VBAC–Vaginal Birth after Cesarean

Apa itu VBAC?

Dalam bahasa Indonesia, VBAC adalah Pesalinan normal setelah sebelumnya sesar. Vaginal Birth after Cesarean.

Halo semuanya, ijinkan aku membagi tentang pengalaman VBAC-ku. well, ya, walaupun Baby K sudah di surga sekarang, tapi proses melahirkan Baby K secara VBAC masih sangat berkesan buatku. Lagian, Baby K insyaAllah sudah ada yang jaga, kan? Aku bisa tenang ^_^

Kisah ini dimulai ketika aku baru saja melahirkan #AbangZimam dengan proses sesar. Dari milis sehat, aku menemukan kata VBAC, yang artinya Vaginal Birth after Cesarean, alias Persalinan Normal Pascasesar. Jalan-jalan di internet, facebook, kenalan dengan grup GBUS (Gentle Birth untuk Semua), makin mengenalkan aku dengan “bisanya seorang perempuan melakukan vbac”.

Sejak saat itu, aku mantab, persalinan berikutnya aku mau vbac jika memungkinkan.

Awalnya aku ingin memberi adik buat Abang Zimam di usianya yang ketiga, ternyata Allah SWT berencana lain. Aku baru hamil ketika Abang Zimam berusia 5 tahun (tahun 2016). Dan itu pun gugur dalam masa biokimia (liat postinganku di Biochemical Pregnancy, deh ^_^).

Dan ketika pada tahun 2017 aku kembali dipercaya untuk hamil Baby K, dan saat di-USG Baby Kei sudah terdengar detak jantungnya, bahkan ketika masih di meja periksa, aku sudah bilang sama obgynku, “Dok, saya pengen vbac.”

Dan jawaban dokter itulah yang membuat aku betah periksa terus dengannya sampai kelahiran Baby K. “Oh, bisa! Kenapa nggak?”

Dia adalah dr. Sitti Fausihar Sp.OG di Rumah Sakit Hermina Jatinegara.

Bertemu dengan dokter Sitti bisa dibilang takdir dari Allah. Tahun 2015, aku merasa bekas sesarku perih, aku ajak suami ke obgyn di Hermina. Aku asal tunjuk obgyn, cari obgyn perempuan yang paling sedikit antreannya saat itu hehe. Dialah dokter Sitti. Siapa sangka, tahun 2017 dokter Sitti menjadi obgyn yang panjang antreannya hahaha…

Tahun 2017 ketika aku positif hamil dan merasa punya masalah dengan asam lambung, aku berkonsultasi via whatsapp dengan adik kelasku yang obgyn. Dia merekomendasikan dokter Sitti (bila aku memang ingin konsultasi di RS Hermina Jatinegara). Rupanya dokter ini teman adikku itu (belakangan baru aku tahu, kalo dokter Sitti juga adik kelas dari abang kelasku tempat aku konsultasi via telepon juga. what a small world! ^_^).

Periksa ke dokter Sitti ini enak. Karena dia malah nyuruh aku ke puskesmas untuk minta vitamin dan cek darah. Dari dokter Sitti pula aku tau bahwa Faskes BPJS Tingkat I untuk ibu hamil, yang paling bagus adalah PUSKESMAS. Karena itu aku patuhi sarannya, dan aku pindahkan faskes BPJS-ku ke Puskesmas Kec. Kramatjati.

Ternyata dia benar. Aku di-treatment benar-benar sesuai guideline dari Pemerintah. Dikasih buku pink, cek darah HIV dan Hepatitis gratis, vitamin-vitamin gratis tiap bulan, serta nasihat-nasihat untuk ibu hamil lainnya. Cuma memang aku harus sabar karena antreannya panjang hehehe. Aku memilih periksa tiap hari Jumat karena antreannya paling sedikit timbang hari lainnya. Oya, jadwal periksa Poli KIA untuk ibu hamil adalah tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 08.00 – 11.00 WIB.

Agar aku berhasil vbac, ada beberapa hal yang harus aku patuhi. Aku harus menjaga pola makan, agar berat badan janin (BBJ) tidak lebih dari 3kg (karena postur tubuhku dokter mengijinkan BBJ-ku lebih besar dikit daari 3kg, asalkan jangan sampai 3,5kg). Usia kandunganku saat melahirkan tidak boleh lebih dari 40minggu, ketuban cukup, plasenta sehat dan letaknya tidak menutup jalan lahir, tidak ada lilitan tali pusar, serta dinding rahimku tebal.

Pola makanku pun diatur. Karbohidratku diganti dengan nasi merah, dan aku diharuskan makan lebih banyak daging (hiks, aku gak terlalu suka daging-dagingan sebenarnya). Tapi, demi bisa vbac, aku jalani semua itu. Sampai-sampai beli 1 lagi rice cooker untuk memasak nasi merah Smile

Hari berlalu, bulan pun berlalu. Periksa rutin tiap bulan tidak pernah aku lewati. USG rutin juga untuk memantau BBJ, letak plasenta, tali pusar, dan jumlah air ketuban.

Oya, statusku saat hamil Baby K adalah G3P1A1, kehamilan ketiga, sudah pernah melahirkan 1 kali, dan keguguran 1 kali.

Untuk vbac, bukan hanya tubuhku dan janin yang dipersiapkan. Dana juga. Karenanya aku mencari tahu, apakah vbac dicover BPJS? ternyata tidak. Hanya sc terencana yang dicover BPJS di RS Hermina. Aku pun hunting rumah sakit lain, siapa tau ada yang vbac-nya dicover BPJS, mengingat saat vbac, aku ada kemungkinan harus disesar in cito.

Rumah sakit yang paling dekat dengan rumahku selain Hermina adalah RS Budhi Asih. Aku pun mengajak suami periksa di sana. Ternyata dokter yang aku datangi tidak bersedia melakukan VBAC karena posisi tempat tinggalnya yang jauh dari RS sehingga tidak memungkinkan untuknya datang tepat waktu apabila aku harus sesar in cito.

Baiklah, artinya opsi satu-satunya hanyalah Hermina Jatinegara. Kamipun mencari tahu berapa besar biaya yang harus kami siapkan bila ingin VBAC di sana.

Untuk persalinan normal kelas melati (paling rendah), berkisar antara 7-11 juta. dan untuk Sesar kelas melati berkisar antara 22-25juta. Maka segitulah dana yang akhirnya kami siapkan untuk bisa VBAC.

Selain itu, karena ada klausul melahirkan tidak boleh lebih dari 40 minggu, sedang pengalaman Abang Zimam, kontraksi pertamaku baru terjadi tepat di 40 minggu dan bukaannya sangat lambat, aku pun mencari tempat berlatih yoga prenatal, siapa tau bisa membantu mempercepat kontraksi. Ke sana ke mari aku mencari tempat prenatal gentle yoga terdekat dengan rumahku. Tapi belum juga ada yang pas.

Suatu hari, Abang Zimam mengeluh giginya goyang, aku pun berinisiatif membawanya ke dokter gigi. Tapi ternyata, dokter gigi BPJS Zimam waktu praktiknya gak pas dengan jadwal sekolah dan kursusnya. Aku pun mencari dokter gigi BPJS yang jadwal praktiknya pas. Dan aku menemukan Klinik Hygea. Aku pun memindahkan faskes tingkat 1 Abang Zimam ke Kllinik Hygea. Faskes tersebut berlaku tanggal 1 November 2017.

Ketika aku mendaftarkan Zimam untuk periksa gigi di Klinik Hygea, aku menemukan banner iklan Prenatal Gentle Yoga squad #bidanamel di sana. Wow. Ini yang aku cari! Segera aku minta kontak ke resepsionis dan mereka memberikan kontak Bidan Nurul sebagai instruktur yoga di Hygea.

Malamnya aku langsung mengontak bidan Nurul lewat whatsApp, dan hari Minggunya, di usia kandungan 28minggu, aku mulai berlatih Prenatal Gentle Yoga.

Saat berlatih yoga itu, aku banyak sekali menemukan hal yang baru. Teori kontraksi, teori mengejan, teori mempercepat turunnya kepala bayi ke panggul. Aku mendapatkan ilmu bahwa Gymball dapat membantu mempercepat bayi masuk panggul. Aku juga mendapatkan banyak teman baru di sana.

Atas rekomendasi Bidan Nurul, pada usia kandungan 32 minggu aku membeli Gym Ball. dan mulai berlatih pelvic rocking.

Jujur saja, aku baru 2 kali berlatih senam hamil karena waktu latihannya kurasa tidak pas dengan jadwal ngantorku.

Setelah berlatih yoga secara rutin, berenang,  periksa ke obgyn dan puskesmas dengan rutin juga, pada usia kandungan 37 minggu, tepatnya 11 Januari 2018 aku mulai merasakan gelombang cinta pertama. Alhamdulillah. Suamiku membantu dengan melakukan pijat perineum. Aduhai rasanya menyenangkan. Pijat perineum hanya bisa dilakukan setelah usia kandungan 36 minggu ya, karena bisa memicu kontraksi.

Oya, di usia kandungan 34 minggu, dokter sudah memeriksa dinding rahimku dan hasilnya adalah 4,3cm, katanya seperti dinding rahim orang yang belum pernah sesar. Alhamdulillah.

Sayangnya, Pak Suami hanya berkesempatan 1 kali saja melakukan pijat perineum, karena aku keburu mengalami kontraksi yang membuatku tidak nyaman memosisikan diri untuk dipijat perineumnya.

Setelah mengalami kontraksi pertama, aku makin sering berlatih pelvic rocking di atas gym ball. Sambil nonton drama korea. Lumayan loh 1 jam lebih kalo latihannya sambil nonton 1 episode drama korea ^_^

Di usia kandungan 38 minggu, aku periksa dan sudah bukaan 1. Alhamdulillah. Ada kemungkinan aku bisa melahirkan dengan vbac karena bukaan jauh sebelum 40 minggu.

Esokya dan esoknya dan esoknya lagi, kontraksiku makin nambah. Selasa 16 Januari, aku periksa lagi, dan masih bukaan 1. Aku bercerita ke teman-teman yoga, dan dikenalkan dengan doula yang bisa melakukan akupresure, kami berjanji bertemu hari Jumat. Kabarnya akupresurenya bisa nambah bukaan.

Tapi, hari Kamis 18 Januari, aku merasa kontraksiku makin kuat. Sudah sejak Rabu sebenarnya, tapi karena aku “calm” di pagi hari, aku selalu gak jadi ngajak suami ke rumah sakit. Setiap malam, aku hampir tidak bisa tidur. Bahkan beberapa kali aku menyerah minta disesar saja karena gak tahan akan nyerinya kontraksi. Tapi suamiku tetap menguatkanku untuk tetap di niat awal, vbac. Satu-satunya posisi tidur yang bisa aku lakukan adalah duduk. 6 buah bantal aku susun, sampai-sampai pantatku nyeri sekali karena aku selalu dalam posisi duduk.

Akhirnya Jumat 19 Januari, aku minta suamiku mengantarku ke rumah sakit. Di sana, aku janjian dengan doulaku untuk pijat akupresure.

Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung disuruh ganti baju (kalau gak mau bilang dipaksa, ya, hehe), karena kontraksiku yang sangat kuat, walaupun bukaan masih saja 1. Doulaku datang dan memijatku, bukaan langsung naik ke 3.

Doula datang dengan perjanjian untuk pijat akupresure saja. Dia bertanya apa aku sudah punya pendamping persalinan? aku jawab belum. Aku juga balik bertanya apa dia bisa jadi pendamping persalinanku? Dia jawab: kamu yakin?

Merasa aku tak punya pilihan lain, dan merasa bahwa suamiku tidak sepintar itu untuk jadi pendamping persalinanku, aku meminta doula tersebut untuk jadi pendampingku, s&k terserah dia. Dia pun setuju. Dia seperti malaikat yang dikirim Allah padaku di saat-saat genting. Dia membimbingku agar mengubah persepsi nyeri menjadi gelombang cinta. Mengajari cara bernafas yang fun saat kontraksi datang. Dan mengajariku gerakan-gerakan yang membuat Baby K makin cepat turun ke panggul.

Sampai malam, bukaan masih 3,5. Belum juga 4. Aku tidak bisa tidur karena kontraksiku sangat kuat. Suamiku yang menemaniku sudah tepar kelelahan. Kubiarkan saja dia tidur. Kasihan. Malam itu suster datang memberiku obat anal untuk mengurangi kontraksi. Akupun bisa tidur selama 2 jam (walau terbangun di antaranya), dan merasa lebih segar pada jam 4 pagi. Bukaan naik menjadi 4.

Suster menyuruhku mandi, bajuku kotor sekali oleh lendir. Setelah segar, aku mulai berlatih lagi. Jam 11 pagi, pada bukaan 5, obgyn datang dan memecahkan ketubanku. Entah apa yang terpikir olehnya, mungkin sudah feeling dia sebagai dokter melihat lendir, kontraksi, dan bukaanku. Ternyata air ketubanku sudah berwarna ijo (kata suamiku teksturnya seperti kuah kacang ijo, aku gak lihat sendiri), akhirnya dokter memutuskan memberikan induksi buatku, mungkin dia juga mempertimbangkan ketebalan dinding rahimku juga kali ya makanya berani ngasih induksi.

Spontan saja nyeri kontraksiku makin bertambah. Dengan ajaran nafas “hi-hi-hoo” ajaran doula, dan pijatan suami di daerah punggung dan pantat, aku berhasil melaluinya. Bukaan 6, 7, 8, dan akupun disuruh mengedan.

Tepat pukul 12 siang dokter datang untuk membantuku mengejan. Sekali, dua kali. Semua ilmu dan teori mengedan yang diajarkan di senam hamil maupun yoga, buyar! Aku gak berhasil mengedan dengan baik T_T

15 menit berlalu, dokter memutuskan membantu persalinanku dengan forsep. Dengan aba-aba dokter, aku mengedan 1 kali, dan pukul 12.28 WIB tanggal 20 Januari 2018, Baby K pun lahir.

Fiuh!

Aku skip cerita tentang jahitan akibat forsep, ya. 15 cm di dalam, dan seluruh perineum di luar. Aku juga akan skip cerita tentang baby K karena sudah aku bahas di postingan sebelumnya ^_^

Memang aku akui, vbac-ku ini tidak termasuk gentle birth. Mana ada gentle birth tapi diperiksa dalam tiap jam, diinduksi, diforsep? Itu mah penuh trauma. Belum lagi aku seperti mimpi menjalani proses melahirkan ini, karena perintah suster datang bertubi-tubi tanpa aku tahu mana yang lebih dulu harus dipatuhi. Yang disuruh makan, yang disuruh miring kiri, yang disuruh mengedan.

Tapi aku tetap bersyukur, bisa merasakan melahirkan dengan proses pervaginam.

Dan satu lagi doaku terkabul. Dulu aku pernah berdoa, agar bisa melahirkan dalam pelukan suami. Dan itulah yang aku alami saat melahirkan Baby K.

Padahal awalnya, aku memutuskan doula lah yang mendampingi aku melahirkan. Ternyata dia terlambat datang hihihi. Dia datang saat aku bukaan 7 apa 8 gitu, dan sudah nyaman di pelukan Pak Suami. Jadinya aku bilang suamiku saja yang mendampingiku. Bukan doula.

Benar-benar suatu prosesi melahirkan yang walaupun melelahkan nan membingungkan, tapi tetap mengesankan. Andai diijinkan, aku ingin merasakan lagi proses melahirkan yang seperti ini (kalau bisa yang lebih mudah dari ini, ya). Hubunganku dengan suami terasa benar begitu dekat saat itu. Terasa sekali aku dan dia itu jadi satu kala itu (terakhir aku merasakan hal ini yaitu saat akan masuk ruang operasi untuk melahirkan Abang Zimam). Yah, cerita-cerita di drama korea atau di lirik lagu cinta itu benar adanya, loh! Hehehe…

Setelah proses melahirkan selesai, bayiku dirawat, suamiku mengurus bayiku, aku selesai dijahit, yang aku rasakan adalah LEMAS.

Ternyata benar, melahirkan menguras energi. Apalagi dari kemarin hanya 1 atau 2 suap makanan yang masuk ke perutku. Selera makanku hilang karena aku berkutat dengan kontraksi. Lain kali aku sedia makanan cair saja lah. biar tetap ada energi sebelum melahirkan. catat ya! makanan cair!

Aku benar-benar tergeletak lemas di kasur VK. Bahkan ketika petugas meminta cap jempolku (untuk disandingkan dengan cap kaki Baby K), aku minta dia mengangkatkan tanganku hahaha.

Setelah sekitar 1 jam berbaring, Aku mulai merasakan diriku kembali. Dan tahu, gak? ternyata makanan rumah sakit itu ENAK loh! wkwkwk… Yup, setelah aku gak ngalamin kontaksi, selera makan pun kembali.

Dibilang penuh trauma, iya. Dibilang lebih enak disesar, benar. Tapi jujur, aku tidak kapok melahirkan dengan normal. Walau dengan anatomi tubuhku, aku tidak yakin dokter akan mengijinkanku melahirkan pervaginam lagi ^_^

Jadi, apakah seorang perempuan bisa melahirkan secara normal setelah sebelumnya sesar? Jika syarat dan ketentuan terpenuhi, BISA.

Tapi, lakukan di rumah sakit atau kllinik yang bisa sesar in cito, ya! Artinya, sesar dadakan. Karena vbac itu tetap ada risiko ruptur uteri (sobek dinding rahim), dan apabila terjadi ruptur uteri, dalam 15 menit harus dilakukan operasi sesar agar nyawa ibu dan bayi bisa selamat.

Allah SWT telah menganugerahi manusia dengan ilmu. Yuk pergunakan sebaik mungkin. Berdayakan diri kita ya.

Yeptirani Syari

PS: Pas melahirkan, usahakan tidak teriak. Ngabisin energi soalnya. Aku yang gak teriak aja, habis lahiran lemes tak terkira, gak kebayang lemasnya yang teriak-teriak, ya? 🙂

5 Responses to VBAC–Vaginal Birth after Cesarean

  1. Ipiet berkata:

    MasyaAllah bun perjuangan yg gak sia2 ya. Hebat bgt mah bunda satu ini 👍🏼 saya jg lahiran anak pertama kemaren bisa dibilang gentlebirth yg kurang sukses karna ketuban saya ijo dan ade yg harus dirawat di nicu 3 hari tapi ak tetap senang dan sgt bersyukur dgn apa yg ak jalanin. Ak ikutin semua arahan doula ku and i am proud to my self paksuam also hihihi

  2. Yeptirani berkata:

    Selamat ya bunda Ipiet, 🙂
    sebenarnya semua proses melahirkan itu gentle birth kok, gimana kita memandangnya saja 🙂

  3. Tyas berkata:

    Hai mba, salam kenal. Saya Tyas. Terima kasih sudah menuliskan kisah VBAC nya. Saya jg berencana VBAC kelahiran kedua nanti. (Insya Allah awal tahun).

    Kalau berkenan, apa boleh saya minta kontak bidan nurul yg prenatal yoga? Terima kasih sebelumnya.

  4. Yeptirani berkata:

    Boleh mbak tyas, silakan japri saya di whatsapp 0857-1119-1946 ya… 🙂

  5. puspass berkata:

    halo mba, jadi pada akhirnya saat VBAC kmrn bisa dipakai/tidak BPJS nya? anak kedua sy alhamdulillah berhasil VBAC, sy berencana utk mengulang VBAC di anak ke tiga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: