulai bisa dan mau bercerita tentang pengalamannya di sekolah. Janji telah diucapkan antara Danda dan Abang Zimam, besok dan seterusnya, Abang Zimam akan bercerita tentang sekolahnya, sehingga Danda akan tahu informasi tentang sekolah Abang Zimam bukan dari orang lain, melainkan dari Abang Zimam sendiri.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: preview tulisan ini bisa dillihat di instagram Danda, loh ^_^