Backpacker ke Taman Safari

30 Juli 2018

“Ay, kita ke Puncak, yuk. Naik motor,” kata saya pada Pak Suami di suatu waktu.

“Ayuk,” sambut Pak Suami.

Begitulah, akhir pekan kemarin kami pun berangkat ke Puncak dengan mengendarai sepeda motor. Tujuanya adalah Safari Malam di Taman Safari.

Berangkat dengan 3 ransel (tiap orang menyandang satu ransel), kami mengendarai sepeda motor ke arah Cisarua, Bogor. Rasanya seru. Biarpun lelah, namun semua terbayar dengan pemandangan di sepanjang jalan. Pemandangan mobil yang terpaksa parkir di sepanjang jalan, sementara kami bisa melaju tanpa halangan. ( ͡° ͜ʖ ͡°)

Kami berangkat dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta alias beloved Jekardah sekitar jam 1 siang. Salah jalan lewat Condet di mana jalanan ditutup karena ada Festival Condet. Namanya juga Festival Condet, ya di Condet, lah. (*~▽~)

Tadinya kami mau makan siang di Bandar Condet (nanti lah ulasannya ya, kalu sempat makan di sana lagi, soalnya recommended kok menurut kami), tapi karena muter-muter gak ketemu juga Bandar Condet-nya (ingat, jalanan ditutup), akhirnya kami makan bakso di pinggir jalan, deh. Haduh, jauh amat yak, antara Bandar Condet sama Bakso Kaki Lima? ^_^

Perjalanan kami lanjutkan, capek, berhenti, lelah, istirahat, tiba waktu salat, menepi di masjid. Hingga akhirnya kami sampai di Taman Safari pada pukul 5 sore.

Tanya-tanya petugasnya, dia bilang bahwa Safari Malam akan buka pukul 7 malam. Kami disilakan menunggu di taman dekat pintu masuk. Ada fasilitas toilt, kantin, dan musala di sana.

Karena kami belum punya tempat menginap (duh, memang backpacker nih, tanpa rencana pasti –_-’), akhirnya kami turun untuk mencari penginapan. Awalnya kami mencari penginapan di dekat Taman Safari, tapi semua penuh, sisa bungalow yang harga semalamnya bisa buat beli hape Xiaomi Redmi 6A.

Sedikit putus asa sebenarnya. Tapi dasar saya ini orang yang malas mengkhawatirkan sesuatu, saya bilang ke Pak Suami, “kalau sampai waktu Safari Malam kita belum dapat penginapan dekat-dekat sini, udah aja, ikut Safari Malam dulu, nanti kita cari penginapan di bawah, kan murah-murah tuh”.

“Penginapan dekat-dekat sini” itu maksudnya adalah penginapan dengan harga maksimal 500 ribu rupiah semalam.

Pencarian kami membuahkan hasil. Di Hotel Lembah Safari, kami menemukan kamar untuk 3 orang seharga Rp375.000,00. Alhamdulillah.

Setelah beristirahat sejenak dan salat magrib, kami pun berangkat ke Taman Safari dan membeli tiket Safari Malam. Harga tiket Safari Malam adalah Rp180.000,00 per orang. Tiga orang jadi Rp540.000,00 cash.

DSC_1462

Di Safari Malam, kami diajak berkeliling dengan kereta mobil terbuka, melihat binatang-binatang yang terjaga di malam hari.

DSC_1466DSC_1471

Setelah itu, kereta berhenti di Baby Zoo. Ini seperti kebun binatang khusus binatang malam. Di sana ada burung hantu yang bisa diajak berfoto dengan pengunjung.

DSC_1492

Untuk befoto dengan burung hantu, kami membeli karcis seharga Rp20.000,00. Puas-puas ambil foto, deh.

DSC_1486

^Abang Zimam menggendong Gito.^

DSC_1481

Selain Baby Zoo, di Safari Malam juga ada wahana Menunggang Unta, wahana permainan macam di Dufan, dan bermacam-macam atraksi. Zimam memilih wahana menunggang unta. Kami membeli karcis seharga Rp25.000,00 untuk ini.

