Makan di Mana, Kita? Ayah, Abang, Ayo Kita Diskusikan!

31 Maret 2019

Game Level #1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #3

photogrid_1553823609163

Tema: Komunikasi Keluarga

Partner Family Forum: Ayah dan Abang Zimam

Topik: Memilih tempat untuk makan malam

Masalah: Pemilihan tempat makan ini kadang jadi masalah rumit buat Ayah, Danda, dan Abang Zimam. Kadang kami ingin sesuatu tapi tak tahu apa itu. Kadang juga Abang Zimam takut harus “bertanggung jawab” jika dia memilih suatu restoran. Akhirnya sering keluar kata “terserah”. Dan itu makin membuat rumit pengambilan keputusan.

Misi: Menentukan tempat makan malam dengan cepat.

Waktu: Family time on week end, all day.

photogrid_1553964670273

~~~

Danda: Kita makan keluar, yuk. Kan makan siang udah di rumah, Danda masak. Makan malamnya di luar, ya.

Ayah: Boleh, mau makan di mana?

Danda: Makan di mana, Bang? (bertanya ke Abang Zimam)

Zimam: Ayam kodok, dong, Danda. Tapi Abang Zimam gak mau makan ayam kodok di rumah. Maunya makan di restorannya.

Danda: (browsing restoran dengan menu ayam kodok, tapi ternyata hanya untuk pesta karena porsinya yang besar sekali).

Danda: Bang, ayam kodok itu ternyata besar banget. Gak banyak restoran yang jual. Ada pun buat pesta, gak buat kita yang cuma bertiga. Kalau dikirim ke rumah, banyak yang jual. Katering-katering gitu. Gimana?

Zimam: Ya sudah, deh, makan ayam kodoknya di rumah aja. (cemberut)

Danda: Sekarang Abang maunya makan apa?

Zimam: Terserah. (waduh, mulai dah!)

Danda: Ayah mau makan apa?

Ayah: Ayah apa aja boleh.

Danda: Danda mau kepiting.

Ayah: Kepiting yang waktu itu?

Danda: Iya.

Ayah: Oke. Abang gimana?

Zimam: Ya sudah gak papa. Kepiting yang itu. Habis magrib tapi, ya!

Ayah: Oke.

Danda: Sip.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda mengajak makan di luar di akhir pekan (choosing the right time).

Danda menjelaskan bahwa tak banyak restoran yang menyajikan menu ayam kodok untuk keluarga kecil (keeping the information short and simple).

Danda mengambil keputusan untuk memilih kepiting sebagai menu makan makan (mengatakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan/fokus pada solusi bukan masalah).

Danda meminta persetujuan Ayah dan Abang Zimam atas pilihan ini (menerapkan kaidah clear and clarify).

Semua percakapan dilakukan dengan suasana santai dan suara lembut (menggunakan suara ramah/rumus 7-38-55)

Hasil: Keputusan tempat makan malam keluarga dapat diambil jauh lebiih cepat dan diterima dengan baik oleh seluruh anggota keluarga.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: Preview tulisan ini bisa dilihat di instagram Danda, loh ^_^


Gawai dan Ilmu Alam, Komunikasi dengan Anak Jadi Seru

30 Maret 2019

Game Level #1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #2

photogrid_1553823118369

Tema: Komunikasi dengan Anak.

Partner Family Forum: Abang Zimam anak shalih.

Topik: Berhenti main tablet setelah satu jam.

Masalah: Di akhir pekan, Abang Zimam diizinkan main tablet sebagai hadiah kerja kerasnya selama hari sekolah. Namun, hanya satu jam saja. Setelah itu, istirahatkan mata selama delapan jam baru boleh main tablet lagi. Seringnya, pas dia sedang seru-serunya membangun rumah di gim Blockcraft, atau sedang merekam vlog episode terbaru, waktu main sudah habis. Kalau sudah begitu, biasanya dia rewel dan cari-cari masalah. Menghabiskan sumbu sabar Danda.

Misi: Membuat Abang Zimam memahami alasan dibalik aturan “satu jam bersama gawai” yang Danda terapkan.

Waktu: Family time, 19-21.

dsc_0582-01

~~~

Danda: Abang, ayuk makan!

Zimam: (masih malas-malasan, rewel, semaunya sendiri).

Danda: Sini, duduk dulu. Ayuk makan dulu!

Zimam: Habis makan boleh main tablet lagi, ya.

Danda: Danda gak janji, tapi sini duduk dulu! Kita makan dulu, sambil Danda mau cerita.

Zimam: (akhirnya duduk di tempat makannya).

Danda: Abang tahu, kan? Kalau Danda pakai kacamata?

Zimam: Tahu.

Danda: Tahu kalau Danda lepas kacamata, Danda sulit melihat?

Zimam: Tahu.

Danda: Iya, ya. Abang kan pernah nanya ke Ayah, “di kacamata ada apanya, kok orang yang gak bisa lihat pas pakai kacamata, terus bisa lihat?” ya, kan?

Zimam: Iya. (pertanyaan tentang kacamata memang datang dari Abang Zimam semasa dia di kelas 1 SD).

Danda: Nah, Abang tahu, sebabnya Danda harus pakai kacamata?

Zimam: Apa? (mulai tertarik)

Danda: Waktu Danda kecil, Nini gak tahu kalau layar yang bersinar terang itu bisa merusak mata. Jadi Danda dibiarin aja menonton tivi lama-lama. Akhirnya mata Danda rusak karena kelelahan.

Zimam: (protes) Tapi Abang Zimam kan gak nonton tivi.

Danda: Iya. Itu karena di zaman dulu, belum ada tablet, Nak. Tivinya pun gak setipis sekarang. Tivinya gendut, perutnya buncit ke belakang. Tapi bahayanya sama dengan gawai, baik tablet atau hape. Sama-sama membuat mata turun kemampuan kerjanya. Akhirnya perlu bantuan kacamata, deh.

Zimam: (diam, masih protes).

Danda: Sekarang, coba Abang tanya ke mata Abang, deh! Mata… kamu capai, kan? Pengin istirahat, kan?

Zimam: (menggerak-gerakkan bola matanya ke kiri kanan seakan-akan menggeleng)

Danda: Gak pengin istirahat? Gapapa mata sakit?

Zimam: (kembali menggerak-gerakkan bola matanya ke kiri kanan)

Danda: Nah, itu mata gak pengin sakit. Makanya istirahat dulu, ya, mata. Nanti, delapan jam lagi, boleh main tablet lagi. Kan besok masih hari Sabtu. Sekarang, Abang Zimam makan dulu ya mata. Biar bisa ngasih makan mata juga. Biar mata sehat, ya. Mata mau istirahat biar sehat, atau terus main lalu sakit?

Zimam: Istirahat dulu, kata mata.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda mengajak Abang Zimam mengobrol sambil makan malam agar suasana nyaman (mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah/rumus 7-38-55).

Danda bercerita tentang masa kecil Danda dan salah satu penyebab Danda berkacamata saat ini (mengganti nasihat menjadi refleksi pengalaman).

Danda mengajak “mata” berbicara, bertanya apa dia sudah lelah (mengganti kalimat menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati).

Danda memberi pilihan pada “mata” untuk istirahat atau lanjut bermain (mengganti kalimat perintah dengan pilihan).

Hasil: Abang Zimam memahami aturan “satu jam bersama gawai” yang Danda terapkan. Abang Zimam berhenti rewel minta main tablet dan mencari kesibukan lainnya.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: Preview tulisan ini bisa dilihat di instagram Danda, loh ^_^


Komunikasi Produktif dan Kemampuan Bercerita Anak

29 Maret 2019

Game Level #1: Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif
Hari #1

picsart_03-28-10.04.48

Tema: Komunikasi dengan anak.

Partner Family Forum: Abang Zimam, 8 tahun, Anak pertama (sekaligus satu-satunya setelah adiknya meninggal) dari Ayah dan Danda.

Topik: Menyampaikan informasi dari sekolah.

Masalah: Abang Zimam adalah anak yang super cuek. Dia juga pelupa. Ditanya pun kadang jawabannya seadanya. Sehingga jarang sekali informasi dari sekolah disampaikan langsung ke Danda. Akibatnya, informasi tentang sekolah sering sekali terlambat Danda terima. Jika ada orang tua siswa lain yang berbaik hati berbagi di grup, baru Danda tahu info itu. Ini harus diperbaiki. Abang Zimam harus bisa menyampaikan sendiri informasi sekolahnya pada Danda.

Misi: berkomunikasi dengan Abang Zimam agar dia mau bercerita tentang sekolahnya.

Waktu: family time, 19-21.

dsc_0579-01

~~~

Danda: Abang sini, deh. Abang tahu, gak? Danda mau berbagi rahasia sama Abang.

Zimam: rahasia apaan?

Danda: sini dulu! (mendudukkan Abang Zimam di hadapan Danda, sama-sama bersila), Danda pingin bilang sama Abang, sebenarnya, Danda tuh sedih kalau dengar informasi tentang sekolahan dari bunda guru, atau dari buk mia (mbak di rumah), atau dari mamanya N. Danda sukanya dengar dari Abang Zimam langsung.

Zimam: kenapa?

Danda: karena Danda memang pinginnya bisa tukar cerita dengan Abang, eh, Abangnya gak mau cerita. Kan sedih, ya? Abang cerita donk, kalau ditanya sama Danda, ya.

Zimam: Caranya gimana?

Danda: gampang, kok. Abang cukup ceritakan sejak Abang sampai di sekolah tuh Abang ketemu siapa saja, lalu main apa saja. Terus, misal baris di depan siapa. Terus di kelas, bunda guru ngajarin apa. Apa ada yang lucu di kelas, atau ada yang ngeselin. Terus jam istirahat mainnya apa, makan di mana, beli apa di kantin sehat. Gitu-gitu aja. Yang biasa-biasa aja kayak gitu. Kalau Abang cerita secara urut, informasi dari bunda guru biasanya gak akan kelewat, loh. Abang gak akan lupa, bunda titip pesan apa saja ke Danda.

Zimam: oh, gitu doank?

Danda: iya. Sekarang coba deh Danda nanya, ya. Hari ini Abang Zimam ngapain aja, sih, di sekolah? Pasti seru, ya? Soalnya tadi pagi Abang buru-buru ingin berangkat ke sekolah, kan?

Zimam: (bercerita runut sejak dia tiba di sekolah sampai kembali ke rumah, Danda menangapi antusias)

Danda: tuh, kan. Abang bisa. Danda tahu, kok, kalau Abang itu bisa cerita. Abang kan anak pintar. Abang pintar sekali, sudah bisa bercerita dengan baik. Besok dan seterusnya, janji, ya, kalau Danda bertanya tentang hari ini, Abang cerita ya.

Zimam: iya, janji.

~~~

Metode yang dipakai:

Danda mengajak Abang Zimam berbicara berhadapan, dengan suara tenang (mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah/rumus 7-38-55).

Danda berkata bahwa Danda akan sangat senang kalau tau informasi tentang sekolah Abang Zimam langsung dari Abang Zimam sendiri dan bukan dari orang lain(mengatakan apa yang diinginkan, bukan apa yang tak diinginkan).

Danda mengajarkan Abang Zimam, bagaimana cara menceritakan keseharian di sekolah (fokus pada solusi bukan pada masalah).

Kami mempraktikkan hal ini, Danda bertanya pada Abang Zimam tentang keseharian di sekolah, Abang Zimam mencoba bercerita, Danda pun memberi apresiasi positif atas cerita Abang Zimam (mengganti kalimat interogasi menjadi pernyataan observasi, dan memberi pujian dengan jelas).

Output: Abang Zimam sudah mulai bisa dan mau bercerita tentang pengalamannya di sekolah. Janji telah diucapkan antara Danda dan Abang Zimam, besok dan seterusnya, Abang Zimam akan bercerita tentang sekolahnya, sehingga Danda akan tahu informasi tentang sekolah Abang Zimam bukan dari orang lain, melainkan dari Abang Zimam sendiri.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

PS: preview tulisan ini bisa dillihat di instagram Danda, loh ^_^


Game Level #1 Komunikasi Produktif

28 Maret 2019

photogrid_1553592899499

Komunikasi Produktif? Apa itu komunikasi produktif?

Menurut wikipedia, Komunikasi adalah “suatu proses di mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”. Komunikasi produktif adalah bentuk komunikasi yang baik sehingga kita dapat menyampaikan informasi dengan efektif dan efisien.

Dalam tantangan 10 hari pada game level #1 di Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional ini, kami diajak untuk membuat family forum dan menerapkan komunikasi produktif di dalamnya.

Komunikasi Produktif ini tak hanya pada keluarga (pasangan dan anak)namun juga pada diri sendiri. Bahkan ini tantangan terberatnya, berkomunikasi dengan diri sendiri.

Dari berbagai macam kaidah komunikasi, kami diajak untuk fokus ke beberapa kaidah saja. Sementara kaidah itu bekerja, kami mempraktikkan ilmu ini.

