January Full of Memory … (Part 2)

19 Februari 2018

Assalamualaikum…

Tulisan ini adalah bagian kedua dari judul yang sama beberapa waktu yang lalu. 🙂

Ceritanya, keluarga kami sudah punya rencana berkenaan dengan wisuda master Pak Suami. Wisuda master Pak Suami dijadwalkan diadakan pada bulan Januari 2018. Untuk itu aku sudah memesan gamis plus khimar cantik yang serasi dikenakan dengan jas “suit” wisuda Pak Suami.

Namun, karena ternyata tanggal penyelenggaraan wisuda mepet banget dengan HPL Baby K, Pak Suami memutuskan aku tidak ikut. Jadi yang akan pergi ke Jogja untuk menghadiri wisuda beliau adalah mama mertua, papa mertua, dan Abang Zimam. Karena kan seharusnya aku tuh tanggal segitu kalo gak lagi hamil dan nunggu lahiran, ya lagi jaga bayi baru lahir yang gak mungkin dibawa ke mana-mana dulu.

Rencananya, Pak Suami akan berangkat hari Senin, 22 Januari, jam 7 malam, karena ada jadwal acara yang harus dia datangi di hari Selasa pagi. Mama, papa, dan Zimam akan menyusul berangkat hari Selasa siang. Lalu mereka menghadiri wisuda di Rabu pagi, kemudian kembali ke Jakarta pada Rabu malam. Sedang Pak Suami kembali Kamis siang karena paginya harus mengembalikan toga wisuda lebih dulu.

Tapi ternyata kan Allah swt punya rencana lain. Keita dipilihkan penjaga yang terbaik sehingga aku gak perlu lagi menjaga Keita di dunia.

Malam setelah kami mengantar Keita kembali ke pangkuan Ilahi, aku berkata pada Pak Suami (kalau gak mau dibilang: memelas :p), “Ay, kalau gitu Danda ikut lah ya ke Jogja. Sama siapa Danda di rumah kalo gak ikut?”

Itu sebenarnya adalah “Ucapan Patah Hati”, karena sebenarnya ada saja orang di rumah. Di hari-hari biasa juga aku sering kok sendirian di rumah hehe.

Dan setelah kami berpamitan dengan Keita dan kembali ke kamar perawatan, Pak Suami langsung membelikan tiket pesawat untukku, dengan jadwal yang sama dengan Zimam.

Hari Senin kami habiskan dengan menerima tamu. Ada banyak sekali tamu yang datang. Kepada mereka kami juga berpamitan bahwa besok kami akan berangkat ke Jogja. Perjalanan “patah hati” yang dibalut menghadiri wisuda master. 🙂

Dipikir-pikir, Keita benar-benar anak baik. Dia lahir dan pergi di saat yang tepat. Andai dia meninggal di hari Senin siang, saja. Semua rencana akan kacau. Mana bisa ayahnya berangkat ke Jogja meninggalkan hal yang belum selesai? Atau misal meninggal malam Selasa? atau hari Selasa? Gak kebayang seperti apa perasaan Ayahnya di jogja. Saat Kei di NICU saja, Pak Suami sempat ingin membatalkan keberangkatan ke jogja. Gak ikut wisuda gak papa yang penting sudah terdaftar. Hanya aku melarang, selain ini adalah puncak pencapaiannya setelah dua tahun berjuang, wisuda ini juga merupakan wisuda pertama yang didatangi Mama. Pak Suami khawatir, bila aku harus bolak-balik mengurus Kei di NICU.

Ternyata Keita dibimbing Allah untuk mendukung rencana ayahnya. Benar-benar anak yang baik ^_^ Bagaimana kami tidak merindukanmu, Nak! 🙂

Pak Suami pun berangkat ke Jogja hari Senin malam. sementara kami di rumah masih saja menerima tamu sampai jam 10 malam. Benar-benar terharu.

Besoknya, jam 10 pagi kami bersiap ke bandara Halim untuk menyusul ayahnya Keita ke Jogja. Dan di ruang tunggu bandara, kami merasakan hal itu. GEMPA.

Selain itu, penerbangan kami juga ditunda selama 90 menit. Iya, 90 menit, bukan 19 menit, ya. Katanya cuaca di Jogja tidak bagus. Dan memang sih, di pesawat terjadi guncangan. Aku kan gak tidur seharian di hari Minggu sampai Senin. nah begitu sampai di kursi pesawat, aku langsung tertidur sampai- sampai gak ngeh sama Peragaan Posedur Keselamatan Penumpang. Aku dibangunkan oleh turbulance.

Sesampainya di Bandara Adi Sutjipto ternyata memang hujan deras. Pak Suami sudah menjemput kami di bandara, dan kami pun jalan-jalan.

Hari Rabu adalah hari-H buat Pak Suami. Usahanya selama 2 tahun membuahkan hasil. Dia pun diwisuda dengan gelar MBA, master of bussiness administration.

Oya, atas saran tamu-tamu yang datang ke rumah untuk melayat, kami memperpanjang keberadaan kami di Jogja. Yang tadinya hanya sampai Rabu malam, menjadi Jumat Malam. AKhirnya kami pun bis jalan-jalan keliling Jogja, ke The World Landmark Merapi Park, ke Monjali, ke Keraton, dan Masjid Kauman. Rencana ke Prambanan batal karena hujan, akhirnya mampir sebentar di Candi Kalasan.

Ada satu hal istimewa yang terjadi di akhir bulan Januari. Ulang Tahun Pernikahan kami yang ke 9. Yaitu tanggal 25 Januari 2018. Yang akhirnya kami rayakan bersama orang tua. Menyenangkan sekali.

Hari Jumat malam kami pun kembali ke Jakarta. Di Jakarta sudah ada ibuku, iya, ibuku. Beliau memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, karena juga merasa patah hati ditinggal cucu baru yang belu sempat beliau lihat.

Hari Sabtu pagi, kami sarapan bersama.

Terakhir kalinya orang tuaku dan orang tua suami bertemu itu adalah 9 tahun yang lalu saat Baralek kami di Bukittinggi. Dan saat itu kami berkumpul lagi tanpa direncanakan. Karena sebenarnya ibuku tidak ada rencana ke Jakarta untuk menemaniku melahirkan.

Sekali lagi, Keita membuat keajaiban. Dia membuat seluruh keluargaku berkumpul. Dia juga akhirnya membuat Abangnya bahagia karena rumah kami ramai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah 94:5)

Aku benar-benar membuktikan hal ini. Januari 2018 bagiku seperti roller coaster. Hampir setiap hari terjadi momen tak terlupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan bulan ini?

Yeptirani Syari