DSC_1495

DSC_1498

Setelah puas bermain di Safari Malam, kami lanjut jalan-jalan ke Puncak. Mampir di warung pinggir jalan untuk makan malam dan menghangatkan badan. (⌐■_■)

Screenshot_20190302-171757

Dan kami pun kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

Paginya, setelah bermain air sejenak di hotel, kami bersiap pulang.

DSC_1512

^Abang Zimam bermain balon sabun di halaman depan kamar hotel^

Perjalanan kembali ke Jakarta lebih cepat dari perjalanan berangkat. Mungkin karena kami pun sudah lelah. Kami tiba di rumah sekitar jam 3 sore. Istirahat sejenak, kemudian jalan-jalan lagi keliling kota sambil mencari makan malam.

Pekan kemarin adalah pekan yang seru, dengan backpacking sekadarnya ala keluarga Zulkifli.( ´ ▽ ` )ノ

Mau coba travelling sekeluarga seperti kami? ^_^


Kelas Matrikulasi IIP Batch #6, Tugas Pertama: Membuat Aliran Rasa

28 Juli 2018

Apa itu aliran rasa? Jujur, baru kali ini saya mendengarnya. Terus, saya harus membuat alira rasa? Keyapa caranya? (bahasa Banjar: seperti apa caranya?).

Setelah selesai menjalani Kelas Fondation, kami memasuki Kelas Matrikulasi yang sesungguhnya. Kami diperkenalkan dengan Google Classroom karena semua materi akan dibagikan lewat aplikasi itu. Kelas pun diambil alih oleh Fasilitator, Mbak Kiki Puspitasary (@kpuspitasary). Tugas pertama yang diberikan Fasil pada kami adalah Membuat Aliran Rasa.

OMG 」( ̄▽ ̄」)

Mana tuh tugas due date-nya sehari, pun. (‐^▽^‐)

Untung saja saya masih punya stok quote yang dibuat di YourQuote. Ambil saja sebiji, sesuaikan, jadi.

 

Yeptirani - Tugas#1 - Jakarta4 (a)

Quote di atas saya buat tanggal 21 April 2018. Menyambut hari Kartini. Saya rasa quote ini cocok dengan aliran rasa yang saya butuhkan. Tapi, untuk melengkapi dan menyesuaikan, saya membuat satu quote baru.

 

Yeptirani - Tugas#1 -Jakarta4 (b)

Inilah aliran rasa yang saya buat. Aliran rasa ini berlaku selama saya menjalankan perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #6.

Ah, gak sabar rasanya, ingin mengerjakan tugas-tugas selanjutnya. (*^▽^*)

***


Kuliah di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

7 Juli 2018

Tahu Institut Ibu Profesional? Pernah dengar?

Institut Ibu Profesional adalah sebuah wadah belajar bagi ibu dan calon ibu untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri, dan seorang ibu.

Di IIP, ada banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan. Untuk memperoleh semua itu, ada tahapan-tahapan yang harus kita lalui agar ilmu yang kita dapat sesuai dengan yang kita butuhkan.

Tahapan pertama kuliah di Institut Ibu Profesional adalah Kelas Matrikulasi.

Pengumuman pembukaan Kelas Matrikulasi IIP ini adalah salah satu pengumumman yang saya tunggu tahun ini. Dulu saya pernah mengenal IIP lewat email. Pernah juga mengikuti kuliah-kuliah dari Ibu Septi Peni – pendiri IIP – via webinar. Namun, dulu IIP belum terorganisasi dengan baik seperti sekarang. Saya mengikuti perkuliahannya dengan setengah hati hingga akhirnya saya di-DO dari kelas (-_-”).

Kemudian saya melihat sepak terjang teman-teman yang konsisten di IIP, bergabung setelah IIP lebih terorganisasi dengan baik, dan saya pun kembali tertarik.

Alangkah senangnya saya ketika ada pengumuman pembukaan kelas matrikulasi batch #6 di akun instagram IIP yang memang saya tandai.

pengumuman pendaftaran matrikulasi #6

Senin, 25 Juni 2018, adalah tanggal paling seru selama tahun 2018. Pukul 10 pagi, stand by pegang ponsel, menanti tautan untuk mendaftar ke Kelas Matrikulasi. Ternyata pendaftar harus membayar iuran. Untung saja ada internet banking, fiuh. Pukul 09.03WIB, saya selesai mendaftar. Dan sekitar pukul 1 siang, pendaftaran ditutup karena kuota sudah terpenuhi. MasyaAllah… ⊂((・▽・))⊃

Kemudian, saya, kami, para pendaftar, dibuat harap-harap cemas karena proses selanjutnya adalah proses verifikasi. Saya berharap saya tidak melakukan kesalahan saat menulis alamat surel atau nomor ponsel. sampai akhirnya, seseorang dari IIP menghubungi saya lewat whatsapp di nomor yang saya daftarkan. Kemudian, data saya diverifikasi, dan saya dimasukkan ke Kelas Fondation selama 2 pekan ke depan.

Ya, saya lolos masuk ke Kelas Matrikulasi Batch #6 Institut Ibu Profesional, dan akan menjalani proses perkuliahan selama 4 bulan ke depan. o(〃^▽^〃)o

InsyaAllah istiqomah, Aamiin.


Abang Zimam Sunat

3 Juli 2018

Hari ini, Zimam menjalani satu milestone penting dalam hidupnya. Sunat atau khitan.

Sebagai seorang anak laki-laki muslim, sunat atau khitan ini wajib dilakukan. Selain wajib dari segi agama, sunat ini juga bagus dari segi kesehatan.

Sebelum Zimam disunat, hampir setiap hari aku khawatir akan ISK, infeksi saluran kemih. Waktu aku masih membantu Zi beristinja’ sehabis buang air, aku selalu membersihkan penisnya. Sekarang Zi beristinja’ sendiri karena sudah mulai besar, dan dikenalkan dengan malu. Proses pembersihan penis bagian dalam belum tentu dilakukan dengan baik olehnya.

Awalnya Zi ingin sunatnya dilakukan di rumah nenek di Bukittinggi. Karena kami ke sana pas lebaran, aku tawarkan pada Zi untuk sunat sebelum puasa, lalu dirayakan di rumah nenel. Tapi ternyata dia berubah pikiran, dia tak ingin lagi sunatnya dirayakan. Karena itu kami memundurkan jadwal sunatnya jadi pas liburan kenaikan kelas.

Untuk metode sunat sendiri, dengan beberapa pertimbangan dan masukan dari dokternya Zi maupun teman-teman kami, sunat metode konvensional yang kami pilih. Dan setelah mencari, Rumah Sunat 123 menjadi pilihan tempat sunat untuk Zi.

DSC_1381Sunat konvensional rupanya memerlukan waktu yang lebih lama ketimbang metode lainnya. Karena ada proses menjahit satu-satu. Totak waktu yang aku pakai untuk merekam proses ini adalah 26 menit. Belum termasuk bius, karena bagian ini belum sempat kuabadikan 😀

Saat Zi disunat, ada dokter hm.. semacam dokter yang sedang belajar, lah.. datang menyaksikan proses sunat Zi. Menurut dokter itu, sunat metode konvensional sangat jarang diminati masyarakat, karena itu, kesempatan langka buatnya bisa menyaksikan proses sunat konvensional ini. Hahaha, ada-ada saja, ya.

Setelah setengah jam berlalu, Zi diperbolehkan bangun dan memakai sarung. Pesan dokter sunatnya, Zi jangan pakai celana batok, biar kepala penisnya terbiasa. Kata dokter lagi, yang bikin anak gak nyaman pakai celana biasa setelah disunat adalah, biasanya kepala penis ini terlindungi kulit, nah, setelah kulit itu disunat, tak ada lagi yang melindungi, si kepala yang terlanjur sensitif karena memang tak pernah bersentuhan dengan dunia luar akan membuat Zi tidak nyaman di awal.

Setelah selesai sunat, Zi mendapatkan serifikat lulus sunat. Alhamdulillah.

DSC_1397

DSC_1392

Selesai sudah tugas kami sebagai orang tua, menjalankan perintah agama, menyunat Zi. Mohon doa semoga Zi tetap menjadi anak shalih kebanggaan orang tua. Aamiin.