Kaidah tersebut antara lain:

  • Clear and clarify. Menyusun pesan yang ingin kita sampaikan dengan baik, dan mudah dipahami, serta memberi kesempatan untuk mengklarifikasi bila ada hal yang tak dipahami.
  • Choose the right time. Memilih waktu yang tepat dan suasana yang nyaman dalam menyampaikan pesan.
  • Kaidah 7-38-55. Menurut Albert Mehrabian, perasaan dan sikap (feeling) berpengaruh hanya 7% dalam keberhasilan komunikasi, komponen lain yang memengaruhi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%), jadi, sesuaikan intonasi dan bahasa tubuh agar pesan dapat diterima dengan baik.
  • Intensity of eye contact. Mata adalah jendela hati, itu betul. Tataplah mata partner komunikasi kita agar pesan dapat diterima dengan baik.
  • I’m responsible for my communication result. Hasil dari komuniksi adalah tanggung jawa pemberi pesan, bukan sang penerima. Apabila penerima pesan salah memahami isi pesan, maka itu artinya sang pemberi pesan gagal dalam misinya.

Kaidah-kaidah di atas, jika diterapkan, akan dapat membantu penyampaian pesan dalam komunikasi.

Untuk anak-anak, karena mereka adalah pribadi yang unik dengan gaya komunikasi yang unik juga, ada beberapa metode komunikasi yang dapat diterapkan, antara lain:

  • KISS (Keep Information Short and Simple)
  • Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang TIDAK KITA INGINKAN.
  • Fokus ke depan, bukan masa lalu
  • Ganti kata “tidak bisa” menjadi “bisa”
  • Fokus pada solusi bukan pada masalah
  • Jelas dalam memberi pujian dan kritikan
  • Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
  • Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
  • Ganti kalimat yang menola/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
  • Ganti perintah dengan pilihan.

Demikian kaidah dan metode dalam komunikasi produktif. Tulisan ini bukan tulisan lengkap, hanya saduran dari materi level #1 Kelas Bunda Sayang Batch #5 Institut Ibu Profesional. Namun, saya tetap berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. 🙂

~~~

Setelah ini, para mahasiswi diberi tantangan selama 10 hari untuk mempraktikkan metode dan kaidah komunikasi produktif ini pada keluarga. Semangat!

#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang


Tampil di Depan Umum, Siapa Takut?

24 Maret 2019

Selama 2 kali Sabtu berturut-turut, tanggal 16 dan 23 Maret 2019, Zimam kami daftarkan untuk mengikuti Pelatihan Junior Publuc Speaker di Rumah Psikologi Giera (@rumahpsikologigiera). Alasannya karena waktu story telling di LIA Pramuka beberapa waktu lalu, suara Zimam nyaris tak terdengar. Sepertinya dia demam panggung.

Foto dari Syari (夏日), Yeptirani

Seperti biasa, sebelum didaftarkan, saya menanyakan pendapatnya dulu. Maukah ikut, Kenapa ikut, Apa manfaatnya jika ikut. Hal-hal tersebut selalu kami paparkan sebelum mendaftarkan Zimam ke sebuah acara. Tujuannya agar Zimam merasa nyaman dan tak terpaksa mengikutinya.

Setelah pemaparan kami sampaikan dan Zimam setuju, barulah saya mendaftarkannya dalam acara ini.

DSC_0556

Sesi pertama dilakukan pada hari Sabtu, 16 Maret 2019. Acara dimulai pukul 09.00 WIB di Rumah Psikologi Giera di Komplek Sekneg Cempaka Putih. Kami terlambat tiba saat itu. 15 menit terlambat. Namun karena masih awal, dan masih perkenalan, Zimam dapat berbaur dengan baik.

Orang tua diminta tidak menemani anak-anaknya. Karena itu saya dan Ayah Zimam pun berkeliling mencari sarapan, mengingat yang sudah sarapan di rumah ya hanya Zimam 🙂

Pilihan sarapan kami jatuh pada Soto Ambengan Pak Sadi. Review? Kapan-kapan, ya. Hehe.

Pukul setengah 11 siang, kami diminta kembali ke Rumah Psikologi Giera untuk mendengarkan presentasi anak. Ternyata anak-anak diminta menggambar dan mempresentasikan gambarnya. Zimam lancar dan singkat dalam presentasinya. Hahaha.

DSC_0543

Kemudian kami pun pulang.

Sabtu berikutnya, 23 Maret 2019, kami kembali ke Rumah Psikologi Giera. Anak-anak kembali ditinggal, dan kami kembali sarapan di Soto Ambengan Pak Sadi. Setengah 11, kami kembali ke Giera dan mendapati anak-anak sudah siap dengan presentasinya.

Ternyata anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok, di mana masing-masing kelompok bertugas mewawancarai seorang pedagang di sekitar Giera. Ada tukang mi ayam, tukang jus, dan tukang sayuran. Zimam kebagian kelompok yang mewawacarai tukang mi ayam.

DSC_0559

Presentasi Zimam atas wawancara dengan Tukang Mi Ayam-nya cukup bagus dan lancar. Bahkan saya tak percaya bahwa dia sebegitu lancarnya, bila dibandingkan dengan saat di LIA, sih. Hahaha.

Secara keseluruhan, kami merekomendasikan acara semacam ini untuk perkembangan kepribadian anak. Jika ada yang seperti ini lagi, kami mempertimbangkan mengikut sertakan Zimam kembali.

^_^


NHW PraBunSay #4, Aktualisasi Diri

22 Maret 2019

Maka di Ibu Profesional semua ibu adalah bekerja, apakah itu berkerja di ranah publik, atau ranah domestik.

-Tim Prabunsay IIP

Pada Nice Homework #4 Prabunda-sayang ini, kami diajak untuk mengaktualisasikan diri. Di mana pun ranah kerja kita, baik di ranah publik (seperti saya), atau ranah domestik.

Hidup kita tergantung pada keputusan yang kita ambil. Serta tanggung jawab atas keputusan tersebut. Jalani itu dengan sungguh-sungguh sehingga kita tidak terjebak pada mom-war “ibu kantoran vs ibu rumahan”.

Every mom has her own battle, win yours without being down to other!

-Tim Prabunsay IIP

Karena sesungguhnya, berkarya dan menjaga amanah mendidik anak bisa dilakukan beriringan, kok. Tanpa ada yang dikorbankan satu sama lain.

Untuk itu, pada NHW kali ini, semua mahasiswi diajak untuk mem-branding diri. Ingin dikenal sebagai apakah, saya?

Karenanya, tugas kali ini adalah membuat kartu nama.

Sedikit terkejut… karena sudah lama saya berencana membuat kartu nama saya sendiri. Ya, saya PNS. Namun, dengan kedudukan sebagai pelaksana, saya belum diizinkan memiliki kartu nama sendiri. Kartu nama Kementerian Keuangan hanya boleh dimiliki oleh pejabat eselon IV ke atas (ya, Bang Izul sudah boleh punya kartu nama). Sedang saya masih berpikir 3-15 kali untuk menerima tawaran menjadi pejabat, mengingat kemampuan multitasking saya yang tidak sehebat itu.

Sebenarnya, saya sudah memiliki kartu nama atas nama d’BC Network. Sebagai Beauty Influencer di Oriflame. Namun, saat ini, saya ingin dikenal sebagai penulis, dan ibu profesional.

_20190321_211525_20190321_211556-01

Kartu nama sebagai beauty influencer di Oriflame

Kartu nama sebagai Ibu Profesional jika memasang logo komunitas, harus mengikuti aturan komunitas. Namun, jika hanya memasang profesi sebagai Ibu Profesional, katanya tidak apa-apa. Horee…

Tapi untuk kartu ini, saya minta bantuan teman saya yang jago desain. Mbak Suci Amanda tercinta… ❤(◍•ᴗ•◍)❤

Foto dari Syari (夏日), Yeptirani (1)Foto dari Syari (夏日), Yeptirani

Desain dari Mbak Suci Amanda (@sakinah_diary)

Selain itu, saya juga ingin dikenal sebagai penulis. *aduh, maunya apa sih?* ^_^

Jadi, saya mencoba membuat sebuah kartu nama, dengan bantuan beberapa aplikasi di tablet saya. Picsart dan Canva.

1

Yeptirani Syari_Name Card Page 1

tampak depan

Yeptirani Syari_Name Card Page 2

tampak belakang

Desain kartu nama di atas, murni buatan saya. Menurut teman-teman, mana yang lebih bagus, tampak depan pertama atau kedua?

Saya sungguh tidak menyangka, impian punya kartu nama langsung terwujud (dengan ilmu kepepet) karena tugas dari kelas Prabunsay ini. 🙂

Senangnya.


NHW PraBunSay #3, Selesaikan Masa Lalu

19 Maret 2019

Ini Nice Homework paling sulit menurut saya. Saya masih berkutat dengan masa lalu saya. Saya masih belum selesai dengan masa lalu saya. Dan saya dipaksa menyelesaikannya dalam dua hari? (⁎˃ᆺ˂)

Dengan susah payah saya menyusun PR ini satu demi satu, akhirnya berhasil juga. Walau kualitas entah jadi nomor berapa. Karena sejujurnya, ini NHW yang paling malas saya kerjakan.

Selesaikan Masa Lalu, Menjadi Pribadi Berhati Lembut, Hangat, dan Pemaaf

Tahap pertama, kami disuruh menyusuk tabel Lifeline. Kemudian, dari tabel tersebut, kami diajak untuk menganalisis dengan VAKOG dan TFAN. Lalu diajak membuat JEMBATAN MIZAN. Kemudian diajak merenung, mencari visi, dan ingin jadi apa kita nanti?

Bingung? Ya, awalnya saya juga bingung (ditambah menolak juga), namun setelah saya menjalani setahap demi setahap, saya bisa juga menyusunnya.

LIFELINE TABLE

LIFELINE KOSONG

Lifeline table adalah tabel untuk menulis peristiwa-peristiwa bersejarah di kehidupan kita dengan menyertakan emosi di dalamnya.

ANALISIS VAKOG DAN TFAN

VAKOG adalah Visual (indera penglihatan), Auditory (indera pendengaran), Kinestetik (indera peraba), Olfactory (indera penciuman), dan Gustatory (indera perasa).

Sedang TFAN adalah Thinking, Feeling, Action Tendency, dan Needs.

Peristiwa dengan skor terendah dianalisis dengan metode-metode di atas dan mempelajarinya sehingga kita hari ini menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mengambil pelajaran daripadanya.


JEMBATAN MIZAN

Caranya dengan membandingkan bagian kiri dan kanan dari selembar kertas. Bagian kiri berisi efek buruk dari peristiwa yang dialami, bagian kanan diisi dengan efek baik peristiwa tersebut.

Peristiwa dengan skor terendah (-5):

Dimarahi ibu di depan kelas karena nilai turun 1 poin, walau masih ranking 1

Kelas 2 Caturwulan 2 SMP.

Bagian Kiri

Bagian Kanan

1. Rendah diri

2. Merasa dipermalukan

3. Sulit membela diri

4. Mudah takut saat ada orang marah

1. Tahu bahwa seorang anak juga punya harga diri dan berhati-hati akan hal itu

2. Belajar membela diri sehingga tak ada lagi yang berani menginjak harga diri saya

3. Berani melawan saat ada orang berbicara dengan nada keras di dekat saya

4. Mandiri, berusaha tak butuh bantuan orang lain

5. Mencari beasiswa sehingga bisa sekolah SMA di luar rumah

6. Masuk SMA Taruna Nusantara dan memiliki banyak sekali koneksi sesama alumni

7. Masuk STAN dan langsung bekerja sebagai PNS

8. Menikah dan memiliki anak laki-laki yang dididik untuk menghargai harga diri orang lain

Renungan:

Ini adalah hal yang paling memalukan dalam hidup saya. Saya pernah diludahi kakek dan diludahi teman, tapi saya masih merasa ini lebih memalukan. Saya bertekad menjadi orang tua yang tidak seperti ibu saya. Orang tua yang mau mendengarkan nasihat anaknya. Orang tua yang tidak merasa paling benar, dan mau minta maaf dengan ikhlas. Tidak seperti ibu saya yang alih-alih minta maaf melainkan selalu cari-cari alasan.

Sejujurnya, beberapa metode parenting ibu saya adalah standar buruk buat saya. Beliau ada bagusnya, ada baiknya, namun, yang buruk dari beliau saya garis bawahi sehingga tak saya ulangi lagi.

Dengan standar itu, saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dari beliau.

Visi terbaik saya di masa depan:

Saya ingin berbagi ilmu, untuk itu saya harus menjadi orang yang mudah ikhlas.

Pribadi yang saya inginkan:

Saya ingin menjadi orang yang mudah melupakan kesalahan orang lain dan mudah memaafkan

~~~

Demikian NHW#3 Selesai.