Pelajaran 8: Gondongan

Tahukah Kamu apa itu “gondongan”? Lalu, kenapa gondongan bisa jadi “pelajaran” untuk Ayah dan Danda Zimam? Apakah Zimam kena gondongan? Atau yang lain yang kena?

Gondongan (mumps) adalah infeksi virus yang menyerang kelenjar parotis – satu dari tiga pasang kelenjar penghasil liur (ludah) – yang terletak di bawah telinga manusia. Jika kita terserang gondongan, salah satu atau kedua kelenjar parotis akan membengkak. Gondongan ini adalah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi MMR. Efek samping dari penyakit yang paling parah adalah kehilangan pendengaran.

Orang yang terinfeksi gondongan bisa menunjukkan beberapa gejala, kadang ringan, kadang berat. Masa inkubasi virus gondongan sekitar 14-24 hari. Gejala yang timbul antara lain:

  • Bengkak, salah satu atau kedua kelenjar ludah akan bengkak dan rasanya sakit (parotitis)
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Lemah dan lesu
  • Sakit saat mengunyah dan menelan

Gejala yang paling dikenal dari penyakit gondongan ini yaitu pembengkakan kelenjar ludah yang menyebabkan pipi menjadi bengkak (gondong).

Nah, sekarang siapa sih yang tertular gondongan di rumah Zimam? Danda yang kena! 😀

Sepertinya karena gara-gara aku rutin menjemput Zimam di sekolahnya. Teman-teman Zi ini banyak yang tertular gondongan juga. Aku sebenarnya khawatir Zi juga tertular, sih. Karena seharusnya dia divaksin MMR ulang di usia 6 tahun, tapi karena vaksin MMR sedang kosong di mana-mana, Zi gak dapat suntikan vaksin MMR 6 tahun, deh.

Alhamdulillah, ternyata Zi gak tertular virus gondongan, malah aku yang kena, hahaha.

Awalnya Sabtu, 3 Maret 2018 lalu, aku merasa ada yang aneh dengan wajahku di depan cermin, kok asimetris, ya?. Memang aku merasa agak sakit di bagian pangkal tenggorokan. Nyeri saat menelan atau mengunyah makanan. Tapi saat itu, aku menyangkal diriku tertular virus gondongan. Aku masih berpikir, ini hanya pembengkakan kelenjar bening biasa, seperti yang biasa terjadi kalau kita batuk pilek. Karena aku sama sekali tidak demam.

Aku pun masih melakukan aktivitas di luar rumah. Dengan menggunakan masker mulut tentunya. Sejak (alm) Kei -adiknya Zi yang meninggal di usia 36 jam- divonis pneumonia bawaan dari kandungan, aku memang agak trauma dengan yang namanya polusi. Jadi, kemana-mana selalu memakai masker mulut sekali pakai.

Akhirnya di hari Senin, 5 Maret 2018, aku merasakan sakit mengunyah dan menelanku semakin parah. Akupun mengajak adikku ke dokter di klinik dekat rumah. Dokter tersebut mendiagnosa aku memang tertular gondongan. Dokter itu heran, gondongan kok gak demam?.

“Ibu pernah kena gondongan, sebelumnya?” Dokter itu bertanya. Gondongan memang infeksi virus, kalau sudah pernah kena, kena berikutnya gak akan separah kena pertama, seperti cacar air ataupun campak.

“Belum pernah, Dok. Tapi saya sudah pernah suntik MMR.” Jawabku. Aku memang pernah minta divaksin MMR ke dokter anak Zi di Pangkalpinang dulu, karena menurut orang tuaku, aku belum pernah divaksin campak. Jika aku tertular campak saat hamil, itu sangat berbahaya bagi janin. Jadi aku minta divaksin MMR dan Varicella, waktu itu. Yaitu vaksin untuk penyakit Campak, Gondongan, Rubella, dan Cacar Air. Vaksin-vaksin untuk penyakit yang bila menulari ibu hamil, akan sangat membahayakan janin yang dikandungnya. Biasanya, pasien yang sudah pernah divaksin atau pernah tertular sebelumnya, kalaupun sekarang tertular, tidak akan separah yang belum pernah divaksin atau pernah tertular sebelumnya.

Mendengar aku sudah divaksin MMR, dokter tersebut berbinar matanya.

“Di mana ibu vaksin MMR?” Tanyanya penuh harap.

Aku langsung paham, mungkin sang dokter sekarang sedang mencari vaksin MMR entah untuk siapa di keluarganya. Bisa untuk dirinya sendiri, atau untuk anaknya. Mengingat vaksin MMR sangat langka keberadaannya saat ini.

“Saya vaksinnya di Pangkalpinang, Dok. Tahun 2012.”

“Oh.” Ada nada kecewa dalam suaranya.

Entah mungkin karena sang dokter menganggap aku sudah paham akan penyakit gondongan ini (karena sudah inisiatif memvaksin diri sendiri), dokter langsung orat-oret resep sambil menyebutkan kegunaannya. Rata-rata beliau memberi aku resep multivitamin saja untuk meningkatkan ketahanan tubuh.

You know what? Penyakit gondongan ini gak ada obatnya, loh!

What????? 😲

Iyyes! Karena penyebabnya adalah virus, dan semua penyakit yang disebabkab oleh virus memang tidak ada obatnya. Yang bikin sembuh adalah ketahanan diri kita menguris virus itu. Obat yang beredar itu rata-rata hanya mengobati atau mengatasi gejalanya saja. Supaya kita lebih nyaman gitu.

Nah, setelah aku menebus obat resep dari dokter di apotek, aku pulang, makan, dan minum obat. Alhamdulillah, setelah 5 hari bengkakku kempes dan aku sembuh.

Akan tetapi … ternyata pasien gondongan masih harus dikarantina 14-24 hari setelah sembuh, boooo …

Karena dalam 14-24 hari setelah sembuh itu, pasien masih bisa nyebar-nyebarin virus gondongan ke orang lain. Makanya aku kemana-mana pakai masker. Dan terbiasa sampai sekarang walaupun sudah lewat dari 24 hari. 😂

Gondongan lagi musim, nih, sekarang. Karena itu, jaga kesehatan kalian ya, Teman-teman. Jangan ikut-ikutan tertular karena kalo sudah tertular, maka kalian harus dikarantina paling nggak sebulan lamanya. Wuih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: