NHW #3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Ini sesi yang bikin galau, deh. Karena pekan ini NHW #3 menyuruh mahasiswi untuk menulis surat cinta pada suami.

What? Surat cinta? Surat cinta yang itu?

Iya. Benar-benar surat cinta. Jatuh cintalah pada suami! Begitu perintahnya. ^_^

Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa menulis surat cinta pada suami itu ternyata membutuhkan keberanian tersendiri. Saya suka drama korea. Ada banyak gombalan di dalamnya. Tapi tetap saja, kalau saya harus menggombal, butuh keberanian. 😀

Akhirnya surat cinta 3 halaman itu berhasil saya tulis dan saya serahkan ke suami tercinta. Apa isinya? Maaf, yang itu confidential ^_^

NHW kali ini mengajak saya melihat potensi dari diri saya sendiri, potensi suami, potensi anak, potensi lingkungan, dan mencari kira-kira rahasia Tuhan mana yang menjadi peran kami di muka bumi. Sungguh tugas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Yeptirani Syari_NHW3_Jakarta4

Kamis, 16 Agustus 2018

Sebelum terlelap, saya serahkan sepucuk surat cinta tugas NHW#3 kepada suami saya. Malu rasanya, karena saya belum pernah menulis surat cinta padanya sebelumnya. Kami bertemu di zaman milenial. Di mana sms dan telepon murah sudah menjadi pemersatu pasangan yang terpisah jarak. Kami bertemu di masa di mana kantor ekspedisi barang lebih mudah ditemukan ketimbang kantor pos, apalagi bus surat. Sungguh, menulis surat bukanlah hal yang mudah.

Setelah beberapa kali menyobek kertas bekas yang saya pakai untuk menulis konsep surat, saya akhirnya bisa menuliskan sebuah surat cinta dengan kertas Hello Kitty cantik kesukaan saya. Dalam bayangan saya, suami saya cuma akan mengangguk-angguk tanpa ekspresi ketika membacanya. Ternyata saya salah.

Malam itu sudah larut, suami saya memasuki kelambu tidur kami setelah menidurkan si sulung. Saya menyerahkan surat itu. Dia membacanya. Awalnya sambil bercanda. Saya pun merajuk. Lalu dia membaca dalam diam. Kemudian memeluk saya sambil berkata, “terima kasih, ya. Aku suka dikasih surat seperti ini. Aku orangnya tidak ekspresif, kamu pandai menulis, aku suka sekali membaca surat kamu, istriku.”

Air mata saya tiba-tiba menetes. Saya terharu. Saya tidak menyangka tanggapannya demikian. Saya jatuh cinta lagi pada suami saya, yang jatuh cinta lagi pada saya.

~~~

Namanya Azzimam Wiracatha Zulkifli, pemimpin yang disiplin, cerdas, dapat mengayomi, dan dapat diberi amanah. Dia anak pertama kami.

Sejak lahir dia bukan anak yang merepotkan. Jika orang tua lain begadang saat baru punya bayi, kami tidur lelap, karena Zimam hampir tak pernah bangun malam. Saat anak lain rewel di waktu sakit, Zimam diam saja, sesekali meringis menahan sakit, membuat kami berdua akhirnya meringis menahan sakit di dada karena melihat anak yang tidak mengeluh.

Zimam anak yang patuh dan mudah diberi tahu. Mungkin karena contoh dari kami berdua juga. Dia anak yang pemberani dan penyayang. Suka memeluk dan mencium orang tuanya walau usianya tak kecil lagi. Dia juga penyayang kucing.

Kami tak pernah menuntut Zimam menjadi anak yang pandai, tapi ternyata nilainya tertinggi di kelasnya. Kami tak pernah menuntut dia menonjol, tapi ternyata dia menjadi ketua kelas. Kami tak pernah menuntut dia berbakat di segala bidang, tapi ternyata dia dipilih mewakili sekolahnya untuk lombah story telling yang diadakan oleh LIA, juga kandidat atlet Pencak Silat Tapak Suci untuk PORDA, namun kami tahan untuk tidak ikut karena padatnya jadwal latihan. Kami melihat banyak bakat di dalam dirinya yang tak kami ketahui sebelumnya.

Jangan suruh dia mewarnai. Dia tak tahan duduk diam lebih dari 7 menit, 1 menit kali usianya sekarang. Jangan pula suruh dia menyanyi, nanti telinga kita akan sakit karena dia buta nada, seperti ibunya.

Saya melihat calon pemimpin masa depan dalam diri Zimam. Kini tugas kami, orang tuanya. Memupuk bakat itu, hingga dia benar-benar jadi pemimpin yang adil seperti Nabi Zulkifli a.s.

~~~

Saya Yeptirani Syari, anak pertama dari dua bersaudara. Dilahirkan dengan keluarga utuh sampai berusia 8 tahun. Hidup hanya dengan ibu dan adik perempuan sampai berusia 14 tahun. Lalu merantau menempuh pendidikan di luar rumah sampai menikah di usia 24 tahun.

Saya suka menulis. Suka berimajinasi karena kehidupan saya yang tidak sempurna membuat saya berimajinasi menyempurnakan kehidupan saya, sehingga menghasilkan suatu cerita fiksi. Saya juga seorang introvert yang sulit berkawan namun nyaman diajak bicara.

Saya mengakui bahwa saya orang yang cerdas. Selalu ranking 1 sejak SD sampai SMP lalu diterima di SMA terfavorit zaman itu, SMA Taruna Nusantara. Saya rasa kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menciptakan generasi cerdas berikutnya, karena gen kecerdasan turun dari ibu. Saya hadir dengan mengemban tugas menurunkan gen cerdas yang saya miliki. Saya meyakini itu.

Ibu adalah sekolah pertama. Saya sekarang meyakini, kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menjadi guru pertama bagi anak-anak kami bahkan sejak mereka dalam kandungan. Karena itu suami saya dapat bekerja dengan tenang karena anak-anaknya telah berada di tangan yang tepat. Guru pertama mereka, ibunya.

~~~

Saya tinggal di tengah Kota Jakarta dengan kehidupan Kampung Betawi. Sampai saat ini, inilah lingkungan favorit saya. Di kampung ini pulalah, anak kedua saya berbaring untuk selamanya. Saya bermimpi menjadikan kampung ini menjadi kampung halaman baru kami. Kampung ini kampung yang cukup sempurna, saya merasa terberkahi berada di lingkungan ini.

Saya pikir, Allah ingin saya lebih mudah bersosialisasi, karena itu saya ditempatkan di sini. Saya bermimpi membuka sebuah perpustakaan tanpa asap rokok untuk tempat nongkrong anak-anak muda di kampung ini. Mungkin sebuah kursus bahasa Inggris gratis juga.

Ada banyak anak yatim dan kurang mampu yang seumur dengan Zimam di sini. Saya juga bermimpi bisa menyekolahkan salah satu dari mereka.

Semoga impian saya diridai Allah Subhanawataala. Aamiin.

~~~

Dari semua hal di atas, saya rasa saya bisa menyimpulkan bahwa keluarga kami adalah keluarga pembelajar dan hadir untuk mengajak orang lain belajar bersama kami. Banyak impian yang saya punya, semoga semuanya bisa menjadi kenyataan, satu demi satu.

~~~

NHW#3 End

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: