NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

27 Agustus 2018

Reviu dan lakukan, itu tugas di Nice Homework sesi 4 kali ini.

Slide1

Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini Anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, Anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

↓↓↓↓↓

Jurusan dalam Universitas Kehidupan yang akan saya ditekuni adalah Jurusan Manajemen Waktu dan Jurusan Kebahagiaan. Jika boleh saya menambah jurusan yang bias saya tekuni, saya ingin menekuni Jurusan Berbagi Ilmu. Karena ternyata saya sangat suka membagi ilmu yang saya punya, kepada orang lain.

Namun jika tiga jurusan dirasa terlalu banyak, maka saya memilih Jurusan Berbagi Ilmu dan Jurusan Kebahagiaan, saya meninggalkan Jurusan Manajemen Waktu karena saya yakin di jurusan baru nanti, manajemen waktu tetap dapat saya pelajari.

Slide2

Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri Anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

↓↓↓↓↓

Sejujurnya, beberapa poin dalam daftar di samping, masih belum dapat saya penuhi dengan baik. Saya masih berteriak pada anak di saat saya rasa dia tak mau mendengarkan saya, saya masih belum konsisten salat di awal waktu, masih bolos salat Duha di akhir pekan, masih sering tidak tidur siang di hari kerja sehingga saya pulang ke rumah dalam keadaan lesu.

Tapi saya berjanji pada diri saya, untuk terus melaksanakan daftar tersebut. Agar lingkungan dapat melunak pada saya.

Slide3

Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup Anda akan makin terlihat.

↓↓↓↓↓

Sebagai orang introvert yang tidak mudah menyapa orang lain terlebih dahulu, saya jadi aktif di dunia maya. Saya menemukan peran saya di sana. Peran sebagai pembagi ilmu kebaikan.

Bukan di lingkungan sekitar rumah saya, namun di dunia maya. Saya harap hal ini bisa dihitung sama saja, sama-sama mengaktualisasikan diri, dan menjalankan peran kehidupan.

Misi hidup: Berbagi ilmu kebaikan kepada orang lain

Bidang: Penulisan

Peran: Pengajar Daring

Slide4

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

↓↓↓↓↓

Untuk menjadi ahli di Bidang Kepenulisan, maka ilmu-ilmu yang harus saya kuasai adalah:

Bunda Sayang: Ilmu-ilmu Pendidikan Anak Usia Dini

Bunda Cekatan: Ilmu-ilmu seputar manajemen waktu dan emosi

Bunda Produktif: Ilmu-ilmu kepenulisan dan penerbitan buku solo komersial

Bunda Shaleha: Ilmu-ilmu tentang berbagi manfaat kepada orang lain

Slide5

Milestone dalam Menjalankan Misi Hidup

Slide6

To-do-list berikutnya adalah:

•Reviu checklist yang sudah dibuat, dan sesuaikan dengan misi hidup saat ini;

•Lakukan, lakukan, lakukan.

Slide7



NHW #3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

20 Agustus 2018

Ini sesi yang bikin galau, deh. Karena pekan ini NHW #3 menyuruh mahasiswi untuk menulis surat cinta pada suami.

What? Surat cinta? Surat cinta yang itu?

Iya. Benar-benar surat cinta. Jatuh cintalah pada suami! Begitu perintahnya. ^_^

Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa menulis surat cinta pada suami itu ternyata membutuhkan keberanian tersendiri. Saya suka drama korea. Ada banyak gombalan di dalamnya. Tapi tetap saja, kalau saya harus menggombal, butuh keberanian. 😀

Akhirnya surat cinta 3 halaman itu berhasil saya tulis dan saya serahkan ke suami tercinta. Apa isinya? Maaf, yang itu confidential ^_^

NHW kali ini mengajak saya melihat potensi dari diri saya sendiri, potensi suami, potensi anak, potensi lingkungan, dan mencari kira-kira rahasia Tuhan mana yang menjadi peran kami di muka bumi. Sungguh tugas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Yeptirani Syari_NHW3_Jakarta4

Kamis, 16 Agustus 2018

Sebelum terlelap, saya serahkan sepucuk surat cinta tugas NHW#3 kepada suami saya. Malu rasanya, karena saya belum pernah menulis surat cinta padanya sebelumnya. Kami bertemu di zaman milenial. Di mana sms dan telepon murah sudah menjadi pemersatu pasangan yang terpisah jarak. Kami bertemu di masa di mana kantor ekspedisi barang lebih mudah ditemukan ketimbang kantor pos, apalagi bus surat. Sungguh, menulis surat bukanlah hal yang mudah.

Setelah beberapa kali menyobek kertas bekas yang saya pakai untuk menulis konsep surat, saya akhirnya bisa menuliskan sebuah surat cinta dengan kertas Hello Kitty cantik kesukaan saya. Dalam bayangan saya, suami saya cuma akan mengangguk-angguk tanpa ekspresi ketika membacanya. Ternyata saya salah.

Malam itu sudah larut, suami saya memasuki kelambu tidur kami setelah menidurkan si sulung. Saya menyerahkan surat itu. Dia membacanya. Awalnya sambil bercanda. Saya pun merajuk. Lalu dia membaca dalam diam. Kemudian memeluk saya sambil berkata, “terima kasih, ya. Aku suka dikasih surat seperti ini. Aku orangnya tidak ekspresif, kamu pandai menulis, aku suka sekali membaca surat kamu, istriku.”

Air mata saya tiba-tiba menetes. Saya terharu. Saya tidak menyangka tanggapannya demikian. Saya jatuh cinta lagi pada suami saya, yang jatuh cinta lagi pada saya.

~~~

Namanya Azzimam Wiracatha Zulkifli, pemimpin yang disiplin, cerdas, dapat mengayomi, dan dapat diberi amanah. Dia anak pertama kami.

Sejak lahir dia bukan anak yang merepotkan. Jika orang tua lain begadang saat baru punya bayi, kami tidur lelap, karena Zimam hampir tak pernah bangun malam. Saat anak lain rewel di waktu sakit, Zimam diam saja, sesekali meringis menahan sakit, membuat kami berdua akhirnya meringis menahan sakit di dada karena melihat anak yang tidak mengeluh.

Zimam anak yang patuh dan mudah diberi tahu. Mungkin karena contoh dari kami berdua juga. Dia anak yang pemberani dan penyayang. Suka memeluk dan mencium orang tuanya walau usianya tak kecil lagi. Dia juga penyayang kucing.

Kami tak pernah menuntut Zimam menjadi anak yang pandai, tapi ternyata nilainya tertinggi di kelasnya. Kami tak pernah menuntut dia menonjol, tapi ternyata dia menjadi ketua kelas. Kami tak pernah menuntut dia berbakat di segala bidang, tapi ternyata dia dipilih mewakili sekolahnya untuk lombah story telling yang diadakan oleh LIA, juga kandidat atlet Pencak Silat Tapak Suci untuk PORDA, namun kami tahan untuk tidak ikut karena padatnya jadwal latihan. Kami melihat banyak bakat di dalam dirinya yang tak kami ketahui sebelumnya.

Jangan suruh dia mewarnai. Dia tak tahan duduk diam lebih dari 7 menit, 1 menit kali usianya sekarang. Jangan pula suruh dia menyanyi, nanti telinga kita akan sakit karena dia buta nada, seperti ibunya.

Saya melihat calon pemimpin masa depan dalam diri Zimam. Kini tugas kami, orang tuanya. Memupuk bakat itu, hingga dia benar-benar jadi pemimpin yang adil seperti Nabi Zulkifli a.s.

~~~

Saya Yeptirani Syari, anak pertama dari dua bersaudara. Dilahirkan dengan keluarga utuh sampai berusia 8 tahun. Hidup hanya dengan ibu dan adik perempuan sampai berusia 14 tahun. Lalu merantau menempuh pendidikan di luar rumah sampai menikah di usia 24 tahun.

Saya suka menulis. Suka berimajinasi karena kehidupan saya yang tidak sempurna membuat saya berimajinasi menyempurnakan kehidupan saya, sehingga menghasilkan suatu cerita fiksi. Saya juga seorang introvert yang sulit berkawan namun nyaman diajak bicara.

Saya mengakui bahwa saya orang yang cerdas. Selalu ranking 1 sejak SD sampai SMP lalu diterima di SMA terfavorit zaman itu, SMA Taruna Nusantara. Saya rasa kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menciptakan generasi cerdas berikutnya, karena gen kecerdasan turun dari ibu. Saya hadir dengan mengemban tugas menurunkan gen cerdas yang saya miliki. Saya meyakini itu.

Ibu adalah sekolah pertama. Saya sekarang meyakini, kehadiran saya di keluarga ini adalah untuk menjadi guru pertama bagi anak-anak kami bahkan sejak mereka dalam kandungan. Karena itu suami saya dapat bekerja dengan tenang karena anak-anaknya telah berada di tangan yang tepat. Guru pertama mereka, ibunya.

~~~

Saya tinggal di tengah Kota Jakarta dengan kehidupan Kampung Betawi. Sampai saat ini, inilah lingkungan favorit saya. Di kampung ini pulalah, anak kedua saya berbaring untuk selamanya. Saya bermimpi menjadikan kampung ini menjadi kampung halaman baru kami. Kampung ini kampung yang cukup sempurna, saya merasa terberkahi berada di lingkungan ini.

Saya pikir, Allah ingin saya lebih mudah bersosialisasi, karena itu saya ditempatkan di sini. Saya bermimpi membuka sebuah perpustakaan tanpa asap rokok untuk tempat nongkrong anak-anak muda di kampung ini. Mungkin sebuah kursus bahasa Inggris gratis juga.

Ada banyak anak yatim dan kurang mampu yang seumur dengan Zimam di sini. Saya juga bermimpi bisa menyekolahkan salah satu dari mereka.

Semoga impian saya diridai Allah Subhanawataala. Aamiin.

~~~

Dari semua hal di atas, saya rasa saya bisa menyimpulkan bahwa keluarga kami adalah keluarga pembelajar dan hadir untuk mengajak orang lain belajar bersama kami. Banyak impian yang saya punya, semoga semuanya bisa menjadi kenyataan, satu demi satu.

~~~

NHW#3 End


NHW #2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

13 Agustus 2018

Nice Homework pekan kedua di perkuliahan Kelas Matrikulasi IIP Batch #6 ini mengangkat tema Indikator Perempuan Profesional.

Untuk mengerjakan NHW kali ini, saya diharuskan bertanya pada diri sendiri, perempuan seperti apa yang kamu anggap baik? Lalu bertanya pada suami, dan pada anak. Ini agak… gimana, ya? Saya belum pernah bertanya tentang hal ini sebelumnya. Baik pada suami maupun pada anak. Jadi, ya… pertanyaan saya lumayan membuat suami terkejut.(*^▽^*)

Yeptirani Syari_NHW2_Jakarta4

A. Indikator sebagai individu.

Indikator ini saya tanyakan pada diri sendiri, individu yang baik itu seperti apa? Saya menemukan beberapa poin, yaitu:

~ Sehat

~ Bahagia

~ Disiplin

~ Cantik

B. Indikator sebagai istri

Indikator ini saya tanyakan pada suami lewat whatsapp. Supaya ada bukti tertulis, andaikata lupa. ヽ(⌐■_■)ノ♪♬

Dari jawaban suami didapat beberapa poin, yaitu:

~ Rajin ibadah

~ Nggak ribut masalah uang

~ Bisa ngasih perhatian ke anak

~ Bisa diajak diskusi

~ Bisa masak (yang ini suami minta izin dulu ke saya, apa saya gak keberatan bila beliau memasukkan poin ini Open-mouthed smile)

C. Indikator sebagai ibu

Indikator ini saya dapatkan setelah wawancara santai dengan anak saya, Abang Zimam. Alhamdulillah anak saya masih ada satu lagi, jadi saya masih bisa berdiskusi dengan dia. ٩(ˊᗜˋ*)و

Zimam mengutarakan isi hatinya dengan bahasa sederhana. Dan saya memahaminya.

~ Tidak berteriak (Abang takut kalau Danda teriak-teriak)

~ Menjemput Abang Zimam pulang sekolah (Abang senang kalau Danda ada di sekolah jemput Abang)

~ Memasak untuk Abang Zimam (bawakan bekal, ya)

~ Memeluk (yang ini saya yang nawarin hehe)

Demikian indikator perempuan profesional versi saya, suami, dan anak. Semangat mengerjakan Nice Homework.. !(•̀ᴗ•́)و ̑̑



NHW #1 Adab Menuntut Ilmu

6 Agustus 2018

NHW adalah Nice Homework, yaitu PR menyenangkan yang harus diselesaikan oleh seluruh matrikan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Minggu ini, NHW pertama telah diluncurkan setelah materi diberikan. Saya pun harus memecahkan teka teki tentang Adab Menuntut Ilmu ini. 🙂

Yeptirani Syari_NHW1_Jakarta4

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Jurusan ilmu yang akan saya tekuni di Universitas Kehidupan ini adalah Jurusan Manajemen Waktu dan Jurusan Kebahagiaan.

2.Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Alasan terkuatnya adalah karena saya masih harus belajar tentang manajemen waktu. Serta karena hidup ini harus bahagia.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

Strategi yang saya rencakanan adalah dengan belajar memilah dan memilih mana yang penting dan genting mana yang tidak. Saya berencana disiplin mencatat di to-do-list serta belajar menerima apa yang ada di sekeliling saya dengan ikhlas.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Sikap yang harus saya perbaiki adalah sikap malas dan moody. Juga sikap tidak puas dan terus menuntut. Mengembangkan diri bukan hal yang dilarang, tetapi tetap bahagia.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

– Tim Matrikulasi Ibu Profesional