NHW#5 Belajar Cara Belajar

MENGENAL DIRI SENDIRI

Sebelum saya bisa menentukan cara belajar seperti apa yang akan saya jalani, saya mencari tahu, seperti apa diri saya. Setelah sedikit berselancar di dunia maya, saya menemukan sebuah artikel tentang Tipe Kinestetik yang saya rasa sangat sesuai dengan kepribadian saya saat ini.

Orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan sentuhan. Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik. Ciri-ciri orang dengan tipe belajar kinestetik yaitu:

clip_image001 Berbicara dengan perlahan

clip_image001[1] Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat berbicara

clip_image001[2] Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang

clip_image001[3] Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak

clip_image001[4] Belajar melalui memanipulasi dan praktik

clip_image001[5] Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

clip_image001[6] Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca

clip_image001[7] Banyak menggunakan isyarat tubuh

clip_image001[8] Tidak dapat diam untuk waktu yang lama

clip_image001[9] Tidak dapat mengingat geografis, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu.

clip_image001[10] Menyukai permainan yang menyibukkan

clip_image001[11] Mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca, suka mengetuk-ngetuk pena, jari, atau kaki saat mendengarkan

clip_image001[12] Ingin melakukan segala sesuatu

clip_image001[13] Kemungkinan tulisannya jelek

(DePetter dan Hearchi, 2003)

Karena saya akan lebih mudah memahami suatu masalah jika saya melihat praktiknya, juga saya lebih mudah menjelaskan sesuatu kepada orang lain, jika saya mempraktikkannya.

Sesuai dengan NHW#4 kemarin, saya ingin jadi penulis profesional dalam 6 tahun ke depan. Saya ingin bisa berbagi ilmu lewat tulisan saya. Dan saat ini, saya sedang menyusun cara-cara belajar untuk si tipe kinestetik yang bisa saya pakai untuk belajar.

image002

image004

Fasilitas yang tersedia bagi saya dalam proses belajar menjadi penulis profesional, adalah:

clip_image001[52] Sekolah perempuan yang memastikan muridnya akan menerbitkan buku solo

clip_image001[53] Tablet Samsung Galaxy Tab S 10.1 Inchi dan Keyboard bluetooth untuk mengetk naskah

clip_image001[54] Aplikasi Evernote yang terhubung dengan alamat surat elektronik agar bisa mengerjakan naskah baik di tablet maupun di telepon genggam

clip_image001[55] Program Kelas Matrikulasi IIP Batch 6

Fasilitas yang belum tersedia bagi saya, dan harus saya usahakan agar ada, ialah:

clip_image001[56] Waktu khusus untuk menulis

clip_image001[57] Suasana tenang yang mendukung datangnya ide

clip_image001[58] Sandaran punggung

Fasilitas yang kurang di atas, bisa diusahakan ada dengan cara:

clip_image001[59] Meminta izin pada suami untuk begadang miksimal 2 jam setiap malam untuk mengerjakan naskah

clip_image001[60] Menyiapkan bahan-bahan naskah dan tema-tema tulisan sejak pagi

clip_image001[61] Menulis poin-poin tersebut di sebuat notes ringan

clip_image001[62] Mengerjakan naskah di saat semua orang tidur

Mendekat ke dinding rumah saat lembur mengerjakan naskah

~~~

MENGENAL AZZIMAM WIRACATHA ZULKIFLI (ABANG ZIMAM)

Kami memanggilnya “Abang” sejak ia diketahui berjenis kelamin laki-laki di dalam kandungan. Karena dia akan lahir sebagai anak pertama yang akan dihormati seluruh adiknya. Saat ini Abang Zimam berusia tujuh tahun, menjelang delapan di bulan Oktober nanti. Hobinya adalah menggambar dengan bolpoin atau pensil di kertas bekas yang sering saya bawa dari kantor. Dia duduk di kelas 2 SD dan sebentar lagi akan belajar perkalian dan pembagian.

Waktu kecil, Abang Zimam bercita-cita ingin menjadi seorang pilot pesawat tempur. Kemudian di masa TK B, cita-citanya berubah ingin menjadi tentara. Dan sekarang ia ingin menjadi ilmuwan serta atlet lari. Dia suka berlari, bisa berbahasa inggris, suka bermain silat (tapak suci), dan suka memimpin.

Abang Zimam tak suka menghafal, juga tak suka mewarnai. Saya seperti melihat bayangan saya di diri Abang Zimam, karena kemiripan kami.

Tapi Zimam adalah anak dengan tipe visual. Ia tak butuh orang untuk menjelaskan, asal dia bisa mempelajarinya, maka ia bisa. Namun, seperti saya, Zimam juga tak punya motivasi dari dalam diri, harus ada reward and punishment agar dia berkarya.

Target saya atas Abang Zimam sebagai seorang ibu adalah membersamainya belajar dengan bahagia.

Sebagai kegiatan pengembangan untuknya, fasilitas yang sudah tersedia adalah:

clip_image001[74] Musala yang terletak di dekat rumah sehingga Zimam bisa salat berjamaah 5 waktu

clip_image001[75] Kursus bahasa Inggris EF untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggrisnya

clip_image001[76] Sekolah berbasis Islam untuk penanaman akhlak baik sejak dini

clip_image001[77] Membacakan cerita sebelum tidur setiap hari, lalu berdiskusi tentang cerita tersebut

clip_image001[78] Waktu bermain di luar, yaitu setelah salat asar hingga menjelang magrib agar dia bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, juga agar tubuhnya bergerak

clip_image001[79] Makanan sehat sepanjang hari

clip_image001[80] Waktu tidur yang cukup

Fasilitas yang belum tersedia dan diusahakan ada, ialah:

clip_image001[81] Sekolah atlet untuk belajar berlari secara profesional

clip_image001[82] Kursus berenang (mulai masuk musim hujan, kursus berenang biasanya libur)

clip_image001[83] Kegiatan pengisi kebosanan saat belum waktunya main di luar ataupun saat hari hujan

clip_image001[84] Fasilitas antar jemput dari satu venue kegiatan ke venue kegiatan berikutnya

Fasilitas yang kurang di atas, bisa diusahakan ada dengan cara:

clip_image001[85] Mencari kursus berlari yang tak jauh dari rumah

clip_image001[86] Menitipkan Zimam pada guru olah raganya dan menceritakan keinginan Zimam untuk jadi pelari

clip_image001[87] Mencari tempat kursus berenang indoor

clip_image001[88] Sering-sering menelepon Zimam dan minta dia membuatkan saya sesuatu dari lego-legonya

clip_image001[89] Berlangganan tukang ojek bulanan, mencari orang sekitar rumah yang memang sudah dikenal keluarga untuk mengantarkan Zimam dari satu venue ke venue lainnya

Dalam praktik keseharian ini, saya bersama suami dan Zimam sudah melaksanakan hal ini secara “learning by doing”. Ilmu yang membuat saya bersemangat mempelajarinya yaitu ilmu berbagi ilmu pada masyarakat sekitar, baik nyata maupun maya.

~~~

Jakarta, 2 (masuk 3) September 2018,

Ttd.

Yeptirani Syari

Mahasiswi Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: